
''Ah, lupakan saja.'' Neli berucap santai seraya membuang muka ke arah lain agar Dinda dan yang lain tidak bertanya lagi terkait apa yang ia katakan tadi.
Sementara Dinda masih merasa penasaran sama kelanjutan perkataan mama nya, ''Memu ... Memu apa, ya?'' ucapnya di dalam hati mencoba menebak-nebak sendiri.
''Apa mungkin memungut?'' ucapnya lagi di dalam hati, setelah itu ia menggeleng kecil, Dinda mencoba menyangkal dugaan nya yang tak berdasar tersebut, ''Ah, tidak mungkin!'' bantahnya.
Setelah itu rombongan Neli pergi dari tempat mangkal Dinda, Ciko akan membawa istri, mertua serta ipar nya berbelanja dengan menggunakan uang pemberian Arum waktu itu.
Tidak lama setelah rombongan Neli pergi, kini datang lagi orang-orang yang bikin mood Dinda dan Bima menjadi buruk. Dinda hanya mampu mengelus dada, ia menguatkan dirinya sendiri agar bisa selalu sabar menghadapi manusia-manusia yang suka mengolok-olok dan merendahkan keluarga kecilnya.
''Ih, ngapain sih kamu di sini? Mending pulang aja deh,'' Iren tiba-tiba berucap ketus kepada Dinda. Sungguh, ia berharap, Dinda tidak menemani Bima mangkal seperti kemarin, agar dia memiliki kesempatan untuk mendekati Bima, tapi harapan nya itu sirna saat ia melihat kehadiran Dinda di dekat gerobak ketoprak.
Dinda mengabaikan Iren, ia menyapa mama mertua nya.
''Ma,'' Dinda mau menyalami tangan mertua nya itu, dan apa yang ia dapatkan? Lagi-lagi sang mama mertua menepis tangan Dinda dengan tega nya.
Bima yang baru bergabung dengan para pekerja terpaksa harus menemui mama nya yang baru datang. Begitu sudah sampai di depan sang mama, Bima menyalami dan mencium punggung tangan Sari dengan takzim, Sari sama sekali tidak menolak, ia bahkan tersenyum simpul seraya mengelus pelan pucuk kepala Bima. Melihat itu, lagi-lagi Dinda merasakan sakit di sudut hatinya. Pilih kasih. Pikir nya dengan dada terasa sesak.
''Ayo, Bunga salim sama Oma,'' kata Bima.
''Tidak usah, tangan Bunga pasti kotor,'' tolak Sari dengan wajah tak bersahabat.
Bima dan Dinda hanya diam saat Sari berkata seperti itu. Sedangkan Iren tersenyum kecil.
__ADS_1
''Mama mau ngapain lagi ke sini? Emang Mama tidak capek? Mama itu harus banyak-banyak istirahat di rumah, supaya Mama tidak jatuh sakit lagi,'' ujar Bima hati-hati.
''Mama pengen lihat perkembangan pembangunan ruko kamu, Bima. Sekalian Mama mau menemani Iren untuk ketemu sama kamu, supaya hubungan kalian ada kemajuan,'' Sari berkata seraya tersenyum simpul, ia bahkan menggenggam tangan Iren yang duduk di sampingnya.
''Ma, sudahlah! Jangan bahas itu lagi. Mama bisa tidak jaga perasaan istri aku,'' Bima meninggikan nada bicaranya.
''Kamu kenapa sih Bima selalu membela wanita tidak berguna seperti dia. Sampai-sampai kamu membentak Mama hanya karena wanita ini! Kamu benar-benar telah menjadi anak pembangkang semenjak menikah dengan wanita enggak guna ini!'' balas Sari dengan wajah memerah, sungguh akibat bentakan kecil yang Bima ucapkan kepadanya barusan membuat Sari semakin membenci Dinda.
Sari menatap Dinda lekat dengan mimik wajah menunjukkan kemarahan yang teramat sangat, Dinda pun balas menatap sang mama mertua dengan tatapan matanya yang teduh. Kali ini Dinda tidak akan merasa takut lagi, karena dia tahu dia tidak bersalah.
Namun, tiba-tiba pandangan yang penuh dengan kemarahan yang ditunjukkan Sari kepada Dinda tadi, kini berubah dengan pandangan kaget sekaligus penasaran, karena kini tatapan mata Sari tertuju pada perhiasan yang melingkar pada jari pergelangan Dinda.
''Ehm, itu perhiasan imitasi, ya?'' tanya Sari mencibir.
''Lagak lu, pengen di puji banyak uang, ya, makanya lu pakai perhiasan imitasi kayak gitu. Kasihan banget sih lu!'' Iren tersenyum mengejek.
''Heh, dasar wanita sombong! Malu-maluin! Imitasi aja bangga!'' Sari menghina Dinda lagi dengan kata-kata nya yang tajam.
''Sudah-sudah! Lebih baik kalian pulang saja, dari pada kalian menghina Dinda terus!'' Bima berkata dengan begitu kesal.
''Kami tidak akan pulang!'' sahut Sari.
''Terserah Mama saja deh! Kalau begitu aku ke sana lagi. Dek, kamu jangan terlalu di dengerin apa yang dikatakan oleh Mama, ya. Anggap saja angin lalu,'' kata Bima lagi, dan Dinda mengangguk kecil dengan senyum simpul.
__ADS_1
Mendengar itu Sari merasa begitu kesal.
''Bima!'' ujarnya dengan suara yang nyaring saat Bima sudah berjalan menuju para pekerja bangunan yang membangun ruko nya. Kali ini Bima sama sekali tidak mengabaikan sang mama. Bukan, bukan karena dia ingin menjadi anak durhaka, tapi ia benar-benar sudah lelah dan bosan dengan sifat dan tingkah sang mama yang selalu merecoki keluarga kecilnya.
''Puas kamu sekarang?'' Sari menatap Dinda dengan tatapan nyalang, tapi Dinda sama sekali tidak meladeni mama mertua nya itu. Sekarang Dinda lagi sibuk melayani pembeli yang baru datang, pembeli yang datang bergerombolan, dan melihat itu Dinda merasa senang, karena rasanya lebih baik ia menyibukkan dirinya dengan melayani pembeli dari pada mendengar ocehan sang mama mertua dan Iren yang tak ada penting-penting nya sama sekali.
***
Setiap harinya Dinda dan Bima melakukan aktivitas mereka seperti biasa, dengan Bunga yang selalu hadir menemani mereka.
Setelah beberapa hari berlalu, pembangunan ruko sudah selesai dikerjakan sebagiannya, batu batako sudah di pasang hingga setinggi kepala orang dewasa, rasanya Bima dan Dinda sudah tidak sabar lagi ingin melihat ruko selesai di bangun, supaya mereka bisa segera menempati dan berjualan di ruko itu. Dan agar saat mereka berjualan mereka tidak merasa kepanasan dan kehujanan lagi.
Di tempat berbeda, hasil tes DNA antara Dinda dan Saras sudah keluar, Arum mengambilnya di rumah sakit, ia duduk di kursi rumah sakit, dengan tangan gemetar perlahan ia membuka amplop yang membungkus keterangan hasil tes.
''Bismillahirrohmanirrohim,'' Arum berucap dengan degup di dada tak beraturan, ia merasa sedikit gugup.
Setelah surat berhasil ia keluarkan dari amplop, ia lalu membuka dan membaca keterangan hasil tes dengan begitu teliti.
''Masya Allah, alhamdulillah ...,'' Arum merasa begitu bahagia ketika ia selesai membaca hasil tes tersebut.
Tanpa pikir panjang, ia berjalan tergesa-gesa meninggalkan area rumah sakit, rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Dinda, Bunga dan Bima, rasanya ia ingin memeluk Dinda cukup lama, karena menurut keterangan yang ia baca pada surat hasil tes DNA tadi, ternyata Dinda benar-benar anak nya Saras, keponakannya yang telah lama hilang.
Setelah ini Arum akan meminta Dinda dan keluarga kecilnya tinggal bersama nya, dan Arum juga akan meminta Dinda agar Dinda bersedia mengganti posisinya di perusahaan, Arum akan meminta Dinda menjadi pemimpin perusahaan.
__ADS_1
Bersambung.