
''Emang dia pikir dia bisa besar kayak sekarang kalau Mama tidak memberinya makan. Dasar anak tak tahu di untung!'' Neli berkata geram dengan wajah merah padam.
Setelah itu dengan cepat Neli berdiri dari duduknya, ia akan menemui Dinda.
Siska dan Naira tersenyum miring melihat sang mama yang akan beraksi mengurus Dinda.
Mereka sama sekali tidak berniat untuk melarang agar sang mama tidak menemui Dinda, tetapi mereka malah semakin memanas-manasi, membuat Neli bertambah marah saja. Emang dasar mereka berdua tidak ada rasa belas kasih sedikit pun terhadap Dinda.
''Kalian tunggu di rumah saja. Biar Mama yang kasih pelajaran tuh Si Dinda!'' seru Neli saat dirinya akan memasuki mobil nya. Di usianya yang tak lagi muda, Neli masih kuat menyetir sendiri.
Setelah itu ia menginjak pedal gas, dan kendaraan roda empat yang ia kemudi melaju membelah jalanan yang nampak berlobang di beberapa bagian titik titik tertentu, Mahlum lah jalan perkampungan, banyak yang rusak dan kurangnya perhatian dari pemerintah setempat untuk melakukan perbaikan.
Setelah tiba di depan persimpangan menuju jalan setapak, Neli menginjak pedal rem, lalu saat mobilnya sudah benar-benar berhenti, ia keluar dari dalam mobil dengan membanting pintu mobil.
__ADS_1
Ia berjalan melewati jalan setapak dengan langkah kaki lebar dan dengan wajah tak bersahabat, rasanya dirinya ingin segera tiba di rumah Dinda. Dirinya akan memaksa Dinda untuk datang ke pesta pernikahan Naira, karena Neli tidak mau mengeluarkan uang nya untuk membayar jasa tukang bersih-bersih. Selain itu karena Neli juga ingin melihat Dinda menyaksikan betapa bahagianya Naira yang memiliki suami yang kaya raya. Untuk soal rupa, calon suami Naira memang tidak terlalu tampan, masih kalah jauh dibandingkan Bima, tapi untuk soal harta, calon suami Naira memang lebih unggul, karena ia bekerja di salah satu bank negeri dengan jabatan yang lumayan tinggi.
''Dinda, Dinda!'' seru Neli saat dirinya sudah tiba di depan pintu rumah Dinda, pintu rumah yang tertutup rapat. Neli menggedor-gedor pintu dengan tangan nya, bahkan ia juga menendang pintu yang terbuat dari papan berkualitas paling rendah itu dengan keras.
''Mana nih anak? Apa dia sengaja ingin menghindari aku,'' Neli bergumam kesal.
Saat dirinya melihat kebawah, rupanya pintu di gembok.
''Wah, sepertinya Dinda emang sengaja pengen kabur dari aku.'' Ucap Neli ponggah dengan kedua tangan berkacak pinggang.
***
"Kamu kenapa, Dek?'' tanya Bima. Bima menyadari dari raut wajah sang istri, bahwa sang istri sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
''Aku tidak kenapa-kenapa, Mas.'' Jawab Dinda sekenanya. Sungguh, Dinda tidak ingin menjelek-jelekkan anggota keluarga di depan sang suami. Karena biar bagaimanapun, Neli, Siksa dan Naira tetaplah keluarga nya.
Mereka bertiga sedang duduk di bawah pohon rindang. Bima baru selesai melayani para pembeli.
Tadi, Dinda yang baru saja habis berbelanja sayuran di warung terdekat rumah nya, langsung saja menemui sang suami yang sedang mangkal di persimpangan tiga di pinggir jalan, karena Bunga yang memaksa ingin melihat Sang Ayah jualan.
Bima tidak akan memasak Dinda untuk menceritakan masalah apa yang tengah mengangguk pikirannya. Karena ia tahu, nantinya pasti sang istri akan bercerita sendiri.
Sungguh Bima tidak tega melihat sang istri yang akhir-akhir ini sering murung, Bima sudah tahu apa penyebab sang istri sampai murung.
Bima pun semakin bersemangat untuk mengais pundi-pundi rupiah, karena ia ingin segera membangun rumah yang bagus untuk Dinda dan ia juga ingin segera membangun rumah ruko yang besar untuk tempat usaha mereka, agar mereka tidak di pandang rendah lagi.
Saat Bima tengah sibuk melayani pembeli, dan Dinda serta Bunga yang tengah asyik bermain boneka Barbie milik Bunga, tiba-tiba semua mobil berhenti tepat di depan gerobak ketoprak Bima.
__ADS_1
Bima dan Dinda merasa begitu kaget melihat mobil itu, mereka sudah tahu betul siapa pemilik mobil itu. Dinda pun sudah siap jikalau sang mama mengajak nya untuk ribut lagi.
Bersambung.