
Belum hilang kekecewaan dan rasa sakit hatinya karena perlakuan yang diterimanya dari keluar nya sendiri, kini, keluarga dari pihak sang suami datang mengusik keluarga kecilnya lagi.
''Mas, Mama sakit,'' malam hari, Nadia, Adik perempuan Bima berkunjung ke rumah Bima dan memberi kabar itu. Karena memang sudah hampir selama seminggu lamanya Bima tak berkunjung ke rumah sang mama, karena kesibukannya menjual ketoprak.
''Oh ya? Kapan Mama mulai sakit?'' tanya Bima sedikit khawatir, dua bersaudara itu duduk di kursi yang ada di teras rumah. Sedangkan Bunga dan Dinda sedang berada di dalam rumah. Dinda membuat teh hangat untuk menjamu Nadia, ipar nya.
''Tadi siang, saat Mama tahu Adik nya Mbak Dinda nikah tapi tak mengundang Mama, Mama tiba-tiba sakit, karena tensi nya tinggi,'' jelas Nadia.
''Hm, maaf, Mas juga tidak tahu apa-apa perihal undangan,'' balas Bima sedikit salah tingkah. Dari dulu baik dari keluarga Bima dan dari keluarga Dinda memang tidak pernah bisa akur. Karena keluarga dari kedua belah pihak sama-sama tidak setuju dengan pernikahan Dinda dan Bima.
''Emang dasar pada aneh-aneh, ya, keluarga Mbak Dinda dan Mbak Dinda sendiri, masak udah nerima besan baru tapi lupa sama besan lama. Aku tidak habis pikir kenapa sih Mas mau menikah sama Mbak Dinda dulu,'' Nadia berkata dengan kesal.
''Sudah lah, Nad, tidak usah bahas-bahas itu lagi. Sekarang Mas dan Mbak sudah punya Bunga, kami sudah bahagia,''
''Bohong kalau ada yang bilang hidup miskin tapi bahagia. Alaah, omong kosong Mas saja itu, karena semenjak menikah dengan Mbak Dinda, hidup Mas tuh semakin melarat dan enggak ada kemajuan sama sekali. Makanya Mas dengar apa yang dibilang sama Mama dulu, mending Mas menikah sama Iren teman aku aja dulu, Iren 'kan kaya raya, Papa nya punya kebun sawit yang cukup luas,'' ucap Nadia lagi, Nadia juga sudah menikah, Iren adalah nama teman dekat nya yang masih gadis.
''Jangah bahas-bahas itu lagi, Nad.'' Bima berkata dengan intonasi naik satu oktaf, sungguh ia tidak terima Nadia yang berani berkata lancang kepadanya.
''Ya udah deh. Mama meminta Mas ke rumah Mama sekarang,''
''Ya sudah, Mas akan mengganti pakaian Mas dulu, sekalian Mas ingin mengajak Mbak Dinda dan Bunga untuk ikut serta,''
''Ya sudah, kalau begitu aku pamit pulang dulu,''
''Iya, hati-hati dijalan, ya, Dek.''
''Iya,'' jawab Nadia, setelah itu ia berlalu meninggalkan rumah sang kakak.
Setelah kepulangan Nadia, Bima masuk ke dalam rumah, begitu sudah tiba di ambang pintu, tubuh nya hampir saja menabrak tubuh Dinda yang sedang memegang nampan yang di atas nya terdapat teh hangat dan cemilan berupa kue kering.
__ADS_1
''Lho, Nadia mana, Mas?'' tanya Dinda.
''Dia baru saja pulang, Dek.''
''Kok buru-buru banget sih!''
''Mama sakit, dan kita di minta untuk ke sana sekarang. Sudah, teh dan cemilan nya kamu letakkan di belakang lagi, ya. Kita harus siap-siap ke rumah Mama,''
''Baiklah,'' jawab Dinda, setelah itu ia berjalan kebelakang, sedangkan Bima masuk ke kamarnya.
Setibanya di belakang, Dinda menghela nafas panjang, tadi, saat akan meletakkan minuman untuk Nadia, tidak sengaja Dinda mendengar obrolan antara Nadia dan Bima. Hingga membuat langkahnya terhenti di ambang pintu. Jujur, Dinda merasa tertampar mendengar apa yang dikatakan oleh Nadia tadi.
***
Setibanya di rumah orang tua nya, Bima langsung saja menyalami dan mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkan nya itu, diikuti oleh Dinda dan Bunga juga. Sang mama tengah berbaring di atas tempat tidur dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.
Dinda membawa buah tangan yang berupa buah-buahan yang ia beli di perjalanan tadi. Ada buah : Pisang, jeruk, dan pir. Dinda meletakkan buah itu di atas nakas di samping ranjang.
Dari tadi Dinda sedikit salah fokus menatap wanita yang duduk di sisi ranjang di sebelah mertua nya. Pasal nya, yang Dinda tahu, wanita itu adalah Iren, wanita yang sempat di jodohkan sama Bima dulu, tapi Bima menolak Iren karena Bima lebih memilih Dinda untuk di jadikan istri nya.
''Ma, maaf, Bima sudah beberapa hari ini tidak mengunjungi Mama, Bima sibuk akhir-akhir ini,'' Bima berkata seraya memijit kecil lengan sang mama.
''Kamu udah besar, makanya kamu merasa tidak membutuhkan Mama lagi,'' balas Sang Mama.
''Mama kok ngomong begitu? Bima janji setelah ini Bima akan sering mengunjungi Mama,''
''Hm,'' Mama Bima hanya berdehem kecil. Lalu setelah itu ia mencoba untuk bangkit, duduk di atas tempat tidur.
''Pelan-pelan, Ma,'' ucap Dinda seraya membantu sang mama mertua, ia memegang lengan dan bahu sang mertua.
__ADS_1
''Tidak udah, biar Iren saja,'' Bu Sari, Ibu nya Bima menepis kecil tangan Dinda, hingga membuat Dinda merasa hina di depan Iren dan yang lainnya. Dinda menundukkan wajahnya seraya mengatur detak jantung nya, sungguh saat ini ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun, ia juga menahan air matanya agar tak keluar. Bima yang melihat itu lalu berucap kepada sang istri.
''Sudah, Dek, duduk di sini saja.'' Ucap Bima seraya menarik tangan Dinda, ia meminta Dinda duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
Dinda pun menurut, mulutnya seakan kelu, ia tak mampu berucap sepatah kata pun.
''Kenapa Iren bisa di sini?'' tanya Bima akhirnya.
''Iren tiap hari menemani, Mama, karena dia peduli sama Mama. Tidak seperti kalian,'' Sari berkata ketus. Dinda dan Bima hanya mampu menambah rasa sabar mereka dalam menghadapi orang tua mereka. Bunga dari tadi masih duduk enteng dipangkuan Bima, Sari sama sekali tidak menyapa cucunya itu.
''Bukan begitu, Mas Bima, sekarang aku sudah menjadi Bidan desa di desa ini, makanya aku tahu kalau Mama tengah sakit dan sebelumnya aku emang suka main di sini karena aku mengunjungi Nadia,'' jelas Iren, dari dulu Iren memang telah memanggil Sari dengan sebutan Mama.
''Oh,'' balas Bima singkat, karena dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.
''Hebat 'kan Iren sekarang, dia sekarang sudah menjadi bidan desa,'' Sari membanggakan profesi Iren, ia bahkan juga menggenggam tangan Iren, terlihat sekali kalau dirinya begitu menyayangi Iren. Melihat itu, Dinda merasa sedikit iri terhadap Iren, karena Mama mertuanya lebih menyayangi wanita lain di bandingkan dirinya yang menantu di rumah itu.
''Selamat, ya, Iren,'' ucap Dinda.
''Iya, terimakasih,'' balas Iren.
''Kamu masih di rumah saja sekarang? Masih tetap tidak bekerja? Masih tetap mengandalkan suami mu? Zaman sekarang mah wanita dan laki-laki harus sama-sama punya pekerjaan, supaya pemasukkan lebih banyak dan supaya tidak jadi beban suami!'' Sari menyindir Dinda.
''Ma!'' Bima membentak sang mama, sungguh menurut nya sang mama sudah begitu keterlaluan terhadap sang istri.
''Apa? Memang begitu kenyataannya 'kan, Bima? Udah lebih baik kamu berpisah saja sama Dinda, lalu menikah dengan Iren, lagian Iren masih mau menerima kamu,'' Sari juga semakin meninggikan nada bicaranya. Suasana di dalam kamar itu semakin memanas, seperti perasaan Dinda, yang terasa panas dan tercabik-cabik mendengar hinaan dari sang mertua.
''Ak, aku permisi ke kamar mandi dulu,'' Dinda berucap dengan suara serak, setelah itu dengan langkah kaki lebar ia keluar dari kamar sang mertua.
Bersambung.
__ADS_1