
Malam hari sekitar pukul tiga dini hari, Bima dan Dinda berkutat di dapur untuk membuat ketoprak dagangan mereka. Dinda sudah menghalau segala rasa sedihnya jauh-jauh, karena baginya tidak ada gunanya juga terlalu berlarut-larut mengingat sesuatu yang telah menggoreskan luka di hati nya. Toh mereka makan tidak pernah minta-minta sama orang tua dan mertua mereka. Hanya saja cara keluarga mereka yang sudah begitu keterlaluan dalam menghina mereka membuat mereka terus kepikiran, namun semua hinaan itu mereka jadikan cambuk untuk terus melangkah maju, terus semangat mengais rizki supaya keadaan ekonomi mereka setelah ini semakin jauh lebih baik dari pada kemarin.
''Dek, nanti Mas akan mangkal di depan lahan kosong milik kita di dekat perempatan, karena nanti bahan-bahan bangunan akan datang sebagian dan tukang nya pun akan mulai bekerja hari ini, kamu bisa bantu, Mas, tidak? Untuk hari ini kamu tolong bantu Mas menjual ketoprak nya, karena nanti takutnya Mas kurang fokus jualan karena harus bercengkrama sama tukang dan orang yang mengantar bahan-bahan bangunan,'' Bima berucap menjelaskan kesibukannya nanti kepada sang istri.
''Baik, Mas. Nanti biar aku aja yang jualan, kamu fokus saja sama pembangunan ruko kita,'' balas Dinda dengan senyum simpul. Tangan nya sibuk mengaduk-ngaduk kuah kacang, kuah ketoprak yang ada di dalam baskom.
''Terimakasih Sayang,'' Bima berucap mesra seraya mencium pipi sang istri yang mulus.
''Kamu kenapa harus berterimakasih segala sama aku? Bukannya suami istri itu memang harus saling membantu,''
"Kamu memang istri yang baik dan selalu mengerti akan diri Mas. Mas semakin cinta sama kamu, Dek. I love you,''
''Bisa saja kamu, Mas.'' Dinda menunduk malu mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami. Hati nya mendadak berbunga-bunga, ia merasa kembali menjadi remaja yang tengah di mabuk cinta. Ada saja cara sang suami dalam membuat nya bahagia. Untuk bahagia tidak harus dengan bermewah mewahan, cukup dengan cara sederhana dan apa adanya.
***
Pagi harinya keluarga kecil itu berangkat meninggalkan rumah mereka untuk mengais rizki, mereka mendorong gerobak dengan wajah tersenyum bahagia.
''Bunga senang deh bisa ikut Ayah jualan,'' Bunga berucap kecil dengan wajahnya yang ceria. Ia juga berjalan kaki dengan memeluk boneka Teddy bear miliknya.
''Apa Bunga tidak merasa cepek?'' tanya Bima lembut.
''Tidak. Tadi 'kan sudah Bunga bilang kalau Bunga senang, Ayah gimana sih!'' Bunga berkata sebel kepada sang ayah. Mendengar itu membuat Dinda dan Bima tersenyum mengembang seraya menggeleng kecil.
Tidak lama setelah itu mereka tiba di perempatan, mereka langsung meletakkan gerobak mereka di pinggir jalan di depan lahan kosong milik mereka. Lahan kosong yang merupakan pemberian Almarhum Papa Dinda, hanya lahan itulah yang sang papa wariskan untuknya. Sedangkan Mama dan saudara-saudara kebagian lahan yang cukup luas di tempat berbeda, karena mereka yang rakus yang meminta agar sang papa tidak banyak-banyak memberikan warisan kepada Dinda. Dinda pun menerima dengan senang hati apa yang diberikan oleh sang papa kepadanya. Tanpa adanya rasa iri kepada Mama dan saudara-saudara nya.
Selama sang papa sakit dan pada akhirnya meninggal dunia, Dinda lah yang selalu sabar mengurus dan merawat sang papa, tidak pernah ia merasa di repot kan, karena selama ini hanya sang papa lah yang begitu baik kepadanya. Kematian sang papa membuat Dinda benar-benar merasa sedih dan kehilangan, karena tidak ada lagi anggota keluarga nya yang baik kepada nya seperti sang papa.
***
__ADS_1
Bima nampak sibuk membantu tukang menggali tanah untuk langkah awal dalam membuat ruko, sedangkan Dinda tengah sibuk melayani pembeli, alhamdulillah ketoprak mereka laris seperti biasanya.
Saat Dinda mau duduk mengistirahatkan dirinya karena pembeli tak ada lagi, tiba-tiba sebuah mobil bewarna merah berhenti tepat di hadapan gerobak nya, dan tidak lama setelah itu sang pemilik mobil keluar.
Dinda menatap orang itu malas, ternyata Iren lah yang keluar dari dalam mobil. Iren nampak memegang rantang susun stainles, rantang susun yang berisi makanan sengaja ia bawa untuk Bima.
''Kok kamu sih? Mas Bima mana?'' Iren berucap tidak suka melihat keberadaan Dinda.
''Emang kamu mau ngapain nyari suami orang?'' tanya Dinda. Mendengar itu, Iren merasa marah.
''Iya suka-suka aku lah, emang kenapa?'' Iren berkata seraya mengedarkan pandangannya, begitu ia melihat keberadaan Bima di lahan kosong yang ada di belakang Dinda, ia tersenyum senang.
''Emang kamu tidak merasa malu,'' ucap Dinda lagi. Sebagai seorang istri, sudah sewajarnya Dinda merasa cemburu saat ada wanita lain yang mencari suaminya.
''Tidak!'' balas Iren tersenyum sinis ke arah Dinda. Setelah itu ia melajukan langkah nya menghampiri Bima.
Begitu sudah sampai di dekat Bima, Iren memasang senyum semanis mungkin, lalu dia berkata, ''Mas Bima pasti capek, 'kan? Ini aku bawa makanan untuk, Mas.'' Iren berkata lembut seraya menatap lekat wajah tampan Bima.
Melihat respon dingin yang ditunjukkan Bima kepada nya membuat Iren merasa kesal.
''Mas!'' panggil Iren manja dengan nada suara ditinggikan. Namun, Bima tetap bersikap seperti semula. Dinda yang melihat dari jarak cukup jauh tersenyum simpul melihat respon sang suami dalam menghadapi Iren.
''Udahlah, Neng. Mas Bima nya sepertinya tidak suka dengan kehadiran Neng di sini. Mending makanannya di taruh saja di sini biar Akang saja yang makan,'' ujar seorang tukang yang usianya sepantaran dengan Bima.
''Makanan ini khusus untuk Mas Bima,'' kata Iren tegas.
''Tapi Mas Bima nya tidak mau. Emang Neng tidak merasa malu, Bima 'kan sudah punya istri, noh istrinya cakep begitu mana mungkin Bima sudi ngelirik wanita lain,'' sang tukang berujar lagi seraya menunjuk ke arah Dinda.
''Mas, ini makanannya aku taruh di sini, ya,'' Iren tetap tidak menyerah, ia meletakkan rantang itu di atas papan di dekat Bima.
__ADS_1
''Iya, Neng. Terimakasih.'' Sahut tukang.
''Iih dasar nyebelin!'' bentak Iren seraya menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, setelah itu ia berlalu dari hadapan Bima.
Begitu sudah sampai di dekat Dinda, Iren berucap lagi, ''Jangan senang dulu kamu, aku pastikan rumah tangga mu dan Mas Bima tidak akan bertahan lama,'' Iren tidak suka melihat Dinda yang menatap nya dengan senyuman mengejek.
''Oh ya?'' balas Dinda santai.
''Dasar kau ...,'' Iren hendak melayangkan tamparan di pipi Dinda, tapi tidak jadi karena bertepatan dengan itu sebuah mobil berhenti di dekat mobilnya. Iren menatap mobil mewah itu penasaran dengan siapa sang pemilik mobil.
''Bu Arum,'' Dinda berucap dengan senyum simpul begitu ia tahu Bu Arum lah yang keluar dari dalam mobil.
''Dinda, Bunga,'' ucap Bu Arum.
''Argh! Awas saja kamu aku adukan sama, Mama,'' Iren berkata kesal, setelah itu ia masuk ke dalam mobilnya, dan mobilnya melaju cepat meninggalkan rombongan Dinda.
''Siapa wanita itu, Nak?'' tanya Bu Arum.
''Enggak tahu, Bu. Itu wanita aneh,''
''Ada-ada saja,''
''Bu Arum mau ketoprak?'' tanya Dinda.
''Iya, buatkan dua porsi untuk Ibu, ya,''
''Iya, Bu.''
Bu Arum lalu mengajak Bunga bermain dengannya.
__ADS_1
Sebenarnya niat Bu Arum ingin bertemu dengan Dinda adalah karena ia ingin mengajak Dinda ke suatu tempat.
Bersambung.