
Mentari baru saja keluar dari balik awan, menunjukkan sinarnya yang terang, menerangi seluruh isi bumi. Bertepatan dengan saat itu juga, Bu Arum tiba di kediaman keluarga kecil yang sederhana lagi bahagia. Ia bercengkrama dengan keluarga yang penuh kehangatan tersebut, dan setelah itu ia mengajak Dinda segera berangkat.
"Mas, aku izin keluar bersama Bu Arum, ya, mohon doanya agar perjalanan kami dilancarkan dan dihindari dari marabahaya,'' Dinda berkata seraya menyalami dan mencium punggung tangan sang suami. Bima balas mengusap lembut pucuk kepala sang istri yang tertutup hijab.
Kini, mereka tengah berdiri di teras rumah. Bu Arum yang melihat bagaimana cara Dinda dan Bima berkomunikasi dan menunjukkan kasih sayang diantara mereka yang terjalin begitu sederhana, membuat Bu Arum merasa terharu dan mengagumi keluarga kecil tersebut. Di zaman modern seperti saat sekarang, rasa-rasanya sudah jarang sekali ada seorang istri yang begitu menghormati suaminya dan begitu pun sebaliknya. Bima juga menunjukkan sikap lembut nya saat sedang berhadapan dengan Dinda dan Bunga. Keluarga kecil mereka patut dijadikan contoh sebagai sebuah keluarga yang harmonis.
''Iya, doa Mas selalu menyertai kamu dan Putri kita,'' balas Bima mesra.
Bunga akan ikut bersama Dinda, karena Bima tidak bisa menjaga nya, nanti Bima akan menjual ketoprak sekaligus mengawasi tukang yang mengerjakan pembangunan rumah mereka.
Untuk di titip di rumah orang tua mereka pun mereka tak sanggup hati, karena sudah pasti Mama Dinda dan Mama Bima akan menolak untuk menjaga Bunga. Mereka sudah tahu betul bagaimana selama ini perlakukan dua orang tua itu kepada Bunga. Sari dan Neli tidak pernah menyayangi Bunga selayaknya cucu mereka.
Setelah acara berpamitan selesai, Bunga, Dinda dan Bu Arum masuk ke dalam kendaraan roda empat berwarna hitam yang begitu mengkilap. Dinda dan Bunga merasa takjub dan sedikit grogi saat masuk ke dalam kendaraan mewah tersebut, bagaimana tidak, rasanya sudah sangat lama sekali mereka tidak masuk ke dalam kendaraan jenis roda empat. Mama Dinda memang punya mobil, tapi Dinda dan Bunga tidak pernah ditawari oleh Neli untuk menaiki mobil. Setiap tahun bahkan setiap bulannya, keluarga Bu Neli akan jalan-jalan keluar kota menggunakan mobil Bu Neli, tapi Dinda tidak pernah diajak ikut serta. Lagi-lagi karena keadaan ekonomi Dinda yang dianggap rendah dan tak layak ikut bersama mereka.
Dinda, Bunga dan Bu Arum duduk di kursi belakang, seorang supir yang bekerja dengan Bu Arum akan mengantarkan mereka ke mana saja.
''Wah, dingin,'' celoteh Bunga sambil tersenyum senang merasakan sensasi dingin berada di dalam mobil.
''Bunga suka?'' tanya Bu Arum.
''Iya, besok Bunga akan minta ke Ayah untuk beli mobil kayak gini,''
''Kamu ada-ada saja, Nak.'' Dinda menggeleng kecil. Rasanya sungguh mustahil bagi mereka untuk memiliki mobil seperti mobil milik Bu Arum.
''Di amin kan saja Nak Dinda. Siapa tahu setelah ini kamu bisa memiliki mobil yang lebih mewah dari ini,'' Bu Arum menyahut dengan senyum simpul. Bunga duduk di atas pangkuan Bu Arum, sesekali Bu Arum mengecup dan mengusap lembut pucuk kepala Bunga. Bunga merasa nyaman berada di atas pangkuan Bu Arum, rasanya Bu Arum sudah seperti nenek nya sendiri.
''Amin, Bu.'' Balas Dinda.
''Nah gitu dong,''
''Bu, boleh aku bertanya?''
''Tentu boleh, Nak. Emang kamu mau bertanya apa?''
''Emang nama adik Ibu siapa?'' tanya Dinda.
''Nama nya Saraswati, biasa di panggil Saras,''
__ADS_1
''Nama yang sangat cantik, ya, Bu. Pasti orang nya juga cantik,''
''Iya, Saras memang memiliki paras yang begitu cantik, sama seperti kamu,''
''Rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Bu Saras, aku ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh Ibu apakah memang benar adanya, apa benar wajah ku dan wajah Bu Saras memiliki kemiripan,'' ucap Dinda dengan tatapan fokus ke depan.
''Kamu bisa buktikan sendiri nanti, Nak Dinda.'' Jawab Bu Arum singkat.
Setelah itu Dinda dan Bu Arum membicarakan hal apa saja, mereka saling mengenalkan diri mereka masih-masing dengan lebih dalam lagi. Bunga nampak sudah terlelap di atas pangkuan Bu Arum.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh dan lumayan melelahkan, akhir nya mereka tiba di tempat tujuan. Mereka tiba di parkiran rumah sakit jiwa tempat di mana Saras mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan lebih baik.
Mereka masuk, lalu mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan Saras.
Begitu sampai di ruangan Saras, Bu Arum mempersilahkan agar Dinda dan Bunga untuk masuk, Bunga memang sudah bangun saat mobil berhenti diparkiran tadi.
Saat mereka sudah berada di dalam ruangan itu, mereka melihat seorang wanita tengah berdiri di dekat jendela, wanita itu memunggungi mereka. Suara wanita itu terdengar merdu seraya menimang boneka yang ada di dalam dekapannya.
''Tidurlah anakku Sayang.
Mama akan selalu berada di dekat mu.
Takkan Mama biarkan seseorang berani menyentuh mu, menyakiti mu, dan mengambil kamu dari sisi Mama.
Sampai kapanpun kau tetap lah putri kecil Mama yang menggemaskan.
Kau separuh jiwaku, nafas hidup ku, harapan ku dan harta berharga ku.''
Netra Dinda dan Bu Arum berkaca-kaca mendengar kalimat-kalimat yang di senandung kan oleh Bu Saras. Suara yang begitu merdu menyentuh kalbu.
Kalau mendengar Bu Saras sedang bersenandung, ia seperti orang waras saja. Tak tampak pada dirinya kalau dirinya terganggu kejiwaannya.
''Saras, adikku, Kakak datang lagi,'' sapa Bu Arum dengan suaranya yang serak.
Saras lalu membalikkan tubuhnya, begitu ia sudah membalikkan tubuhnya dengan sempurna, Dinda di buat terkejut melihat paras Bu Saras yang memang begitu mirip dengan dirinya.
Begitu pun Saras, Saras memandang Dinda lekat, mata nya berpendar memperhatikan Dinda dari ujung kaki hingga kepala.
__ADS_1
Sedangkan Bunga, ia lagi duduk di atas sofa di ruangan itu dengan di temani oleh dua orang perawat yang selama ini bertugas menjaga Saras.
Saras perlahan mulai melangkahkan kakinya berjalan mendekati Dinda, boneka yang ada di dekapan nya ia jatuhkan begitu saja.
Dinda diam di tempat semula, entahlah, saat ia melihat wajah Saras, ia merasa ada rasa yang berbeda yang ia rasakan di sudut hati terdalam nya. Ada keinginan untuk memeluk wanita yang baru pertama kali ia jumpai itu, memeluk untuk melepaskan rasa rindu yang entah sejak kapan muncul.
Begitu sudah sampai di depan Dinda, Saras lalu mulai menyentuh wajah Dinda, menyentuh pipi, hidung, mata dan juga bibir Dinda. Dinda hanya diam, ia menatap Saras dengan air mata yang susah payah ia tahan.
''Dia mirip kan sama kamu,'' Bu Arum bersuara.
Saras mengangguk cepat, penampilan Saras terlihat bersih dan rapi, karena perawatan baru saja membersihkan dan mengikat rambutnya.
''Perkenalkan nama aku Dinda, Bu.'' Ucap Dinda akhir nya.
''Dinda?'' tanya Saras.
''Iya. Ibu cantik sekali,''
''Kamu juga cantik,'' balas Saras.
Setelah itu tanpa di duga-duga, Saras langsung memeluk tubuh Dinda dengan begitu erat, ia menciumi wajah Dinda dengan asal dan cepat, hingga jilbab Dinda sedikit berantakan karena nya.
Dinda hanya diam di perlakukan seperti itu, ia mencoba menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Saras.
Saras sudah diam, kini dirinya hanya memeluk tubuh Dinda tanpa bergerak, ia lalu menyanyikan lagu yang pernah ia nyanyikan tadi.
''Tidurlah anakku Sayang.
Mama akan selalu berada di dekat mu.
Takkan Mama biarkan seseorang berani menyentuh mu, menyakiti mu, dan mengambil kamu dari sisi Mama.
Sampai kapanpun kau tetap lah putri kecil Mama yang menggemaskan.
Kau separuh jiwaku, nafas hidup ku, harapan ku dan harta berharga ku.''
Mendengar itu, Arum menangis haru melihat pemandangan yang ada di depan matanya, belum pernah sebelumnya Saras bersikap seperti ini.
__ADS_1
Bersambung.