
Setibanya di dalam kamar mandi, air mata yang tadinya susah payah ia bendung akhirnya tumpah jua, ia membiarkan air mata itu meluncur bebas membasahi pipi lalu turun ke dagu dan setelah itu turun membasahi jilbab segi empat bermotif bunga-bunga yang ia pakai.
Dinda menumpahkan segala rasa sesak di dada nya, ia menangis terisak-isak dengan kedua telapak tangan menutup wajah. Punggung nya ia sandarkan pada daun pintu kamar mandi, pintu itu ia kunci dari dalam.
Sungguh, sekuat apapun Dinda mencoba untuk tegar dan sabar, pada akhirnya ia tumbang juga mendengar kata-kata tajam yang keluar dari mulut sang mertua, kata tajam yang seakan mencabik-cabik hati, perasaan dan juga harga dirinya. Dinda benar-benar merasa tak dihargai sama sekali sebagai seorang menantu di rumah itu.
Bahkan terang-terangan sang mama mertua membandingkan diri nya dengan wanita lain, dan meminta agar Bima menjatuhkan talak kepadanya.
Dinda tak habis pikir dengan sang mertua, sudah tua tapi tak pandai dalam menjaga lisannya, dan tega nya ia ingin menghancurkan rumah tangga anak nya.
Sedangkan Bima, ia meninggalkan Sari dan Iren di dalam kamar, ia menyusul Dinda ke kamar mandi dengan Bunga berada di dalam gendongan nya. Raut wajah Bima nampak khawatir dan merasa amat bersalah, Bima merasa menyesal telah membawa Dinda ke rumah sang mama, kalau ia tahu akan begini jadinya, lebih baik ia mengunjungi rumah orang tuanya sendiri saja. Agar sang istri tak terluka. Tapi semua sudah terlanjur terjadi.
''Drama lagi,'' Nadia yang melihat sang kakak berjalan melewati ruang keluarga bersuara seakan menyindir sang kakak. Nadia dan Sang Papa sedang duduk di sofa ruang keluarga, yang mana kalau mau ke kamar mandi memang harus melewati ruang keluarga, hanya itulah akses utama ke kamar mandi. Bima berhenti sejenak, lalu ia menatap tajam ke arah Nadia, menurutnya Nadia sudah keterlaluan, tidak menghargai nya sama sekali sebagai seorang kakak laki-laki.
''Sudah, biarkan saja, Bima. Tidak usah di bujuk, kalau sering di bujuk bisa-bisa Dinda ngelunjak dan besar kepala,'' kali ini Pak Muklis yang bersuara, Papa nya Bima. Pak Muklis nampak tengah duduk memangku anak Nadia, anak perempuan yang berusia empat tahun, anak perempuan yang kecantikan nya masih kalah jauh di bandingkan Bunga. Tapi Pak Muklis memperlakukan anak Nadia lebih spesial dari Bunga. Ia sangat menyayangi anak Nadia, sedangkan terhadap Bunga ia malah abai.
Tadi Pak Muklis dan Nadia juga sempat melihat Dinda berjalan dengan langkah kaki lebar melewati mereka, mereka sama sekali tidak menyapa Dinda.
''Kalian benar-benar tak mempunyai perasaan!'' Bima berkata dengan rahang mengeras.
''Bela terus istri Mas yang enggak guna itu,'' Nadia bersuara lagi dengan senyum sinis.
Bima tak menanggapi perkataan Nadia lagi, ia berlalu, ia takut hilang kendali dengan menyakiti sang adik untuk melampiaskan amarahnya kepada keluarga nya sendiri.
Ia melangkahkan kaki nya dengan cepat ke arah kamar mandi, begitu dirinya sudah tiba di depan pintu kamar mandi, ia mengetuk pintu dengan pelan.
''Dek, udah, ayo keluar, kita pulang yuk,'' Bima berucap pelan dan lembut. Namun tak ada sahutan dari Dinda. Suara tangisan Dinda terdengar hingga keluar, membuat Bima tak kuasa mendengarkan nya, dan membuat dirinya merasa tak berguna sama sekali menjadi seorang suami.
''Dek, Mas sangat menyayangi kamu dan Bunga, Mas tahu kamu adalah istri yang baik nya luar biasa. Sampai kapanpun Mas tidak akan meninggalkan kamu dan Mas tidak akan pernah berpaling ke lain hati karena tidak ada alasan bagi Mas untuk melakukan itu. Kamu istri yang sempurna. Maaf karena Mas belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu, karena Mas belum bisa menjaga perasaan kamu dari ucapan pedas keluarga, Mas.'' Lagi, Bima membujuk Dinda dengan sungguh-sungguh. Namun tetap saja, Dinda masih betah berada dalam kamar mandi mengurung dirinya.
''Mama jangan nangis lagi, Bunga juga kepengen nangis rasanya kalau denger Mama nangis,'' kali ini Bunga yang bersuara dengan nada suara terdengar sedih.
''Mama ayo keluar,'' ucap Bunga lagi.
Setelah beberapa saat hening, akhir nya Dinda membuka pintu kamar mandi, begitu pintu terbuka, Bima merasa sangat terluka hatinya dan perasaannya saat ia melihat mata sang istri yang merah dan sembab. Namun tetap saja, Dinda masih memaksa senyum dihadapan kedua orang yang begitu dicintainya.
__ADS_1
''Mas,'' lirih Dinda, Dinda dan Bima saling menatap lekat.
''Maaf, maafkan Mas, Dek,'' Bima mengusap pucuk kepala sang istri.
''Hiks,'' Dinda menunduk kepala nya, lagi-lagi air matanya tak mampu dibendung oleh nya.
''Udah, ayo kita pulang, Dek.'' Ajak Bima seraya menghapus air mata sang istri dengan ujung jarinya. Bunga pun melakukan hal yang sama. Mendapati perlakuan yang begitu lembut dari dua orang yang begitu dicintainya, membuat senyum Dinda terbit di wajah cantiknya. Ia merasa tak ada gunanya juga ia menangis barusan, karena masih ada anak dan suaminya yang sangat menyayangi nya. Setelah ini Dinda tidak akan memikirkan apapun, tidak akan memikirkan sesuatu yang dapat melukai hati dan perasaan nya, setelah ini Dinda berjanji akan fokus dan memprioritaskan keluarga kecilnya.
''Tapi, Mama, Mama 'kan lagi sakit, kita tidak perlu terburu-buru pulang nya, kita temani Mama dulu,'' Dinda berkata seperti itu karena dirinya tidak mau membuat sang suami menjadi anak durhaka.
''Mama tidak memerlukan kehadiran kita di rumah ini, sudah ada Iren yang menemani nya, wanita yang selalu dibangga-banggakan nya karena profesi dan harta yang Iren punya,'' balas Bima.
''Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, Mas. Biar bagaimanapun Mama Sari tetaplah Mama kandung mu. Wanita yang telah mempertaruhkan nyawa nya demi menghadirkan sosok pria seperti Mas.''
''Kamu memang istri Mas yang baik,''
''Aku berbicara apa adanya, Mas. Sebagai seorang istri, sudah sepatutnya aku memperingatkan, Mas.''
''Iya, iya. Ayo kita pulang.''
''Tidak usah. Nanti kamu nangis lagi.''
''Aku cengeng, ya?''
''Tidak. Kamu wanita yang kuat, perkataan Mama saja yang sudah begitu keterlaluan.''
Setelah itu mereka berjalan menuju pintu utama, mereka akan segera pulang.
Saat melewati ruang keluarga, Nadia dan Muklis berucap lagi.
''Udahan main drama-drama nya? Kapan maju nya kalau suka drama terus,'' sindir Nadia tak ada puasnya.
''Kamu tahu sinetron dan film kan Nadia?'' Bima membalas perkataan sang adik.
''Tahu lah, emang apa hubungannya,'' Nadia mencebik.
__ADS_1
''Kalau tidak ada drama nya, tidak akan mungkin sinetron dan film menjadi maju. Kamu saja suka nonton drama. Kalau ngomong itu dipikir dulu, jangan asal nyerocos,'' balas Bima.
Mendengar itu, membuat wajah Nadia memerah.
''Udah, kamu apa-apaan, Bima. Kekanak-kanakan amat jadi laki.'' Muklis berucap menatap Bima.
''Kami pulang,'' Bima malas bertengkar.
''Kamu tidak berpamitan dulu sama, Mama kamu?''
''Tidak, Pa. Tidak ada gunanya juga.'' Balas Bima, setelah itu mereka bertiga berjalan menuju pintu utama, pergi meninggalkan rumah yang selalu menggoreskan luka di hati Dinda.
Di dalam kamar, Sari merasa amat kesal karena Bima tidak menemui nya lagi di kamar.
''Mas Bima sudah pulang,'' adu Nadia yang masuk ke kamar Sari usai kepergian rombongan Bima.
''Wanita itu benar-benar telah berhasil membuat Bima semakin jauh dari kita,'' ucap Sari geram.
''Iya, Ma. Mama benar,''
''Iren kamu beneran masih suka 'kan sama Bima?'' tanya Sari kepada Iren yang duduk di sebelahnya.
''Masih lah, Ma,'' jawab Iren malu-malu.
''Kalau begitu saat Bima lagi mangkal kamu goda dia, kamu temui dia dan pepet dia terus. Restu Mama akan selalu menyertai mu,'' Sari berucap memberi dukungan dan semangat kepada Iren.
''Tapi Mas Bima tidak menyukai aku, Ma,'' Iren berucap sedih.
''Pelan-pelan dia pasti akan tergoda sama kamu kalau kamu terus menemui,''
''Iya, Iren. Sekalian juga kamu bawa makan siang untuk Mas Bima saat dia lagi mangkal, supaya Mas Bima klepek-klepek sama kamu,'' ucap Nadia.
Mendengar itu, Sari dan Iren tersenyum merekah. Perkataan Nadia ada benarnya juga.
Bersambung.
__ADS_1
Sabar ya, teman-teman. Next episode Arum dan Dinda akan bertemu lagi.