DIASINGKAN DI KELUARGA

DIASINGKAN DI KELUARGA
Part 16


__ADS_3

Bima yang melihat kedatangan Bu Arum, lalu dengan cepat ia berjalan menghampiri Bu Arum.


''Eh, Bim, ini kok makanan nya di tinggal di sini,'' sapa si tukang yang nampak sibuk tengah menyeka keringat di keningnya. Hari ini panas cukup terik membuat mereka cepat merasa lelah. Ia menunjuk sekilas makanan yang di bawa oleh Iren tadi.


''Untuk kalian saja,'' balas Bima tersenyum simpul.


''Beneran, Bim?''


''Iya,''


Mereka pun lalu membuka rantang itu dengan cepat untuk melihat apa isi rantang tersebut.


Setibanya Bima di dekat Bu Arum, ia menyapa wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu dengan ramah.


''Bu,''


''Iya, Nak Bima.''


''Bu Arum dari mana bisa tahu kalau kami mangkal di sini?'' tanya Bima.


''Ibu tanya-tanya sama warga setempat, alhamdulillah Ibu bisa ketemu sama kalian dengan cepat.,''


''Pasti susah, ya, Bu, Ibu nyari nya?'' ucap Dinda.


''Tidak kok.''


''Syukurlah,'' balas Dinda.


''Kalian mau bikin apa di lahan kosong itu?'' tanya Bu Arum penasaran seraya melihat tukang-tukang yang sedang bekerja.


''Kita mau bikin ruko kecil, Bu. Supaya kita punya warung ketoprak tetap. Tidak pindah pindah lagi mangkal nya,'' jelas Dinda.


''Alhamdulillah. Semoga saja dagangan kalian semakin laris manis.''


''Amin.'' Dinda dan Bima mengucap bersamaan.


Bu Arum menyantap ketoprak buatan Dinda seraya manggut-manggut, ketoprak itu rasanya begitu cocok di lidah nya, dan dia sangat menyukai nya.


''Ketoprak ini enak sekali rasanya, wajar saja banyak yang beli,'' puji Bu Arum tersenyum simpul. Selama Bu Arum duduk bersama rombongan Dinda, sudah ada beberapa orang yang membeli ketoprak itu.


''Alhamdulillah kalau enak, Bu.'' Balas Bima.


Setelah ketoprak nya ludes, Bu Arum menyampaikan niat nya kepada Dinda.


''Dinda, apakah kamu mau ikut bersama Ibu?'' tanya Bu Arum hati-hati.

__ADS_1


''Ke mana, Bu?'' balas Dinda balik bertanya dengan kening berkerut.


''Ke rumah sakit, em jadi begini, untuk menghilangkan rasa penasaran Ibu terhadap kamu, Ibu ingin melakukan tes DNA antara kamu dan Adik Ibu. Ibu ingin lihat apakah antara kalian ada hubungan darah,'' jelas Bu Arum pelan.


''Duh, rasanya tidak mungkin atuh, Bu. Lagian aku tidak mengenali adik Ibu.'' Balas Dinda menggeleng kecil.


''Apa salahnya di coba dulu, kan,'' ucap Bu Arum lagi penuh harap. Ia berharap Dinda mau mengikuti nya.


''Benar, Dek. Kamu ikut saja,'' sambung Bima.


''Tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sama,''


''Ya tidak apa-apa, Nak,''


''Baiklah, kalau begitu aku bersedia, Bu.'' Jawab Dinda akhir nya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Dinda membuat Bu Arum tersenyum lega.


Mereka lalu menjadwalkan keberangkatan mereka besok, pagi hari, karena hari ini Dinda tidak bisa karena pekerjaannya masih banyak, Dinda harus menyiapkan makanan dan minuman untuk tukang yang bekerja.


Bu Arum pamit dari hadapan Dinda, Bunga dan Bima. Besok pagi-pagi sekali ia akan menjemput Dinda. Ia membayar ketoprak yang ia makan dengan uang kertas sebanyak lima ratus ribu rupiah, berulangkali Dinda menolak pemberian Bu Arum, karena bagi Dinda itu terlalu banyak, tapi Bu Arum tetap memaksa agar Dinda mengambil nya, alhasil Dinda pun mengalah dan mengambil nya. Dinda merasa sangat senang bisa dipertemukan dengan orang sebaik Bu Arum.


***


''Bu Arum ada-ada saja, ya, Mas, mana mungkin aku ini keponakan nya yang hilang,'' ucap Dinda malam hari ketika dirinya dan Bima baru selesai mengerjakan sholat Isya. Bunga sudah terlelap, mungkin karena tubuhnya merasa lelah makanya ia cepat tidur malam ini.


''Ada-ada saja kamu, Mas. Udah jelas-jelas aku ini anak Mama Neli dan Papa,'' sahut Dinda menggeleng kecil.


Saat mereka tengah mengobrol, terdengar suara ketukan berulangkali di daun pintu rumah mereka.


Dinda berjalan cepat menuju pintu, ia akan membuka nya dan melihat siapa yang telah menggedor-gedor pintu dengan tak sabaran.


''Mama, Siska,'' lirih Dinda saat pintu sudah terbuka. Ia melihat dua orang wanita dengan gaya sosialita sudah berdiri di depan pintu. Mereka berdiri dengan gaya mereka yang angkuh.


''Lama amat sih!'' Siska berkata kesal.


''Silahkan masuk, Ma, Kak,'' tawar Dinda ramah.


''Tidak usah,'' tolak Neli. Neli lalu duduk di atas bangku kayu yang ada di teras, di ikuti oleh Siska.


''Ada apa, Ma?'' tanya Dinda.


''Itu, emang kalian mau bikin apa di atas tanah pemberian Papa kamu?'' tanya Neli dengan wajah tak bersahabat. Ia tidak percaya Dinda dan Bima punya uang untuk membangun ruko.


''Aku dan Mas Bima pengen bangun ruko kecil, Ma, untuk tempat menjual ketoprak,'' jawab Dinda apa adanya.

__ADS_1


''Emang kalian punya uang? Pinjam di mana?'' celetuk Siska.


''Alhamdulillah punya, Kak. Kami tidak pinjam uang di mana-mana.''


''Alaah ngeles aja kamu,'' Siska berucap lagi.


''Iya, Dinda. Emang kalian pinjam uang di mana?'' kini Neli yang bertanya.


''Kami tidak pinjam uang di mana-mana, Ma. Kami punya uang tabungan untuk membuat ruko, uang yang sudah dari lama kami simpan dikit demi sedikit,'' jelas Dinda.


''Baguslah. Takutnya kamu malah minjam, dan takutnya kamu bawa nama kita-kita untuk membayar,''


''Alhamdulillah tidak, Ma.''


''Hm,''


''Kalian gimana kabarnya? Naira kenapa tidak ikut?'' tanya Dinda.


''Kamu bisa lihat sendiri 'kan kabar kami. Mana mau Naira ikut ke rumah kamu yang jelek kayak gubuk begini. Naira itu sekarang lagi bulan madu di hotel bintang lima bersama suaminya.'' Ucap Neli


''Hm, semoga saja rizki keluarga kecil Naira lancar seperti air yang mengalir,'' ucap Dinda tulus.


''Udah, enggak usak sok-sokan mendoakan keluarga orang lain. Mending kamu berdoa saja untuk keluarga kamu sendiri, keluarga yang melarat. Lagian Naira tidak akan pernah hidup susah kayak kamu, suaminya kan kerja kantoran,'' ucap Siska lancar.


Dinda tak membalas perkataan Siska lagi, ia memilih diam untuk menghindari perdebatan yang tiada akhirnya.


''Benar yang dikatakan oleh Siska. Oh ya, kamu tahu tidak, kemarin tuh ya, saat pesta, Ciko dan Naira dapat amplop yang berisi uang tunai sebanyak lima belas juta rupiah dari Bos nya. Gimana? Banyak kan?'' Neli memamerkan apa yang Naira dan Ciko dapat dari Arum kepada Naira.


''Alhamdulillah kalau begitu,'' balas Dinda.


''Kamu pasti iri, 'kan? Uang lima belas juta rupiah? Butuh berapa tahun tuh bagi kamu dan Bima untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. Kalian 'kan hanya menjual ketoprak yang harganya seribu rupiah,'' tak ada bosan-bosannya Siska menghina Dinda.


''Aku tidak iri, Kak,''


''Alaah bohong banget!''


''Sudah, ayo kita pulang, Sis.''


''Ayo, Ma. Nanti kita mampir di restoran langganan kita itu, ya, Ma. Restoran yang harganya sungguh fantastis,''


''Iya, tapi kamu yang traktir.''


''Siap, Ma. Untuk Mama apa sih yang tidak. Siska 'kan ingin menjadi anak yang berbakti dan tidak mau jadi anak durhaka seperti anak Mama yang satu itu,'' ucap Siska lantang. Setelah itu Neli dan Siska pergi meninggalkan rumah Dinda.


Dinda hanya mampu mengelus dada mendengar celotehan Siska.

__ADS_1


Setelah itu dirinya masuk ke dalam rumah, ia akan segera tidur karena besok Arum akan menjemput nya.


Bersambung.


__ADS_2