
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh dan lumayan melelahkan, akhir nya mobil yang membawa Arum berhenti tepat di depan gerobak ketoprak.
Arum keluar dari dalam mobil dengan perasaan yang begitu membuncah, rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin memberi tahu kabar bahagia yang tengah ia rasakan kepada Dinda, memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya. Ia ingin Dinda tahu, kalau dirinya benar-benar adalah Tante Dinda, kakak dari Ibu kandung Dinda.
Melihat kedatangan Arum, membuat Dinda dan Bunga tersenyum bahagia, begitu juga Bima, Bima yang tengah berkumpul dengan para pekerja, begitu ia melihat kedatangan Arum, dengan cepat ia berjalan ke arah Dinda dan Bunga. Entahlah, rasanya mereka bertiga sangat senang melihat kedatangan Arum, karena mereka tahu, Arum adalah orang yang baik, tulus dan tidak pernah menghina mereka karena kemiskinan mereka, berbeda dengan keluarga mereka sendiri yang selalu meremehkan kemiskinan mereka dan selalu menganggap mereka rendah.
''Bu,'' Dinda menyalami dan mengecup tangan Arum saat Arum sudah berdiri di hadapan mereka. Bunga melakukan hal yang sama seperti sang mama, sementara Bima hanya menyalami saja.
''Kalian apa kabarnya?'' tanya Arum dengan mata berkaca-kaca, ia menatap Dinda dengan penuh arti.
''Alhamdulillah kami baik, Bu. Ibu dan Bu Saras bagaimana kabarnya?'' balas Dinda dengan senyum simpul, tapi Dinda merasa penasaran melihat mata Arum yang berkaca-kaca, apa yang terjadi dengan Bu Arum? Pikirnya.
''Alhamdulillah, kami juga sehat dan baik-baik saja, Nak,'' Arum menjawab dengan suaranya yang serak, setelah berkata seperti itu, ia langsung saja menghambur memeluk tubuh Dinda, ia memeluk Dinda erat dengan isakan nya yang terdengar.
''Ibu kenapa?'' tanya Dinda kebingungan. Bunga dan Bima pun merasa bingung melihat sikap tak biasa yang di tunjukkan oleh Arum. Bima lalu menggendong tubuh Bunga.
''Nak,'' panggil Arum.
''Iya, Bu.'' Sahut Dinda. Kini mereka sudah tak berpelukan lagi, Dinda dan Arum berdiri berhadapan dengan jarak cukup dekat.
''Ternyata kamu beneran keponakan ibu yang hilang,'' Arum mengelus pipi Dinda.
''Ibu tidak becanda, 'kan?'' tanya Dinda terkejut.
__ADS_1
''Mana mungkin Ibu becanda, ini kamu baca sendiri tulisan yang ada di kertas ini. Ini hasil tes DNA antara kamu dan Saras waktu itu sudah keluar,'' Arum mengambil surat keterangan yang ada di dalam tasnya, lalu ia menyerahkan kepada Dinda. Dinda dan Bima pun membaca keterangan hasil tes DNA tersebut dengan begitu teliti.
''Masya Allah,'' Dinda menutup mulutnya setelah ia membaca surat tersebut, ia merasa kaget dan juga tidak percaya, ''Lalu, Mama Neli itu siapa? Apa mungkin aku adalah anak yang di pungut nya? Maka nya selama ini Mama Neli tak pernah menyayangi aku dengan tulus, dia juga tidak pernah memperlakukan aku selayaknya anak nya sendiri seperti apa yang ia lakukan kepada Kak Siska dan Naira,'' gumam Dinda dengan mata berkaca-kaca. Bima mengelus punggung Dinda dengan pelan, Bima pun sama, ia juga tidak menyangka kalau sang istri adalah keturunan dari orang berada dan orang kota, pantas saja sang istri memiliki paras yang begitu cantik alami, dari dulu Bima selalu merasa beruntung bisa memiliki sang istri yang cantik lagi lemah lembut.
''Seperti nya begitu, Nak. Sepertinya waktu kamu masih bayi Neli dan suami nya telah menemukan kamu lalu merawat kamu. Entah bagaimana ceritanya kamu bisa bersama mereka, kita juga tidak tahu, hanya Neli dan almarhum suaminya yang tahu,'' ucap Arum lagi, dan Dinda mengangguk kecil.
''Iya, Bu. Ya Allah, ini sungguh diluar dugaan, aku tidak menyangka bisa di pertemukan dengan Ibu, Ibu yang merupakan Tante kandung aku, orang yang mempunyai ikatan darah dengan aku dan juga Bunga. Pantas saja sejak pertama kali bertemu aku merasa sudah nyaman mengobrol sama Ibu.''
''Iya, Nak. Ibu pun begitu,'' sahut Arum lagi, Arum lalu membawa Bunga dalam gendongannya, Arum mencium cucu semata wayang nya itu berulangkali dengan penuh kasih sayang.
''Akan nenek sekolah kan kami di sekolahan yang elit, akan nenek cukupi semua kebutuhan mu hingga kamu dewasa, nenek janji akan menyekolahkan kamu hingga kamu menjadi wanita sukses,'' Arum berucap di dalam hati seraya mengusap lembut pucuk kepala Bunga. Bunga yang diperlakukan dengan begitu lembut, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Arum, Bunga sangat menyayangi nenek nya itu.
''Ibu mau makan ketoprak?'' tawar Dinda, kini mereka sudah duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang.
''Boleh deh,'' jawab Arum dengan senyum simpul.
''Baiklah, Dek,'' jawab Bima dengan senang hati.
''Nak, setelah ini kalian tidak usah jualan ketoprak lagi, ya,'' Arum berucap hati-hati.
''Maksud Ibu gimana?'' tanya Dinda dengan menyipitkan matanya.
''Kalian ikut lah dengan Ibu, kalian tinggalah bersama Ibu dan bersama Mama kandung kamu di rumah kita yang megah dan mewah, supaya rumah itu terasa hidup karena kehadiran Bunga, dan kalau bisa Ibu pengen request minta cucu lagi dari kamu,'' Arum berucap seraya tersenyum kecil menggoda Dinda, Dinda dan Bima hanya bisa mengulum senyum mendengar itu, karena sebenarnya mereka juga kepengen memberikan Bunga adik, adik laki-laki kalau bisa.
__ADS_1
''Ibu bisa saja,'' balas Dinda singkat, karena ia merasa bingung harus menjawab apa.
''Kalian tidak usah capek-capek lagi menjual ketoprak, karena kamu adalah penerus kami, Nak. Kamu akan Ibu jadikan pimpinan perusahaan kita selanjutnya,'' Arum berucap meyakinkan Dinda.
''Itu tidak mungkin, Bu,'' Dinda menunduk lesu, karena ia merasa tidak pantas menjadi pemimpin suatu perusahaan.
''Kenapa tidak?'' tanya Arum.
''Aku sama sekali tidak punya pengalaman bekerja kantoran, apalagi masalah bisnis, rapat dan meeting begitu. Ah, aku tidak mengerti, Bu.'' Ucap Dinda merasa minder.
''Ibu yang akan mengajari kamu, Nak. Kamu tenang saja, akan Ibu ajarkan sampai kamu bisa,'' Arum berucap lagi meyakinkan Dinda.
''Mas,'' Dinda meminta pendapat Bima, karena ia bingung harus menjawab apa.
''Kamu turuti saja apa yang dikatakan oleh Ibu, Dek. Untuk soal ketoprak, Mas akan terus melanjutkan usaha ketoprak kita ini,''
''Ibu punya ide, Ibu akan membangun warung ketoprak yang besar untuk Nak Bima, siapa tahu warung ketoprak kalian bisa maju nantinya,''
''Wah ide Ibu ada benarnya juga,'' sahut Dinda.
''Iya, Bu. Amin, semoga saja usaha ketoprak yang kami rintis dari nol bisa berkembang dan memiliki banyak anak cabang,'' timpal Bima.
''Amin,'' ucap Arum lagi. Ia senang melihat Bima dan Dinda yang begitu semangat untuk mewujudkan impian mereka.
__ADS_1
Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di belakang mobil Arum, mobil bewarna merah milik Iren.
Bersambung.