DIASINGKAN DI KELUARGA

DIASINGKAN DI KELUARGA
Bu Arum


__ADS_3

Neli merasa begitu bahagia melihat Naira yang baru saja melepaskan masa lajangnya. Dua menit yang lalu, suami Naira baru selesai mengucapkan ijab kabul dengan di saksikan banyak pasang mata.


''Adik mu cantik sekali, Sis,'' kata Neli. Ia berbicara dengan Siska yang ada di sebelah nya.


''Iya, Ma,'' sahut Siska. Siska dan Neli memakai pakaian yang sama, pakaian seragam warna Lilac yang mereka jahit khusus untuk mereka pakai di pesta pernikahan Naira. Bahkan anggota keluarga mereka yang lain juga kebagian seragam yang sama dengan mereka. Hanya Dinda dan keluar kecil nya saja yang tidak kebagian, karena Neli tak sudi memberikan kepada keluarga kecil Dinda.


''Semoga saja rumah tangga Naira dan Ciko samawa, dan tidak kekurangan suatu apapun,'' ucap Neli lagi dengan netra berkaca-kaca. Ia merasa begitu terharu.


''Amin, Ma,'' balas Siska.


''Jangan sampai nasib Naira sama kayak Si Dinda itu, punya suami miskin! Sungguh ngenes nasib nya,''


''Udah lah, Ma. Enggak usah sebut nama tuh anak lagi. Bikin kesel aja kalau ingat tuh wajah yang sok polos, sok baik, tapi aslinya durhaka dan belagu banget!''


''Iya, Sis. Kamu bener banget.''


''Semoga saja setelah ini hidupnya semakin melarat,'' sumpah Siska.


''Iya, biar tahu rasa tu anak durhaka!'' sambung Neli lagi tersenyum miring mengingat Dinda.


Setelah itu Naira sungkeman sama Neli, Neli terisak seraya mengelus pucuk kepala Naira. Neli memang sangat-sangat menyayangi Naira, selama ini dia selalu menuruti apa yang diinginkan oleh Naira. Hingga Naira tumbuh menjadi gadis yang manja.


''Kamu jaga anak Mama dengan baik, ya, Nak Ciko, Mama percaya sama kamu,'' pesan Neli kepada suami Naira. Neli menepuk-nepuk kecil pundak Ciko.


''Iya, Ma,'' jawab Ciko seraya mengangguk kecil.


Setelah semua prosesi akad nikah selesai, kini waktunya pesta pernikahan dimulai, Naira dan Ciko sudah berganti pakaian pengantin. Tadinya Naira memakai gaun pengantin bewarna putih, kini mereka memakai pakaian pengantin bewarna merah muda.


Mereka berdiri di atas pelaminan menyambut tamu yang datang. Neli selalu memasang senyum lebar menyambut tamu yang menyalami tangan nya.


''Selamat ya, Jeng, akhir nya Jeng punya mantu yang kaya raya lagi, sama seperti suami Siska'' ucap teman Neli yang usianya sama seperti Neli.


''Iya, Jeng. Naira gito lho,'' balas Neli lirih. Ia sengaja berbicara dengan suara lirih, karena ia takut kedengaran oleh Ciko dan kedua orang tua Ciko yang berdiri tidak jauh dari nya.


''Eh jeng, kok aku tidak melihat keberadaan Dinda,'' tanya temannya lagi.


''Dinda lagi dirumahnya, lagi sakit katanya,'' Neli berbohong.


''Bima dan Bunga mana?'' tanya wanita itu lagi penuh selidik. Karena selama ini ia tahu betul bagaimana Neli dalam memperlakukan Dinda.


''Lagi sakit juga, mereka bertiga lagi terkena demam musiman yang menular, makanya mereka tidak dapat menghadiri pesta pernikahan Naira,'' lagi-lagi Neli berkata omong kosong.


''Oh,'' sahut temannya lagi seraya mengangguk kecil.

__ADS_1


Setelah itu ia bersalaman dengan Naira, Ciko dan kedua orang tua Ciko.


Neli memandang tak suka ke arah temannya, menurut nya temannya itu terlalu kepo jadi orang.


Banyak tetangga dan kerabat dekat Neli yang menanyakan keberadaan Dinda, dan Neli selalu menjawab dengan alasan yang sama, dengan mengatakan kalau keluarga kecil Dinda tengah sakit.


***


Di tempat berbeda, di pusat perbelanjaan tempat rombongan Dinda berada.


''Aku kenapa, Bu?'' tanya Dinda lembut, karena wanita yang ada di hadapannya masih saja memandangnya lekat dengan netra berkaca-kaca.


''Kamu, wajah kamu mirip sekali dengan Adik Ibu,'' jawab wanita itu.


''Adik Ibu?'' tanya Dinda dengan mata menyipit.


''Iya, usianya lebih muda dua tahun dari Ibu. Sekarang ia tengah sakit,''


''Semoga saja Adik Ibu lekas sembuh, ya, Bu.''


''Sulit, Nak. Adik Ibu sudah sulit untuk sembuh.''


''Emang Adik Ibu sakit apa? Serius kah?'' Dinda merasa penasaran.


''Iya, Bu.'' Balas Dinda.


''Ahmad, kamu tunggu di mobil, dulu, ya,'' Ibu itu berkata kepada seorang pria muda yang memakai seragam warna hitam.


''Baik, Nyonya,'' jawab Ahmad. Ahmad merupakan supir Ibu itu.


Mereka lalu berjalan ke tempat makan yang ada di sekitar mereka. Begitu sudah sampai dan sudah duduk di kursi yang ada di tempat makan, Bu Arum meminta agar Dinda, Bima dan Bunga memesan makanan apa saja yang mereka suka, karena Bu Arum yang mentraktir mereka.


Dengan perasaan sungkan keluarga kecil Dinda akhirnya memesan makanan dan minuman mereka masing-masing, karena Bu Arum yang terus memaksa.


Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, mereka lanjut mengobrol lagi.


''Adik Ibu terkena gangguan jiwa,'' jelas Bu Arum dengan wajah sedih. Mendengar itu, Dinda dan Bima pun ikut prihatin mendengar nya.


''Astaghfirullah, aku ikut prihatin, Bu,'' kata Dinda.


''Kamu tahu kenapa dia bisa seperti itu?'' ucap Bu Arum lagi, dan Dinda menggeleng kecil.


''Itu karena peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu, dua puluh lima tahun yang lalu Adik Ibu kehilangan bayi yang baru saja dilahirkan nya, bayi malang itu hilang saat sedang berada di inkubator rumah sakit. Begitu Adik Ibu tahu bayinya meninggal, ia terkena Beby blues dan ia stress hebat, hingga saat ini kondisinya semakin parah saja. Kami sudah berusaha mencari bayi itu kemana saja, tapi tetap saja bayi perempuan itu tidak kunjung di temukan,'' jelas Bu Arum dengan pandangan menerawang ke masa lalu.

__ADS_1


''Ya Allah.'' Hanya kata itulah yang mampu Dinda ucapkan.


''Kamu, siapa nama mu, Nak? Nama suami mu dan Putri mu ini? Kita belum berkenalan tadi,'' ucap Bu Arum lagi.


''Perkenalkan nama aku Dinda, Bu.''


''Aku Bima, Bu.''


''Dan gadis cantik ini siapa namanya?'' tanya Bu Arum seraya memegang dagu Bunga.


''Nama aku unga,'' jawab Bunga.


''Unga?''


''Maksudnya Bunga, Bu.'' Sambung Dinda. Dan mereka tertawa kecil karenanya.


''Nama yang cantik, secantik orangnya.''


''Makasih, Nek.'' Balas Bunga lagi.


''Iya, anak cantik. Perkenalkan nama Nenek, Nenek Arum. Tapi kamu panggil Nenek dengan sebutan Oma saja, ya, biar lebih kekinian,''


''Baik Oma tantik.'' Balas Bunga lagi dengan suaranya yang masih cadel.


''Duh pintar sekali kamu Sayang.''


''Dinda, wajah kamu benar-benar mirip seperti wajah Adik Ibu. Kalau boleh Ibu tahu, apa orang tua kamu masih hidup?''


''Mama aku masih hidup, Bu. Kalau Papa aku udah meninggal dunia dari beberapa tahun yang lalu.''


''Dinda, boleh Ibu tahu di mana alamat rumah mu?'' tanya Arum lagi. Sungguh entah kenapa Arum merasa begitu yakin kalau Dinda adalah keponakan nya yang hilang. Tapi ia masih merasa sungkan untuk mengatakan keyakinan nya pada Dinda.


''Tentunya boleh, Bu.'' Jawab Bima. Lalu Bima mengirimkan alamat rumah mereka lewat chat WA. Setelah sebelumnya mereka saling bertukar nomer WA.


''Kalian sungguh pasangan yang serasi, yang perempuan nya cantik, yang laki-laki nya tampan,'' puji Bu Arum kepada Dinda dan Bima.


Mendengar itu, Bima dan Dinda hanya tersenyum simpul.


Mereka lalu berpisah, Bu Arum pamit pulang setelah menyicipi sedikit makanan yang ia pesan, ia meninggalkan rombongan Dinda yang masih menyantap makanan yang mereka pesan. Makanan itu sudah di bayar oleh Bu Arum, bahkan Bu Arum menyelipkan uang sebanyak tiga ratus ribu rupiah ke tangan Bunga. Katanya untuk jajan.


Bu Arum sedang terburu-buru, karena ada sesuatu yang harus ia urus.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2