
Dinda berjalan melewati jalan setapak dengan menundukkan kepala, tangis nya berderai. Air mata turun membasahi pipi dengan begitu derasnya, dengan cepat Dinda menghapus air mata itu dengan tangan. Sungguh, dirinya sudah tidak dapat lagi membendung tangis, tidak ada hal yang lebih menyakitkan selain di hina dan di rendahkan oleh keluarga sendiri. Keluarga yang seharusnya mensupport, tapi ini? Ah ... Keterlaluan memang.
Ibu-ibu yang duduk di teras rumah hanya bisa menatap Dinda dengan perasaan iba, tanpa di jelaskan, mereka sudah tahu betul apa yang terjadi kepada Dinda, karena selama ini mereka sudah tahu bagaimana Bu Neli, Mama nya Dinda yang selalu bersikap tega kepada Dinda. Mereka tidak habis pikir kenapa selama ini Bu Neli selalu membedakan Dinda dari saudara-saudaranya yang lain. Saudara-saudaranya selalu di perlakukan secara istimewa, sementara Dinda selalu di hina dan di jadikan sapi perah.
***
''Udah, jangan nangis lagi, Dinda.'' Dinda berkata di dalam hati saat dirinya sudah tiba di depan teras rumah nya. Dia tidak ingin suami dan anak nya melihat dirinya menangis. Sudah pasti Bima dan Bunga ikut sedih jika melihat dirinya menangis.
''Assalamu'alaikum,'' Dinda sedikit meninggikan nada suaranya. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Hingga saat Dinda melihat ke arah bawah, dia melihat pintu di gembok.
__ADS_1
''Astagfirullah, karena terlalu berlarut-larut dengan kesedihan ini hingga aku tidak menyadari rumah di gembok dari luar,'' lirih Dinda berucap dengan suara nya yang serak. Lalu dia mengambil kunci cadangan dari dalam saku gamis yang di pakai. Dia memasukkan kunci ke dalam gembok, memutar nya, lalu pintu terbuka. Dinda sudah bisa menebak, pasti anak dan suaminya sedang mancing di empang Kong Hasim, sesuai dengan apa yang dikatakan Bima tadi.
Setibanya di dalam rumah, Dinda langsung saja menyingkap tudung saji, dia mengambil piring dan memasukkan nasi beserta lauk yang berupa ayam goreng. Iya, tadi pagi Dinda juga memasak ayam goreng di rumah nya.
Dinda membaca doa lalu makan dengan lahap, dia makan dalam keadaan tenang, sungguh makan di rumah sendiri memang lebih nikmat, walaupun hanya rumah berdinding papan, tapi setidaknya tidak ada yang julid.
***
Setelah menunggu hampir lima menit lamanya, akhir nya Dinda bisa bernafas lega saat dia melihat Bima dan Bunga berjalan mendekati nya. Bima menggendong Bunga, Bunga tertawa riang di dalam gendongan sang Ayah, entah hal apa yang membuat Bunga bisa seceria itu. Melihat pemandangan di depan mata, seketika rasa gundah di hati Dinda menguap sudah, kini hanya ada rasa bahagia yang membuncah, melihat dua orang yang di cintai dalam keadaan sehat dan ceria.
__ADS_1
''Kapan kamu pulang nya, Dek? Sudah selesai acara lamaran nya? Mas sangka kamu akan pulang setelah Isya,'' ucap Bima setelah Dinda selesai menyalami tangan nya.
''Barusan aku pulang, Mas.'' Jawab Dinda dengan suara yang masih serak. Tatapan matanya nampak sendu, melihat itu, Bima sudah bisa menebak apa yang terjadi kepada sang istri. Bima hanya mampu menghembus nafas kasar, sungguh, dirinya begitu tak tega melihat sang istri yang selalu sedih setelah pulang dari rumah Mama nya.
''Mama, lihat, hasil pancingan Bunga dan Ayah banyak. Nanti Mama bikin Ikan panggang, ya. Ikan panggang yang di kasih bumbu dan kecap, pasti sangat enak. Hum,'' celoteh Bunga dengan suaranya yang sedikit cadel.
''Wah, banyak sekali. Baiklah, Sayang. Sekarang Bunga dan Ayah mandi, ya. Kalian bauk sekali!'' Dinda berkata dengan senyum mengembang, dia mengambil alih ember yang di pegang oleh sang suami, ember yang berisi beberapa ikan yang berukuran cukup besar.
''Siap Bos!'' Jawab Bima dan Bunga bersamaan. Mereka lalu berjalan memasuki rumah, Dinda berjalan di belakang mereka dengan senyum yang bahagia.
__ADS_1
Bersambung.