
Mata kecil Bunga melebar sempurna dengan binar bahagia saat ia melihat banyaknya jenis makanan yang terhidang di meja makan. Apalagi saat dirinya melihat ayam goreng upin ipin, sesaat ia menelan saliva nya, rasanya ayam itu sudah ia gigit, ia kunyah dan tiba di tenggorokan nya.
''Em nikmat,'' ucapnya di dalam hati.
''Bunga mau paha ayam goreng itu?'' tanya Arum lembut, Arum bisa melihat dari tadi fokus Bunga selalu tertuju ke arah ayam goreng yang terdapat di dalam piring berukuran besar.
''mau, Oma,'' Bunga mengangguk cepat dengan wajahnya yang ceria.
Dinda semakin tak kuasa menahan air matanya, air mata bahagia. Ia tidak menyangka bisa dipertemukan dengan orang berhati baik bak malaikat seperti Bu Arum. Bu Arum yang menganggap putrinya seperti cucunya sendiri. Bunga yang selama ini tidak pernah merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang nenek, akhirnya kini, kehangatan dan ketulusan itu bisa ia dapatkan dan rasakan dari Arum. Wanita berusia senja yang baru mereka kenal, tapi hubungan mereka terjalin begitu dekat.
Bu Arum lalu meminta seorang pelayan wanita untuk memasukkan paha ayam goreng ke dalam piring Bunga. Begitu paha ayam itu sudah berada di dalam piring di depan Bunga, Bunga langsung saja menyantap paha ayam itu dengan mata merem-merem, ia sungguh menikmati setiap gigitan nya.
''Kamu mau makan apa, Nak? Biar pelayan yang memasukkan makanan ke piring mu,'' Bu Arum bertanya lembut kepada Dinda, tapi Dinda tak menyahut, Dinda terlihat bengong.
''Dinda!'' Bu Arum sedikit meninggikan intonasi suaranya. Hinga Dinda dibuat kaget.
''Eh, iya, Bu,'' Dinda sedikit gelagapan.
''Kamu kenapa? Apa kamu tidak suka?''
''Aku suka banget, Bu. Aku merasa begitu terharu dengan kebaikan Ibu kepada keluarga kecil kami,'' air mata Dinda menetes saat ia mengatakan itu, dengan cepat ia menyeka nya.
''Sudah, tidak perlu berterimakasih, Ibu sudah menganggap kamu, Bima dan Bunga seperti keluarga Ibu sendiri. Sekarang ayo makan, biar pelayan yang memasukkan makanan untuk mu,'' ucap Bu Arum dengan senyum tulus nya.
''Tidak usah, Bu. Aku bisa sendiri,'' tolak Dinda halus. Seorang pelayan wanita muda masih setia berdiri di sisi meja makan, ia siap setiap saat melayani sang nyonya.
''Ya sudah, ambil makanan apa saja yang kamu suka, jangan sungkan-sungkan, anggap saja ini rumah kamu sendiri,''
''Baik, Bu.'' Dinda mengangguk kecil.
Dinda lalu memasukkan nasi, ikan panggang dan rebusan sayur ke dalam piringannya. Setelah dirasa cukup, Dinda lalu menyantap makanan itu dengan lahap. Sebelum nya ia sudah membaca doa sebelum makan, supaya makanan yang masuk ke perut nya mambawa keberkahan dan kebaikan.
Arum merasa begitu senang melihat Dinda dan Bunga yang makan dengan begitu lahap, Arum berjanji kepada dirinya sendiri, kalau ia akan membuat Bunga, Dinda dan Bima merasa bahagia, Arum berjanji akan menaikan derajat mereka, agar mereka tidak di hina-hina lagi oleh keluarga mereka sendiri.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Arum mengajak Dinda masuk ke dalam kamar Saras, kamar yang sudah lama sekali tidak di huni, tapi kamar itu terlihat bersih dan rapi, karena kamar itu selalu dibersihkan setiap hari nya oleh asisten rumah tangga, sesuai sama apa yang Arum perintahkan.
Setiba nya di dalam kamar, di lantai atas, lagi-lagi Bunga dan Dinda dibuat takjub dengan penampakan isi kamar yang begitu luas dengan fasilitas lengkap di dalam nya. Apalagi kasur king size yang lembut dan empuk yang terdapat di dalam kamar itu, semakin membuat Bunga dan Dinda merasa terkagum-kagum dengan kediaman Arum beserta isinya yang mewah dan pastinya nilai beli barang-barang itu sungguh fantastis.
''Ayo, Sayang,'' Arum menggendong tubuh kecil Bunga, lalu ia meletakkan Bunga di atas kasur king size. Bunga tertawa riang sembari meloncat-loncat di atas kasur, ia merasa sangat senang. Sedangkan Dinda duduk di pinggir kasur, ia mengawasi Bunga yang terus bergerak aktif.
Arum membuka lemari, setelah itu ia mengambil sesuatu di dalam lemari tersebut.
''Nak, lihatlah,'' sapa Arum. Hingga pandangan Dinda teralihkan kepada kota berukuran sedang yang di pegang oleh Arum.
''Apa itu, Bu?'' tanya Dinda.
''Ini perhiasan milik Saras,'' ucap Arum seraya membuka kotak perhiasan itu, setelah kota itu terbuka, terlihat banyak sekali perhiasan cantik dan berkilau di dalam nya. Ada kalung, cincin, gelang, serta anting.
Dinda hanya mampu menatap perhiasan itu seraya bersholawat di dalam hati, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa karena ini merupakan kali pertama ia melihat perhiasan sebanyak itu. Apakah Dinda merasa terkejut? Tentu saja.
Arum mengambil cincin bermata berlian yang berkilau, lalu ia meminta Dinda menjulurkan jari-jari tangan nya yang lentik kehadapan Arum.
''Tidak apa-apa, Nak. Lagian semua perhiasan ini pastinya akan Saras wariskan kepada anaknya,'' sahut Arum meyakinkan Dinda.
''Tapi aku bukan anaknya, Bu. Aku tidak berhak menerimanya. Hasil tes DNA belum keluar, Bu.'' Menurut Dinda, Arum begitu terburu-buru menganggap dirinya sebagai putri dari Saras. Dinda takut saja kalau pada akhirnya ternyata dirinya bukanlah anak kandung dari Saras. Ia takut Arum berubah kepadanya, berubah menjadi tidak baik lagi.
''Kalau pun kamu bukan anaknya, Ibu yakin sekali, Saras pasti ikhlas memberikan perhiasan ini kepada kamu, karena Ibu bisa melihat, Saras merasa nyaman saat sedang berada di dekat mu, jadi pakaian lah,'' lagi-lagi Arum menyakinkan Dinda.
''Baiklah, Bu.'' Dinda mengalah.
Arum lalu menyematkan cincin berlian yang harganya begitu mahal itu ke jari manis Dinda, begitu cincin itu sudah melingkar di jari manis Dinda, Arum tersenyum senang.
''Sangat pas dan cantik sekali,''
''Terimakasih, Bu.''
''Ini lagi,'' Arum menyodorkan gelang emas ke tangan Dinda.
__ADS_1
''Udah, ini aja sudah cukup kok, Bu.''
''Tidak kenapa-kenapa, Nak. Ayo pakai.''
Lagi-lagi Dinda hanya mampu mengangguk kecil menyahut permintaan Arum. Arum lalu melingkarkan gelang emas itu dipergelangan tangan Dinda.
Setelah di rasa cukup untuk Dinda, lalu Arum memanggil Bunga yang nampak masih sibuk meloncat-loncat di atas kasur.
''Sini Sayang, duduk di dekat, Oma,'' pinta Arum lembut.
''Iya, Oma.'' Seketika Bunga langsung duduk di sebelah Arum, di pinggir kasur.
''Ini untuk Bunga, ya, ayo biar Oma pakaikan,''
''Wah, kalung nya cantik banget Oma,''
''Iya, secantik kamu,''
''Bu,'' Dinda bersuara, ia merasa tidak enak kepada Arum.
''Tidak apa-apa,''
Dengan wajah yang terus tersenyum simpul Arum memasangkan perhiasan kepada Bunga dan Dinda. Untuk Bunga tidak hanya kalung saja, Bu Arum juga menyematkan cincin emas di jari manis Bunga.
Perhiasan yang ada di dalam kota perhiasan itu memang lengkap ukuran nya, karena perhiasan itu merupakan perhiasan turun temurun yang diwariskan oleh keluarga besar Arum, dari nenek moyang mereka dulu hingga ke anak cucu mereka selanjutnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, setelah selesai sholat dan mengobrol ngobrol dengan Bu Arum, kini saatnya Dinda dan Bunga akan pulang ke rumah mereka yang sederhana.
Bu Arum akan ikut mengantarkan Dinda dan Bunga bersama seorang supir.
Selama perjalanan pulang, Bunga tertidur pulas dipangkuan Arum. Bunga terlihat sangat cantik seperti anak orang kaya, karena dia sudah berganti pakaian dengan pakaian baru, pakaian baru yang dibelikan oleh Arum. Perhiasan yang terdapat pada leher dan jarinya membuat Bunga kecantikan Bunga bertambah berkali-kali lipat jadinya.
Bersambung.
__ADS_1