
Ternyata Bu Arum terburu-buru karena ia ingin menghadiri pesta pernikahan Naira.
Ciko merupakan seorang karyawan yang bekerja di perusahaan milik keluarga Arum.
Begitu Arum tiba di pesta pernikahan Naira, Neli dan keluarga Ciko menyambut kedatangan nya dengan begitu antusias dan ramah, bagaimana tidak, Arum datang dengan diantar oleh sopir yang mengendarai mobil keluaran terbaru yang harganya sungguh fantastis. Neli sungguh senang, karena warga kampung yang merupakan tetangganya begitu takjub melihat kedatangan Arum dengan mobilnya yang berharga ratusan juta.
''Ini atasan menantu ku di kantor,'' ucap Neli bangga kepada tamu undangan yang lain.
''Oh. Kaya banget, ya, mobil nya aja mengkilap begitu.'' Sahut seorang Ibu-ibu.
''Iya, iyalah. Siapa dulu, Ciko,'' kali ini Siska yang bersuara membanggakan adik ipar nya itu. Sedangkan suami Siksa yang berdiri di sebelah Siska hanya diam saja.
''Ayo, Nyonya Arum, silahkan duduk,'' ucap Neli ramah dengan senyum mengembang saat mereka sudah tiba di meja khusus untuk tamu undangan. Tadi, Neli dan Arum sudah saling berkenalan.
''Terimakasih,'' jawab Arum seraya mengangguk kecil, lalu ia duduk di kursi yang telah di persiapkan untuk dirinya. Arum masih kepikiran tentang Dinda, rasanya ia ingin bertemu dengan Dinda lagi.
Sebenarnya di perusahaan Ciko hanya bekerja sebagai karyawan biasa, karyawan yang paling rendah kedudukannya, tapi karena ingin menghargai setiap karyawan nya, makanya Arum menyempatkan diri untuk menghadiri pesta pernikahan Ciko, Arum memang dikenal sebagai atasan yang baik lagi ramah.
Arum pun tak memiliki anak, karena dia di vonis mandul. Dia dan adiknya hanya dua bersaudara, makanya Arum begitu berharap kalau Dinda memang benar adalah keponakan nya, karena kalau iya, maka perusahaan yang ia pimpin akan ia serahkan kepada Dinda, sebagai pewaris satu-satunya.
Suami Arum sudah meninggal dari beberapa tahun yang lalu, sedangkan suami adiknya, sudah pergi bersama wanita lain karena ia tidak ingin lagi bersama adiknya Arum yang sudah tidak waras pasca hilangnya bayi mereka.
Naira yang berdiri di pelaminan merasa sangat senang melihat kemeriahan pesta pernikahan nya. Ia menggandeng tangan Ciko, lalu ia berbisik lirih, ''Mas, kira-kira atasan kamu itu akan memberikan kado apa, ya, untuk kita?'' tanya Naira.
''Lihat saja nanti, Dek,'' jawab Ciko.
''Aku sih berharap nya dia memberikan amplop yang berisi uang sebanyak sepuluh juta rupiah,'' ucap Naira penuh harap dengan senyum bahagia.
''Amin. Semoga saja iya. Karena kata teman-teman Mas yang sudah duluan menikah, biasanya Bu Arum memang memberikan kado segitu untuk para karyawan,''
''Wah, asyik,'' Naira merasa begitu senang.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu setelah mencicipi makanan yang telah di hidangkan untuknya, Arum naik ke pelaminan, ia akan mengucapkan selamat kepada Naira dan Ciko, Arum memang tidak ingin berlama-lama di pesta pernikahan Naira, karena ia harus segera mengunjungi adiknya.
''Selamat, ya, Ciko dan istri, semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, dan warohmah,'' ucap Arum tersenyum simpul seraya menyalami tangan Naira dan Ciko.
''Amin. Terimakasih Bu, karena Bu Arum sudah bersedia datang di pesta pernikahan saya,'' balas Ciko seraya menunduk kecil.
Setelah itu Arum menyelipkan amplop bewarna kuning ke tangan Ciko, Ciko menerima nya cepat.
''Terimakasih banyak, Bu.'' Ucap Ciko lagi.
''Iya, pergunakan uang itu dengan baik, Ciko.'' Pesan Arum, setelah itu ia turun dari pelaminan.
Setelah Arum berlalu dari hadapan mereka. Benar saja, Naira dan Ciko langsung saja memeriksa jumlah uang yang ada di dalam amplop, dan mereka sangat senang karena ternyata uang di dalam amplop itu berjumlah lima belas juta rupiah.
Berulangkali mereka memuji kebaikan Arum.
***
''Mumpung di daerah sini, jadi lebih baik aku cari saja alamat rumah Dinda,'' ucapnya.
Setelah mengelilingi desa itu dan bertanya kepada beberapa orang warga desa, akhirnya Arum menemukan rumah Dinda.
Ia bahkan rela turun dan berjalan kaki ke jalan setapak hanya ingin tahu di mana Dinda tinggal.
''Ya Allah, Nak. Ini rumah mu,'' gumam Arum lirih saat dirinya sudah berada di depan rumah Dinda. Arum merasa sedikit miris melihat kehidupan Dinda. Tapi saat bertemu dengan Dinda tadi, iya bisa melihat kalau Dinda begitu bahagia hidup dengan keluarga kecilnya. Dan hal itu membuat Arum merasa kagum dengan sosok Dinda yang sederhana.
''Ibu kenapa melihat rumah Dinda begitu? Ibu ini siapa?'' tanya seorang Ibu-ibu yang merupakan tetangga samping rumah Dinda.
Arum pun lalu memperkenalkan dirinya, dan karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bagus, akhirnya Arum mencoba bertanya-tanya kepada Ibu-ibu itu tentang keluarga Dinda dan kehidupan Dinda.
Ibu-ibu itu lalu menceritakan semuanya, menceritakan tentang Neli yang selalu bersikap pilih kasih kepada Dinda di bandingkan saudara-saudara nya yang lain.
__ADS_1
''Kenapa Bu Neli bisa seperti itu, ya, Bu, dalam memperlakukan Dinda?'' tanya Arum penasaran. Kini ia sudah duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah tetangga Dinda.
''Saya juga tidak tahu kenapa, Bu. Padahal Dinda mah baik banget orangnya,'' balas Ibu itu apa adanya. Arum pun hanya manggut-manggut mendengarkannya.
Setelah itu Arum pamit pulang, dan semakin bertambah besarlah keyakinan nya kalau Dinda itu adalah keponakan nya yang hilang dari puluhan tahun yang lalu.
Yang lebih membuat Arum terkejut adalah ternyata dia tadi datang ke pesta pernikahan adik nya Dinda.
''Kebetulan sekali, ya. Hm seperti nya memang ada yang tidak beres. Kalau Dinda memang anak kandung nya Neli, tidak mungkin Dinda tidak hadir di pesta pernikahan Naira yang merupakan adik nya.'' Arum berucap di dalam hati saat dirinya sudah berada di dalam mobil.
***
Sore harinya, di rumah sakit jiwa ternama di Ibukota Jakarta, Arum perlahan membuka pintu sebuah ruangan, lalu begitu pintu sudah terbuka, ia berjalan pelan menghampiri seorang wanita yang tengah bersenandung kecil sambil mendekap boneka bayi perempuan. Wanita yang tengah berdiri di dekat jendela. Rambut wanita itu terlihat acak-acakan tak terurus, meskipun usianya sudah memasuki empat puluh delapan tahun, tapi ia masih terlihat cantik.
''Saras, apa kabar mu hari ini, Dek?'' tanya Arum, ia membelai pipi Saras yang tirus. Saras menepis kecil tangan Arum, Arum pun hanya tersenyum simpul mendapati itu. Baginya itu sudah biasa, bahkan dulu, rambutnya pernah di jambak oleh adik nya yang sudah kehilangan kewarasan itu.
''Bayi aku, jangan ambil anak aku,'' racau Saras menatap Arum dengan tatapan tajam.
''Tidak, Dek. Mbak tidak ingin mengambil bayi mu. Tapi Mbak kesini ingin menunjukkan ini kepadamu,'' Arum menunjukkan layar ponselnya kepada Saras, di layar ponsel itu terpampang foto Dinda yang tengah tersenyum simpul. Ternyata tadi, diam-diam Arum memotret Dinda tanpa Dinda sadari.
Saras menatap foto Dinda lekat, bahkan ia menyentuh layar ponsel itu dengan jarinya, dan netra nya nampak berkaca-kaca.
Melihat respon baik yang di tunjukkan oleh sang adik saat menatap foto Dinda, membuat Arum merasa senang, ia semakin bertambah yakin kalau antara Saras dan Dinda ada ikatan batin Ibu dan anak. Karena tidak biasanya Saras dengan cepat merespon sesuatu dengan kewarasan nya yang telah lama hilang.
''Wanita ini cantik, 'kan? Begitu mirip sama kamu waktu masih muda dulu,'' ucap Arum lembut.
''Hm, huhuhu hiks hiks hiks, anak aku, jangan ambil anak aku,'' racau Saras lagi dengan tangis nya yang mendadak pecah.
''Ya sudah, kalau begitu Mbak pulang dulu, ya. Mbak janji sama kamu Mbak akan membawa wanita muda ini ke sini,'' ucap Arum yakin. Setelah itu ia meninggalkan ruangan itu. Dua orang perawat yang handal sudah ia pekerjaan untuk mengurus Saras, jadi ia tidak perlu khawatir lagi meninggalkan Saras di rumah sakit jiwa.
Bersambung.
__ADS_1