DIASINGKAN DI KELUARGA

DIASINGKAN DI KELUARGA
Part 9


__ADS_3

Neli keluar dari dalam mobil dengan membanting pintu mobil cukup keras, hal itu berhasil membuat perhatian orang-orang sekitar teralihkan kepada nya. Ia berjalan menghampiri Dinda, lalu setelah tiba di dekat Dinda, ia menatap Dinda dengan tatapan penuh amarah, wajahnya memerah. Tatapan yang seperti bukan tatapan seorang ibu kepada anaknya. Tapi lebih seperti tatapan seorang musuh kepada lawannya.


''Ma,'' lirih Dinda berucap. Ia kaget melihat kehadiran sang mama. Dinda tidak menyangka saat ini sang mama sudah berada di dekat mereka. Sungguh Dinda tidak ingin terjadi keributan di area tempat mangkal sang suami. Takutnya para pelanggan ketoprak mereka pada kabur melihat keributan yang terjadi antara dirinya dan sang mama.


''Heh, dasar anak durhaka! Sudah merasa hebat kamu sekarang? Iya?!'' tanpa aba-aba, Neli langsung berucap dengan nada suara lantang. Ia menunjuk-nunjuk wajah Dinda dengan jari telunjuknya. Bunga yang merasa kaget mendengar suara sang nenek yang keras lalu langsung memeluk kaki sang mama.


''Oh, jadi Kak Siska sudah mengadu ke Mama,'' Dinda membalas dengan nada lirih. Kini, dirinya dan sang mama berdiri dengan saling berhadapan dengan jarak cukup dekat.

__ADS_1


''Ya jelas lah. Karena kamu telah berani melawan Siska! Karena kamu telah berani menolak permintaan mama!'' seru Neli lagi. Beberapa orang yang membeli ketoprak sudah menyaksikan keributan yang terjadi. Setelah selesai membuat ketoprak untuk pembeli, Bima pun turun tangan.


''Ma, jangan bikin keributan di sini. Emang Dinda salah apa sampai-sampai mama memarahinya di tempat umum begini? Apa tidak bisa di tahan dulu, lalu di bicarakan baik-baik di rumah,'' ucap Bima. Bima meminta Dinda sedikit memundurkan tubuhnya dari hadapan sang mama.


''Kamu itu makanya jadi suami yang becus. Nasehati istri mu itu agar jangan menjadi anak yang durhaka dan suka membantah!'' Neli menyemprot Bima dengan mulutnya yang terbuka lebar. Hingga percikan air liur nya sedikit mengenai wajah Bima.


''Mas, jadi begini, tadi Kak Siska datang ke rumah, Kak Siska mengatakan kepada aku kalau Mama meminta aku datang ke pesta pernikahan Naira besok. Aku di minta untuk jadi tukang bersih-bersih dan cuci piring di sana.'' Jelas Dinda.

__ADS_1


''Benar begitu, Ma?'' Bima menatap sang mertua dengan mata menyipit.


''Iya. Mama itu sudah tidak punya uang untuk membayar jasa tukang bersih-bersih. Makanya Mama meminta Dinda saja yang menghandle urusan bersih-bersih. Lagian kalian juga tidak ada niat sama sekali untuk ikut membantu acara pesta pernikahan Naira? Nyumbang tidak dan bantu-bantu juga tidak mau. Tidak berguna!'' desis Neli.


''Ma, Dinda ini anak Mama, kenapa Mama malah meminta Dinda untuk jadi tukang bersih-bersih?! Maaf, Ma. Aku juga tidak akan mengizinkan istri aku untuk jadi tukang bersih-bersih di pesta pernikahan Naira. Biar kami yang mencari orang untuk membantu membantu bersih-bersih di sana, dan biar kami juga yang bayar orang itu. Mama tidak perlu khawatir dan tidak perlu juga meneriaki Dinda sebagai anak durhaka, karena sebenarnya bukan Dinda yang durhaka, tapi kalian lah yang sudah begitu keterlaluan dalam memperlakukan dirinya. Selama ini aku hanya sabar melihat Dinda selalu kalian manfaat kan tenaganya, tanpa kalian hargai kerja kerasnya. Tapi maaf, kali ini aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Sudah cukup!'' Bima berucap tegas.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2