
Iren datang lagi ke tempat mangkal ketoprak Bima dan Dinda. Dia tidak ingin membeli ketoprak, tapi untuk apalagi kalau bukan untuk menggoda suami orang, yaitu Bima. Dia berpendidikan dan seorang bidan desa, tapi dia terlihat seperti wanita murahan yang tidak tahu malu selalu berusaha untuk mendekati serta mendapatkan Bima. Dari dulu dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan Bima, dia begitu terobsesi dengan Bima, di tambah lagi adanya dukungan dari Sari, Mama nya Bima, semakin gencar lah Iren untuk mendapatkan Bima.
Kedatangan Iren tak di hiraukan oleh Dinda dan Bima. Begitu juga Arum, mereka mengabaikan Iren.
Bahkan saat Iren menggoda Bima, Bima pura-pura tak menyadari kehadiran Iren.
Hal itu membuat Iren merasa amat murka, dan pada akhirnya Iren pergi dengan perasaan teramat kesal. Dia akan ke rumah orangtua Bima, untuk mengadu sama orang tua Bima tentang apa yang telah Bima lakukan kepada nya.
* * *
Keesokan harinya, Iren dan Sari datang lagi ketempat mangkal ketoprak Bima yang biasa. Sari akan memarahi anak laki-laki nya itu karena kejadian kemarin.
Tapi, saat mereka tiba di tempat itu, mereka tidak melihat keberadaan Bima serta gerobaknya.
__ADS_1
Para pekerja yang mengerjakan proses pembangunan ruko pun tidak ada. Tempat itu terlihat begitu sepi.
''Duh, Mas Bima ke mana sih, Ma?'' ujar Iren manja. Kini, mereka berdua berdiri di depan mobil Iren.
''Mama tidak tahu juga, Iren. Mungkin Bima lagi sakit, makanya dia tidak mangkal di sini. Ah, mending kita ke rumah nya saja langsung, Mama pengen lihat keadaan anak laki-laki Mama itu,'' ucap Sari.
''Huh, kasihan sekali Mas Bima, wajar saja kalau Mas Bima jatuh sakit, udah melayani para pembeli ketoprak, eh, di tambah lagi bantu-bantu tukang yang tengah membangunkan ruko, Di Dinda itu memang tidak ada gunanya jadi istri, selalu saja merepotkan suami,'' ujar Iren panjang lebar seraya masuk ke dalam mobil.
''Iya, kamu benar sekali Iren. Awas saja tuh Si Dinda kalau terjadi apa-apa sama Bima,'' timpal Sari lagi. Sari memang sangat mudah terhasut sama omongan Iren.
Begitu mereka tiba di depan rumah, mereka berteriak memanggil nama Bima. Mereka tidak mengucap salam sama sekali, seperti orang-orang yang tidak memiliki pendidikan. Tidak tahu tata krama dan sopan santun.
''Bim, Bima!'' seru Sari seraya mengetuk pintu, karena ketukan nya merasa tak berhasil, kini, Sari malah menggedor pintu tersebut berulang kali, Iren pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Setelah puas menggedor, akhirnya mereka berhenti sendiri.
''Duh, sepertinya mereka tidak ada di rumah,'' kata Sari ngos-ngosan. Dia lalu duduk di kursi teras. Berteriak dan menggedor pintu membuat dirinya merasa lelah. Begitu juga dengan Iren, Iren mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah.
''Kira-kira kemana Mas Bima dan wanita miskin itu ya, Ma?''
''Entahlah. Mama tidak tahu juga,'' sahut Sari.
Setelah hampir setengah jam lamanya mereka duduk di teras rumah, akhirnya mereka pulang, karena tidak ada tanda-tanda Bima akan pulang.
* * *
Dan ternyata, Bima, Dinda, serta Bunga, sudah tinggal di rumah mewah lagi megah. Mereka sudah tinggal bersama Arum serta Saras, Mama kandung Dinda.
__ADS_1
Bersambung.