DIASINGKAN DI KELUARGA

DIASINGKAN DI KELUARGA
Part 22


__ADS_3

Bunga merengek begitu cincin emas bermata berlian miliknya di lepas paksa oleh Siska, jari tangan nya terasa sedikit sakit akibat tarikan yang kuat. Melihat itu, emosi Dinda sedikit terpancing, menurutnya sang kakak telah lancang berani melakukan hal demikian.


''Kak, kenapa cincin Bunga di lepas?!'' Dinda menatap Siska dengan wajah memerah.


''Aku cuma pengen lihat sebentar, pelit banget sih jadi orang!'' sahut Siska santai. Mata nya masih fokus melihat cincin yang kini sudah berada di dalam pegangannya.


''Iya, enggak kayak gitu juga caranya, tangan Bunga sakit jadinya. Kalau pengen lihat bisa kali dilepaskan dengan hati-hati,'' sahut Dinda lagi, sungguh lama-lama kesabaran Dinda habis juga kalau keluarga nya berani menyakiti buah hatinya.


''Iya, bener, biarkan saja, Siska cuma pengen liatin doang kok. Kalau Siska mau, dia bisa beli banyak cincin yang modelnya kayak gitu. Lagian cincin kecil gitu juga, dasar norak!'' Neli bersuara memihak Siska.

__ADS_1


''Wajar saja emak dan anak nya norak, Ma. Mereka 'kan baru pertama kali pake cincin,'' kali ini Naira yang bersuara.


Dinda dan Bima hanya bisa mengelus dada mendengar hinaan bertubi-tubi yang Siska, Neli dan Naira lontarkan kepada mereka.


Setelah merasa puas memperhatikan setiap detail cincin milik Bunga, Siska memberikan lagi cincin itu kepada Bunga.


''Nih ambil bocah pelit!'' Siska berkata dengan ketus seraya meletakkan cincin itu di telapak tangan Bunga yang kecil. Mendapati perlakuan kasar dari orang dewasa, membuat Bunga merasa takut, Bunga berlari ke arah Bima, lalu ia berlindung di belakang sang Ayah. Menyadari sang anak tengah ketakutan, Bima lalu menggendong tubuh Bunga, membawa nya ke dalam dekapannya. Bima pun membantu memasang kembali cincin emas bermata berlian itu di jari manis Bunga.


''Lebih baik kalian pergi saja dari sini, dari pada kalian terus bikin keributan dan terus menghina keluarga kami. Apalagi Kak Siska, Kakak itu juga punya anak, bagaimana perasaan Kakak kalau anak Kakak di bentak dan di ketusin oleh orang dewasa,'' ucap Dinda lantang.

__ADS_1


''Oh, jadi kamu sudah berani mengusir kami sekarang?'' tanya Neli dengan wajahnya yang menunjukkan kemarahan.


''Iya, Ma. Kalau niat kalian ingin pamer dan menghina keluarga kami mending kalian pergi saja. Lagian aku sama sekali tidak merasa iri melihat kalian naik mobil Ciko dan mendengar kalau kalian akan pergi jalan-jalan sama Ciko, aku juga ikutan seneng mendengar itu. Tapi ketika kalian sama sekali tidak bisa menghargai Bunga sebagai anak aku dan sebagai anak kecil yang masih polos serta tidak tahu apa-apa, menurut aku kalian sudah sangat-sangat keterlaluan!'' Dinda berkata panjang lebar.


''Dasar gembel belagu kamu Dinda, sudah untung aku mau mengizinkan suami aku untuk memu ....'' Neli berucap dengan wajah memerah, tapi ia tidak menyelesaikan ucapannya itu, karena ia teringat sesuatu. Ia teringat dengan pesan sang suami sebelum sang suami meninggal dunia. Kali ini Neli merasa sangat-sangat kesal kepada Dinda, hingga hampir saja ia keceplosan.


''Untuk apa, Ma?'' tanya Dinda penasaran.


''Iya, apa Ma?'' Naira juga ikutan bertanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2