DIASINGKAN DI KELUARGA

DIASINGKAN DI KELUARGA
Part 18


__ADS_3

Di tempat berbeda, Iren datang lagi ke tempat mangkal Bima dengan membawa rantang. Ia berpakaian seksi, dress ketat yang menampakkan lekuk tubuhnya. Iren tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Bima, karena ia sangat mengagumi sosok pria yang sudah beristri tersebut.


Kali ini dirinya tak datang sendiri, tapi ia datang dengan di temani Sari, Mama nya Bima.


''Bim, emang kamu dapat uang dari mana bisa bangun ruko dan membayar tukang?'' tanya Sari penuh selidik begitu dirinya sudah duduk berhadapan dengan Bima. Tatapan Sari fokus melihat para tukang yang tengah bekerja.


Iren dari tadi terus saja tersenyum mesem-mesem seraya menatap Bima, karena ia merasa senang tidak melihat kehadiran Dinda di tempat mangkal. Ia merasa mempunyai banyak kesempatan untuk mendekati Bima. Di matanya, Bima terlihat sangat tampan dan begitu menantang.


''Adalah, Ma. Uang tabungan kami. Mama sudah sehat betul? Mama mau ketoprak?'' tanya Bima diakhir kalimat, sengaja ia bertanya seperti itu untuk mengalihkan topik pembicaraan.


''Aku mau Mas Bima,'' sahut Iren cepat, padahal Bima tidak menawari dirinya.


''Tuh, kamu bikin dua ketoprak, ya, untuk Mama dan untuk calon istri mu yang sholehah ini. Mama udah sehat,''


''Ma, aku sudah punya istri,'' bantah Bima. Dirinya sungguh tidak suka mendengar sang mama yang masih berusaha untuk menjodoh-jodohkan dirinya dengan Iren, padahal jelas-jelas sekarang Dinda adalah istri nya.


''Anggap saja Iren adalah calon istri mu yang kedua,'' balas Sari enteng.


''Ah, Mama bisa saja,'' Iren berucap malu-malu.


Bima hanya mampu menghela nafas melihat tingkah dua orang wanita yang begitu aneh menurutnya, ia lalu berdiri di dekat gerobak ketoprak, ia akan membuat ketoprak untuk Mama nya dan juga untuk Iren. Dengan lincah tangannya memasukkan ketoprak ke dalam piring.


''Mas Bima enggak usah makan ketoprak, ya. Mas Bima makan ini saja, nasi sama lauknya sengaja aku masak khusus untuk Mas dengan sepenuh hatiku,'' Iren berdiri disebelah Bima seraya meletakkan rantang yang berisi makanan di atas gerobak. Mendapati Iren berdiri di samping nya, membuat Bima merasa sedikit risih. Ia takut menjadi fitnah, takutnya Dinda salah paham dengan dirinya.


''Hm,'' balas Bima singkat tanpa menoleh kearah Iren sama sekali.


''Kalau calon istri mu ngajak bicara kamu balas yang ramah dong, Bim. Jangan cuekin Iren begitu. Lagian Si Dinda mana sih? Kenapa tidak dia saja yang menjaga nih gerobak ketoprak, dasar istri gak guna!''


''Dinda lagi pergi, Ma.''


''Ke mana?''


''Ada deh,''


''Idih sok-sokan pakai rahasia segala kamu sama Mama kamu sendiri. Istri pemalas seperti dia masih saja terus kamu bela,''


''Ini, Ma. Silahkan di makan, dan ini untuk mu,'' Bima menyerahkan dua piring ketoprak untuk Sari dan Iren. Sari dan Iren menerima nya cepat, lalu mereka makan dengan lahap. Tidak di pungkiri, rasa ketoprak Bima memang enak dan pas di lidah. Pantas saja ketoprak miliknya selalu ramai pembeli.


Setelah ketoprak mereka habis, Iren membantu mencuci piring kotor, dia sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian Bima. Dan saat banyak pembeli pun dia ikut membantu Bima, Bima sudah berulangkali memintanya agar tak usah membantu, tapi Iren tetap keukeh ingin membantu Bima.

__ADS_1


''Kamu lihat tuh Iren, udah jadi bidan desa tapi dia tidak merasa sungkan untuk membantu kamu. Sedangkan istri mu mana? Suami lagi mangkal dan mengawasi tukang yang bekerja tapi dia malah kelayapan. Dasar istri tidak berguna.'' Sungut Sari merasa kesal terhadap Dinda.


''Sudahlah, Ma. Jangan mulai lagi.'' Ucap Bima.


''Mama mengatakan apa adanya, Bim. Mama ingin yang terbaik untuk mu, dan Mama ingin melihat kamu bahagia.''


''Kebahagian ku hanya ada pada Dinda, Ma.''


''Terserah kamu saja deh.'' Sari dan Iren lalu pamit pulang.


''Dimakan, ya, Mas. Besok aku akan ke sini lagi. Sampai jumpa,'' ujar Iren saat dirinya akan memasuki kendaraan roda empat miliknya.


Bima tak menyahut, ia sibuk membuat ketoprak untuk pembeli yang baru datang.


***


Di tempat berbeda, setelah melihat respon yang ditunjukkan oleh Saras kepada Dinda, membuat Arum merasa begitu yakin kalau Dinda memang lah keponakan yang hilang.


Arum meminta izin kepada Dinda untuk melakukan tes DNA antara Dinda dan Arum, dan Dinda pun menyanggupi nya.


Setelah dari rumah sakit jiwa, mereka lalu pergi lagi ke rumah sakit yang lain, Dinda akan melakukan tes DNA hari ini juga.


Sepulang nya dari rumah sakit, Arum membawa Dinda dan Bunga ke kediaman nya yang mewah lagi megah.


''Wah, ini istana, ya, Ma.'' Celoteh Bunga saat dirinya sudah keluar dari dalam mobil. Ia menatap bangunan bertingkat yang ada di depannya dengan takjub.


''Ini rumah Oma, Sayang.'' Sahut Arum.


''Rumah Oma bagus sekali.''


''Bunga mau punya rumah seperti ini?'' tanya Arum.


''Mau, mau, mau,'' Bunga mengangguk cepat. Dinda tersenyum simpul melihat sang putri yang begitu ceria.


Tidak dapat di pungkiri, Dinda pun merasa mimpi bisa berdiri dihalaman rumah yang begitu luas dengan ditumbuhi beraneka macam bunga-bunga berwarna-warni. Dinda pun juga dibuat takjub memandang rumah mewah lagi megah berdiri kokoh di depannya, di garasi rumah nampak mobil-mobil, motor dan sepeda berjejer rapi. Dia tidak menyangka ternyata Bu Arum adalah orang yang kaya raya.


Setelah itu Arum mengajak Dinda dan Bunga untuk masuk ke dalam rumah.


Begitu mereka sampai di dekat pintu utama, empat orang wanita muda berseragam sama yang merupakan pelayan di rumah itu menunduk melihat kedatangan mereka. Bunga dan Dinda pun balas menunduk. Arum hanya tersenyum simpul melihat tingkah Dinda dan Bunga yang menurut nya memanglah sangat baik dan sedikit polos.

__ADS_1


''Selamat datang, Nyonya,'' ucap pelayan itu.


''Iya,'' balas Arum datar.


''Apa makanan sudah siap semuanya?'' tanya Arum kepada kepala koki yang juga menyambut kedatangan mereka di depan pintu.


''Sudah, Nyonya,'' balas sang koki menunduk kecil.


''Bagus lah.'' Ucap Arum lagi.


Mereka bertiga lalu berjalan ke ruang keluarga, lalu Arum meminta agar Dinda dan Bunga duduk di sofa ruang keluarga terlebih dahulu. Di meja ruang keluarga, nampak cemilan kue kering dan buah-buahan segar terhidang rapi di sana. Bunga yang melihat semua itu meneguk saliva nya, rasanya ia ingin melahap semua buah-buahan itu.


''Rumah Oma sangat bagus dan banyak makanannya juga,'' ucap Bunga.


''Bunga kalau mau makan apa saja di rumah ini tinggal minta aja sama pelayan, anggap saja ini rumah Bunga sendiri,'' ucap Arum.


''Oma memang baik banget sama aku dan Mama,''


''Apa Bunga mau tinggal sama Oma di rumah ini?'' tanya Arum lembut.


''Mau banget dong. Tapi tanya sama Mama dulu, kalau Mama mau, aku juga mau,''


''Cucu Oma memang pintar,''


''Terimakasih banyak, ya, Bu. Karena Ibu sudah sangat baik sama kami,''


''Kamu tidak usah berterimakasih sama Ibu, Nak Dinda. Justru Ibu lah yang harus berterimakasih kepada kamu, karena berkat kehadiran mu, Saras sudah menunjukkan kemajuan nya, ia tidak mengamuk lagi saat bertemu dengan orang baru,''


''Aku ikut senang melihat kemajuan yang di tunjukkan oleh Bu Saras.''


''Semoga saja Saras bisa segera pulih.''


''Amin, Bu.'' Balas Dinda.


"'Oma, apa aku boleh makan buah-buahan itu?'' tanya Bunga malu-malu.


''Tentu boleh dong, Sayang.'' Balas Arum tersenyum lebar.


Bunga berteriak kesenangan, setelah itu ia langsung saja melahap anggur dengan cepat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2