
Sejak peristiwa waktu itu, tidak pernah lagi Dinda berkunjung ke rumah sang mama, begitu pun sebaliknya, mama nya juga tidak pernah sekalipun menemui nya. Bukan apa-apa, Dinda sama sekali tidak merasa dendam sama mama dan adik nya itu. Tapi ia hanya ingin menjaga hatinya saja, agar tak sakit lagi. Dengan menjauh, mungkin semua akan lebih baik.
Ada sesak yang Dinda rasa di dada nya bila dia mengingat bagaimana sang mama memperlakukan nya, dan rasa sesak itu masih terus ia rasakan setiap harinya, bila mengingat hubungan nya dan keluarganya tak baik-baik saja.
Desas-desus tentang hari pernikahan Naira pun sudah terdengar di sekitar rumah Dinda. Banyak tetangga Dinda yang sudah dapat undangan pernikahan Naira. Tapi tidak dengan Dinda.
Bahkan sering kali kalau Dinda lagi berbelanja bahan kebutuhan pokok untuk membuat ketoprak dan berbelanja bahan pokok untuk makan sehari-hari di warung, banyak Ibu-ibu yang menanyai nya tentang pernikahan Naira, Dinda hanya menjawab dengan iya, iya, saja. Karena dia tidak tahu harus menjawab apa.
Dirinya benar-benar sudah merasa begitu asing dengan keluarga nya sendiri. Tak dianggap dan tak di cari, kerena keadaan ekonomi yang berbeda. Memang banyak yang begini, karena keadaan ekonomi yang melarat, hubungan yang begitu dekat terputus karenanya. Dan begitu pun sebaliknya, karena keadaan ekonomi yang banyak dan sudah berlebihan, orang yang hubungan nya jauh malah mendekat, karena kebanyakan orang-orang berlomba-lomba mendekati Si Kaya, dan Si Miskin selalu diabaikan.
***
Pagi hari sekitar pukul sembilan pagi saat Bima sudah berangkat keliling kampung untuk menjual ketopraknya, tiba-tiba Siska, kakak nya Dinda berkunjung ke rumah nya.
Dinda yang lagi menyapu halaman rumah yang tidak terlalu luas merasa kaget melihat kehadiran sang kakak.
Dengan ramah Dinda mempersilahkan agar Siska masuk ke dalam rumah, tapi Siska menolak, katanya dirinya lebih nyaman duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah.
''Kakak mau minum apa?'' tanya Dinda kepada wanita yang penampilannya khas seperti wanita sosialita. Tas kecil nampak bergelayut pada lengannya, selain itu ponselnya yang di belakangnya terdapat gambar apel di gigit juga tengah ia genggam erat. Kuku nya yang panjang sedang nampak cantik dengan kutek bewarna merah muda yang melekat.
__ADS_1
''Emang di rumah kamu ada minuman apa saja?'' tanya Siska tersenyum mengejek. Mendengar pertanyaan sang kakak membuat Dinda sedikit salah tingkah. Tapi dengan cepat dia bersikap biasa saja. Karena yang datang duluan ke rumahnya adalah kakak nya, dan sudah pasti kakaknya lah yang membutuhkan nya.
''Ada air putih, kopi, teh dan susu,'' jawab Dinda sekenanya.
''Mama,'' tiba-tiba Bunga keluar dari rumah, lalu bunga duduk dipangkuan sang mama. Siska sama sekali tidak menyapa keponakannya itu, ia bersikap abai.
''Heh, aku enggak mau minum apa-apa. Takutnya enggak higienis,'' Siska berucap lagi dengan kalimat yang pastinya merendahkan Dinda. Dinda pun tak merasa heran lagi, karena sifat Mama nya dan kedua saudaranya sama saja, tak ada beda.
''Baguslah kalau Kakak tidak mau minum apa-apa, jadi nya aku tidak repot-repot buat bikinin.'' Balas Dinda lagi. Dinda memang memanggil Siska dengan sebutan Kakak, meskipun mereka tinggal di kampung. Siska sendiri yang meminta agar Naira dan Dinda memanggil nya dengan sebutan Kakak. Biar lebih gaul katanya. Siska tidak mau dipanggil dengan sebutan Mbak, menurutnya panggilan itu sungguh kolot dan norak. Berbeda dengan Dinda, Naira memanggil Dinda dengan sebutan Mbak, dan Dinda merasa senang dengan panggilan itu, yang penting sopan saja.
''Kamu ternyata emang sudah belagu sekarang, ya. Ternyata apa yang di katakan oleh Mama memang benar,'' Siska berkata sinis.
''Aku belajar menjadi belagu seperti kalian,''
''Emang Kakak mau ngapain ke sini?'' tanya Dinda to the point.
''Besok Naira akan menikah dan mengadakan pesta yang besar-besaran, Mama meminta agar kamu ke rumah Mama untuk ikut bantu bersih-bersih. Cuci alat dan lainnya,''
''Aku tidak mau!'' Dinda berkata mantap. Tidak terdengar suara ketakutan dari nada bicaranya.
__ADS_1
''Heh, kamu jangan jadi anak durhaka, Dinda! Mama itu sudah tidak punya uang lagi untuk membayar jasa tukang bersih-bersih, makanya dia meminta agar kamu yang ikut membantu. Jadi keluarga itu yang berguna lah sedikit.'' Kali ini Siska berucap seraya jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke arah Dinda.
''Kalau Mama sudah tidak punya uang untuk bayar jasa tukang bersih-bersih, biar aku saja yang bayar. Kalian tinggal cari saja tukang bersih-bersih nya. Em oh, ya, emang kalian masih menganggap aku sebagai keluarga kalian? Kok aku merasa selama ini kalian hanya menganggap aku sebagai seorang pembantu saja. Selama Papa masih hidup, hanya Papa yang sayang dan peduli sama aku. Sementara kalian? Ah ... Sudahlah.'' Dinda berucap seraya tersenyum getir.
''Sok banget kamu sekarang, ya. Sok-sokan mau bayar jasa tukang bersih-bersih. Makan aja susah!''
''Emang Kakak tahu dari mana kalau untuk makan saja kami susah? Emang selama ini aku dan Mas Bima pernah minta makan ke Kakak? Pernah minjam uang ke Kakak? Tidak, 'kan?! Rumah kami boleh jelek begini, Kak. Tapi untuk urusan perut kami tidak pernah mengemis kepada siapapun.'' Dinda mengeluarkan semua unek-uneknya yang ia pendam selama ini. Sungguh, ia merasa kali inilah kesempatan nya.
''Awas saja kamu, aku adukan ke Mama kamu. Biar tahu rasa!'' Siska berdiri dari duduknya dengan wajah merah padam. Setelah itu ia meninggalkan rumah Dinda dengan langkah kaki lebar.
Setelah kepulangan sang kakak, Dinda hanya mampu mengelus dada.
Bunga yang tak mengerti apa-apa itu hanya diam saja, Bunga asyik dengan mainan baru yang di belikan oleh sang ayah kemarin. Mainan boneka Barbie yang begitu cantik dilengkapi dengan pakaian ganti nya.
***
Setibanya di rumah sang mama, Siska langsung saja mengadu semua percakapan antara dirinya dan Dinda tadi.
Mendengar itu, sang mama marah besar.
__ADS_1
''Udah, kasih pelajaran aja orang kayak Mbak Dinda itu, Ma.'' Naira menghasut sang mama.
Bersambung.