
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah sederhana. Magrib akan segera datang, tidak terasa perjalanan mereka menghabiskan waktu satu jam lebih lama nya, karena tadi, saat melintasi jalanan pusat kota, mobil mereka terjebak macet.
Bima nampak berdiri di teras rumah, ia tersenyum lega dan senang melihat Dinda dan Bunga sudah pulang. Dengan cepat Bima menghampiri mobil milik Arum, begitu dirinya sudah sampai di dekat pintu mobil, ia mambantu mengambil alih tubuh Bunga dari pangkuan Arum, Bunga yang masih terlelap begitu pulas. Kini, Bunga sudah berada di gendongan sang ayah.
''Terimakasih, Bu, karena Ibu sudah mengantarkan anak dan istri aku pulang dalam keadaan sehat wal'afiat seperti sedia kala,'' ucap Bima, mereka berdiri di dekat mobil.
''Sama-sama, Nak Bima. Kalau begitu Ibu permisi dulu, ya,''
''Tidak mampir dulu, Bu?'' tanya Dinda.
''Tidak usah, Ibu mau sholat berjamaah di masjid terdekat,'' Arum tersenyum manis sekali.
''Baiklah, semoga perjalanan pulang Ibu lancar hingga sampai di rumah,'' balas Dinda lagi.
''Amin, sampai ketemu lagi, Nak,''
''Iya.''
Arum masuk ke dalam mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkan Bima, Dinda dan Bunga.
Lalu setelah itu Bima dan Dinda masuk ke dalam rumah, Bima meletakkan Bunga di atas kasur tipis di dalam kamar mereka. Setelah itu dia dan Dinda mengambil wudhu, karena suara adzan magrib sudah terdengar berkumandang.
Mereka sholat dengan begitu khusyuk, selesai sholat mereka berdoa dengan begitu bersungguh-sungguh, doa mereka masih sama setiap harinya, mereka berdoa agar para orang tua mereka selalu diberikan kesehatan dan kelancaran rizki, begitu juga dengan keluarga kecilnya, mereka berdoa agar keluarga kecil mereka selalu menjadi keluarga yang harmonis serta penuh kebahagiaan setiap harinya. Mereka berdoa agar mereka selalu menjadi hamba nya yang selalu bersyukur serta sabar dalam menghadapi ujian hidup.
***
''Dek, ini perhiasan siapa? Mas lihat Bunga juga memakai perhiasan, emang siapa yang beli?'' tanya Bima seraya memegang tangan Dinda, ia menatap cincin yang melingkar di jari manis Dinda. Dari tadi ia sudah mau menanyakan perihal perhiasan itu, tapi masih ia tahan, sungguh Bima merasa penasaran di mana anak dan istrinya mendapatkan perhiasan yang sungguh indah di pandang mata, perhiasan yang dengan melihat pun sudah tahu kalau perhiasan itu memiliki harga yang begitu fantastis.
''Semua perhiasan yang ada pada kami adalah perhiasan yang dikasih oleh Bu Arum, Mas. Bu Arum itu baik sekali orangnya,'' jelas Dinda.
__ADS_1
''Masya Allah. Kenapa Bu Arum bisa baik banget sama kita, ya, Dek. Emang beneran kamu anak kandung adik nya? Bagaimana pertemuan kamu dan adik nya tadi?'' tanya Bima penampilan.
''Iya, aku juga tidak menyangka kita bisa di pertemukan dengan orang sebaik Bu Arum. Ternyata yang dibilang oleh Bu Arum memang benar adanya, Mas. Nama adik Bu Arum adalah Saras, namanya sungguh cantik, secantik paras nya yang memang begitu mirip sama paras aku, saat aku sedang berada di dekat Bu Saras, entah kenapa aku merasa nyaman dan tenang banget, apalagi saat dia memeluk tubuh ku, aku merasa aku tak mau melepaskan pelukan itu,'' Dinda berucap seraya menerawang mengingat pertemuan nya dan Bu Saras di rumah sakit tadi. Bima hanya diam, dia menyimak apa yang dikatakan oleh sang istri.
''Antara kami sudah dilakukan tes DNA, Mas. Dan hasilnya akan keluar seminggu yang akan datang. Aku mencoba untuk menyangkal, Mas, menyangkal kalau aku bukanlah anaknya Bu Saras yang hilang, karena aku menganggap Mama Neli adalah Mama kandung aku, selama ini aku tumbuh dan dibesarkan oleh Mama Neli, lalu bagaimana bisa kalau ....,'' Dinda tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi, karena mendadak saja air mata lolos dari matanya lalu air mata itu turun membasahi pipinya. Ia menangis terisak. Bima merengkuh tubuh sang istri, membawa sang istri ke dalam dekapannya.
''Sudah, sudah. Kita tunggu saja hasil tes nya dulu, ya, Dek. Kalau ternyata benar kamu adalah anak kandungnya Bu Saras, kamu bisa bertanya langsung kepada Mama Neli tentang asal-usul kamu sebenarnya, kenapa kamu bisa dibesarkan di dalam keluarga Mama Neli,'' ucap Bima seraya mencium pucuk kepala sang istri dengan penuh cinta.
''Iya, Mas.'' Dinda mengangguk kecil.
Setelah selesai mengobrol, Dinda dan Bima memutuskan untuk tidur. Tapi sebelum tidur, mereka akan melakukan ibadah terindah dulu, ibadah terindah antara suami dan istri, karena Bima lagi kepengen menyalurkan hasrat kelelakian nya, ia lagi kepengen bercinta dengan sang istri.
***
Keesokan paginya, Bima dan Dinda kembali melakukan aktivitas mereka seperti biasa. Mereka akan berjualan, mangkal di tempat biasa.
Saat mereka baru tiba di lokasi mangkal, ketoprak mereka sudah diserbu oleh para pembeli. Ada pembeli yang makan di tempat mangkal, ada pembeli yang mengatakan untuk sarapan pagi di tempat kerja dan ada juga pembeli yang mengatakan untuk dibawa pulang, untuk oleh-oleh anak dan istrinya di rumah.
''Alhamdulillah,'' Dinda berucap syukur saat dia menghitung uang yang ada di dalam kotak. Kini, tidak ada pembeli lagi. Dinda bisa mengistirahatkan dirinya sejenak.
Bima sedang berbaur dengan tukang yang mengerjakan pembangunan ruko rumah mereka.
Untuk para pekerja bangunan, setiap harinya Dinda sudah menyiapkan makanan untuk mereka.
Saat Dinda sedang duduk di atas bangku kayu di bawah pohon rindang di depan gerobak ketoprak, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depan gerobak. Kali ini bukan mobil milik Iren, tapi kali ini mobil yang berbeda. Dinda merasa penasaran siapa sang pemilik mobil bewarna hitam itu, ia menatap ke arah mobil, menunggu sang pemilik mobil keluar dari sana.
Tidak lama setelah itu, Dinda tersenyum kecil melihat Neli, Naira, Siska dan seorang pria yang keluar dari dalam mobil. Seorang pria yang bisa Dinda tebak kalau pria itu adalah suaminya Siska.
''Eh, tukang ketoprak, pesan ketoprak nya satu, masukin cabe nya yang banyak,'' Siska berucap angkuh seraya menendang kecil gerobak ketoprak.
__ADS_1
''Iya, Kak.'' Dinda menyahut cepat.
''Emang kalian mau ke mana? Sudah rapi saja,'' sambung Dinda bertanya.
''Kami mau jalan-jalan bersama suaminya Naira yang kaya raya,'' Neli berucap bangga seraya menepuk-nepuk kecil punggung Ciko yang duduk di sampingnya. Ciko pun tersenyum senang.
Bima yang melihat kehadiran mertua dan Ipar nya lalu ia berjalan dengan langkah kaki lebar menghampiri mereka.
''Ma,'' Dinda mau menyalami tangan Neli, tapi dengan cepat Neli menepis tangan Dinda. Hal itu membuat Dinda merasa sangat kaget. Lagi-lagi sang mama berhasil membuat hatinya terluka.
''Enggak usah tangan kamu pasti kotor,'' Neli berucap ketus.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang Mama, akhir nya Dinda memutuskan untuk membuat ketoprak pesanan Siska saja, lagi-lagi ia mencoba untuk tidak mengambil pusing sikap ketus sang mama.
Tanpa ia sadari, ketiga orang wanita itu melongo menatap cincin dan gelang yang di pakai oleh Dinda, apalagi saat mereka melihat Bunga yang duduk di samping Dinda, mereka menatap ke arah leher Bunga lalu beralih lagi menatap jari manis Bunga.
''Palingan perhiasan imitasi,'' lirih Naira, mereka bertiga saling berbisik.
''Tapi selama ini Dinda tidak suka pakai perhiasan imitasi, Mama tahu betul itu,'' sanggah Neli.
''Siapa tahu aja dia sudah berubah pikiran, Ma. Lagian gembel seperti dia mana sanggup membeli perhiasan yang asli,'' kali ini Siska yang bersuara.
''Tapi kok mirip yang asli, ya,'' ucap Neli yakin.
''Apa jangan-jangan selama ini Papa diam-diam meninggalkan harta warisan lain untuk Dinda,'' Siska merasa curiga, hingga ia beranggapan yang aneh-aneh.
''Hm patut di curigai itu, soalnya saat masih hidup, Papa kamu 'kan emang baik banget sama Dinda.'' Tambah Neli lagi.
Walaupun mereka berbisik, tapi Dinda masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh tiga orang wanita bergaya sosialita itu, Dinda hanya mampu menggeleng kepada seraya mengelus dada, ternyata dari dulu tiga orang wanita itu memang tidak pernah suka melihat nya bahagia, melihat nya hidup berlebih dari mereka.
__ADS_1
Bersambung.