DIASINGKAN DI KELUARGA

DIASINGKAN DI KELUARGA
Part 21


__ADS_3

''Ehm,'' Bima berdehem saat dirinya sudah sampai di dekat rombongan Dinda. Ternyata Bima juga sempat mendengar kalau mama mertua dan ipar nya tengah berbisik membicarakan Dinda.


''Kamu ini, bukannya datang-datang mengucap salam, ini malah mengagetkan, dasar menantu pea,'' umpat Neli kepada Bima, ia merenggut menatap Bima tak suka.


''Maaf, Ma. Aku sengaja berdehem kecil, soalnya tadi aku seperti mendengar kalian tengah berbisik membicarakan istri ku,'' balas Bima tersenyum simpul.


''Heh, Bim. Kamu itu banci atau apa sih, jadi laki kok suka ikut campur urusan perempuan,'' Siska bersuara dengan gaya nya yang angkuh.


Bima tak membalas perkataan Siska lagi.


Dinda hanya diam seribu bahasa, selalu saja begini, kalau suaminya lagi ngumpul dengan anggota keluarganya, selalu saja ribut gara-gara hal sepele.

__ADS_1


''Ini, Kak,'' Dinda menyerahkan sepiring ketoprak kepada Siska, Siska pun mengambil nya cepat. Siska lalu duduk di atas bangku, ia melahap ketoprak buatan Dinda dengan lahap, karena sebenarnya Siska memang sangat menyukai ketoprak jualan adik nya itu. Hanya saja ia tidak mau memuji kenikmatan ketoprak yang ia makan.


''Heh, Din, itu perhiasan imitasi, ya?'' tanya Neli penuh selidik.


''Mm, iya, Ma,'' jawab Dinda berbohong. Kalau ia berkata yang sebenarnya sudah pasti Neli tidak akan percaya, dan lagian Neli tidak akan pernah percaya kalau dirinya memiliki perhiasan bermata berlian asli. Karena selama ini mama dan saudara-saudara nya selalu menganggap dirinya miskin dan tak mampu.


''Sudah ku duga. Emang maksud kamu pakai perhiasan imitasi untuk apa? Pengen di puji kaya kamu? Ini, anak kecil juga kamu pakai kan perhiasan imitasi, dasar menyedihkan,'' ucap Neli lagi menghina Dinda.


''Ini, eh siapa namanya?'' Dinda menyerahkan ketoprak kepada Ciko.


''Hahaha, kamu denger 'kan apa yang suami aku katakan,'' Naira tertawa lebar. Dia merasa sangat senang mendengar apa yang barusan Ciko katakan.

__ADS_1


Bima sebenarnya sudah tidak tahan lagi mendengar dan melihat istrinya selalu direndahkan oleh keluarga nya sendiri, tapi saat Bima akan membalas perkataan mereka, Dinda selalu melarang, Dinda selalu memberi kode agar Bima tetap diam saja. Hal itulah yang membuat Bima begitu mencintai Dinda, menurut nya wanita seperti istri nya sungguh langka di zaman sekarang.


''Mama mau?'' Dinda menawari Neli lagi.


''Tidak usah!'' sahut Neli.


''Em sini tangan mu sebentar, Bunga.'' Usai menghabiskan ketoprak nya. Siska menarik kecil tangan Bunga, lalu ia memperhatikan cincin emas bermata berlian yang begitu mungil itu dengan seksama.


''Eh, ini seperti emas dan berlian asli,'' Siska berucap di dalam hati.


''Emang kenapa kamu lihat lagi tuh cincin, Sis? Sudah tahu itu cincin imitasi,'' ucap Neli.

__ADS_1


''Tapi ini kayak nya emas dan berlian asli, Ma,'' sahut Siska, ''Aku 'kan juga punya emas, Ma, jadi aku tahu lah mana yang asli dan mana yang palsu. Tapi kalau berlian aku belum punya sih, soalnya harganya mehong,'' ucap Siksa lagi dengan tatapan masih fokus menatap cincin yang melingkar di jari manis Bunga. Rasa-rasanya ia ingin menarik dan melepaskan cincin itu dari jari manis Bunga, ia ingin mengambil cincin itu untuk anaknya yang seumuran dengan Bunga.


Bersambung.


__ADS_2