Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 1


__ADS_3

Manusia adalah makhluk social karena dia diciptakan


tidak sendirian, ada banyak manusia dan makhluk lain yang ikut tinggal di muka


bumi ini.


Namun demikian, ego dan kebodohanya membuat mereka


enggan menganggap penting keberadaan manusia atau makhluk lain yang ada di


sekitarnya.


Bimo Panduwijoyo, seorang pemuda berusia 19 tahun.


Memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dari


kawan-kawan sebayanya yaitu 185 cm, dengan berat badan 85 kg, memiliki kulit


kuning bersih dengan wajah sedikit lonjong, kedua rahang terlihat kokoh, dan


berbadan tegap.


Kedua lengannya terlihat dempal dengan otot massa yang


besar, dada bidang, perut six pack dan kedua kaki yang terlihat kokoh dan kuat.


Sore itu dia pulang ke rumah dengan wajah letih


setelah gagal mengikuti tes masuk menjadi tentara.


Dia temui ibunya dan menyampaikan apa yang baru saja


terjadi padanya.


“Gagal bu,” jawabnya singkat dengan wajah lesu lalu


beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Ibunya yang tengah masak sempat menghentikan


aktivitasnya lalu mengejar putera keduanya itu.


“Le Bim, sini bentar to,” ucap ibunya.


Bimo menoleh sebentar ke arah ibunya tanpa


mengeluarkan sepatah kata pun.


“Kamu itu kenapa kok gagal lolos?” tanya ibunya.


Bimo mengangkat kedua pundaknya ke atas memberi tanda


kalau dirinya tidak tahu apa hal yang membuatnya gagal lolos menjadi tentara.


“Ini sudah dua kali lho le kamu gagal lolos?” tambah


ibunya sekali lagi.


Bimo tidak menanggapi ucapan ibunya.


Dia hanya terus berjalan menuju ke kamarnya.


Kali ini dia pasrah bongkokan apakah hidupnya bakalan


terusir dari rumah bapaknya sekarang atau tidak.


Namun dia segera mempersiapkan dirinya untuk pergi


dari rumah.


***


Keesokan paginya, di saat dia sedang berada di kamar


mandi.


“Brakkk!”


Terdengar ada barang yang jatuh ke lantai dengan kuat.


Bimo buru-buru keluar dari dalam kamar mandi untuk


melihat apa yang baru saja jatuh ke lantai.


Dia lihat ternyata laptopnya sudah berada di lantai


dalam keadaan terbuka bagian atasnya, dan bapaknya yang bernama Pandu tengah


menginjak-injak laptop tersebut dengan arogan.


Bimo pun kaget dan mendelik kedua matanya, dia merasa


kaget karena laptop itu merupakan barang yang dia beli dari hasil jerih


payahnya sendiri dari mengikuti lomba desain dari berbagai website luar negeri.


“Bapaaakk!” teriaknya yang langsung mendorong tubuh


bapaknya dengan kuat.


Tubuh Pandu pun sempat terhuyung ke belakang usai


mendapat dorongan dari tangan anaknya.


Setelah bapaknya mundur menjauh, Bimo segera mengambil


laptopnya yang sudah pecah di bagian layar LCD atas.


“Bapak ne apa-apaan sih!” maki Bimo dengan kedua mata


mendelik lebar.

__ADS_1


Pandu berkecak pinggang sambil menatap wajah putera


keduanya tersebut.


“Gara-gara laptop itu, mata mu jadi minus dan gagal


masuk tentara! Itu yang bapak nggak suka!” maki Pandu dengan kuat.


Bimo menatap bapaknya dengan tatapan tajam.


“Pak, aku sudah berusaha menuruti semua perintah


bapak. Kalau sampai gagal, bukan berarti bapak bisa seenaknya merusak


barang-barang ku,” ucap Bimo dengan geram.


Pandu melihat kemarahan di wajah puteranya.


“Mau apa kamu? Mau nantang bapak?” tanya Pandu yang


masih berkecak pinggang di depan puteranya.


Pandu nampak terlihat gagah dengan baju perwira


tentara di depan puteranya.


“Jika bukan karena bapak adalah ayah ku, bapak pasti


aku lemparkan ke lantai bawah,” ucap Bimo lalu memasukkan laptopnya ke dalam


tas.


Pandu terhenyak kaget mendengar ucapan puteranya.


“Apa kamu bilang! Kamu mau lempar bapak ke lantai


bawah!” bentak Pandu dengan tatapan tajam ke arah puteranya.


Bimo terdiam dan tetap membelakangi bapaknya.


Dia merasa tidak perlu menanggapi ucapan bapaknya yang


saat ini sedang marah kepadanya.


Tiba-tiba Dewi masuk ke dalam kamar puteranya dan


kaget melihat keributan tersebut.


“Pak sudah paaakk, jangan ribut terus sama anak mu,”


sergah Dewi sembari menarik tangan suaminya agar keluar dari dalam kamar


puteranya.


“Bentar bu, dia sudah tahu konsekuensinya kalau gagal


dalam tes ini,” ucap Pandu dengan nada kuat.


dan Dewi pun memperlihatkan wajah penuh rasa khawatirnya.


“Sudah pak, jangan desak terus anak mu seperti itu.


Ibu lihat sendiri dia sudah berusaha tiga bulan ini,” ucap Dewi coba membela


puteranya.


“Tidak bisa bu! Dia sudah tahu konsekuensinya,” ucap


Pandu yang masih berbicara dengan nada kuat.


Dewi tidak menanggapi ucapan suaminya, dia terus


menarik tangan Pandu dan mengajaknya keluar dari kamar putera keduanya.


Terlihat bagaimana ketiga puteranya yang lain yaitu


Arjuna, Nakula dan Sadewa ikut menonton keributan di pagi itu.


Dewi tidak ingin keributan tersebut jadi tontonan


ketiga puteranya.


“Kalian bertiga, segera siap-siap berangkat sekolah,”


ucap Dewi dengan tegas.


Ketiganya menganggukkan kepala dan segera membubarkan


diri, namun kedua mata mereka bertiga masih berusaha melihat apa yang sedang


dilakukan kakaknya Bimo.


“Mas Arjun, mas Bimo mau kemana itu?” tanya Nakula


yang melihat kakaknya Bimo tengah memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.


Arjuna pun menggelengkan kepala karena tidak tahu apa


yang sedang dilakukan kakaknya.


Saat melihat bapak dan ibunya sudah menuruni anak


tangga, Arjuna tiba-tiba berjalan mendekati kakak keduanya itu.


“Mas jangan pergi, nanti siapa yang belain aku kalau ada


yang ganggu di sekolah?” tanya Arjuna dengan nada pelan.


Bimo terus menata barang-barangnya di dalam tas ransel


hitamnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Nakula dan Sadewa juga ikut mendatangi


Bimo.


“Mas Bim, jangan pergi mas. Nanti kalau kita diganggu


sama anak-anak gang kelinci gimana?” rengek mereka berdua.


“Nggak usah khawatir, kalian buruan bersiap. Nanti


kita ngobrol lagi di mobil,” ucap Bimo sambil mendorong ketiga adiknya untuk


keluar dari dalam kamarnya.


Arjuna lalu mengajak kedua adiknya untuk segera


bersiap berangkat ke sekolah.


Sementara Dewi yang masih menarik tangan suaminya


untuk turun ke lantai bawah segera meminta Pandu untuk tidak mengganggu putera


kedua mereka.


Namun Pandu terus bersikeras meminta istrinya untuk


mengusir Bimo dari rumah.


“Pokoknya dia harus pergi dari rumah ini bu! Bapak


ingin lihat! Bisa apa dia tanpa kita!” teriak Pandu dengan kuat.


“Pergi kemana pak! Dia itu anak mu! Masak bapak tega


ngusir anak kita dari rumah?” tanggap Dewi dengan nada tak kalah kuat dari


suaminya.


Pandu tidak menjawab tanggapan istrinya, namun sikapnya


tetap sama.


Putera keduanya harus pergi dari rumah.


Dewi menarik tangan suaminya menuju ke ruang depan lalu


memengambilkan tas kerja dan tongkat komando yang biasa dibawa suaminya saat


menuju ke kantor.


“Sudah jangan banyak bicara, ini sudah siang. Bapak


buruan berangkat,” ucap Dewi lalu memberikan tas dan tongkat komando ke tangan


suaminya.


Pandu menerimanya dan menjulurkan tangan kanannya


kepada Dewi.


“Bapak tidak mau dia masih ada di rumah ini,” ucap


Pandu dengan nada datar.


Usai mencium tangan suaminya, Dewi diam saja lalu


mendorong tubuh suaminya untuk berjalan menuju ke mobil dinas yang sudah


menunggu.


Telah berdiri satu ajudan di samping pintu mobil


dengan badan tegap tengah membukakan pintu untuk Pandu.


Pandu pun berjalan menuju ke dalam mobil yang kemudian


pintunya ditutup lagi oleh ajudannya.


Ajudan pun kembali menuju ke jok depan dan tak lama


kemudian mobil pun berjalan meninggalkan rumah.


Rita keponakan Dewi terlihat berjalan menuju ke mobil


yang digunakan untuk mengantar ketiga putera Dewi.


“Mbak Ritaaa! Tunggu bentaarrr!” teriak Bimo dengan


kuat.


Dewi dan Rita menoleh ke arah lantai atas.


Terlihat Bimo yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Dewi terhenyak kaget mendengar teriakan Bimo.


“Mau kemana dia Rit?”


“Nggak tahu bulek,” jawab Rita dengan wajah tak kalah


kaget.


Dewi berjalan menuju ke dalam rumah, dan menaiki anak


tangga ke kamar puteranya.


Dia lihat Bimo keluar dari dalam tas dengan membawa


tas ransel dan tas koper besar yang biasa dia bawa saat akan keluar kota.


“Le, kamu mau kemana?” tanya Dewi dengan wajah kaget.

__ADS_1


“Minggat!” jawab Bimo dengan penuh emosi.


__ADS_2