
Manusia adalah makhluk social karena dia diciptakan
tidak sendirian, ada banyak manusia dan makhluk lain yang ikut tinggal di muka
bumi ini.
Namun demikian, ego dan kebodohanya membuat mereka
enggan menganggap penting keberadaan manusia atau makhluk lain yang ada di
sekitarnya.
Bimo Panduwijoyo, seorang pemuda berusia 19 tahun.
Memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dari
kawan-kawan sebayanya yaitu 185 cm, dengan berat badan 85 kg, memiliki kulit
kuning bersih dengan wajah sedikit lonjong, kedua rahang terlihat kokoh, dan
berbadan tegap.
Kedua lengannya terlihat dempal dengan otot massa yang
besar, dada bidang, perut six pack dan kedua kaki yang terlihat kokoh dan kuat.
Sore itu dia pulang ke rumah dengan wajah letih
setelah gagal mengikuti tes masuk menjadi tentara.
Dia temui ibunya dan menyampaikan apa yang baru saja
terjadi padanya.
“Gagal bu,” jawabnya singkat dengan wajah lesu lalu
beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Ibunya yang tengah masak sempat menghentikan
aktivitasnya lalu mengejar putera keduanya itu.
“Le Bim, sini bentar to,” ucap ibunya.
Bimo menoleh sebentar ke arah ibunya tanpa
mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kamu itu kenapa kok gagal lolos?” tanya ibunya.
Bimo mengangkat kedua pundaknya ke atas memberi tanda
kalau dirinya tidak tahu apa hal yang membuatnya gagal lolos menjadi tentara.
“Ini sudah dua kali lho le kamu gagal lolos?” tambah
ibunya sekali lagi.
Bimo tidak menanggapi ucapan ibunya.
Dia hanya terus berjalan menuju ke kamarnya.
Kali ini dia pasrah bongkokan apakah hidupnya bakalan
terusir dari rumah bapaknya sekarang atau tidak.
Namun dia segera mempersiapkan dirinya untuk pergi
dari rumah.
***
Keesokan paginya, di saat dia sedang berada di kamar
mandi.
“Brakkk!”
Terdengar ada barang yang jatuh ke lantai dengan kuat.
Bimo buru-buru keluar dari dalam kamar mandi untuk
melihat apa yang baru saja jatuh ke lantai.
Dia lihat ternyata laptopnya sudah berada di lantai
dalam keadaan terbuka bagian atasnya, dan bapaknya yang bernama Pandu tengah
menginjak-injak laptop tersebut dengan arogan.
Bimo pun kaget dan mendelik kedua matanya, dia merasa
kaget karena laptop itu merupakan barang yang dia beli dari hasil jerih
payahnya sendiri dari mengikuti lomba desain dari berbagai website luar negeri.
“Bapaaakk!” teriaknya yang langsung mendorong tubuh
bapaknya dengan kuat.
Tubuh Pandu pun sempat terhuyung ke belakang usai
mendapat dorongan dari tangan anaknya.
Setelah bapaknya mundur menjauh, Bimo segera mengambil
laptopnya yang sudah pecah di bagian layar LCD atas.
“Bapak ne apa-apaan sih!” maki Bimo dengan kedua mata
mendelik lebar.
__ADS_1
Pandu berkecak pinggang sambil menatap wajah putera
keduanya tersebut.
“Gara-gara laptop itu, mata mu jadi minus dan gagal
masuk tentara! Itu yang bapak nggak suka!” maki Pandu dengan kuat.
Bimo menatap bapaknya dengan tatapan tajam.
“Pak, aku sudah berusaha menuruti semua perintah
bapak. Kalau sampai gagal, bukan berarti bapak bisa seenaknya merusak
barang-barang ku,” ucap Bimo dengan geram.
Pandu melihat kemarahan di wajah puteranya.
“Mau apa kamu? Mau nantang bapak?” tanya Pandu yang
masih berkecak pinggang di depan puteranya.
Pandu nampak terlihat gagah dengan baju perwira
tentara di depan puteranya.
“Jika bukan karena bapak adalah ayah ku, bapak pasti
aku lemparkan ke lantai bawah,” ucap Bimo lalu memasukkan laptopnya ke dalam
tas.
Pandu terhenyak kaget mendengar ucapan puteranya.
“Apa kamu bilang! Kamu mau lempar bapak ke lantai
bawah!” bentak Pandu dengan tatapan tajam ke arah puteranya.
Bimo terdiam dan tetap membelakangi bapaknya.
Dia merasa tidak perlu menanggapi ucapan bapaknya yang
saat ini sedang marah kepadanya.
Tiba-tiba Dewi masuk ke dalam kamar puteranya dan
kaget melihat keributan tersebut.
“Pak sudah paaakk, jangan ribut terus sama anak mu,”
sergah Dewi sembari menarik tangan suaminya agar keluar dari dalam kamar
puteranya.
“Bentar bu, dia sudah tahu konsekuensinya kalau gagal
dalam tes ini,” ucap Pandu dengan nada kuat.
dan Dewi pun memperlihatkan wajah penuh rasa khawatirnya.
“Sudah pak, jangan desak terus anak mu seperti itu.
Ibu lihat sendiri dia sudah berusaha tiga bulan ini,” ucap Dewi coba membela
puteranya.
“Tidak bisa bu! Dia sudah tahu konsekuensinya,” ucap
Pandu yang masih berbicara dengan nada kuat.
Dewi tidak menanggapi ucapan suaminya, dia terus
menarik tangan Pandu dan mengajaknya keluar dari kamar putera keduanya.
Terlihat bagaimana ketiga puteranya yang lain yaitu
Arjuna, Nakula dan Sadewa ikut menonton keributan di pagi itu.
Dewi tidak ingin keributan tersebut jadi tontonan
ketiga puteranya.
“Kalian bertiga, segera siap-siap berangkat sekolah,”
ucap Dewi dengan tegas.
Ketiganya menganggukkan kepala dan segera membubarkan
diri, namun kedua mata mereka bertiga masih berusaha melihat apa yang sedang
dilakukan kakaknya Bimo.
“Mas Arjun, mas Bimo mau kemana itu?” tanya Nakula
yang melihat kakaknya Bimo tengah memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.
Arjuna pun menggelengkan kepala karena tidak tahu apa
yang sedang dilakukan kakaknya.
Saat melihat bapak dan ibunya sudah menuruni anak
tangga, Arjuna tiba-tiba berjalan mendekati kakak keduanya itu.
“Mas jangan pergi, nanti siapa yang belain aku kalau ada
yang ganggu di sekolah?” tanya Arjuna dengan nada pelan.
Bimo terus menata barang-barangnya di dalam tas ransel
hitamnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Nakula dan Sadewa juga ikut mendatangi
Bimo.
“Mas Bim, jangan pergi mas. Nanti kalau kita diganggu
sama anak-anak gang kelinci gimana?” rengek mereka berdua.
“Nggak usah khawatir, kalian buruan bersiap. Nanti
kita ngobrol lagi di mobil,” ucap Bimo sambil mendorong ketiga adiknya untuk
keluar dari dalam kamarnya.
Arjuna lalu mengajak kedua adiknya untuk segera
bersiap berangkat ke sekolah.
Sementara Dewi yang masih menarik tangan suaminya
untuk turun ke lantai bawah segera meminta Pandu untuk tidak mengganggu putera
kedua mereka.
Namun Pandu terus bersikeras meminta istrinya untuk
mengusir Bimo dari rumah.
“Pokoknya dia harus pergi dari rumah ini bu! Bapak
ingin lihat! Bisa apa dia tanpa kita!” teriak Pandu dengan kuat.
“Pergi kemana pak! Dia itu anak mu! Masak bapak tega
ngusir anak kita dari rumah?” tanggap Dewi dengan nada tak kalah kuat dari
suaminya.
Pandu tidak menjawab tanggapan istrinya, namun sikapnya
tetap sama.
Putera keduanya harus pergi dari rumah.
Dewi menarik tangan suaminya menuju ke ruang depan lalu
memengambilkan tas kerja dan tongkat komando yang biasa dibawa suaminya saat
menuju ke kantor.
“Sudah jangan banyak bicara, ini sudah siang. Bapak
buruan berangkat,” ucap Dewi lalu memberikan tas dan tongkat komando ke tangan
suaminya.
Pandu menerimanya dan menjulurkan tangan kanannya
kepada Dewi.
“Bapak tidak mau dia masih ada di rumah ini,” ucap
Pandu dengan nada datar.
Usai mencium tangan suaminya, Dewi diam saja lalu
mendorong tubuh suaminya untuk berjalan menuju ke mobil dinas yang sudah
menunggu.
Telah berdiri satu ajudan di samping pintu mobil
dengan badan tegap tengah membukakan pintu untuk Pandu.
Pandu pun berjalan menuju ke dalam mobil yang kemudian
pintunya ditutup lagi oleh ajudannya.
Ajudan pun kembali menuju ke jok depan dan tak lama
kemudian mobil pun berjalan meninggalkan rumah.
Rita keponakan Dewi terlihat berjalan menuju ke mobil
yang digunakan untuk mengantar ketiga putera Dewi.
“Mbak Ritaaa! Tunggu bentaarrr!” teriak Bimo dengan
kuat.
Dewi dan Rita menoleh ke arah lantai atas.
Terlihat Bimo yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Dewi terhenyak kaget mendengar teriakan Bimo.
“Mau kemana dia Rit?”
“Nggak tahu bulek,” jawab Rita dengan wajah tak kalah
kaget.
Dewi berjalan menuju ke dalam rumah, dan menaiki anak
tangga ke kamar puteranya.
Dia lihat Bimo keluar dari dalam tas dengan membawa
tas ransel dan tas koper besar yang biasa dia bawa saat akan keluar kota.
“Le, kamu mau kemana?” tanya Dewi dengan wajah kaget.
__ADS_1
“Minggat!” jawab Bimo dengan penuh emosi.