
Usai menikmati makan siang di pantai, Bimo berikan dua
lembar uang seratus ribuan kepada Agnes.
“Ne mbak buat bayar makan kita,” ujar Bimo.
Agnes tersenyum senang karena tadi sudah mengetahui
berapa jumlah uang di dalam dompet Bimo.
Saat ini dia tahu kalau Bimo ternyata bukan pria pelit
seperti banyak pria yang dia kenal selama ini.
Dirinya sangat yakin kalau adik sepupunya ini pria
royal yang bisa dia manfaatkan di saat dia membutuhkan uang.
Segera saja dia sahut uang tersebut lalu berdiri dari
duduknya dengan membawa uang dari Bimo untuk dia bayarkan kepada ibu yang punya
warung.
Setelah dihitung-hitung, ternyata makan mereka
habisnya tidak sampai seratus ribu.
Masih ada banyak sisa uang yang seharusnya dia berikan
kembali kepada adiknya.
Dia lalu pura-pura lupa dengan tidak memberikan
kembalian tadi.
Saat Agnes duduk pun, Bimo juga tidak menanyakan uang
kembalian tersebut.
Dia seperti lupa berapa jumlah yang Agnes bayarkan.
Namun entah kenapa Agnes merasa berdosa jika tidak memberikan
uang kembalian tadi.
Akhirnya tiba-tiba saja tangannya mengambil sisa uang
kembalian tadi dari dalam kantong celananya.
“Neh dek kembaliannya,” ucap Agnes.
“Bawa aja mbak, kita masih mau jalan lagi kan?”
“Oh gitu, ya udah ayo kalau gitu,” tanggap Agnes
dengan wajah ceria.
Hal ini seketika membuat Agnes jadi tambah sumringah
wajahnya.
Dia jadi semakin senang bisa berlama-lama dengan adik
sepupu yang bisa memberikan dirinya kenyamanan dan keamanan saat bersama.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan dengan
mendatangi berbagai destinasi wisata yang ada di kota Jogja.
Selama dalam perjalanan tersebut, Agnes nampak
benar-benar menikmatinya.
Wajahnya tak pernah sekalipun cemberut, malah
kebalikannya.
Dia seringkali tertawa bahagia walau saat itu mereka
sedang jalan-jalan berdua.
“Ya ampun, serasa kaya punya pacar baru aku kalau
begini,” gumam Agnes dalam hati.
Di saat Agnes nampak begitu bahagia saat bersamanya,
Bimo pun menunjukkan raut muka penuh kebahagiaan.
Sejenak dia melupakan masalah dengan bapaknya.
Dia pun merasa senang walau diusir bapaknya dari
rumah, karena ternyata dia bertemu dengan keluarga yang bisa mendukung dirinya
untuk menjadi apa yang dia inginkan.
“Eh dek, masak sih kamu sampek gagal dua kali masuk
TNI? Kan tinggi sama fisik mu udah oke banget lho buat masuk jadi TNI,” tanya
Agnes di saat mereka tengah beristirahat di pelataran candi Prambanan.
Bimo tersenyum mendengar pertanyaan Agnes.
Dia lalu duduk menyandarkan punggungnya ke candi.
“Aku sengaja pura-pura nggak bisa baca waktu tes mata
mbak, terus waktu tes lari. Aku sengaja melambat biar nggak sesuai target
mereka.”
“Hah masak bisa? Kamu nggak kena hajar sama mereka
__ADS_1
karena sengaja seperti itu?”
“Ya kena mbak, petugas yang ngetes aku pasti kasih
laporan ke bapak kalau aku itu tesnya ogah-ogahan. Makanya bapak berani usir
aku dari rumah, karena bapak tahu kalau aku main-main waktu ikut tes kemarin.”
“Ya ampun kamu ini dek, seneng amat sih berantem sama
orang tua.”
“Lha gimana, itu nggak sesuai dengan keinginan ku
kok.”
“Memang kamu pengen jadi apa sih?”
Bimo terdiam, kedua matanya menerawang jauh ke langit
sembari memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang diajukan kakaknya
tadi.
“Aku pengen jadi pengusaha kaya yang bisa bermain
musik mbak,” jawab Bimo pelan.
“Maksudnya?” tanya Agnes dengan wajah yang terlihat
penasaran.
“Ih mbak Agnes masak nggak mudeng sih, itu lho.
Pengusaha yang punya banyak duit, tapi masih bisa main musik di sela-sela
waktunya itu lho mbak.”
Agnes makin tidak mengerti dengan apa yang disampaikan
adik sepupunya ini, namun dia langsung mengarahkan pembicaraan agar tidak makin
melebar kemana-mana.
“Ya ampun dek, kamu tahu nggak. Musisi itu aslinya
duitnya banyak, asal dia bisa menghasilkan karya yang disukai banyak orang.
Terus dia bisa jual karyanya tadi, duitnya bakalan banyak dek.”
“Nah itu masalahnya mbak, aku itu nggak bisa konsen
jadi musisi. Sulit buat hasilin karya musik yang menjual. Aku bisanya main
desain gambar, dan itu yang sering aku jual,” beber Bimo sembari menatap wajah
ayu Agnes.
Agnes tersenyum mendengar ucapan Bimo.
kelemahannya masing-masing dek, yang penting kamu sudah menguasai satu bidang dan
itu sudah bisa menghasilkan. Itu yang perlu kamu pertahankan,” ucap Agnes
perlahan
Bimo tersenyum senang mendengar ucapan Agnes.
“Jujur aja, mbak seneng kamu sudah menemukan passion
mu,” lanjut Agnes sembari memberikan senyum manis di bibirnya.
Bimo membalas tatapan Agnes dengan kedua mata
terbelalak lebar.
Baru kali ini ada orang yang memberikan ucapan positif
kepadanya seperti ini.
“Itu passion ya mbak namanya,” ucap Bimo menanggapi
ucapan Agnes.
Agnes menganggukkan kepalanya dengan memberikan
senyuman di wajahnya.
“Tapi mbak, aku nggak mungkin andalin pemasukan dari
jualan gambar saja. Soalnya itu tuh kadang menang, kadang kalah. Kadang ada
tawaran job, kadang enggak. Aku itu pengen punya usaha yang nggak tergantung
pada tawaran orang, jadi bisa aku usahakan sendiri. Misal kaya ibu tuh mbak,
bikin baju sendiri terus bisa dijual di tokonya sendiri. Kalau toko kelebihan
barang, baru disalurkan ke toko lain dengan system cash atau konsinyasi.”
“Itu modal besar dek, untuk kamu masih muda gini
jangan mulai yang besar-besar dulu. Mulai aja dari yang kecil-kecil, kaya jualan
baju ecer lewat marketplace,” tanggap Agnes.
Bimo diam termangu.
Baginya jualan seperti itu tidak terlalu mudah.
Dia harus mendapatkan barang yang jauh lebih bagus dan
lebih murah, agar penjualan barang bisa lebih cepat.
“Dek, kenapa diem?” sahut Agnes sambil menepuk pundak
__ADS_1
Bimo.
“Bingung aku mbak, mau jualan apa ya selain dari
desain. Jujur aja, aku baru kepikiran sekarang. Besok makan apa, lusa makan
apa. Karena uang di tangan itu bisa cepet habis,” jawab Bimo perlahan.
Agnes mengernyitkan keningnya.
“Kan kamu punya orang tua dek, ibu mu pengusaha kaya.
Bapak mu perwira, masak nggak bisa kirimin kamu duit?”
“Ya elah mbak, kan tadi udah aku bilang. Bapak udah
usir aku dari rumah, itu artinya bapak ya nggak bakalan mau tahu lagi sama
hidup ku. Mau aku makan kek, mau aku gembel kek. Bapak nggak akan perduli.”
“Eemmmm masak bapak mu setega itu dek?” tanggap Agnes
dengan wajah sedikit termangu.
Bimo mengangkat kedua alisnya ke atas.
“Beneran mbak, dan kemarin malam aku baru tahu juga
kalau mas Doni ternyata ribut sama mbak Via. Kalau aku terus-terusan ikut di
rumah mbak Via, kasihan mbak Via dong karena musti kasih makan buat orang
banyak. Makanya aku milih di rumah gondomanan aja biar bisa usaha sendiri,”
beber Bimo dengan wajah yang dia arahkan ke langit.
Mendengar ucapan Bimo, Agnes langsung terdiam.
Dia ikut merasakan keprihatinan adiknya saat ini.
Duit yang sempat dia lihat agak lumayan banyak,
ternyata itu sangat berguna untuk adeknya saat ini.
“Eee terus dek, kalau kamu mau jualan. Memang kamu
sudah ada modal buat usaha?” tanya Agnes sambil menoleh ke arah Bimo.
Bimo pun menganggukkan kepalanya pelan.
“Ada tapi nggak sekarang mbak, mungkin bulan depan
duit ku cairan.”
“Berapa emang kalau cairan?” tanya Agnes penasaran.
“Tiga belas ribu,” jawab Bimo dengan nada cepat.
“Hahaha, kamu ini dek. Kirain berapa, tiga belas ribu
doang seneng banget kamu ini,” ucap Agnes sambil meninju lengan kiri Bimo
dengan pelan.
“Ya ampun mbak, tiga belas ribu dollar amerika ini.
Kalau dirupiahkan bisa hampir dua ratus juta.”
Agnes terbelalak kedua matanya dan menarik tangan
Bimo.
“Apa dek? Dua ratus juta? Nggak bohongkan kamu?”
“Ya ampun, bulan depan deh. Tanggal lima belas biasa
cairan,” ucap Bimo dengan nada kuat.
“Tanggal berapa? Lima belas? Ini tanggal tiga dek,
berarti dua belas hari lagi dong duit mu cairan?”
Bimo mengernyitkan keningnya.
Dia ambil handphonenya dan melihat tanggal berapa saat
ini.
“Oh iya ya, nggak kerasa kalau sekarang udah tanggal
tiga. Ya dua belas hari lagi mbak aku cairan.”
“Beneran?” tanya Agnes tidak percaya.
“Iya beneran,” jawab Bimo disertai anggukan kepala
pelan.
“Ya udah, awas kamu bohong. Nanti kasih tahu mbak
kalau udah cairan ya,” ucap Agnes yang langsung tersenyum lebar sambil menatap
wajah Bimo.
“Iya beneran, nanti mbak orang pertama yang aku kasih
tahu kalau duit ku udah cairan.”
Agnes kembali tersenyum ceria sambil membuka
handphonenya.
Dia lalu memberi tanda ke handphonenya kalau tanggal 15
bulan ini adiknya bakalan dapat uang bonus dari kemenangan lomba desainnya.
__ADS_1