Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 16


__ADS_3

Usai menikmati makan siang di pantai, Bimo berikan dua


lembar uang seratus ribuan kepada Agnes.


“Ne mbak buat bayar makan kita,” ujar Bimo.


Agnes tersenyum senang karena tadi sudah mengetahui


berapa jumlah uang di dalam dompet Bimo.


Saat ini dia tahu kalau Bimo ternyata bukan pria pelit


seperti banyak pria yang dia kenal selama ini.


Dirinya sangat yakin kalau adik sepupunya ini pria


royal yang bisa dia manfaatkan di saat dia membutuhkan uang.


Segera saja dia sahut uang tersebut lalu berdiri dari


duduknya dengan membawa uang dari Bimo untuk dia bayarkan kepada ibu yang punya


warung.


Setelah dihitung-hitung, ternyata makan mereka


habisnya tidak sampai seratus ribu.


Masih ada banyak sisa uang yang seharusnya dia berikan


kembali kepada adiknya.


Dia lalu pura-pura lupa dengan tidak memberikan


kembalian tadi.


Saat Agnes duduk pun, Bimo juga tidak menanyakan uang


kembalian tersebut.


Dia seperti lupa berapa jumlah yang Agnes bayarkan.


Namun entah kenapa Agnes merasa berdosa jika tidak memberikan


uang kembalian tadi.


Akhirnya tiba-tiba saja tangannya mengambil sisa uang


kembalian tadi dari dalam kantong celananya.


“Neh dek kembaliannya,” ucap Agnes.


“Bawa aja mbak, kita masih mau jalan lagi kan?”


“Oh gitu, ya udah ayo kalau gitu,” tanggap Agnes


dengan wajah ceria.


Hal ini seketika membuat Agnes jadi tambah sumringah


wajahnya.


Dia jadi semakin senang bisa berlama-lama dengan adik


sepupu yang bisa memberikan dirinya kenyamanan dan keamanan saat bersama.


Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan dengan


mendatangi berbagai destinasi wisata yang ada di kota Jogja.


Selama dalam perjalanan tersebut, Agnes nampak


benar-benar menikmatinya.


Wajahnya tak pernah sekalipun cemberut, malah


kebalikannya.


Dia seringkali tertawa bahagia walau saat itu mereka


sedang jalan-jalan berdua.


“Ya ampun, serasa kaya punya pacar baru aku kalau


begini,” gumam Agnes dalam hati.


Di saat Agnes nampak begitu bahagia saat bersamanya,


Bimo pun menunjukkan raut muka penuh kebahagiaan.


Sejenak dia melupakan masalah dengan bapaknya.


Dia pun merasa senang walau diusir bapaknya dari


rumah, karena ternyata dia bertemu dengan keluarga yang bisa mendukung dirinya


untuk menjadi apa yang dia inginkan.


“Eh dek, masak sih kamu sampek gagal dua kali masuk


TNI? Kan tinggi sama fisik mu udah oke banget lho buat masuk jadi TNI,” tanya


Agnes di saat mereka tengah beristirahat di pelataran candi Prambanan.


Bimo tersenyum mendengar pertanyaan Agnes.


Dia lalu duduk menyandarkan punggungnya ke candi.


“Aku sengaja pura-pura nggak bisa baca waktu tes mata


mbak, terus waktu tes lari. Aku sengaja melambat biar nggak sesuai target


mereka.”


“Hah masak bisa? Kamu nggak kena hajar sama mereka

__ADS_1


karena sengaja seperti itu?”


“Ya kena mbak, petugas yang ngetes aku pasti kasih


laporan ke bapak kalau aku itu tesnya ogah-ogahan. Makanya bapak berani usir


aku dari rumah, karena bapak tahu kalau aku main-main waktu ikut tes kemarin.”


“Ya ampun kamu ini dek, seneng amat sih berantem sama


orang tua.”


“Lha gimana, itu nggak sesuai dengan keinginan ku


kok.”


“Memang kamu pengen jadi apa sih?”


Bimo terdiam, kedua matanya menerawang jauh ke langit


sembari memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang diajukan kakaknya


tadi.


“Aku pengen jadi pengusaha kaya yang bisa bermain


musik mbak,” jawab Bimo pelan.


“Maksudnya?” tanya Agnes dengan wajah yang terlihat


penasaran.


“Ih mbak Agnes masak nggak mudeng sih, itu lho.


Pengusaha yang punya banyak duit, tapi masih bisa main musik di sela-sela


waktunya itu lho mbak.”


Agnes makin tidak mengerti dengan apa yang disampaikan


adik sepupunya ini, namun dia langsung mengarahkan pembicaraan agar tidak makin


melebar kemana-mana.


“Ya ampun dek, kamu tahu nggak. Musisi itu aslinya


duitnya banyak, asal dia bisa menghasilkan karya yang disukai banyak orang.


Terus dia bisa jual karyanya tadi, duitnya bakalan banyak dek.”


“Nah itu masalahnya mbak, aku itu nggak bisa konsen


jadi musisi. Sulit buat hasilin karya musik yang menjual. Aku bisanya main


desain gambar, dan itu yang sering aku jual,” beber Bimo sembari menatap wajah


ayu Agnes.


Agnes tersenyum mendengar ucapan Bimo.


kelemahannya masing-masing dek, yang penting kamu sudah menguasai satu bidang dan


itu sudah bisa menghasilkan. Itu yang perlu kamu pertahankan,” ucap Agnes


perlahan


Bimo tersenyum senang mendengar ucapan Agnes.


“Jujur aja, mbak seneng kamu sudah menemukan passion


mu,” lanjut Agnes sembari memberikan senyum manis di bibirnya.


Bimo membalas tatapan Agnes dengan kedua mata


terbelalak lebar.


Baru kali ini ada orang yang memberikan ucapan positif


kepadanya seperti ini.


“Itu passion ya mbak namanya,” ucap Bimo menanggapi


ucapan Agnes.


Agnes menganggukkan kepalanya dengan memberikan


senyuman di wajahnya.


“Tapi mbak, aku nggak mungkin andalin pemasukan dari


jualan gambar saja. Soalnya itu tuh kadang menang, kadang kalah. Kadang ada


tawaran job, kadang enggak. Aku itu pengen punya usaha yang nggak tergantung


pada tawaran orang, jadi bisa aku usahakan sendiri. Misal kaya ibu tuh mbak,


bikin baju sendiri terus bisa dijual di tokonya sendiri. Kalau toko kelebihan


barang, baru disalurkan ke toko lain dengan system cash atau konsinyasi.”


“Itu modal besar dek, untuk kamu masih muda gini


jangan mulai yang besar-besar dulu. Mulai aja dari yang kecil-kecil, kaya jualan


baju ecer lewat marketplace,” tanggap Agnes.


Bimo diam termangu.


Baginya jualan seperti itu tidak terlalu mudah.


Dia harus mendapatkan barang yang jauh lebih bagus dan


lebih murah, agar penjualan barang bisa lebih cepat.


“Dek, kenapa diem?” sahut Agnes sambil menepuk pundak

__ADS_1


Bimo.


“Bingung aku mbak, mau jualan apa ya selain dari


desain. Jujur aja, aku baru kepikiran sekarang. Besok makan apa, lusa makan


apa. Karena uang di tangan itu bisa cepet habis,” jawab Bimo perlahan.


Agnes mengernyitkan keningnya.


“Kan kamu punya orang tua dek, ibu mu pengusaha kaya.


Bapak mu perwira, masak nggak bisa kirimin kamu duit?”


“Ya elah mbak, kan tadi udah aku bilang. Bapak udah


usir aku dari rumah, itu artinya bapak ya nggak bakalan mau tahu lagi sama


hidup ku. Mau aku makan kek, mau aku gembel kek. Bapak nggak akan perduli.”


“Eemmmm masak bapak mu setega itu dek?” tanggap Agnes


dengan wajah sedikit termangu.


Bimo mengangkat kedua alisnya ke atas.


“Beneran mbak, dan kemarin malam aku baru tahu juga


kalau mas Doni ternyata ribut sama mbak Via. Kalau aku terus-terusan ikut di


rumah mbak Via, kasihan mbak Via dong karena musti kasih makan buat orang


banyak. Makanya aku milih di rumah gondomanan aja biar bisa usaha sendiri,”


beber Bimo dengan wajah yang dia arahkan ke langit.


Mendengar ucapan Bimo, Agnes langsung terdiam.


Dia ikut merasakan keprihatinan adiknya saat ini.


Duit yang sempat dia lihat agak lumayan banyak,


ternyata itu sangat berguna untuk adeknya saat ini.


“Eee terus dek, kalau kamu mau jualan. Memang kamu


sudah ada modal buat usaha?” tanya Agnes sambil menoleh ke arah Bimo.


Bimo pun menganggukkan kepalanya pelan.


“Ada tapi nggak sekarang mbak, mungkin bulan depan


duit ku cairan.”


“Berapa emang kalau cairan?” tanya Agnes penasaran.


“Tiga belas ribu,” jawab Bimo dengan nada cepat.


“Hahaha, kamu ini dek. Kirain berapa, tiga belas ribu


doang seneng banget kamu ini,” ucap Agnes sambil meninju lengan kiri Bimo


dengan pelan.


“Ya ampun mbak, tiga belas ribu dollar amerika ini.


Kalau dirupiahkan bisa hampir dua ratus juta.”


Agnes terbelalak kedua matanya dan menarik tangan


Bimo.


“Apa dek? Dua ratus juta? Nggak bohongkan kamu?”


“Ya ampun, bulan depan deh. Tanggal lima belas biasa


cairan,” ucap Bimo dengan nada kuat.


“Tanggal berapa? Lima belas? Ini tanggal tiga dek,


berarti dua belas hari lagi dong duit mu cairan?”


Bimo mengernyitkan keningnya.


Dia ambil handphonenya dan melihat tanggal berapa saat


ini.


“Oh iya ya, nggak kerasa kalau sekarang udah tanggal


tiga. Ya dua belas hari lagi mbak aku cairan.”


“Beneran?” tanya Agnes tidak percaya.


“Iya beneran,” jawab Bimo disertai anggukan kepala


pelan.


“Ya udah, awas kamu bohong. Nanti kasih tahu mbak


kalau udah cairan ya,” ucap Agnes yang langsung tersenyum lebar sambil menatap


wajah Bimo.


“Iya beneran, nanti mbak orang pertama yang aku kasih


tahu kalau duit ku udah cairan.”


Agnes kembali tersenyum ceria sambil membuka


handphonenya.


Dia lalu memberi tanda ke handphonenya kalau tanggal 15


bulan ini adiknya bakalan dapat uang bonus dari kemenangan lomba desainnya.

__ADS_1


__ADS_2