Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 2


__ADS_3

Dewi pun kaget dan menarik tangan puteranya dengan


kuat.


“Minggat kemana le? Kamu nggak sayang sama ibu apa?”


Bimo menoleh ke arah ibunya.


Dia tatap wajah wanita berusia 48 tahun yang masih


terlihat cantik dan anggun di usia senjanya.


“Bu, aku ini laki-laki. Aku berhak menentukan hidup ku


sendiri! Jangan atur aku seperti anak kecil bu,” jawab Bimo dengan nada kuat.


Dewi mendengus kesal.


“Ya tapi nggak seperti ini le! Kamu nggak bisa pergi


dari rumah gitu saja! Kamu ini punya orang tua!”


“Orang tua macam apa yang selalu maksa anaknya untuk


ikuti kemauannya bu! Sudahlah lebih baik aku pergi! Toh bapak juga nyuruh aku


pergi,” jawab Bimo dengan wajah muram.


Dewi terdiam, kedua matanya tanpa dia sadari mulai


mengalir air mata hangat yang membasahi wajahnya.


Bimo sebenarnya tak sampai hati meninggalkan ibunya,


namun karena dia sudah memiliki rencana sendiri dalam hidupnya yang belum dia


beritahukan kepada ibunya.


Terpaksa dia memberitahukan kepada ibunya sekarang.


Dia buka tas koper yang ada di depannya.


Melihat puteranya yang keukueh ingin pergi, membuat


Dewi merasa tak bisa menghalanginya lagi.


Terpaksa dia mengikhlaskan kepergian putera keduanya


saat ini.


“Ya sudah, kamu boleh pergi. Tapi mau pergi kemana?”


Bimo mengambil sebuah berkas dari dalam tas kopernya,


lalu dia berikan kepada ibunya berkas tersebut.


Dewi membaca berkas tersebut dengan cepat, dan


wajahnya langsung terlihat kaget.


“Ka-ka-kamu ka-ka-kapan le ikut ujian di UGM?” tanya


Dewi dengan wajah kaget.


“Dua bulan lalu aku sudah ikut ujian bu, dan


pengumumannya empat hari lalu saat sedang ikut tes ketentaraan. Ini hari


terakhir daftar ulang, tapi aku sudah transfer uang tadi malam. Tinggal


registrasi langsung kesana,” jawab Bimo dengan pelan.


Dewi benar-benar kaget tidak percaya dengan apa yang


baru saja dia dengarkan.


Dia tidak menyangka jika ternyata puteranya diam-diam


mengikuti ujian masuk di kampusnya dulu hingga lolos secara diam-diam tanpa dia


ketahui.


Itu artinya puteranya ini sudah memiliki rencana


sendiri dalam hidupnya, dan dia tidak bisa mengekang puteranya terus menerus


jika seperti ini.


Dewi langsung terlihat lemas.


Betapa tidak lemas, selama ini bisnis penjualan


property dan pabrik bajunya dibantu oleh putera keduanya ini.


Khususnya di periklanan, Bimolah yang membantu


memproduksi iklan-iklan untuk ibunya selama ini.


Tiba-tiba Bimo memegang telapak tangan ibunya.


“Ibu nggak usah khawatir, iklan rumah sama iklan


baju-baju ibu tetap aku yang buat. Semua bisa ku kerjakan dari jauh, cuma untuk


distribusi baju sama yang lain ibu harus menyuruh Penceng sama Andi. Aku nggak


bisa bantu lagi,” ucapnya perlahan.


Dewi mengusap wajahnya.


Dia menangis haru kali ini.


Dia menangis karena akan berjauhan dengan puteranya,


dan yang kedua dia bangga salah satu puteranya ada yang berhasil menembus


kampusnya dulu.


Akhirnya dia berusaha ikhlas, karena bagi dia ini


mungkin memang yang terbaik untuk putera keduanya ini.


“Ya sudah, kamu tinggal di rumah bude mu saja gimana?”


tanya Dewi sambil menatap wajah puteranya.


Bimo berfikir sejenak setelah mendengar ucapan ibunya.


“Tunggu dulu, jangan pergi dulu,” ucap Dewi yang


kemudian membalikkan badan dan berjalan menuruni anak tangga menuju ke


kamarnya.


Bimo tidak tahu apa yang dilakukan ibunya, namun dia


menutup pintu kamarnya dan memberikan kiss by ke arah pintu kamar.


Setelah itu dia balikkan badan dan menuruni anak


tangga menuju ke lantai bawah.


Dia lihat ketiga adiknya sudah berdiri di depan mobil,


begitu juga dengan Rita yang nampak masih menunggu dirinya.


Buru-buru dia mendatangi kakak sepupunya tersebut.


“Sudah yuk berangkat, anterin aku ke terminal setelah


anter bocil-bocil ini,” ucap Bimo.


Arjuna dan kedua adiknya segera masuk ke dalam mobil.


Namun tidak dengan Rita yang masih menunggu buleknya


keluar dari dalam rumah.


“Mbak ayo buruan,” bisik Bimo sambil menatap Rita.


Rita mendelik kedua matanya.


“Nggak bisa gitu, tunggu ibu mu dulu,” ucap Rita.


Bimo segera masuk ke dalam mobil lalu duduk di jok


depan.


Tidak lama kemudian Dewi keluar dari dalam rumah


sambil membawa lima bendel kunci yang diikat karet.


“Mana Bimo Rit?”


“Di dalam bulek,” jawab Rita.


Dewi meminta Bimo membuka jendela kaca, dan Bimo

__ADS_1


membukanya pelan.


“Le ini kunci rumah bude mu, kamu tinggal di sana aja


ya. Nanti ibu telepon bude mu,” ucap Dewi dengan wajah yang masih terlihat


menegang.


Bimo menerima kunci tersebut dan memasukkan ke dalam


saku celananya.


“Ya sudah, pamit dulu bu,” ucap Bimo lalu mencium


tangan ibunya.


“Kamu sudah bawa duit kan?” tanya Dewi.


“Sudah,” jawab Bimo.


Dewi tersenyum dengan wajah kecut.


Kali ini dia mendadak harus berpisah dengan putera


keduanya.


Putera yang menurutnya paling bisa membantu dirinya


dalam mengelola bisnisnya saat ini.


***


Sepanjang jalan menuju ke sekolah, Bimo memberitahu


ketiga adiknya agar berani menghadapi bullyan dari kawan-kawannya dengan gagah


berani.


Dia pun berjanji akan pulang kembali ke rumah setelah


bapaknya kembali berdinas ke Surabaya, karena untuk saat ini dia malas bertemu


dengan bapaknya.


Ketiga adiknya pun merasa lega karena tahu kalau


kakaknya tetap akan sering pulang ke Madiun.


Dua puluhmenit kemudian, usai mengantar ketiga


adiknya ke sekolah.


Sampailah


Bimo di terminal kota Madiun.


Dia


turun sendiri dari mobil sambil membawa tas ransel yang ada di punggungnya, dan


satu tas lagi ada di genggaman tangan kanannya.


“Dek


jangan lupa telepon ibu kalau sampai ya!” teriak Rita


dari dalam mobil.


“Iiiiyooiiii,”


jawab Bimo sambil berlalu pergi.


Dia


berjalan menuju ke dalam terminal.


Mengenakan


kaos putih ketat, celana jeans hitam, kulit kuning bersih, jenggot sedikit


tebal dengan rambut cepak membuat penampilannya sangat mirip dengan penyanyi


Marcel.


Terlihat keren dan macho sekali, hampir semua wanita


di terminal menatap gayanya yang sangat mencolok dan berbeda dengan pria lain


di dalam terminal.


kuat.


“Jogja pak?” balas Bimo dengan teriakan lebih kuat.


“Yo mas, ayo masuk!” panggil si kondektur sambil


melambaikan tangan ke arah Bimo.


Bimo pun menganggukkan kepala dan berjalan lalu segera


masuk ke dalam bis yang mulai bergerak


untukberangkat menuju kota Jogja.


Dia


cari kursi kosong di sebelah kiri yang bisa digunakan dua penumpang, dan duduk di samping jendela kaca bis.


Tidak


lama bis pun berangkat meninggalkan kota Madiun.


***


Satu jam kemudian, saat bis masuk ke terminal


Ngawi.


Tiba-tiba


naik seorang gadis cantik berusia 23 tahun, tinggi badan 160 cm, berat badan 58


kg, berambut hitam lurus yang diikat


seperti buntut kuda.


Kulitnya putih


bersih, bibir merah menggunakan lipstik, alis rapi seperti baru disulam, hidung


sedikit mancung, gigi putih rata, dan nampak dari dandanannya dia bukan anak


Ngawi.


Sekilas wajahnya sangat mirip dengan chef wanita yang


biasa tampil di TV, yaitu chef Renatta Moeloek.


Bimo awalnya cuek saja karena merasa tidak kenal dan tidak tahu siapa gadis


ini, namun tiba-tiba si gadis mendatangi


dan meminta dirinya untukmenggeser duduknya.


“Mas e,


biso geser sitik wae


ora? Saya pengen duduk dekat jendela je,” pinta si


gadis sambil berdiri dan menatap wajah Bimo.


Merasa bahwa kursi tersebut memang untuk dua orang,


terpaksa Bimo perbolehkan wanita ini duduk di sampingnya.


“Oh ya, silakan.”


Bimo lalumenggeser duduknya dan memberi tempat kepada si gadis untuk duduk di dekat


jendela.


“Aneh,


kursi yang kosong masih banyak. Kenapa dia pengen duduk di samping ku,” gumam


Bimo dalam hati.


Bimo


termasuk pria pendiam.


Dia


cenderung pasif dan membiarkan orang lain untuk mulai pembicaraan lebih dulu.


Kedua

__ADS_1


matanya hanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat sudah sampai manakah


perjalanan dirinya saat ini.


Si


gadis nampaknya gatel karena tidak diajak bicara oleh Bimo, dan tiba-tiba saja


dia yang mengajak bicara lebih dulu.


“Namane sampean sapa mas e?” tanya si gadis sambil mengajak Bimo


berjabat tangan.


Bimo menoleh ke arah si gadis dan menjabat tangannya.


“Bimo,


mbak e siapa?”


“Angelica,”


jawab si gadis sambil memegang sedikit erat tangan kanan Bimo.


“Punya


nomer HP nggak mas e?” tanya Angelica lagi.


“Ada, ini handphone ku,” jawab Bimo sambil


menunjukkan handphone miliknya kepada Angelica.


“Wooww


iPhone dua puluh jutaan ya itu hargane,” sahut


Angelica yang takjub melihat HP milik Bimo.


Bimo


hanya tersenyum lalu memasukkan kembali HP miliknya ke dalam saku celana.


Angelica


tiba-tiba menuliskan sebuah chat di HP miliknya sendiri lalu dia tunjukkan kepadaBimo isi chatnya.


“Mas, gelem ora aku tunjukne te**k ku tapi wenehi aku duit50 ribu,” bunyi isi chat tersebut.


Bimo


membaca isi chat tersebut, dan kagetlah dia sampai mendelik kedua matanya.


“Apaan


sih mbak, nggak maulah aku,” ucap Bimo dengan wajah mengkerut.


Wajah


Angelica nampak kecewa, dia lalu mengambil HP miliknya dari tangan Bimo dan


berdiri dari duduknya.


Dia


kemudian berjalan meninggalkan Bimo untuk duduk di bangku depan yang ada


seorang pria muda yangduduk sendirian.


Bimo


melihat dari bangku belakang, nampak Angelica mulai melobi si pria.


Dan


tanpa perlu waktu lama, si pria nampak menyetujui apa yang Angelica tawarkan.


Bimo


melihat dari kejauhan apa yang dilakukan dua anak manusia yang ada di depannya.


Tangan


si pria nampak masuk ke dalam kaos Angelica lalu meraba-raba isi di dalam kaos,


terlihat wajah si pria nampak penuh senyum.


Tidak


lama setelah itu si pria menarik tangannya dan memberikan selembar uang Rp


50.000,-


Bimo


sedikit kaget melihatnya.


Dia


merasa kasihan karena demi mendapatkan uang Rp 50.000,- Angelica rela kedua dadanya


dipegang dan diremas-remas oleh pria yang tidak dia kenal.


Namun berhubung dia memang tidak kenal dan tidak tahu


siapa gadis itu, dia cueki saja apa yang sudah dilakukan Angelica dengan pria


lain yang ada di depannya.


Entah ada angin apa, tiba-tiba saja hatinya berontak


dan mengatakan dirinya harus membantu Angelica.


Setelah diam dan berfikir sejenak, hatinya mengatakan


tak ada salahnya dia membantu wanita yang membutuhkan bantuannya.


Bimo


lalu memanggil Angelica.


“Mbak


Angel! Sini!” teriak Bimo dengan nada


agakkuat.


Angelica


menoleh ke arah Bimo.


“Sabar,


satu-satu,” jawab Angelica sambil melihat ke arah Bimo.


Usai


melayani si pria, Angelica lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke


kursi Bimo.


“Pie mas e? Gelem lima puluh ribu wae?”


tanya Angelica sambil duduk di samping Bimo.


Bimo


lalu mengeluarkan uang dari dalam saku celananya.


Dia


berikan uang kertas seratus ribu


sebanyak dua lembar kepada Angelica.


“Nggak


usah, ini aku kasih dua ratus. Mbak Angelica silakan turun dan gunakan uang ini


untuk membeli makan,” ucap Bimo sambil menaruh uang ke tangan kanan Angelica.


Angelica


nampak kaget.


Kedua


tangannya langsung memegang erat uang yang diberikan Bimo kepadanya.


Angelica


lalu menghela nafas panjang.


“Aku


buka aja ya, kamu intip punya ku,” tawar Angelica yang tiba-tiba mengangkat


kaosnya hingga terlihatlah kedua pa***** miliknya.

__ADS_1


__ADS_2