Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 20


__ADS_3

Tanpaterasa malam telah tiba.


Bimo coba menghubungi ibunya kembali untuk meminta


uang guna membantu Agnes.


Namun demikian nomer ibunya masih belum bisa dia


hubungi.


Kini gantian dia yang jadi gelisah karena khawatir


tidak bisa membantu Agnes.


Berhubung orang tuanya tidak bisa dia hubungi, cobalah


iseng dia menghubungi Agnes.


“Ya dek,” ucap Agnes saat menerima panggilan dari


Bimo.


“Mbak, ibu belum angkat telepon ku lho.”


“Waduh, terus gimana ya dek.”


“Besok mbak berangkat ke Solo jam berapa?”


“Jam tujuh pagi, soalnya jam sepuluh mbak mau


registrasi online terus lanjut registrasi offline di kampus.”


“Jam sepuluh ya, moga-moga bisa deh mbak kalau jam


sepuluh,” ujar Bimo coba menenangkan Agnes.


“Atau, kalau nggak bisa nggak apa-apa deh dek. Mbak


mau live aja di tiktok, sapa tahu yang kasih gift banyak,” ucap Agnes.


“Hah! Live di tiktok? Memang mbak punya akun tiktok?”


“Punya dong, tapi malem nanti mbak livenya. Biar


banyak cowok yang nonton.”


“Hah! Kok malah pengen ditonton cowok, memang mbak mau


ngapain?” tanya Bimo dengan nada mayor.


“Ada deh, ya udah dek. Mbak mau bobok dulu, nanti


kalau udah ada kabar. Kabari mbak segera, tapi kalau nggak ada kepastian juga


nggak apa-apa kok. Moga aja malam ini mbak dapet gift banyak,” ucap Agnes.


Bimo penasaran dengan apa yang akan dilakukan Agnes


nanti.


Tidak lama kemudian terdengar Agnes mematikan


handphonenya.


Bimo meletakkan handphonenya ke atas meja sambil


menghela nafas panjang.


“Huuffff, ada-ada aja sih mbak Agnes ini,” gumam Bimo


dalam hati.


Dia rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Agnes yang


lumayan empuk dan harum aroma sprei, mirip dengan parfum yang dikenakan Agnes


selama ini.


Tiba-tiba saja bayangan kemolekan tubuh kakak


sepupunya ini muncul dalam angannya.


Namun berhubung malam itu suasana


perkampungan Gondomanan cukup ramai dengan suara


hajatan tetangga yang berjarak 600 meter dari rumah budenya, membuat pikiran Bimo teralihkan untuk ikut menyanyikan lagu-lagu jawa.


Tidak lama kemudian samar-samar terdengar suara adzan


isya’ yang mulai berkumandang dari masjid kampung.


Beberapa biduan yang sebelumnya asyik bernyanyi,


akhirnya terpaksa berhenti sejenak untuk mendengarkan suara adzan untuk mulai


berkumandang.


Bimo lalu berdiri dari tempat tidur, dan segera


berjalan menuju ke dapur.


Dia ambil air wudhu dan segera mengambil sarung untuk


berangkat ke masjid.


Sebelum berangkat ke masjid, dia putar suara murottal menggunakan handphone miliknya yang satu lagi yang biasa dia gunakan untuk


membuka youtube.


Setelah


itu, dia tinggal handphone lama itu dirumah dan dia pergi ke


masjid untuk melaksanakan shalat Isya’ dengan membawa


handphonenya yang baru.


Selesai


melaksanakan shalat Isya’ di masjid dekat rumah, Bimo tidak langsung pulang


kerumah karena dia merasa kesepian.


Untuk


menghabiskan waktu, dia mampir duduk nongkrong di angkringan dekat rumah sambil


menikmati nasi bakar dengan lauk ceker ayam yang dibumbui sambal pedas.


Dan


kebetulan malam itu angkringan lagi sepi, Bimo pun menyempatkan diri untuk


mampir ke angkringan yang letaknya sekitar 100 meter dari rumah budenya.


Bimo


lalu masuk ke dalam dan memesan segelas teh panas, legi (manis) dan kental atau


yang disingkat Nasgitel.


Sambil


menunggu teh nasgitelnya datang, Bimo mengambil satu bungkus nasi bakar beserta


dua gorengan yang dia letakkan di samping piringnya.


“Keponakannya


bu Gandari ya mas?” tanya penjual angkringan saat menghidangkan teh panas manis


dan kental di samping Bimo.


“Iya


pak, baru malem ini saya coba tidur disitu,” jawab Bimo sambil tersenyum.

__ADS_1


“Sama


siapa tinggal disitu mas?” lanjut si penjual angkringan dengan penasaran.


“Sendiri


pak,” jawab Bimo yang masih asyik mengunyah nasi bakar.


“Hebat,


berani bener sampean tinggal disitu sendirian,” puji penjual angkringan sambil


mengacungkan ibu jarinya ke arah Bimo.


Bimo


tersenyum mendapat pujian tersebut.


“Mas


maaf ya, bukan bermaksud menakuti. Aku sering lho lihat ada cewek nari sendiri di dalam rumahitu,” ungkap


penjual angkringan sambil menatap Bimo.


“Halah,


saya kemarin sore baru datang malah dirasuki diapak,” jawab Bimo sambil tersenyum.


“Beneran


mas?” tanya penjual angkringan dengan kaget hingga mendelik kedua matanya saatmenatap Bimo.


“Iya


beneran, ustad Sayyid yang bantu saya sadar,” jawab


Bimo coba meyakinkan.


“Weh


berani bener sampean,” ujar penjual angkringan sambil menggelengkan kepalanya.


Bimo


hanya tersenyum saat mendengar pujian tersebut.


Baginya


tidak ada yang dia takuti kecuali Alloh sebagai Tuhan penguasa seluruh alam,


baik alam manusia maupun alam ghaib.


“Mas


perlu sampean ketahui, makhluk ghaib seperti mereka itu sesungguhnya beneran


ada lho,” ujar penjual angkringan memberitahu Bimo.


“Iya


pak, hal ghaib itu memang sebenarnya ada. Dan itu bagian dari rukun iman,”


sahut Bimo menyambung pembicaraan penjual angkringan.


Penjual


angkringan pun tersenyum senang dengan pendapat Bimo.


“Wah


wawasan sampean lumayan luas ya mas ternyata,” ucap penjual angkringan dengan


tersenyum senang.


“Saya


ini orangnya suka ngobrol dengan semua orang pak, apa aja yang mau diobrolkan


saya pasti suka dan berusaha untuk bisa tahu,” sahut Bimo sambil terus


mengunyah nasi.


berarti sampean mas orangnya,” lanjut penjual angkringan yang masih terus


memuji Bimo.


Bimo


hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil terus mengunyah.


Si


penjual angkringan kemudian berjalan keluar dari tenda untuk mengambil arang


yang dia letakkan di luar tenda.


Bimo


masih asyik menikmati nasi bakarnya seorang diri.


Dan


saat sedang asyik makan, tiba-tiba tercium aroma wangi melati melintas ke


hidung Bimo.


Seketika


Bimo terkaget.


Namun


dia tidak terlalu takut dan bingung karena tiba-tiba datang seorang pria


separuh baya yang rambutnya penuh uban duduk di depannya.


Wajah


pria itu nampak tidak asing dalam ingatan Bimo.


Namun


dia lupa siapakah bapak tua itu.


Sekilas


dia melihat pria tua itu sangat mirip sekalidengan


bapak kandungnya.


Namun


karena belum mengenal dengan akrab, Bimo diam saja dan terus melanjutkan


makannya.


Saat


tengah asyik makan, Bimo merasa ada yang aneh dengan pria tua tersebut.


Pria


tua itu dari dia datang sampai makanan hampir habis, yang dia lakukan hanya


memandangi wajah Bimo.


Tidak


sekalipun dia mengambil makanan atau memesan minuman, bahkan menyentuhnya pun


tidak dia lakukan.


Hal


itu membuat Bimo menjadi serba salah karena dilihatin terus menerus.


Sampai

__ADS_1


akhirnya, saat nasi bakarnya sudah habis dan Bimo meneguk teh nasgitelnya


hingga sisa separuh. Bimo coba beranikan untuk mulai bicara lebih dulu.


“Makan


pak?” tawar Bimo dengan ramah.


Bapak


itu hanya menganggukkan kepalanya pelan dan tetap tidak mengeluarkan satu patah


kata pun.


“Apa


mau dipesankan minuman?” tawar Bimo sekali lagi dengan ramah.


Bapak


itu menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum kepada Bimo.


Terlihat


wajah bapak tua itu sedikit pucat dan hanya tersenyum saat melihat Bimo.


Tiba-tiba


“Brakkkkkk.”


Terdengar


seperti suara barang yang jatuh di luar tenda.


“Mas


mas, bisa minta tolong nggak?” teriak penjual angkringan memanggil Bimo secara


tiba-tiba.


“Pripun


pak?” sahut Bimo yang langsung pergi meninggalkan bapak tua yang masih duduk di


depannya.


Bimo


berjalan mendatangi penjual angkringan di luar tenda.


Dia


lihat bapak penjual angkringan yang masih sibuk memegang panci yang berisi air


panas, dan di depannya ada rak dari kayu yang berisi arang dan beberapa kayu


bakar jatuh bergelimangan di jalanan.


“Amit


mas, minta tolong dibediriin dulu ya biar tidak mengganggu orang lewat. Saya


tak bawa air ini ke dalam,” pinta bapak penjual angkringan saat melihat Bimo


yang berdiri di dekatnya.


“Oh


ya,” jawab Bimo yang langsung dengan cekatan mendirikan rak kayu tersebut.


Bimo


kemudian meletakkan kembali arang dan beberapa kayu bakar ke dalam rak


tersebut.


Setelah


selesai meletakkan arang dan beberapa kayu bakar, Bimo kemudian mencuci


tangannya di ember yang berisi air bersih.


Lalu


dia kembali masuk ke dalam ke tempat duduknya semula.


Saat


masuk ke dalam, Bimo kaget.


“Kemana


ya bapak tadi?” gumam Bimo dalam hati sambil mencarinya keluar tenda.


“Cari


siapa mas?” tanya penjual angkringan yang heran melihat Bimo nampak kebingungan


dan mencari seseorang.


“Sampean


tahu bapak-bapak tua yang duduk disini tidak pak?” tanya Bimo saat dia masuk ke


dalam tenda lagi.


“Siapa?


Nggak ada siapa-siapa mas dari tadi selain sampean,” jawab penjual angkringan


kaget hingga melotot kedua matanya.


“Eh


beneran pak, tadi lho. Bapak tua yang rambutnya banyak uban. Dia duduk di depan


saya tadi ini,” jabar Bimo dengan wajah tegang.


“Nggak


ada lho mas, saya masuk tadi nggak orang kok disitu,” sahut penjual angkringan


yang tidak kalah tegang wajahnya.


Bimo


terdiam lalu mengambil gelas tehnya.


Saat


akan meminum, betapa kagetnya Bimo.


“Kok


teh ku habis ya? Perasaan tadi masih sisa separuh,” gumam Bimo bingung sambil


terus memandangi gelas tehnya.


“Kenapa


mas?” tanya penjual angkringan sambil mendatangi Bimo.


“Kok


teh ku habis ya pak, apa sampean yang minum?”


“Astaghfirullah,


enggaklah mas. Eh tapi tadi waktu aku masuk, teh sampean masih ada lho.”


Bimo


langsung tersentak kaget.


Wajahnya


langsung tegang sambil menatap wajah penjual angkringan.

__ADS_1


“Berarti


bapak tadi yang minum,” ucap Bimo sambil menengok keluar tenda.


__ADS_2