
Tanpaterasa malam telah tiba.
Bimo coba menghubungi ibunya kembali untuk meminta
uang guna membantu Agnes.
Namun demikian nomer ibunya masih belum bisa dia
hubungi.
Kini gantian dia yang jadi gelisah karena khawatir
tidak bisa membantu Agnes.
Berhubung orang tuanya tidak bisa dia hubungi, cobalah
iseng dia menghubungi Agnes.
“Ya dek,” ucap Agnes saat menerima panggilan dari
Bimo.
“Mbak, ibu belum angkat telepon ku lho.”
“Waduh, terus gimana ya dek.”
“Besok mbak berangkat ke Solo jam berapa?”
“Jam tujuh pagi, soalnya jam sepuluh mbak mau
registrasi online terus lanjut registrasi offline di kampus.”
“Jam sepuluh ya, moga-moga bisa deh mbak kalau jam
sepuluh,” ujar Bimo coba menenangkan Agnes.
“Atau, kalau nggak bisa nggak apa-apa deh dek. Mbak
mau live aja di tiktok, sapa tahu yang kasih gift banyak,” ucap Agnes.
“Hah! Live di tiktok? Memang mbak punya akun tiktok?”
“Punya dong, tapi malem nanti mbak livenya. Biar
banyak cowok yang nonton.”
“Hah! Kok malah pengen ditonton cowok, memang mbak mau
ngapain?” tanya Bimo dengan nada mayor.
“Ada deh, ya udah dek. Mbak mau bobok dulu, nanti
kalau udah ada kabar. Kabari mbak segera, tapi kalau nggak ada kepastian juga
nggak apa-apa kok. Moga aja malam ini mbak dapet gift banyak,” ucap Agnes.
Bimo penasaran dengan apa yang akan dilakukan Agnes
nanti.
Tidak lama kemudian terdengar Agnes mematikan
handphonenya.
Bimo meletakkan handphonenya ke atas meja sambil
menghela nafas panjang.
“Huuffff, ada-ada aja sih mbak Agnes ini,” gumam Bimo
dalam hati.
Dia rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Agnes yang
lumayan empuk dan harum aroma sprei, mirip dengan parfum yang dikenakan Agnes
selama ini.
Tiba-tiba saja bayangan kemolekan tubuh kakak
sepupunya ini muncul dalam angannya.
Namun berhubung malam itu suasana
perkampungan Gondomanan cukup ramai dengan suara
hajatan tetangga yang berjarak 600 meter dari rumah budenya, membuat pikiran Bimo teralihkan untuk ikut menyanyikan lagu-lagu jawa.
Tidak lama kemudian samar-samar terdengar suara adzan
isya’ yang mulai berkumandang dari masjid kampung.
Beberapa biduan yang sebelumnya asyik bernyanyi,
akhirnya terpaksa berhenti sejenak untuk mendengarkan suara adzan untuk mulai
berkumandang.
Bimo lalu berdiri dari tempat tidur, dan segera
berjalan menuju ke dapur.
Dia ambil air wudhu dan segera mengambil sarung untuk
berangkat ke masjid.
Sebelum berangkat ke masjid, dia putar suara murottal menggunakan handphone miliknya yang satu lagi yang biasa dia gunakan untuk
membuka youtube.
Setelah
itu, dia tinggal handphone lama itu dirumah dan dia pergi ke
masjid untuk melaksanakan shalat Isya’ dengan membawa
handphonenya yang baru.
Selesai
melaksanakan shalat Isya’ di masjid dekat rumah, Bimo tidak langsung pulang
kerumah karena dia merasa kesepian.
Untuk
menghabiskan waktu, dia mampir duduk nongkrong di angkringan dekat rumah sambil
menikmati nasi bakar dengan lauk ceker ayam yang dibumbui sambal pedas.
Dan
kebetulan malam itu angkringan lagi sepi, Bimo pun menyempatkan diri untuk
mampir ke angkringan yang letaknya sekitar 100 meter dari rumah budenya.
Bimo
lalu masuk ke dalam dan memesan segelas teh panas, legi (manis) dan kental atau
yang disingkat Nasgitel.
Sambil
menunggu teh nasgitelnya datang, Bimo mengambil satu bungkus nasi bakar beserta
dua gorengan yang dia letakkan di samping piringnya.
“Keponakannya
bu Gandari ya mas?” tanya penjual angkringan saat menghidangkan teh panas manis
dan kental di samping Bimo.
“Iya
pak, baru malem ini saya coba tidur disitu,” jawab Bimo sambil tersenyum.
__ADS_1
“Sama
siapa tinggal disitu mas?” lanjut si penjual angkringan dengan penasaran.
“Sendiri
pak,” jawab Bimo yang masih asyik mengunyah nasi bakar.
“Hebat,
berani bener sampean tinggal disitu sendirian,” puji penjual angkringan sambil
mengacungkan ibu jarinya ke arah Bimo.
Bimo
tersenyum mendapat pujian tersebut.
“Mas
maaf ya, bukan bermaksud menakuti. Aku sering lho lihat ada cewek nari sendiri di dalam rumahitu,” ungkap
penjual angkringan sambil menatap Bimo.
“Halah,
saya kemarin sore baru datang malah dirasuki diapak,” jawab Bimo sambil tersenyum.
“Beneran
mas?” tanya penjual angkringan dengan kaget hingga mendelik kedua matanya saatmenatap Bimo.
“Iya
beneran, ustad Sayyid yang bantu saya sadar,” jawab
Bimo coba meyakinkan.
“Weh
berani bener sampean,” ujar penjual angkringan sambil menggelengkan kepalanya.
Bimo
hanya tersenyum saat mendengar pujian tersebut.
Baginya
tidak ada yang dia takuti kecuali Alloh sebagai Tuhan penguasa seluruh alam,
baik alam manusia maupun alam ghaib.
“Mas
perlu sampean ketahui, makhluk ghaib seperti mereka itu sesungguhnya beneran
ada lho,” ujar penjual angkringan memberitahu Bimo.
“Iya
pak, hal ghaib itu memang sebenarnya ada. Dan itu bagian dari rukun iman,”
sahut Bimo menyambung pembicaraan penjual angkringan.
Penjual
angkringan pun tersenyum senang dengan pendapat Bimo.
“Wah
wawasan sampean lumayan luas ya mas ternyata,” ucap penjual angkringan dengan
tersenyum senang.
“Saya
ini orangnya suka ngobrol dengan semua orang pak, apa aja yang mau diobrolkan
saya pasti suka dan berusaha untuk bisa tahu,” sahut Bimo sambil terus
mengunyah nasi.
berarti sampean mas orangnya,” lanjut penjual angkringan yang masih terus
memuji Bimo.
Bimo
hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil terus mengunyah.
Si
penjual angkringan kemudian berjalan keluar dari tenda untuk mengambil arang
yang dia letakkan di luar tenda.
Bimo
masih asyik menikmati nasi bakarnya seorang diri.
Dan
saat sedang asyik makan, tiba-tiba tercium aroma wangi melati melintas ke
hidung Bimo.
Seketika
Bimo terkaget.
Namun
dia tidak terlalu takut dan bingung karena tiba-tiba datang seorang pria
separuh baya yang rambutnya penuh uban duduk di depannya.
Wajah
pria itu nampak tidak asing dalam ingatan Bimo.
Namun
dia lupa siapakah bapak tua itu.
Sekilas
dia melihat pria tua itu sangat mirip sekalidengan
bapak kandungnya.
Namun
karena belum mengenal dengan akrab, Bimo diam saja dan terus melanjutkan
makannya.
Saat
tengah asyik makan, Bimo merasa ada yang aneh dengan pria tua tersebut.
Pria
tua itu dari dia datang sampai makanan hampir habis, yang dia lakukan hanya
memandangi wajah Bimo.
Tidak
sekalipun dia mengambil makanan atau memesan minuman, bahkan menyentuhnya pun
tidak dia lakukan.
Hal
itu membuat Bimo menjadi serba salah karena dilihatin terus menerus.
Sampai
__ADS_1
akhirnya, saat nasi bakarnya sudah habis dan Bimo meneguk teh nasgitelnya
hingga sisa separuh. Bimo coba beranikan untuk mulai bicara lebih dulu.
“Makan
pak?” tawar Bimo dengan ramah.
Bapak
itu hanya menganggukkan kepalanya pelan dan tetap tidak mengeluarkan satu patah
kata pun.
“Apa
mau dipesankan minuman?” tawar Bimo sekali lagi dengan ramah.
Bapak
itu menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum kepada Bimo.
Terlihat
wajah bapak tua itu sedikit pucat dan hanya tersenyum saat melihat Bimo.
Tiba-tiba
“Brakkkkkk.”
Terdengar
seperti suara barang yang jatuh di luar tenda.
“Mas
mas, bisa minta tolong nggak?” teriak penjual angkringan memanggil Bimo secara
tiba-tiba.
“Pripun
pak?” sahut Bimo yang langsung pergi meninggalkan bapak tua yang masih duduk di
depannya.
Bimo
berjalan mendatangi penjual angkringan di luar tenda.
Dia
lihat bapak penjual angkringan yang masih sibuk memegang panci yang berisi air
panas, dan di depannya ada rak dari kayu yang berisi arang dan beberapa kayu
bakar jatuh bergelimangan di jalanan.
“Amit
mas, minta tolong dibediriin dulu ya biar tidak mengganggu orang lewat. Saya
tak bawa air ini ke dalam,” pinta bapak penjual angkringan saat melihat Bimo
yang berdiri di dekatnya.
“Oh
ya,” jawab Bimo yang langsung dengan cekatan mendirikan rak kayu tersebut.
Bimo
kemudian meletakkan kembali arang dan beberapa kayu bakar ke dalam rak
tersebut.
Setelah
selesai meletakkan arang dan beberapa kayu bakar, Bimo kemudian mencuci
tangannya di ember yang berisi air bersih.
Lalu
dia kembali masuk ke dalam ke tempat duduknya semula.
Saat
masuk ke dalam, Bimo kaget.
“Kemana
ya bapak tadi?” gumam Bimo dalam hati sambil mencarinya keluar tenda.
“Cari
siapa mas?” tanya penjual angkringan yang heran melihat Bimo nampak kebingungan
dan mencari seseorang.
“Sampean
tahu bapak-bapak tua yang duduk disini tidak pak?” tanya Bimo saat dia masuk ke
dalam tenda lagi.
“Siapa?
Nggak ada siapa-siapa mas dari tadi selain sampean,” jawab penjual angkringan
kaget hingga melotot kedua matanya.
“Eh
beneran pak, tadi lho. Bapak tua yang rambutnya banyak uban. Dia duduk di depan
saya tadi ini,” jabar Bimo dengan wajah tegang.
“Nggak
ada lho mas, saya masuk tadi nggak orang kok disitu,” sahut penjual angkringan
yang tidak kalah tegang wajahnya.
Bimo
terdiam lalu mengambil gelas tehnya.
Saat
akan meminum, betapa kagetnya Bimo.
“Kok
teh ku habis ya? Perasaan tadi masih sisa separuh,” gumam Bimo bingung sambil
terus memandangi gelas tehnya.
“Kenapa
mas?” tanya penjual angkringan sambil mendatangi Bimo.
“Kok
teh ku habis ya pak, apa sampean yang minum?”
“Astaghfirullah,
enggaklah mas. Eh tapi tadi waktu aku masuk, teh sampean masih ada lho.”
Bimo
langsung tersentak kaget.
Wajahnya
langsung tegang sambil menatap wajah penjual angkringan.
__ADS_1
“Berarti
bapak tadi yang minum,” ucap Bimo sambil menengok keluar tenda.