Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 11


__ADS_3

Hari ini Bimo bertekad akan kembali ke rumah budenya


yang ada di gondomanan.


Dia tidak ingin merepotkan keluarga bude dan kakaknya


Via.


Apalagi dia juga tahu kalau Via saat ini sedang dalam


tahap perceraian dengan suaminya, hal yang membuat dirinya khawatir malah akan


menambah beban keluarga budenya.


Begitu sampai di rumah Via, Bimo segera menemui


budenya.


“Bude, Bimo balik ke rumah gondomanan ya,” ucap Bimo


yang kembali duduk di samping budenya.


“Halah ngapa to kok malah seneng di sana, enak di sini


banyak temennya,” tanggap budenya.


Bimo tahu kalau budenya mengkhawatirkan dirinya, dan


ketiga kakaknya ini merasa terbantu dengan keberadaannya.


Namun sekali lagi, dia merasa lebih enak tinggal


sendiri di rumah gondomanan agar tidak merepotkan Via.


“Iya nantikan bisa kesana kemari bude,” ucap Bimo.


Kali ini Gandari terpaksa mengalah, dia tidak bisa


mengekang keponakannya yang memang dia ketahui sulit untuk diatur.


“Ya wis nek gitu, tapi kok buru-buru to nang? Sarapan


dulu lho,” ucap Gandari sambil menikmati kerupuk ikan di mulutnya.


“Nggak apa-apa bude, soalnya besok pagi mau persiapan


untuk ospek,” ucap Bimo sambil menatap ke arah budenya.


Gandari nampak terdiam dan seperti bingung mau bicara


apa lagi, dia sudah kehabisan kata-kata untuk meminta Bimo tetap berada di


rumah barunya ini.


“Nanti aja, sekarang kamu sarapan dulu,” ucap Via yang


tiba-tiba datang lalu memberikan dirinya piring yang sudah berisi nasi.


Perut Bimo sebenarnya sudah terasa lapar, namun


setelah mendengar ucapan Renata barusan. Membuat dirinya jadi kehilangan nafsu


makan.


“Aduh mbak banyak banget, kalau pagi makan ku nggak


terlalu banyak kok,” ucap Bimo pelan.


Via melirik ke arah Bimo, seingatnya adik sepupunya


satu ini paling banyak makannya daripada saudara-saudara yang lain.


Saat dia bilang makannya sedikit, membuatnya tertawa.


Dia tahu kalau Bimo malu dan sungkan jika makan di


rumahnya, oleh karena itu tetap saja dia berikan nasi yang banyak untuk Bimo.


Bimo terpaksa menghabiskan semua makanan yang


disiapkan Via dengan cepat.


***


Usai sarapan, Via membawakan makan siang dan makan


malam untuk Bimo selama di rumah gondomanan.


“Ini buat makan mu nanti siang malam, sama ini


sayurnya masukin kulkas semua biar besok pagi kamu tinggal panasin buat sarapan


ya dek,” ucap Via sambil memasukkan beberapa sayuran ke dalam tas besar yang


terbuat dari kertas.


“Wiihhh banyak banget mbaakkk, udah nggak usah


repot-repot. Aku ada duit sendiri kok mbak,” ucap Bimo sambil menatap ke arah


Via.


“Nggak apa-apa, duit kamu disimpen buat bayar kuliah.


Kuliah itu banyak lho dek biayanya, ada tugas-tugas dari dosen yang harus


diprint. Belum kalau ada praktikum, kamu musti siapin juga buat bayar ongkos


penelitiannya. Wis pokoknya untuk makan kamu kesini aja,” ujar Via sambil terus


menata makanan untuknya.


“Iya mbak ku yang ayuuuu,” ujar Bimo sambil tersenyum


menatap Via.


Via hanya tersenyum melirik ke arah Bimo.


Bimo lalu mencium tangan Via dan budenya.

__ADS_1


“Pamit dulu ya bude,” ujar Bimo pelan.


“He eh, besok kesini lagi lho nang,” pinta budenya.


“Iya bude,” jawab Bimo lalu berjalan keluar dari dalam


rumah Via.


Di depan Agnes sudah duduk di atas motor dan bersiap


untuk mengantar dirinya pulang ke rumah Gondomanan.


Bimo sedikit terkejut, karena dia tidak meminta Agnes


mengantar dirinya pulang.


Tapi entah kenapa tiba-tiba Agnes sudah bersiap untuk


mengantarkan dirinya kembali ke rumah di gondomanan.


“Kamu langsung pulang apa mampir kemana dulu Nes?”


tanya Via yang ikut mengantar Bimo sampai di depan rumah.


“Paling main bentar di rumah dulu mbak, nemenin adek


nemu gede ini,” jawab Agnes lalu berdiri dari motornya dan meminta Bimo untuk


duduk di depan.


“Awas, nggak usah ajak dek Bimo yang aneh-aneh. Dia


masih bocah,” pinta Via sambil menatap wajah Agnes.


Agnes hanya nyengir sambil menjulurkan lidahnya


keluar, merasa dianggap anak kecil.


Bimo pun jadi sewot kepada Via.


“Enak aja masih bocah, udah gede aku tuh mbak,” sahut


Bimo dengan wajah sewot.


“Iya udah gede, nggak usah nanggepin emak-emak,” bisik


Agnes pelan.


Bimo tertawa mendengar bisikan Agnes, dia segera naik


ke atas motor dan segera tancap gas meninggalkan Via yang sedang mengambili


jemuran bajunya.


Selama perjalanan menuju ke rumah Gondomanan, Agnes


kembali memegang perut Bimo yang six pack dengan kuat.


Dan baru kali itu Bimo merasa sesak karena tangan


Agnes begitu kuat memegang perutnya.


nafasnya aku kalau seperti ini,” ucap Bimo sambil menoleh ke arah belakangnya.


“Ah apa iya, ya udah mbak pegang ini aja ya,” ucap


Agnes yang malah memegang ******** Bimo.


Bimo tertawa geli saat Agnes memegang ***********.


“Nggak usah dipegang juga kali mbak, nggak bakalan


terbang dia itu.”


“Eh iya maaf,” ucap Agnes lalu menarik tangannya dan


memegang perut Bimo kembali namun kali ini pegangannya tidak terlalu kuat.


Bimo tersenyum kecil melihat tingkah kakak sepupunya


ini.


“Ada-ada aja sih pakek pegang-pegang perkutut ku, coba


aja ini yang pegang Indri. Udah aku ajak mampir ke losmen paling kamu mbak,”


gumam Bimo dalam hati.


Bimo lalu mengabaikan apa yang Agnes lakukan pada


perutnya kali ini.


Dia hanya ingin memfokuskan pikirannya dengan


mencarikan Renata agar bisa segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


Karena dia yakin, Renata selain menunjukkan kedua


gunung kembarnya kepada penumpang bis.


Dia pasti mau memberikan layanan berbayar kepada para


pria yang membutuhkan tubuhnya.


Hal yang menurutnya sangat memalukan sekali.


Baru saja mereka berjalan, tanpa sengaja lewatlah


mereka ke sebuah counter handphone.


“Eh mbak, kita beli handphone dulu ya,” ucap Bimo.


Agnes diam saja dan membiarkan Bimo memutar balik


motornya.


Setelah sampai di counter handphone, Bimo segera


membeli handphone android yang seharga Rp 2 jutaan.

__ADS_1


Handphone pun segera diaktifkan dan bisa langsung Bimo


gunakan di hari itu.


Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan untuk


pulang ke rumah di gondomanan.


Tanpa terasa setelah berjalan 20 menit, sampailah


mereka berdua di rumah gondomanan.


Bimo membuka pintu pagar dan segera masuk ke dalam


rumah.


Agnes mengikuti langkah kaki Bimo yang masuk ke dalam


rumah.


“Dek yakin kamu mau tidur di sini sendiri?” tanya


Agnes dengan wajah penuh rasa khawatir.


Bimo menganggukkan kepalanya pelan.


Tidak ada rasa takut atau khawatir akan gangguan dari


jin, setan ataupun makhluk halus lainnya yang baru saja dia rasakan saat


pertama datang kemarin sore.


Tekadnya hanya satu saat ini, dia tidak ingin


merepotkan keluarga budenya.


Dia hanya ingin menjadi mandiri dan tidak merepotkan


siapapun.


Biarpun dia sudah bisa mencari uang, tapi memang dia


kurang pandai dalam memasak.


Dia lebih sering beli makan di luar daripada memasak


sendiri.


Agnes tersenyum mendengar jawaban Bimo.


Dia lalu berjalan lebih dulu menuju ke dalam kamar


yang pintunya terbuka.


Sedangkan Bimo berjalan ke meja makan untuk meletakkan


semua makanan yang dibawakan oleh Via untuknya.


Tidak lama kemudian Agnes keluar dari dalam kamar


sambil membawa beberapa baju dan dalaman dari dalam kamar yang dia tenteng


menggunakan tangannya.


“Kamu tidur di kamar ku aja dek,” ucap Agnes.


“Oh ya, itu kamar mbak ya?” tanya Bimo


Agnes menganggukkan kepalanya pelan, dia nampak


berjalan menuju ke dapur lalu membuka mesin cuci dan dia letakkan baju-baju


yang dia bawa ke dalamnya.


Setelah itu dia hidupkan kran air untuk mengisi mesin


cuci dan dia taburkan deterjen bubuk di dalamnya.


Bimo kemudian membawa barang-barangnya di dalam kamar


Agnes dan dia letakkan di atas meja belajar yang ada foto wajah Agnes.


Perlahan dia tatap foto wajah Agnes yang sangat cantik


dan centil mirip artis Agnes Monica.


“Kenapa kamu lihatin foto mbak seperti itu?”


Bimo kaget karena tiba-tiba ada Agnes yang sudah


berada di dalam kamar dengannya.


Dia hanya tersenyum sambil menatap Agnes.


“Nggak nyangka aja punya kakak sepupu secantik ini,”


jawab Bimo lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


Agnes tersenyum senang mendengar jawaban Bimo, dia


lalu berjalan mengikuti Bimo ke arah luar kamar.


“Oh ya mbak, aku mau nanya,” ucap Bimo lalu


membalikkan tubuhnya ke arah Agnes.


“Bentar, kita ngobrol di taman belakang aja,” sahut


Agnes lalu berjalan ke dapur lebih dulu.


Agnes mematikan kran air lalu menghidupkan mesin cuci.


Setelah itu dia berjalan menuju ke dalam kamarnya


untuk memasang sprei baru yang dia ambil dari dalam lemari.


Melihat Agnes yang nampak sibuk memasang sprei


untuknya, Bimo mengambil gitar akustik milik Agnes lalu berjalan lebih dulu

__ADS_1


menuju ke taman belakang.


__ADS_2