
Hari ini Bimo bertekad akan kembali ke rumah budenya
yang ada di gondomanan.
Dia tidak ingin merepotkan keluarga bude dan kakaknya
Via.
Apalagi dia juga tahu kalau Via saat ini sedang dalam
tahap perceraian dengan suaminya, hal yang membuat dirinya khawatir malah akan
menambah beban keluarga budenya.
Begitu sampai di rumah Via, Bimo segera menemui
budenya.
“Bude, Bimo balik ke rumah gondomanan ya,” ucap Bimo
yang kembali duduk di samping budenya.
“Halah ngapa to kok malah seneng di sana, enak di sini
banyak temennya,” tanggap budenya.
Bimo tahu kalau budenya mengkhawatirkan dirinya, dan
ketiga kakaknya ini merasa terbantu dengan keberadaannya.
Namun sekali lagi, dia merasa lebih enak tinggal
sendiri di rumah gondomanan agar tidak merepotkan Via.
“Iya nantikan bisa kesana kemari bude,” ucap Bimo.
Kali ini Gandari terpaksa mengalah, dia tidak bisa
mengekang keponakannya yang memang dia ketahui sulit untuk diatur.
“Ya wis nek gitu, tapi kok buru-buru to nang? Sarapan
dulu lho,” ucap Gandari sambil menikmati kerupuk ikan di mulutnya.
“Nggak apa-apa bude, soalnya besok pagi mau persiapan
untuk ospek,” ucap Bimo sambil menatap ke arah budenya.
Gandari nampak terdiam dan seperti bingung mau bicara
apa lagi, dia sudah kehabisan kata-kata untuk meminta Bimo tetap berada di
rumah barunya ini.
“Nanti aja, sekarang kamu sarapan dulu,” ucap Via yang
tiba-tiba datang lalu memberikan dirinya piring yang sudah berisi nasi.
Perut Bimo sebenarnya sudah terasa lapar, namun
setelah mendengar ucapan Renata barusan. Membuat dirinya jadi kehilangan nafsu
makan.
“Aduh mbak banyak banget, kalau pagi makan ku nggak
terlalu banyak kok,” ucap Bimo pelan.
Via melirik ke arah Bimo, seingatnya adik sepupunya
satu ini paling banyak makannya daripada saudara-saudara yang lain.
Saat dia bilang makannya sedikit, membuatnya tertawa.
Dia tahu kalau Bimo malu dan sungkan jika makan di
rumahnya, oleh karena itu tetap saja dia berikan nasi yang banyak untuk Bimo.
Bimo terpaksa menghabiskan semua makanan yang
disiapkan Via dengan cepat.
***
Usai sarapan, Via membawakan makan siang dan makan
malam untuk Bimo selama di rumah gondomanan.
“Ini buat makan mu nanti siang malam, sama ini
sayurnya masukin kulkas semua biar besok pagi kamu tinggal panasin buat sarapan
ya dek,” ucap Via sambil memasukkan beberapa sayuran ke dalam tas besar yang
terbuat dari kertas.
“Wiihhh banyak banget mbaakkk, udah nggak usah
repot-repot. Aku ada duit sendiri kok mbak,” ucap Bimo sambil menatap ke arah
Via.
“Nggak apa-apa, duit kamu disimpen buat bayar kuliah.
Kuliah itu banyak lho dek biayanya, ada tugas-tugas dari dosen yang harus
diprint. Belum kalau ada praktikum, kamu musti siapin juga buat bayar ongkos
penelitiannya. Wis pokoknya untuk makan kamu kesini aja,” ujar Via sambil terus
menata makanan untuknya.
“Iya mbak ku yang ayuuuu,” ujar Bimo sambil tersenyum
menatap Via.
Via hanya tersenyum melirik ke arah Bimo.
Bimo lalu mencium tangan Via dan budenya.
__ADS_1
“Pamit dulu ya bude,” ujar Bimo pelan.
“He eh, besok kesini lagi lho nang,” pinta budenya.
“Iya bude,” jawab Bimo lalu berjalan keluar dari dalam
rumah Via.
Di depan Agnes sudah duduk di atas motor dan bersiap
untuk mengantar dirinya pulang ke rumah Gondomanan.
Bimo sedikit terkejut, karena dia tidak meminta Agnes
mengantar dirinya pulang.
Tapi entah kenapa tiba-tiba Agnes sudah bersiap untuk
mengantarkan dirinya kembali ke rumah di gondomanan.
“Kamu langsung pulang apa mampir kemana dulu Nes?”
tanya Via yang ikut mengantar Bimo sampai di depan rumah.
“Paling main bentar di rumah dulu mbak, nemenin adek
nemu gede ini,” jawab Agnes lalu berdiri dari motornya dan meminta Bimo untuk
duduk di depan.
“Awas, nggak usah ajak dek Bimo yang aneh-aneh. Dia
masih bocah,” pinta Via sambil menatap wajah Agnes.
Agnes hanya nyengir sambil menjulurkan lidahnya
keluar, merasa dianggap anak kecil.
Bimo pun jadi sewot kepada Via.
“Enak aja masih bocah, udah gede aku tuh mbak,” sahut
Bimo dengan wajah sewot.
“Iya udah gede, nggak usah nanggepin emak-emak,” bisik
Agnes pelan.
Bimo tertawa mendengar bisikan Agnes, dia segera naik
ke atas motor dan segera tancap gas meninggalkan Via yang sedang mengambili
jemuran bajunya.
Selama perjalanan menuju ke rumah Gondomanan, Agnes
kembali memegang perut Bimo yang six pack dengan kuat.
Dan baru kali itu Bimo merasa sesak karena tangan
Agnes begitu kuat memegang perutnya.
nafasnya aku kalau seperti ini,” ucap Bimo sambil menoleh ke arah belakangnya.
“Ah apa iya, ya udah mbak pegang ini aja ya,” ucap
Agnes yang malah memegang ******** Bimo.
Bimo tertawa geli saat Agnes memegang ***********.
“Nggak usah dipegang juga kali mbak, nggak bakalan
terbang dia itu.”
“Eh iya maaf,” ucap Agnes lalu menarik tangannya dan
memegang perut Bimo kembali namun kali ini pegangannya tidak terlalu kuat.
Bimo tersenyum kecil melihat tingkah kakak sepupunya
ini.
“Ada-ada aja sih pakek pegang-pegang perkutut ku, coba
aja ini yang pegang Indri. Udah aku ajak mampir ke losmen paling kamu mbak,”
gumam Bimo dalam hati.
Bimo lalu mengabaikan apa yang Agnes lakukan pada
perutnya kali ini.
Dia hanya ingin memfokuskan pikirannya dengan
mencarikan Renata agar bisa segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Karena dia yakin, Renata selain menunjukkan kedua
gunung kembarnya kepada penumpang bis.
Dia pasti mau memberikan layanan berbayar kepada para
pria yang membutuhkan tubuhnya.
Hal yang menurutnya sangat memalukan sekali.
Baru saja mereka berjalan, tanpa sengaja lewatlah
mereka ke sebuah counter handphone.
“Eh mbak, kita beli handphone dulu ya,” ucap Bimo.
Agnes diam saja dan membiarkan Bimo memutar balik
motornya.
Setelah sampai di counter handphone, Bimo segera
membeli handphone android yang seharga Rp 2 jutaan.
__ADS_1
Handphone pun segera diaktifkan dan bisa langsung Bimo
gunakan di hari itu.
Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan untuk
pulang ke rumah di gondomanan.
Tanpa terasa setelah berjalan 20 menit, sampailah
mereka berdua di rumah gondomanan.
Bimo membuka pintu pagar dan segera masuk ke dalam
rumah.
Agnes mengikuti langkah kaki Bimo yang masuk ke dalam
rumah.
“Dek yakin kamu mau tidur di sini sendiri?” tanya
Agnes dengan wajah penuh rasa khawatir.
Bimo menganggukkan kepalanya pelan.
Tidak ada rasa takut atau khawatir akan gangguan dari
jin, setan ataupun makhluk halus lainnya yang baru saja dia rasakan saat
pertama datang kemarin sore.
Tekadnya hanya satu saat ini, dia tidak ingin
merepotkan keluarga budenya.
Dia hanya ingin menjadi mandiri dan tidak merepotkan
siapapun.
Biarpun dia sudah bisa mencari uang, tapi memang dia
kurang pandai dalam memasak.
Dia lebih sering beli makan di luar daripada memasak
sendiri.
Agnes tersenyum mendengar jawaban Bimo.
Dia lalu berjalan lebih dulu menuju ke dalam kamar
yang pintunya terbuka.
Sedangkan Bimo berjalan ke meja makan untuk meletakkan
semua makanan yang dibawakan oleh Via untuknya.
Tidak lama kemudian Agnes keluar dari dalam kamar
sambil membawa beberapa baju dan dalaman dari dalam kamar yang dia tenteng
menggunakan tangannya.
“Kamu tidur di kamar ku aja dek,” ucap Agnes.
“Oh ya, itu kamar mbak ya?” tanya Bimo
Agnes menganggukkan kepalanya pelan, dia nampak
berjalan menuju ke dapur lalu membuka mesin cuci dan dia letakkan baju-baju
yang dia bawa ke dalamnya.
Setelah itu dia hidupkan kran air untuk mengisi mesin
cuci dan dia taburkan deterjen bubuk di dalamnya.
Bimo kemudian membawa barang-barangnya di dalam kamar
Agnes dan dia letakkan di atas meja belajar yang ada foto wajah Agnes.
Perlahan dia tatap foto wajah Agnes yang sangat cantik
dan centil mirip artis Agnes Monica.
“Kenapa kamu lihatin foto mbak seperti itu?”
Bimo kaget karena tiba-tiba ada Agnes yang sudah
berada di dalam kamar dengannya.
Dia hanya tersenyum sambil menatap Agnes.
“Nggak nyangka aja punya kakak sepupu secantik ini,”
jawab Bimo lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
Agnes tersenyum senang mendengar jawaban Bimo, dia
lalu berjalan mengikuti Bimo ke arah luar kamar.
“Oh ya mbak, aku mau nanya,” ucap Bimo lalu
membalikkan tubuhnya ke arah Agnes.
“Bentar, kita ngobrol di taman belakang aja,” sahut
Agnes lalu berjalan ke dapur lebih dulu.
Agnes mematikan kran air lalu menghidupkan mesin cuci.
Setelah itu dia berjalan menuju ke dalam kamarnya
untuk memasang sprei baru yang dia ambil dari dalam lemari.
Melihat Agnes yang nampak sibuk memasang sprei
untuknya, Bimo mengambil gitar akustik milik Agnes lalu berjalan lebih dulu
__ADS_1
menuju ke taman belakang.