
Ustad
Sayyid tersenyum disertai tawa renyah.
“Hahaha sampean
nyali sudah punya, tinggal ilmunya yang harus ditambah,” ucap Ustad Sayyid lalu
tersenyum menatap Bimo.
“Ilmu?
Ilmu apa yang harus saya tambah pak?” tanya Bimo penasaran.
“Ilmu
alam ghaib mas,” jawab Ustad Sayyid pelan.
Gantian Bimo yang tertawa dengan terbahak-bahak.
“Hahaha saya
ini pak, nggak pernah percaya dengan adanya hantu. Mau dia pocong, gondoruwo
atau apapun namanya. Tidak percaya dengan itu semua,” ucap Bimo disertai tawa.
“Mas,
percaya alam ghaib itu sebagian dari iman lho,” beritahu Ustad Sayyid pelan
sambil menatap Bimo.
“Ya
enggaklah pak, mana ada orang percaya setan kok dibilang bagian dari iman,”
ujar Bimo yang masih tertawa.
“Lho
terus, Alloh itu menurut sampean ghaib nggak?”
“Ya
enggaklah pak, Alloh itu ada dan nyata. Jadi
bukan hal ghaib,” jawab Bimo dengan enteng.
“Kalau
bukan ghaib, mana wujud Alloh sekarang?” tanya Ustad Sayyid penuh selidik.
Bimo
lalu berfikir dengan serius.
“Alloh
itu, ya apa yang kita lihat sekarang ini wujud Alloh pak,” jawab Bimo.
“Salah
mas, sebagai muslim. Kita menjawab dan menjelaskan sesuatu itu harus ada
dalilnya. Ada penjabarannya, dan itu semua hanya ada dalam kitab suci,” ucap
Ustad Sayyid serius sambil mengangkat Al Qur’an dan kumpulan hadist Qudsi lalu
dia letakkan kembali ke atas meja.
Bimo
masih belum bisa memahami apa yang ustad Sayyid sampaikan.
“Dalam
Al Qur’an surat Ar Rahman ayat lima puluh lima, disebutkan Alloh menciptakan
Nabi Adam ‘alaihisalam dari tanah liat dan jin dari api tanpa asap. Terus di
surat Al Jinn ayat tujuh puluh dua, disitu disebutkan dari sebagian manusia dan
jin tadi ada yang beriman, namun ada juga yang tidak beriman,” terang ustad
Sayyid perlahan.
Bimo
mendengarkan dengan seksama apa yang diterangkan ustad Sayyid tersebut.
“Nah,
dari golongan jin dan manusia yang tidak beriman tadi. Mereka itu ada yang memiliki
sifat menggoda, dan mereka yang menggoda itu disebut setan,” lanjut Ustad
Sayyid.
“Jadi
tad?” tanya Bimo sambil melongo.
“Jadi
yang namanya setan itu ada dua, bisa manusia dan bisa dari golongan jin. Nah
setan itu, bukan hanya dalam wujud pocong atau gondoruwo yang suatu saat suka
menampakkan diri. Manusia yang mengajak orang lain dalam kemaksiatan itu juga
namanya setan,” jawab ustad Sayyid lalu tersenyum sambil menepuk pundak Bimo
dengan pelan.
Bimo
menganggukkan kepala dan langsung memahami apa yang dijelaskan Ustad Sayyid.
“Astaghfirullah,
bener pak bener. Berarti selama ini saya yang salah,” ucap Bimo sambil menepuk
jidatnya.
“Gimana?
Sudah mulai pahamkan?”
“Sudah
pak, Alhamdulillah saya ketemu pak ustad jadi tambah ilmu,” ucap Bimo lalu tersenyum
senang sambil menepuk lengan Ustad Sayyid.
“Nah
sip, tugas ku sudah selesai. Wis, saya bisa pulang sekarang,” ucap Ustad Sayyid
lalu bediri dari duduknya.
Bimo
kaget saat mendengar kata-kata Ustad Sayyid yang berpamitan pulang.
“Eh
bentar pak, nama bapak siapa ya?” tanya Bimo pelan.
Agnes
yang baru keluar dari dapur tanpa sengaja mendengar pertanyaan Bimo barusan.
“Beliau
ini Ustad Sayyid dek, ustad yang sering meruqyah warga yang kena ganggu jin,”
sahut Agnes lalu tersenyum melihat Bimo mulai paham dengan apa yang Ustad
Sayyid jelaskan.
“Ouw,
terima kasih pak ustad. Saya sudah ditolong bebasin diri dari gangguan para
jin. Insya Alloh saya mau belajar agar bisa atasi gangguan para jin ini,” ucap
Bimo sambil menyalami tangan Ustad Sayyid yang akan pergi.
“Ya,
yang penting mas Bimo tadi. Jaga sikap dan jaga keimanan. Insya Alloh
pertolongan akan datang jika kita percaya pada Alloh semata,” pesan Ustad
Sayyid lalu berpamitan keluar rumah disusul para warga lainnya.
“Siap
ustad siap,” ucap Bimo sambil menundukkan kepalanya.
Setelah
semua orang beranjak pergi dari rumah, Bimo melihat Agnes yang masih berdiri di
dalam rumah.
Dia lalu duduk di atas sofa, namun Agnes nampak
bingung dan masih terus berdiri di depannya.
Ingin
mengusir pergi, tapi dia takut membuat Agnes marah. Membiarkan disini, membuat
dirinya takut berbuat dosa.
Namun
tiba-tiba Agnes bertanya kepada dirinya.
“Dek
lihat Sisca dan Sinta nggak?”
Bimo mengangkat kedua alisnya ke atas.
“Siapa
itu mbak?” tanya balik Bimo sambil menoleh ke arah
Agnes.
“Kucing
ku,” jawabnya yang masih terus berputar kesana kemari mencari sosok
__ADS_1
dua kucingnya.
Bimo teringat dengan bangkai dua kucing yang sudah dia
kubur tadi.
“Ouw
kucing hitam yang peranakan persia itu ya?”
“Iya,
kok nggak ada ya.”
Agnes sejenak mengabaikan Bimo dan melanjutkan
pencariannya.
“Mati
mbak, udah banyak belatungnya tadi. Terus aku kubur di samping rumah,” jawab
Bimo.
Agnes pun terkejut lalu menoleh ke arah Bimo.
“Hah
mati?”
“Iiiya,
mau aku bongkar lagi apa?” ucap Bimo dengan nada yang dia tekan untuk
meyakinkan Agnes.
Wajah Agnes mendadak mengkerut seperti sedang jijay.
“Ya
nggak usahlah, ngapain. Tapi aneh aja, padahal baru aku tinggal dua hari. Kok
udah mati sih,” ucap Agnes yang terlihat sedih.
“Ya
mati mbak kalau nggak dikasih makan,” sahut Bimo pelan.
“Udah
aku kasih makan kok,” ucap Agnes yang kemudian berjalan kembali menuju ke
dapur.
Bimo
masih duduk di sofa yang ada di ruang tamu dan membiarkan Agnes agak lama di
dapur sendirian.
Dia
sudah mulai paham kalau wanita yang sedang bersamanya ini adalah pemilik rumah
ini hingga bisa membuatnya bisa blusukan ke dalam rumah seenaknya sendiri.
Ingin
bertanya siapakah dia, Bimo merasa tidak enak hati.
Didiamkan,
dia malah tidak akan ngerti siapa wanita ini.
15
menit kemudian, Agnes kembali lagi ke ruang tamu menemui Bimo.
“Dek, handphone mu kemana sih? Dari tadi mbak Via
teleponin kamu nggak bisa-bisa lho,” tanya Agnes.
“Ilang,” jawab Bimo singkat.
“Ilang kek mana kamu ini?”
“Ya ilang mbak, dicuri orang.”
“Heh gimana to kamu ini? Kamu kecopetan tadi?”
“Iya, aku ketiduran tadi tuh. Di samping ku ada cewek
cakep, nah kemungkinan dia yang ambil dompet sama hape ku.”
“Iiiihhh ya ampuuunn, makanya kalau tidur lihat
tempat,” sahut Agnes ngegas.
“Namanya sial mbak, nggak ada di kalender kapan
kejadiannya,” tanggap Bimo dengan badan yang masih lemas.
Agnes terlihat keki usai mendengar jawaban Bimo.
Dia lalu membalikkan badan dan kemudian kembali menuju
ke dapur.
Melihat Agnes kembali ke dapur, Bimo hanya diam terpaku
Dia teringat kalau wanita di dalam lukisan inilah yang
baru saja membuat dirinya hampir celaka barusan.
Belum sempat dia berkomentar lagi, tiba-tiba.
“Dek
Bimo, kita ke rumah mbak Via aja ya,” ajak Agnes.
Bimo
terdiam tidak menjawab ajakan Agnes.
Namun
tiba-tiba lewat bayang hitam melintas di depannya.
“Eh
apa itu?” gumam Bimo kaget saat melihat kilatan bayang hitam yang melewatinya.
Agnes
tetap diam seakan tidak melihat bayang hitam tersebut, kedua matanya terus
menatap Bimo yang tengah duduk di kursi ruang tamu dengan wajah yang penuh
dengan peluh.
Tiba-tiba
handphone Agnes berbunyi membuyarkan tatapan kedua matanya.
Bimo
sendiri terhenyak kaget saat mendengar bunyi dering handphone Agnes.
Dengan
cepat Agnes mengangkat panggilan tersebut.
“Ya
mah?” ucap Agnes saat berbicara dengan seseorang di handphonenya.
Agnes
lalu terdiam mendengarkan seseorang berbicara, namun tidak lama dia berikan
handphonenya ke Bimo.
“Dek,
ini mamah ku mau ngomong sama kamu,” ucap Agnes memberikan handphonenya ke
Bimo.
Bimo
menerima handphone Agnes lalu dia dekatkan ke telinganya.
“Hallo,”
ucap Bimo pelan.
“Hallo
bocah bagus, main ke rumah mbak Via ya. Bude kangen sama kamu,” sahut budenya.
“Bude
Gandari, ya ampun tak kira siapa. Siap bude, sore ini juga kesana,” jawab Bimo
setelah mengenali suara budenya.
“Ya
wis, buruan ya bude tunggu,” ucap budenya.
Bimo
mengiyakan apa yang budenya inginkan, setelah itu dia kembalikan handphone ke
Agnes.
“Nehmbak,” ucap Bimo.
Bimo
baru sadar kalau wanita yang ada di depannya ini adalah kakak sepupunya, namun
dia masih belum tahu siapa namanya karena dia memang tidak pernahbertemu dan tidak pernah akrab.
Dia
lebih akrab dengan Via puteri pertama budenya yang
terpaut 6tahun dengan dirinya.
Agnes
menerima kembali handphonenya.
“Kita
__ADS_1
berangkat sekarang ya,” ajak Agnes.
Bimo menganggukkan kepalanya.
Dialalu mengambil tas ransel yang berisi
baju dan oleh-oleh untuk saudaranya.
Setelah itu semua dia bawa dan segera
keluar dari rumah bersama Agnes.
“Kamu
rajin beres-beres rumah dek, jadi bersih dan wangi rumahnya,” ucap
Agnes tersenyum manis menatap Bimo.
“Biar
nyaman mbak kalau dipakai rumahnya,” sahut Bimo saat menunggu Agnes keluar dari
dalam rumah.
Setelah Agnes keluar dari dalam rumah, Bimo lalumengunci pintu depan.
Namun
saat akan mengunci pintu, tiba-tiba lewat lagi bayang hitam yang melintas di
depan matanya dan masuk ke dalam rumah.
Bimo
menjadi kaget.
“Duh
kok aku jadi bisa lihat hal aneh ya,” gumam Bimo dalam hati.
Agnes
yang sudah menunggu di belakangnya lalu menepuk pundak Bimo.
“Dek
kamu depan ya,” pinta Agnes lalu memberikan kunci motor ke tangan Bimo.
Bimo
menerima kunci motor dari Agnes sambil melanjutkan
untuk mengunci
pintu depan.
Agnes
tiba-tiba menarik tas ransel dari tangan Bimo.
“Sini
tas mu mbak bawain,” ucap Agnes.
Bimo
berikan tas ranselnya kepada Agnes, dan Agnes tempatkan tas tersebut di
punggung belakangnya.
Bimo
berjalan menuju ke motor untuk menghidupkan mesin motor.
“Deeemmmmm,”
bunyi mesin motor setelah hidup.
Bimo
membawa motor keluar dari pagar rumah.
Agnes
berjalan keluar lalu mengunci pintu pagar.
Saat
menunggu Agnes naik di belakangnya, tanpa sengaja Bimo melihat seorang anak
perempuan rambutnya acak-acakan tengah duduk di depan pagar.
Bimo
terhenyak kaget saat melihat anak perempuan tersebut.
“Eh
siapa dia,” gumam Bimo dalam hati.
Agnes
yang selesai mengunci pintu pagar langsung duduk
di jok belakang sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Bimo.
“Mbak
lihat cewek itu nggak?” tanya Bimo sambil menunjuk ke arah Agnes mengunci pagar
pintu.
“Nggak
lihat siapa-siapa kecuali kamu,” jawab Agnes sambil mengapitakan kedua kakinya
dan menempelkan kedua dadanya yang besar ke
punggung belakang Bimo.
Bimo
tidak terlalu merespon karena baginya hal itu biasa dilakukan saat ada orang
yang dia boncengin di belakang.
Dan dia pun tidak ingin menikmatinya karena belum
begitu kenal siapakah wanita ini, dan ada hubungan apa dirinya dengan wanita
yang ada di belakangnya.
Apalagi
bukan kali ini saja dirinya membonceng wanita, dari
sejak SMP sampai saat ini.
Dia sudah sering memboncengkan banyak teman wanita.
Tak lama kemudian, motor pun langsung
melaju menuju ke jalan raya.
“Kita
mau kemana ini mbak?” tanya Bimo pelan.
“Ke
arah jalan kaliurang dek,” jawab Agnes yang masih sibuk dengan handphonenya.
Bimo
masih bingung.
Jangankan
jalan kaliurang, jalan yang dia lewati saat ini saja dia tahu apa namanya.
Namun
tanpa sengaja kedua matanya melihat ada rambu-rambu yang menunjukkan arah ke
jalan kaliurang.
Dia
lalu mengambil jalan ke kiri setelah melewati taman pintar.
Terus
dia bawa motor mengikuti arahan rambu-rambu yang dia lihat.
Sampai
akhirnya lewatlah dia di kampus UGM.
“Lho ini kan UGM, barusan aku tadi ke sini. Ini malah lewat lagi,” gumam
Bimo dalam hati saat melintasi jalanan samping UGM.
Bimo
hanya bisa melihat dari kejauhan karena perjalanannya kali ini bukan untuk ke
kampus, melainkan ke rumah Via.
Saat
tiba di perempatan lampu lalu lintas, Bimo melihat ada rombongan pemain jatilan
yang memainkan musik sambil mencambukkan cemeti ke aspal jalan raya.
“Cetaaarrrrr,”
bunyi cambukan cemeti ke aspal dengan kuat.
Bunyi
gamelan dan tiupan terompet mengalun menghasilkan suara yang indah.
Tiba-tiba
kedua tangan Bimo terasa kaku, telinganya berdengung kuat.
Dia
kaget dan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.
“Duh kenapa ya, kok jadi
begini,” gumam Bimo yang tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan ingin menari
mengikuti alunan musik yang dimainkan.
__ADS_1