Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 5


__ADS_3

Ustad


Sayyid tersenyum disertai tawa renyah.


“Hahaha sampean


nyali sudah punya, tinggal ilmunya yang harus ditambah,” ucap Ustad Sayyid lalu


tersenyum menatap Bimo.


“Ilmu?


Ilmu apa yang harus saya tambah pak?” tanya Bimo penasaran.


“Ilmu


alam ghaib mas,” jawab Ustad Sayyid pelan.


Gantian Bimo yang tertawa dengan terbahak-bahak.


“Hahaha saya


ini pak, nggak pernah percaya dengan adanya hantu. Mau dia pocong, gondoruwo


atau apapun namanya. Tidak percaya dengan itu semua,” ucap Bimo disertai tawa.


“Mas,


percaya alam ghaib itu sebagian dari iman lho,” beritahu Ustad Sayyid pelan


sambil menatap Bimo.


“Ya


enggaklah pak, mana ada orang percaya setan kok dibilang bagian dari iman,”


ujar Bimo yang masih tertawa.


“Lho


terus, Alloh itu menurut sampean ghaib nggak?”


“Ya


enggaklah pak, Alloh itu ada dan nyata. Jadi


bukan hal ghaib,” jawab Bimo dengan enteng.


“Kalau


bukan ghaib, mana wujud Alloh sekarang?” tanya Ustad Sayyid penuh selidik.


Bimo


lalu berfikir dengan serius.


“Alloh


itu, ya apa yang kita lihat sekarang ini wujud Alloh pak,” jawab Bimo.


“Salah


mas, sebagai muslim. Kita menjawab dan menjelaskan sesuatu itu harus ada


dalilnya. Ada penjabarannya, dan itu semua hanya ada dalam kitab suci,” ucap


Ustad Sayyid serius sambil mengangkat Al Qur’an dan kumpulan hadist Qudsi lalu


dia letakkan kembali ke atas meja.


Bimo


masih belum bisa memahami apa yang ustad Sayyid sampaikan.


“Dalam


Al Qur’an surat Ar Rahman ayat lima puluh lima, disebutkan Alloh menciptakan


Nabi Adam ‘alaihisalam dari tanah liat dan jin dari api tanpa asap. Terus di


surat Al Jinn ayat tujuh puluh dua, disitu disebutkan dari sebagian manusia dan


jin tadi ada yang beriman, namun ada juga yang tidak beriman,” terang ustad


Sayyid perlahan.


Bimo


mendengarkan dengan seksama apa yang diterangkan ustad Sayyid tersebut.


“Nah,


dari golongan jin dan manusia yang tidak beriman tadi. Mereka itu ada yang memiliki


sifat menggoda, dan mereka yang menggoda itu disebut setan,” lanjut Ustad


Sayyid.


“Jadi


tad?” tanya Bimo sambil melongo.


“Jadi


yang namanya setan itu ada dua, bisa manusia dan bisa dari golongan jin. Nah


setan itu, bukan hanya dalam wujud pocong atau gondoruwo yang suatu saat suka


menampakkan diri. Manusia yang mengajak orang lain dalam kemaksiatan itu juga


namanya setan,” jawab ustad Sayyid lalu tersenyum sambil menepuk pundak Bimo


dengan pelan.


Bimo


menganggukkan kepala dan langsung memahami apa yang dijelaskan Ustad Sayyid.


“Astaghfirullah,


bener pak bener. Berarti selama ini saya yang salah,” ucap Bimo sambil menepuk


jidatnya.


“Gimana?


Sudah mulai pahamkan?”


“Sudah


pak, Alhamdulillah saya ketemu pak ustad jadi tambah ilmu,” ucap Bimo lalu tersenyum


senang sambil menepuk lengan Ustad Sayyid.


“Nah


sip, tugas ku sudah selesai. Wis, saya bisa pulang sekarang,” ucap Ustad Sayyid


lalu bediri dari duduknya.


Bimo


kaget saat mendengar kata-kata Ustad Sayyid yang berpamitan pulang.


“Eh


bentar pak, nama bapak siapa ya?” tanya Bimo pelan.


Agnes


yang baru keluar dari dapur tanpa sengaja mendengar pertanyaan Bimo barusan.


“Beliau


ini Ustad Sayyid dek, ustad yang sering meruqyah warga yang kena ganggu jin,”


sahut Agnes lalu tersenyum melihat Bimo mulai paham dengan apa yang Ustad


Sayyid jelaskan.


“Ouw,


terima kasih pak ustad. Saya sudah ditolong bebasin diri dari gangguan para


jin. Insya Alloh saya mau belajar agar bisa atasi gangguan para jin ini,” ucap


Bimo sambil menyalami tangan Ustad Sayyid yang akan pergi.


“Ya,


yang penting mas Bimo tadi. Jaga sikap dan jaga keimanan. Insya Alloh


pertolongan akan datang jika kita percaya pada Alloh semata,” pesan Ustad


Sayyid lalu berpamitan keluar rumah disusul para warga lainnya.


“Siap


ustad siap,” ucap Bimo sambil menundukkan kepalanya.


Setelah


semua orang beranjak pergi dari rumah, Bimo melihat Agnes yang masih berdiri di


dalam rumah.


Dia lalu duduk di atas sofa, namun Agnes nampak


bingung dan masih terus berdiri di depannya.


Ingin


mengusir pergi, tapi dia takut membuat Agnes marah. Membiarkan disini, membuat


dirinya takut berbuat dosa.


Namun


tiba-tiba Agnes bertanya kepada dirinya.


“Dek


lihat Sisca dan Sinta nggak?”


Bimo mengangkat kedua alisnya ke atas.


“Siapa


itu mbak?” tanya balik Bimo sambil menoleh ke arah


Agnes.


“Kucing


ku,” jawabnya yang masih terus berputar kesana kemari mencari sosok

__ADS_1


dua kucingnya.


Bimo teringat dengan bangkai dua kucing yang sudah dia


kubur tadi.


“Ouw


kucing hitam yang peranakan persia itu ya?”


“Iya,


kok nggak ada ya.”


Agnes sejenak mengabaikan Bimo dan melanjutkan


pencariannya.


“Mati


mbak, udah banyak belatungnya tadi. Terus aku kubur di samping rumah,” jawab


Bimo.


Agnes pun terkejut lalu menoleh ke arah Bimo.


“Hah


mati?”


“Iiiya,


mau aku bongkar lagi apa?” ucap Bimo dengan nada yang dia tekan untuk


meyakinkan Agnes.


Wajah Agnes mendadak mengkerut seperti sedang jijay.


“Ya


nggak usahlah, ngapain. Tapi aneh aja, padahal baru aku tinggal dua hari. Kok


udah mati sih,” ucap Agnes yang terlihat sedih.


“Ya


mati mbak kalau nggak dikasih makan,” sahut Bimo pelan.


“Udah


aku kasih makan kok,” ucap Agnes yang kemudian berjalan kembali menuju ke


dapur.


Bimo


masih duduk di sofa yang ada di ruang tamu dan membiarkan Agnes agak lama di


dapur sendirian.


Dia


sudah mulai paham kalau wanita yang sedang bersamanya ini adalah pemilik rumah


ini hingga bisa membuatnya bisa blusukan ke dalam rumah seenaknya sendiri.


Ingin


bertanya siapakah dia, Bimo merasa tidak enak hati.


Didiamkan,


dia malah tidak akan ngerti siapa wanita ini.


15


menit kemudian, Agnes kembali lagi ke ruang tamu menemui Bimo.


“Dek, handphone mu kemana sih? Dari tadi mbak Via


teleponin kamu nggak bisa-bisa lho,” tanya Agnes.


“Ilang,” jawab Bimo singkat.


“Ilang kek mana kamu ini?”


“Ya ilang mbak, dicuri orang.”


“Heh gimana to kamu ini? Kamu kecopetan tadi?”


“Iya, aku ketiduran tadi tuh. Di samping ku ada cewek


cakep, nah kemungkinan dia yang ambil dompet sama hape ku.”


“Iiiihhh ya ampuuunn, makanya kalau tidur lihat


tempat,” sahut Agnes ngegas.


“Namanya sial mbak, nggak ada di kalender kapan


kejadiannya,” tanggap Bimo dengan badan yang masih lemas.


Agnes terlihat keki usai mendengar jawaban Bimo.


Dia lalu membalikkan badan dan kemudian kembali menuju


ke dapur.


Melihat Agnes kembali ke dapur, Bimo hanya diam terpaku


Dia teringat kalau wanita di dalam lukisan inilah yang


baru saja membuat dirinya hampir celaka barusan.


Belum sempat dia berkomentar lagi, tiba-tiba.


“Dek


Bimo, kita ke rumah mbak Via aja ya,” ajak Agnes.


Bimo


terdiam tidak menjawab ajakan Agnes.


Namun


tiba-tiba lewat bayang hitam melintas di depannya.


“Eh


apa itu?” gumam Bimo kaget saat melihat kilatan bayang hitam yang melewatinya.


Agnes


tetap diam seakan tidak melihat bayang hitam tersebut, kedua matanya terus


menatap Bimo yang tengah duduk di kursi ruang tamu dengan wajah yang penuh


dengan peluh.


Tiba-tiba


handphone Agnes berbunyi membuyarkan tatapan kedua matanya.


Bimo


sendiri terhenyak kaget saat mendengar bunyi dering handphone Agnes.


Dengan


cepat Agnes mengangkat panggilan tersebut.


“Ya


mah?” ucap Agnes saat berbicara dengan seseorang di handphonenya.


Agnes


lalu terdiam mendengarkan seseorang berbicara, namun tidak lama dia berikan


handphonenya ke Bimo.


“Dek,


ini mamah ku mau ngomong sama kamu,” ucap Agnes memberikan handphonenya ke


Bimo.


Bimo


menerima handphone Agnes lalu dia dekatkan ke telinganya.


“Hallo,”


ucap Bimo pelan.


“Hallo


bocah bagus, main ke rumah mbak Via ya. Bude kangen sama kamu,” sahut budenya.


“Bude


Gandari, ya ampun tak kira siapa. Siap bude, sore ini juga kesana,” jawab Bimo


setelah mengenali suara budenya.


“Ya


wis, buruan ya bude tunggu,” ucap budenya.


Bimo


mengiyakan apa yang budenya inginkan, setelah itu dia kembalikan handphone ke


Agnes.


“Nehmbak,” ucap Bimo.


Bimo


baru sadar kalau wanita yang ada di depannya ini adalah kakak sepupunya, namun


dia masih belum tahu siapa namanya karena dia memang tidak pernahbertemu dan tidak pernah akrab.


Dia


lebih akrab dengan Via puteri pertama budenya yang


terpaut 6tahun dengan dirinya.


Agnes


menerima kembali handphonenya.


“Kita

__ADS_1


berangkat sekarang ya,” ajak Agnes.


Bimo menganggukkan kepalanya.


Dialalu mengambil tas ransel yang berisi


baju dan oleh-oleh untuk saudaranya.


Setelah itu semua dia bawa dan segera


keluar dari rumah bersama Agnes.


“Kamu


rajin beres-beres rumah dek, jadi bersih dan wangi rumahnya,” ucap


Agnes tersenyum manis menatap Bimo.


“Biar


nyaman mbak kalau dipakai rumahnya,” sahut Bimo saat menunggu Agnes keluar dari


dalam rumah.


Setelah Agnes keluar dari dalam rumah, Bimo lalumengunci pintu depan.


Namun


saat akan mengunci pintu, tiba-tiba lewat lagi bayang hitam yang melintas di


depan matanya dan masuk ke dalam rumah.


Bimo


menjadi kaget.


“Duh


kok aku jadi bisa lihat hal aneh ya,” gumam Bimo dalam hati.


Agnes


yang sudah menunggu di belakangnya lalu menepuk pundak Bimo.


“Dek


kamu depan ya,” pinta Agnes lalu memberikan kunci motor ke tangan Bimo.


Bimo


menerima kunci motor dari Agnes sambil melanjutkan


untuk mengunci


pintu depan.


Agnes


tiba-tiba menarik tas ransel dari tangan Bimo.


“Sini


tas mu mbak bawain,” ucap Agnes.


Bimo


berikan tas ranselnya kepada Agnes, dan Agnes tempatkan tas tersebut di


punggung belakangnya.


Bimo


berjalan menuju ke motor untuk menghidupkan mesin motor.


“Deeemmmmm,”


bunyi mesin motor setelah hidup.


Bimo


membawa motor keluar dari pagar rumah.


Agnes


berjalan keluar lalu mengunci pintu pagar.


Saat


menunggu Agnes naik di belakangnya, tanpa sengaja Bimo melihat seorang anak


perempuan rambutnya acak-acakan tengah duduk di depan pagar.


Bimo


terhenyak kaget saat melihat anak perempuan tersebut.


“Eh


siapa dia,” gumam Bimo dalam hati.


Agnes


yang selesai mengunci pintu pagar langsung duduk


di jok belakang sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Bimo.


“Mbak


lihat cewek itu nggak?” tanya Bimo sambil menunjuk ke arah Agnes mengunci pagar


pintu.


“Nggak


lihat siapa-siapa kecuali kamu,” jawab Agnes sambil mengapitakan kedua kakinya


dan menempelkan kedua dadanya yang besar ke


punggung belakang Bimo.


Bimo


tidak terlalu merespon karena baginya hal itu biasa dilakukan saat ada orang


yang dia boncengin di belakang.


Dan dia pun tidak ingin menikmatinya karena belum


begitu kenal siapakah wanita ini, dan ada hubungan apa dirinya dengan wanita


yang ada di belakangnya.


Apalagi


bukan kali ini saja dirinya membonceng wanita, dari


sejak SMP sampai saat ini.


Dia sudah sering memboncengkan banyak teman wanita.


Tak lama kemudian, motor pun langsung


melaju menuju ke jalan raya.


“Kita


mau kemana ini mbak?” tanya Bimo pelan.


“Ke


arah jalan kaliurang dek,” jawab Agnes yang masih sibuk dengan handphonenya.


Bimo


masih bingung.


Jangankan


jalan kaliurang, jalan yang dia lewati saat ini saja dia tahu apa namanya.


Namun


tanpa sengaja kedua matanya melihat ada rambu-rambu yang menunjukkan arah ke


jalan kaliurang.


Dia


lalu mengambil jalan ke kiri setelah melewati taman pintar.


Terus


dia bawa motor mengikuti arahan rambu-rambu yang dia lihat.


Sampai


akhirnya lewatlah dia di kampus UGM.


“Lho ini kan UGM, barusan aku tadi ke sini. Ini malah lewat lagi,” gumam


Bimo dalam hati saat melintasi jalanan samping UGM.


Bimo


hanya bisa melihat dari kejauhan karena perjalanannya kali ini bukan untuk ke


kampus, melainkan ke rumah Via.


Saat


tiba di perempatan lampu lalu lintas, Bimo melihat ada rombongan pemain jatilan


yang memainkan musik sambil mencambukkan cemeti ke aspal jalan raya.


“Cetaaarrrrr,”


bunyi cambukan cemeti ke aspal dengan kuat.


Bunyi


gamelan dan tiupan terompet mengalun menghasilkan suara yang indah.


Tiba-tiba


kedua tangan Bimo terasa kaku, telinganya berdengung kuat.


Dia


kaget dan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.


“Duh kenapa ya, kok jadi


begini,” gumam Bimo yang tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan ingin menari


mengikuti alunan musik yang dimainkan.

__ADS_1


__ADS_2