
Agnes menelan salivanya untuk menerangkan lebih lanjut
apa yang terjadi.
“Ya
diganggu. Mamah itu dulu jatuh dan nggak bisa jalan sampai sekarang juga
gara-gara diganggu,” beber Agnes menjelaskan apa yang sudah terjadi kepada
Bimo.
“Eh
yang bener mbak, aku kok nggak dikasih tahu ya sama bapak ibu.”
“Nggak
ada yang percaya sama apa yang kami ceritakan, termasuk bapak mu.”
Bimo
menarik kursi agar lebih dekat dengan Agnes lalu dia sandarakan punggungnyake sandaran kursi.
“Bapak
itu aslinya percaya klenik mbak, tapi beliau suka menyangkal kalau ada setan
seperti gondoruwo, pocong ataupun kuntilanak.”
“Ya
makanya itu dek, tapi aneh banget ya.
Setiap kali bapak mu ke rumah Gondomanan, terus nginep disitu sampek seminggu.
Rumah itu aman nggak ada yang gangguin,” sambung Agnes kemudian.
Bimo terkejut dan mengernyitkan keningnya.
“Memang
bapak pernah nginep disitu sampek seminggu?”
“Pernah,
waktu kamu di Ponorogo dulu.”
Bimo coba mengingat-ingat momen tersebut, selama dia
sekolah di Ponorogo.
Dirinya tak pernah tahu apa yang terjadi dengan
keluarganya di Madiun.
Jadi saat bapaknya menginap di rumah budenya itu, dia
sama sekali tidak tahu sama sekali.
Apalagi bapaknya seorang tentara, jelas saja tidak
akan pernah takut dengan yang namanya setan.
“Ouw
gitu ya. Terus setelah bapak pulang, mbak Agnes sama keluarga diganggu lagi?”
“Iya,
bahkan ganggunya lebih ngeri. Mamah ku itu setelah kencing dari kamar mandi,
mau balik ke kamar tiba-tiba dasternya itu ditarik anak laki-laki kecil sambil nangis.
Kontan dia lari terus terpeleset, dan jatuhnya itu bagian tulang belakangnya
yang kena lantai lebih dulu. Kata dokter ada saraf yang terkena akibat jatuh,
jadi mamah harus menjalani terapi. Nah terapi itu sendiri, biayanya mahal
banget.”
Bimo
menganggukkan kepalanya sembari coba mengerti dengan serius apa yang Agnes ceritakan.
“Tapi
kan nggak harus sampai jual rumah mbak?”
“Eee
jual rumah itu, selain karena ekonomi. Tapi juga karena hal klenik ini tadi,”
jabar Agnes berharap Bimo bisa mengerti.
“Oh
gitu, ya udah coba nanti aku telpon ibu dulu
mbak. Siapa tahu ibu punya kenalan orang properti di Jogja yang
bisa bantu jualin rumah itu dengan cepat.”
“Eh
ibu mu juga jangan dikasih tahu. Soalnya kata mamah ku, ibu mu kalau tahu rumah
itu dijual. Pasti akan cerita ke bapak mu, nah kalau ibu mu cerita ke bapak mu. Pasti
__ADS_1
bapak mu bakalanmarah.”
“Lah kok marah? Wong itu rumah bude bukan
rumah bapak kok.”
“Eee
itu rumah, aslinya rumah peninggalan eyang kita.”
Bimo pun terhenyak kaget setelah mendengar ucapan
Agnes.
“Waduhhh,”
seloroh Bimo sambil menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.
Tiba-tiba
HP Bimo berbunyi.
“Bentar
mbak, ku angkat dulu HP ku,” ujar Bimo lalu mengambil HP dari saku celananya.
Dia lihat kekasihnya Indri yang masih sekolah tiba-tiba
menghubungi dirinya.
“Hallo
yank, ada apa?”
“Mas lagi di mana sih? Kok adek ke rumah kata pak saptam
mamas nggak ada di rumah?”
Bimo teringat kalau kepergiannya ke Jogja tanpa
memberitahu kekasihnya tersebut.
“Oh iya In sorry, kemarin mamas gagal masuk tentara.
Bapak usir mamas pergi, ya udah mamas sekarang tinggal di rumah bude yang di
Jogja.”
“Ya ampun mas, kok nggak kasih tahu adek sih. Mamas
kan bisa tinggal di rumah adek untuk sementara.”
“Ya nggak mungkin atuh yank, masak iya mamas tinggal
di rumah adek. Apa kata tetangga nanti. Oiya, kebetulan mamas keterima di UGM
sayank. Jadi mamas ke Jogja sekalian melanjutkan kuliah.”
kudu pulang temui adek dulu, kalau enggak. Adek nanti yang nyusul mamas ke
Jogja.”
“Iya iya, ini mamas masih mau ospek dulu. Nanti
setelah ospek mamas pulang temui adek kok.”
“Beneran ya mas, oiya mas. Adek mau ngomong penting,
tapi nanti ya adek telepon lagi.”
“Ya udah, ini mamas juga lagi di luar. Nanti kalau
enggak mamas yang telepon adek ya.”
“Ya udah, nanti kita teleponan lagi ya mas.
Assalamu’alaikuummm.”
“Ya, wa’alaikum salam,” ucap Bimo lalu mematikan
handphonenya.
Setelah itu Bimo masukkan handphonenya
ke dalam saku celananya.
“Sapa?
Pacar kamu?” tanya Agnes sambil menatap wajah Bimo dengan serius.
“Iya, orang yang ada di dalam dompet ku tadimbak,”
jawab Bimo santai.
“Ih
kamu ini, bucin banget
sih!”
seloroh Agnes sewot.
“Hehehe,
gimana ya mbak. Buat penyemangat hidup aja sih,” sahut Bimo sambil tersenyum
sok kegantengan.
Wajah
__ADS_1
Agnes seketika berubah jutek.
Dia
malas memandang wajah Bimo lalu menghabiskan ikan
dan lalapan yang ada di depannya.
Bimo
melihat perubahan pada wajah Agnes.
“Mbak
kenapa kok marah gitu?” tanya Bimo kaget.
“Enggak,
siapa yang marah?” sahut Agnes sambil mendelikkan kedua matanya.
“Eeee
mbak cemburu sama Indri?” tanya Bimo ragu-ragu.
“Sembarangan,
kamu itu saudara ku. Adek ku, mana mungkin aku cemburu sama adek sendiri.”
“Eh
bisa aja lho mbak, jangankan mbak Agnes yang sepupu ku. Arjuna, Nakula sama
Sadewa yang adik kandung ku aja suka jutek kok kalau aku telponan sama Indri.”
“Ya
beda, dia cemburu sebagai saudara.”
“Lah
mbak Agnes kan juga saudara ku. Memang mbak Agnes cemburu sebagai apa?” tanya
Bimo sambil mendelikkan kedua matanya.
“Ah
sudahlah jangan bahas itu. Intinya aku minta tolong dijualin rumah di
Gondomanan terus cariin rumah lagi di pinggir jalan.”
“Mbaaak,
mbak Agnes pengen aku dihajar sama bapak apa? Bapak bisa marah besar mbak kalau aku jual rumah milik keluarga besar
tanpa ada omongan apa-apa ke mereka.”
“Nah
terus? Musti gimana dong?”
Bimo sendiri belum menemukan jawaban yang pas untuk
mengatasi masalah tersebut.
“Nggak tahu aku mbak, belum tahu jawabannya. Mending kita obrolin dulu ajalah sama keluarga besar gimana baiknya,
lagiankan jual rumah nggak secepet kita jualan kacang rebus. Siang ini kita
rebus, ntar sore matang udah bisa dijual. Begitu laku, duitnya bisa kita pakek
buat makan. Nah kalau rumah, ada banyak yang harus kita lakukan.”
“Oh
gitu, terus gimana dong dek. Aku juga pengen punya usaha sendiri neh biar bisa pegang duit,”rengek Agnes sambil menatap wajah Bimo.
Bimo terdiam sambil menatap wajah Agnes.
“Sabar mbak, nanti kita pikirkan bareng-bareng. Yang
pasti aku juga pengen mbak Renata nggak kerja seperti ini lagi,” ucap Bimo
sambil menikmati ikan bawal di mulutnya.
“Lah kok nyambung ke mbak Renata segala sih dek, kan
ini urusannya kamu sama aku.”
Bimo langsung tersadar, kalau Agnes ini ternyata tidak
tahu apa pekerjaan Renata yang sebenarnya.
Dia hanya tahu kalau Renata ini bekerja di rumah
sakit.
“Eee maksud ku, biar mbak Renata bisa kerja bareng
kita aja mbak. Jadi dia nggak perlu ke Solo buat kerja di sana,” ujar Bimo lalu
tersenyum menatap Agnes.
“Ah udahlah jangan ajak-ajak dia, mending kita berdua
aja yang punya usaha,” sahut Agnes dengan ketus.
Bimo terdiam dan melanjutkan makannya.
Dia enggan menanggapi ucapan Agnes karena khawatir
__ADS_1
kalau tersedak gara-gara ribut saat sedang asyik menikmati ikan bakar di
depannya.