Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 15


__ADS_3

Agnes menelan salivanya untuk menerangkan lebih lanjut


apa yang terjadi.


“Ya


diganggu. Mamah itu dulu jatuh dan nggak bisa jalan sampai sekarang juga


gara-gara diganggu,” beber Agnes menjelaskan apa yang sudah terjadi kepada


Bimo.


“Eh


yang bener mbak, aku kok nggak dikasih tahu ya sama bapak ibu.”


“Nggak


ada yang percaya sama apa yang kami ceritakan, termasuk bapak mu.”


Bimo


menarik kursi agar lebih dekat dengan Agnes lalu dia sandarakan punggungnyake sandaran kursi.


“Bapak


itu aslinya percaya klenik mbak, tapi beliau suka menyangkal kalau ada setan


seperti gondoruwo, pocong ataupun kuntilanak.”


“Ya


makanya itu dek, tapi aneh banget ya.


Setiap kali bapak mu ke rumah Gondomanan, terus nginep disitu sampek seminggu.


Rumah itu aman nggak ada yang gangguin,” sambung Agnes kemudian.


Bimo terkejut dan mengernyitkan keningnya.


“Memang


bapak pernah nginep disitu sampek seminggu?”


“Pernah,


waktu kamu di Ponorogo dulu.”


Bimo coba mengingat-ingat momen tersebut, selama dia


sekolah di Ponorogo.


Dirinya tak pernah tahu apa yang terjadi dengan


keluarganya di Madiun.


Jadi saat bapaknya menginap di rumah budenya itu, dia


sama sekali tidak tahu sama sekali.


Apalagi bapaknya seorang tentara, jelas saja tidak


akan pernah takut dengan yang namanya setan.


“Ouw


gitu ya. Terus setelah bapak pulang, mbak Agnes sama keluarga diganggu lagi?”


“Iya,


bahkan ganggunya lebih ngeri. Mamah ku itu setelah kencing dari kamar mandi,


mau balik ke kamar tiba-tiba dasternya itu ditarik anak laki-laki kecil sambil nangis.


Kontan dia lari terus terpeleset, dan jatuhnya itu bagian tulang belakangnya


yang kena lantai lebih dulu. Kata dokter ada saraf yang terkena akibat jatuh,


jadi mamah harus menjalani terapi. Nah terapi itu sendiri, biayanya mahal


banget.”


Bimo


menganggukkan kepalanya sembari coba mengerti dengan serius apa yang Agnes ceritakan.


“Tapi


kan nggak harus sampai jual rumah mbak?”


“Eee


jual rumah itu, selain karena ekonomi. Tapi juga karena hal klenik ini tadi,”


jabar Agnes berharap Bimo bisa mengerti.


“Oh


gitu, ya udah coba nanti aku telpon ibu dulu


mbak. Siapa tahu ibu punya kenalan orang properti di Jogja yang


bisa bantu jualin rumah itu dengan cepat.”


“Eh


ibu mu juga jangan dikasih tahu. Soalnya kata mamah ku, ibu mu kalau tahu rumah


itu dijual. Pasti akan cerita ke bapak mu, nah kalau ibu mu cerita ke bapak mu. Pasti

__ADS_1


bapak mu bakalanmarah.”


“Lah kok marah? Wong itu rumah bude bukan


rumah bapak kok.”


“Eee


itu rumah, aslinya rumah peninggalan eyang kita.”


Bimo pun terhenyak kaget setelah mendengar ucapan


Agnes.


“Waduhhh,”


seloroh Bimo sambil menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.


Tiba-tiba


HP Bimo berbunyi.


“Bentar


mbak, ku angkat dulu HP ku,” ujar Bimo lalu mengambil HP dari saku celananya.


Dia lihat kekasihnya Indri yang masih sekolah tiba-tiba


menghubungi dirinya.


“Hallo


yank, ada apa?”


“Mas lagi di mana sih? Kok adek ke rumah kata pak saptam


mamas nggak ada di rumah?”


Bimo teringat kalau kepergiannya ke Jogja tanpa


memberitahu kekasihnya tersebut.


“Oh iya In sorry, kemarin mamas gagal masuk tentara.


Bapak usir mamas pergi, ya udah mamas sekarang tinggal di rumah bude yang di


Jogja.”


“Ya ampun mas, kok nggak kasih tahu adek sih. Mamas


kan bisa tinggal di rumah adek untuk sementara.”


“Ya nggak mungkin atuh yank, masak iya mamas tinggal


di rumah adek. Apa kata tetangga nanti. Oiya, kebetulan mamas keterima di UGM


sayank. Jadi mamas ke Jogja sekalian melanjutkan kuliah.”


kudu pulang temui adek dulu, kalau enggak. Adek nanti yang nyusul mamas ke


Jogja.”


“Iya iya, ini mamas masih mau ospek dulu. Nanti


setelah ospek mamas pulang temui adek kok.”


“Beneran ya mas, oiya mas. Adek mau ngomong penting,


tapi nanti ya adek telepon lagi.”


“Ya udah, ini mamas juga lagi di luar. Nanti kalau


enggak mamas yang telepon adek ya.”


“Ya udah, nanti kita teleponan lagi ya mas.


Assalamu’alaikuummm.”


“Ya, wa’alaikum salam,” ucap Bimo lalu mematikan


handphonenya.


Setelah itu Bimo masukkan handphonenya


ke dalam saku celananya.


“Sapa?


Pacar kamu?” tanya Agnes sambil menatap wajah Bimo dengan serius.


“Iya, orang yang ada di dalam dompet ku tadimbak,”


jawab Bimo santai.


“Ih


kamu ini, bucin banget


sih!”


seloroh Agnes sewot.


“Hehehe,


gimana ya mbak. Buat penyemangat hidup aja sih,” sahut Bimo sambil tersenyum


sok kegantengan.


Wajah

__ADS_1


Agnes seketika berubah jutek.


Dia


malas memandang wajah Bimo lalu menghabiskan ikan


dan lalapan yang ada di depannya.


Bimo


melihat perubahan pada wajah Agnes.


“Mbak


kenapa kok marah gitu?” tanya Bimo kaget.


“Enggak,


siapa yang marah?” sahut Agnes sambil mendelikkan kedua matanya.


“Eeee


mbak cemburu sama Indri?” tanya Bimo ragu-ragu.


“Sembarangan,


kamu itu saudara ku. Adek ku, mana mungkin aku cemburu sama adek sendiri.”


“Eh


bisa aja lho mbak, jangankan mbak Agnes yang sepupu ku. Arjuna, Nakula sama


Sadewa yang adik kandung ku aja suka jutek kok kalau aku telponan sama Indri.”


“Ya


beda, dia cemburu sebagai saudara.”


“Lah


mbak Agnes kan juga saudara ku. Memang mbak Agnes cemburu sebagai apa?” tanya


Bimo sambil mendelikkan kedua matanya.


“Ah


sudahlah jangan bahas itu. Intinya aku minta tolong dijualin rumah di


Gondomanan terus cariin rumah lagi di pinggir jalan.”


“Mbaaak,


mbak Agnes pengen aku dihajar sama bapak apa? Bapak bisa marah besar mbak kalau aku jual rumah milik keluarga besar


tanpa ada omongan apa-apa ke mereka.”


“Nah


terus? Musti gimana dong?”


Bimo sendiri belum menemukan jawaban yang pas untuk


mengatasi masalah tersebut.


“Nggak tahu aku mbak, belum tahu jawabannya. Mending kita obrolin dulu ajalah sama keluarga besar gimana baiknya,


lagiankan jual rumah nggak secepet kita jualan kacang rebus. Siang ini kita


rebus, ntar sore matang udah bisa dijual. Begitu laku, duitnya bisa kita pakek


buat makan. Nah kalau rumah, ada banyak yang harus kita lakukan.”


“Oh


gitu, terus gimana dong dek. Aku juga pengen punya usaha sendiri neh biar bisa pegang duit,”rengek Agnes sambil menatap wajah Bimo.


Bimo terdiam sambil menatap wajah Agnes.


“Sabar mbak, nanti kita pikirkan bareng-bareng. Yang


pasti aku juga pengen mbak Renata nggak kerja seperti ini lagi,” ucap Bimo


sambil menikmati ikan bawal di mulutnya.


“Lah kok nyambung ke mbak Renata segala sih dek, kan


ini urusannya kamu sama aku.”


Bimo langsung tersadar, kalau Agnes ini ternyata tidak


tahu apa pekerjaan Renata yang sebenarnya.


Dia hanya tahu kalau Renata ini bekerja di rumah


sakit.


“Eee maksud ku, biar mbak Renata bisa kerja bareng


kita aja mbak. Jadi dia nggak perlu ke Solo buat kerja di sana,” ujar Bimo lalu


tersenyum menatap Agnes.


“Ah udahlah jangan ajak-ajak dia, mending kita berdua


aja yang punya usaha,” sahut Agnes dengan ketus.


Bimo terdiam dan melanjutkan makannya.


Dia enggan menanggapi ucapan Agnes karena khawatir

__ADS_1


kalau tersedak gara-gara ribut saat sedang asyik menikmati ikan bakar di


depannya.


__ADS_2