Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 3


__ADS_3

Bimo pun terhenyak kaget saat melihat kedua buah dada Angelica, buru-buru


diaalihkan pandangan matanya ke arah bangku kosong yang ada di sampingnya.


Dia lihat ke sekeliling kursi bis, ternyata


saat itu bis masih dalam


keadaan kosong dan sepi penumpang.


“Nggak


usah mbak, turunin aja bajunya,” pinta Bimo lalumenarik


kaos yang diangkat Angelica agar turun ke bawah.


Angelica


lalu menurunkan kaosnya.


Dia


kemudian merebahkan punggungnya ke sandaran jok.


Saat menyandarkan tubuhnya ke jok kursi, terlihat


kedua put*** Angelica yang mecungul dari kaos yang dikenakannya.


Bimo menelan salivanya pelan.


Di dalam hatinya sempat menyesal kenapa dia tadi


langsung mengalihkan tatapan matanya ke arah lain.


Apalagi wajah dan kulit Angelica benar-benar putih


bersih mirip artis.


Mungkin saat dia meneguk kopi hitam, kopi itu akan


terlihat mengalir dari mulut terus turun ke leher dan masuk ke dalam dada dan


bersamayam di dalam perut.


Terkesan tidak mungkin, tapi itu sebagai gambaran


betapa putihnya si Angelica ini.


“Mbak


mau turun mana?” tanya Bimo pelan.


“Jogja,”


jawab Angelica singkat.


“Ouw


sama,” ucap Bimo sambil tersenyum.


Angelica


terdiam lalu membalas senyum manis Bimo.


Mereka kemudian ngobrol panjang lebar hingga tanpa


terasa kedua mata Bimo pun mulai mengantuk.


Dan akhirnya Bimo terlelap dalam tidurnya, hingga


tanpa sengaja kepalanya jatuh ke pundak Angelica.


Entah kenapa, Angelica diam saja dan perlahan kemudian


dia malah meletakkan kepala Bimo di atas pangkuannya.


Bimo yang sudah mengantuk pol nampak benar-benar


hilang kesadaran saat tidur di atas pangkuan Angelica.


Setelah itu kepala Bimo dielus oleh Angelica


menggunakan telapak tangan kanannya.


Semua penumpang bis pun terlihat iri dengan


keberuntungan yang Bimo dapatkan, tidur nyenyak di atas pangkuan wanita cantik


seperti Angelica.


Namun tanpa mereka ketahui, dengan cepat tangan


Angelica mengambil dompet dan handphone yang Bimo letakkan di dalam saku


celananya.


***


Dan beberapa jam kemudian.


“Mas


mas, bangun. Sudah sampai Jogja ini,” ucap kondektur bis membangunkan Bimo.


Bimo pun kaget dan membuka kedua matanya.


“Hah


sudah sampek toh,” sahut Bimo kaget lalu mengusap kedua


matanya dengan kedua punggung tangannya.


Bimo lalubangun dari tidur, dia langsung


tersadar kalau dompet dan handphonenya ternyata telah raib dari saku celananya.


Dia


ingat-ingat lagi, siapakah orang yang tadi duduk bersamanya waktu di bis.


Namun


sama sekali dia tidak ingat dengan orang tersebut.


Baginya ini merupakanhal yang menyedihkan.


Setelah laptopnya hancur oleh bapaknya, kini handphone


dan dompetnya raib dicuri orang.


Namun dia masih sedikit beruntung, karena dompet tadi


hanya berisi uang Rp 100 ribu dan uangnya yang lain dia masukkan ke dalam


dompet asli yang berisi surat-surat penting dan uang jutaan yang dia letakkan


di dalam tas kopernya.


Yang menjadi masalah baginya saat ini adalah, dia


tidak bisa menghubungi ibunya untuk memberitahukan kalau dirinya telah sampai


di rumah budenya.


Dan sekali lagi, dia juga tidak hapal alamat rumah


ibunya.


Dia coba cari alamat rumah budenya yang di gondomanan


dari catatan yang pernah dia buat di dalam tas ransel.


Beruntung catatan tersebut masih ada.


Akhirnya dia gunakan catatan tersebut untuk menuju ke


rumah budenya dengan bertanya kepada beberapa orang yang dia temui di dalam bis.


Di saat dia sedang bertanya kepada beberapa orang,


baru dia teringat kalau tadi di bis sempat tidur bersama wanita bernama


Angelica.


Setelah sadar kalau wanita yang bernama Angelica tadi


orang yang mencuri barangnya, Bimo lalu turun


dari bis dan bertanya kepada orang-orang yang dia temui untuk mencari tahu


kendaraan apa yang bisa dia gunakan untuk mengantarkan


dirinya menuju kampung gondomanan.


Kampung tempat tinggal bude Gandari yang akan dia


datangi.


Bimo


benar-benar tidak tahu arah kota Jogja, walau dirinya sudah beberapa kali main


ke Jogja.


Akhirnya,


setelah berpindah-pindah bis sampai tiga kali. Tepat jam 10:30 siang akhirnyadia sudah sampai ke rumah budenya.


Saat


berada di depan rumah budenya, Bimo melihat keadaan rumah besar yang


dekorasinya seperti rumah tua khas orang jawa masa lalu.


Halaman depannya lumayan luas namun sudah menggunakan


pagar besi di bagian depan untuk memisah dengan jalan kampung.


Di teras depan rumah terdapat atap memanjang ukuran 5


x 3 meter.


Di bawah atap ada tiang penyangga yang terbuat dari

__ADS_1


kayu mahoni dengan cat warna kuning dan biasa digunakan untuk ngobrol.


Di samping atap tersebut, ada dua kursi mengapit meja


kecil untuk meletakkan vas bunga.


Bimo membuka gembok pagar, lalu berjalan memasuki halaman


depan rumah yang terlihat penuh dengan dedaunan rontok


dan sudah banyak yang mengering berwarna kecoklatan.


Dua


kursi teras dan mejanya terlihat sudah penuh dengan debu.


Lampu


teras yang ada di atas meja kursi terlihat masih hidup dan belum dimatikan,


memberi pertanda kalau rumah ini sedang dalam keadaan kosong.


Bimo lalu membuka pintu rumah.


Usai membuka pintu, dia tatap keadaan sekitar untuk melihat suasana di depanrumah.


Terlihat


sepi dan jarang ada orang yang lewat.


Bimo


lalu membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam


rumah.


Saat


masuk ke dalam rumah,dia biarkan pintu depan masih terbuka.


Dia berjalan menatap interior rumah yang terlihat


kotor penuh debu.


Tiba-tiba dirinya tertarik untuk menatap sebuah lukisan Nyi Roro


Kidul yang berwajah cantik dengan mengenakan dengan baju kemben warna hijau


kain jarik warna putih untuk dijadikan selendang untuk menari.


Lukisan


tersebut menempel di tembok bagian atas kursi sofa.


Sambil


meletakkan kedua tas yang dia bawa di atas meja ruang tamu, Bimo lalu berdiri


menatap kedua mata si Nyi Roro Kidul yang seksi yang sangat cantik


sekali.


“Sayang kamu hanya sebuah lukisan, jika kamu nyata dan


mau menemani ku di sini. Kita akan enak-enak sambil ngopi,” ucap Bimo disertai


mengangkat kedua alisnya ke atas.


Usai


mengatakan kata-kata yang terdengar sebuah tawaran


menggiurkantersebut, Bimo lalu melihat ke arah sekeliling rumah.


Walau


tidak ada barang yang berantakan, namun debu terlihat begitu tebal di atas kain


putih yang menutupi sofa ruang tamu.


Dia lihat jam di tangannya yang masih menunjukkan


angka 10:30 waktu kota Jogja.


Masih ada waktu baginya untuk melakukan registrasi


ulang secara manual ke kampus secara langsung.


Dia lalu mengambil tas ranselnya dan membiarkan tas


koper untuk tetap berada di depan ruang tamu.


Buru-buru dia keluar dari dalam rumah lalu dia kunci


pintu dari luar.


Setelah itu dia mencari ojek online yang akan


mengantarkan dirinya ke kampus UGM.


***


Satu jam kemudian dia telah selesai melaksanakan


Tiga hari lagi baru dia akan menjalani orientasi


mahasiswa baru bersama mahasiswa baru lainnya.


Saat kembali ke rumah budenya, dia lihat lampu di


teras ternyata belum dia matikan.


Buru-buru dia buka pintu pagar dan berjalan masuk ke


dalam rumah.


Setelah sampai di dalam rumah dia laluberjalan masuk ke dalam ruang tengah untuk mematikan lampu teras.


Dia


lihat banyak perabot rumah yang juga sudah dipenuhi dengan debu.


Baru saja dia terdiam mengamati keadaan dalam rumah,


tiba-tiba saja dia mencium ada bau bangkai yang entah dari mana asalnya


aroma tersebut.


Dia menduga ada bangkai tikus yang sudah


lama mati di dalam rumah.


Sambil


menarik kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot-ototnya, Bimo kemudian


menggerakkan seluruh badannya agar rasa pegal yang ada di punggung dan kedua


kakinya berkurang.


Setelah


itu, dia lepas sepatunya.


Dia


linting celana panjangnya dan mulailah siang ini bersih-bersih.


Dimulai


dari menyapu lantai teras, ruang tamu sampai ruang tengah.


Setelah


itu lanjut mengepel lantai rumah, dari teras, ruang tamu hinga lantai ruang


tengah.


Pekerjaannya


dia lanjutkan dengan membersihkan kamar-kamar, namun setelah coba membuka pintu


kamar.


Hanya


ada satu kamar yang tidak terkunci.


Dia


menduga kamar tersebut memang sengaja disediakan untuknya.


Tanpa


membuang waktu lagi, dia sapu lantai kamar yang terlihat gelap karena korden


jendela tertutup.


Untuk


mendapatkan udara segar, dia buka korden dan daun pintu jendela kamar.


Dia


biarkan udara menyeruak masuk ke dalam kamar karena jendela kamar begitu lebar.


Aktivitasnya dia lanjutkan dengan mengepel lantai


hingga semua debu sudah tidak terlihat lagi dan berganti aroma wangi lavender.


Usai


mengepel lantai kamar, dia lanjutkan menyapu lantai dapur.


Saat


menyapu lantai dapur, betapa kagetnya Bimo.


Di


lantai terlihat ada bangkai dua ekor kucing hitam yang mati dan sudah dipenuhi


belatung tubuhnya.

__ADS_1


Sepertinya


kucing ini merupakan kucing peranakan persia karena bulunya lebat.


“Astaghfirullah,”


teriak Bimo yang terlihat jijik saat melihat bangkai dua kucing hitam di


lantai.


Bimo


hampir muntah setelahmelihat bangkai tersebut, namun dia


tahan.


Dia


berjalan ke belakang rumah mengambil pacul dan cikrak yang terbuat dari kaleng


bekas biskuit.


Dibawanya bangkai tersebut ke belakang rumah, agak jauh dari


taman belakang untukdia kuburkan.


Dengan cepat dia gali tanah menggunakan pacul lalu dia


letakkan ke dalam tanah yang sudah dia gali.


Lalat pun beterbangan kesana kemari karena bangkai


yang mereka makan sudah akan dia kubur.


Dia tahan bau bangkai yang menyengat lehernya hingga


tubuh bangkai dua kucing tadi dia tutupi menggunakan tanah.


Setelah


itu dia kembali ke dalam untuk menyapu dan mengepel


kembali lantai dapur dengan menginjak kain pel menggunakan kaki kanannya dengan kuat hingga bekas bangkai tadi


segera hilang dari lantai.


Usai


membersihkan semua bagian dalam rumah, badan Bimo sudah mulai kelelahan.


Dia


lihat jam di dinding sudah menunjukkan angka 14:00 dan dia belum sempat


melaksanakan shalat Dhuhur.


Dengan


langkah agak terburu-buru, dia ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan


segera melaksanakan shalat Dhuhur di kamar.


Sepuluhmenit kemudian, usai shalat Dhuhur.


Bimo berjalan ke dapur untuk membuat kopi.


Dia


rebus air mentah dari kran sambil meletakkan beberapa camilan yang dia bawa ke


dalam piring.


Begitu


air mulai matang, dia tuangkan ke dalam cingkir lalu mengaduknya hingga rata.


Bimo kemudian membawa kopi dan kue camilan ke ruang tamu.


Dia


letakkan kopi dan kue di atas meja lalu menyandarkan punggungnya ke atas kursi.


“Huuuuuuaaaahhhh,”


teriaknya untuk melepaskan penat sambil meluruskan kedua kakinya di atas kursi


panjang.


Tiba-tiba


bertiup udara dingin menerpa wajah Bimo hingga membuat kedua matanya begitu


mengantuk.


Mulutnya


terbuka lebar mengeluarkan angin, namun buru-buru dia tutup menggunakan tangan


kanannya.


Tak


lama kemudian, dia pun terlelap dalam tidur akibat rasa kantuk yang datang  usai membersihkan rumah budenya.


Baru


satu menit dia terlelap, tiba-tiba kedua matanya terbuka kembali dan dia sudah


merasa hari sudah gelap.


Lampu


ruang tamu dalam keadaan menyala, begitu juga dengan ruangan lain juga nampak


menyala.


Namun


anehnya pintu rumah sudah dalam keadaan tertutup.


“Siapa


yang nutup pintu ya,” gumam Bimo dalam hati.


Bimo


berniat untuk berdiri dari duduknya.


Belum


sempat dia berdiri, tiba-tiba keluar dari dalam ruang tengah sosok wanita yang


berpenampilan seperti wanita Nyi Roro Kidul yang seksi yang ada di dalam


lukisan tadi.


Bimo


kaget, karena seingatnya dia sendirian berada di dalam rumah budenya ini.


“Siapa


mbak ini?” tanya Bimo bingung.


Wanita


itu tidak menjawab, dia malah tersenyum dengan manis.


“Ditanya


kok malah senyum-senyum, merasa dirimu cantik apa?” ucap Bimo dengan pelan.


Sontak


wajah wanita tersebut berubah dan langsung terlihatmarah.


“Apa! Kamu yang mengundang ku, malah begini ucapan mu!” ucap wanita tersebut dengan nada kuat disertai


tatapan tajam ke arah Bimo.


“Siapa yang undang kamu?” balas Bimo dengan wajah bingung.


Wanita


itu mendelik kedua matanya.


“Eh jangan marah, aku cuma bercanda,” teriak Bimo dengan kuat.


“Humphhh,”


dengus wanita itu dengan kesal.


Tiba-tiba


kedua mata wanita ini memerah, kedua tangannya bergerak seperti mencengkeram


sesuatu.


Bimo


kaget karena tiba-tiba saja lehernya seperti ada yang mencekik.


“Aduuuhhhh,


kok rasanya. Eeehhh i-i-iniiii,” ucap Bimo yang kebingungan


karena tiba-tiba dia merasa ada tangan besar yang mencekik lehernya.


Kerongkongan


Bimo tiba-tiba serasa menyempit.


Nafasnya


pun menjadi terengah-engah karena saking sulitnya dia bernafas.


“Too-tooloong,”


teriak Bimo karena mengalami sesak nafas yang datang secara tiba-tiba.


“Hai guys, jika tertarik dengan cerita ini untuk


dilanjut. Tolong isi komentar ya…”

__ADS_1


__ADS_2