
Bimo terdiam dan berjalan mengikuti Agnes ke dapur.
Dia merasa ada yang aneh dengan Agnes saat ini.
Terlihat olehnya Agnes nampak menyembunyikan sesuatu
darinya.
“Kok nggak minta ke mbak Via atau mbak Renata aja? Aku
kan mahasiswa mbak, semenjak diusir bapak kemarin. Aku belum bisa kerja lagi,”
ucap Bimo sambil menatap wajah Agnes.
“Mbak nggak mau libatin mereka dek, selama ini mereka
nggak mau tahu keadaan mbak,” jawab Agnes dengan wajah yang terlihat lega usai
meneguk air putih.
Bimo mendelikkan kedua matanya sambil mengernyitkan
keningnya.
Dia benar-benar merasa ada keanehan yang dia tangkap
dari apa yang Agnes katakan kepadanya.
“Kok nggak mau libatin mereka? Memang ada masalah apa
sih mbak?” tanya Bimo penasaran.
Agnes menatap wajah Bimo dengan tatapan bingung.
“Mbak, mbak Agnes cerita yang sebenernya ada apa?
Nanti kalau memang bisa aku bantu, pasti aku bantu,” ucap Bimo pelan.
Dengan wajah penuh rasa malu dan sedikit ketakutan,
Agnes akhirnya menceritakan apa yang menjadi masalahnya.
“Gini lho dek, jujur mbak ngaku salah. Jadi uang
beasiswa mbak itu, separuh kemarin diminta mbak Via buat urus perceraian dia
sama mas Doni. Tapi nyatanya dia nggak jadi urus perceriarian dengan mas Doni
malah dipakek makan-makan kemarin,” ucap Agnes pelan.
Bimo mengernyitkan keningnya sebentar.
“Acara makan-makan kemarin itu ya?” ucap Bimo pelan
sambil mengernyitkan keningnya.
“He eh dek, itu kata mbak Via keinginan mamah yang
pengen makan enak. Jadinya mamah itu minta ke mbak Via dimasakin itu,” ucap
Agnes pelan.
“Tapi mbak Renata?”
“Mbak Renata juga ngasih uang dek, jadi gimana ya. Aku
ngasih, mbak Renata ngasih, dan sisanya ditambahin mbak Via,” ucap Agnes sambil
menatap wajah Bimo.
Bimo jadi merasa bersalah, gara-gara kedatangan
dirinya ke rumah budenya. Membuat keluarga budenya jadi kesulitan seperti ini.
Namun dia masih curiga kenapa kok Agnes malah meminta
uang kepadanya, sedangkan dia sendiri tahu kalau dirinya belum bekerja.
“Mbak telepon bapak sendiri aja ya, soalnya aku itu
nggak pernah minta duit bapak sama ibu selama ini.”
“Ih kok mbak sih! Kan kamu anaknya, kamulah yang
telepon bapak mu biar kirimin duit ke kamu,” sahut Agnes dengan wajah muram.
“Ah maleslah, selama ini aku nggak pernah minta duit
ke bapak ibu kok. Aku teleponin tapi bilang buat mbak gitu ya?”
“Ya janganlah dek, malu aku kalau kamu bilang buat
aku,” sahut Agnes dengan wajah panik.
Bimo terdiam kembali, ingin membantu tapi dia sendiri
kebingungan dengan keadaannya sekarang.
“Telat sehari nggak boleh ya mbak?” tanya Bimo sambil
menatap Agnes.
“Nggak bisa dek, lagian kalau telat kamu mau cari duit
darimana?”
“Rencana ku mau jual motor ku di Madiun.”
“Ih janganlah, nanti kalau ketahuan bapak ibu mu. Bisa
dimarahi aku dek!”
“Nggak apa-apa, itu motor aku beli sendiri pakek duit
tabungan ku kok,” ucap Bimo coba menenangkan Agnes.
“Eh tapi jual motor nggak bisa buru-buru dek, paling
tidak besok pagi kamu baru bisa duitan. Sedangkan aku butuhnya besok pagi,”
tanggap Agnes dengan nada sedikit kuat.
“Iya sih,” ucap Bimo dengan wajah yang terlihat
bingung.
Bimo pun jadi terdiam.
“Gimana ya dek?” tanya Agnes yang kembali ikutan
bingung.
“Belum tau solusinya mbak, soalnya akukan baru dua
hari di sini.”
“Makanya dek, tolong sih teleponin bapak mu. Bilang
kamu ada biaya yang belum dibayar gitu lho,” rengek Agnes dengan wajah
masamnya.
Setelah mendapat desakan seperti itu dari Agnes, Bimo
akhirnya luluh kembali.
__ADS_1
“Aku teleponin ibu aja ya, kalau bapak aku males
banget. Lagi musuhan soalnya,” ucap Bimo.
Agnes menganggukkan kepalanya.
Akhirnya terpaksa Bimo mau menghubungi ibunya.
Namun setelah dia menghubungi ibunya.
“Tuutt tuuttt tuuttt tuuttt!”
Bimo menatap layar handphonenya.
“Loh kok memanggil, kenapa nggak aktif ya,” ucap Bimo
lalu mengubah panggilan ke nomer telepon biasa.
Bimo lalu menghubungi ibunya ke nomer telepon biasa.
“Nomer yang anda hubungi, sedang tidak bisa menerima
panggilan anda.”
Bimo menggigit bibirnya pelan.
“Pada nggak aktif nomer ibu, lagi rapat paling mbak.
Nanti aku teleponin deh, minta nomer rekening mbak aja biar aku transfer nanti
kalau udah ditransfer ibu,” ucap Bimo sambil meletakkan handphonenya ke atas
meja.
“Ya udah, mbak kirim rekening mbak ya. Berapa nomer
handphone mu,” pinta Agnes sambil mengaktifkan layar handphonenya.
Bimo lalu menyebutkan nomernya, dan Agnes segera
menyimpan nomer Bimo lalu mengirimkan nomer rekening banknya kepada Bimo.
“Mbak, kalau seandainya neh. Ibu nggak bisa kirim duit
hari ini.”
“Ih kok nggak bisa sih! Ya harus bisa dong dek.”
“Lah kok maksa, namanya ibu orang sibuk lho mbak. Aku
aja sering banget nggak bisa hubungi ibu, dan perlu mbak tahu. Biaya sekolahnya
Arjuna, Nakula dan Sadewa. Bapak dan ibu itu sering terlambat kasih duitnya.”
“Lah kok bisa?”
“Ya bisalah, orang mereka tinggal di Surabaya. Pas
dimintain duit, bilangnya besok aja pas udah di Madiun. Eh udah
ditunggu-tunggu, nggak segera kirim duit dan nggak pulang ke Madiun. Terpaksa
besok lusa atau kadang besok lusanya lagi baru bayar,” beber Bimo sambil coba
menghubungi ibunya kembali.
Setelah dia hubungi kembali, ternyata nomer ibunya
masih belum aktif.
“Kok masih nggak aktif kenapa sih ibu ini, tapi memang
seringnya kayak gini mbak. Ibu itu suka lupa naruh hanpdhone,” tambah Bimo
Agnes langsung terlihat kebingungan wajahnya.
“Aduh, mbak musti gimana ya?” ucap Agnes bingung.
“Coba pinjem temen mbak dulu, ibu paling bisa kirim
kalau enggak besok. Ya lusa, jadi nggak bisa dadakan. Makanya selama ini aku
itu cari duit sendiri mbak, nggak pernah ngandelin uang bapak ibu. Kemarin aja
bayar registrasi sama uang gedung di UGM pakek tabungan ku sendiri kok.”
Tiba-tiba wajah Agnes berubah cerah.
“Eh kalau mbak pakek uang tabungan mu dulu dek? Boleh
nggak?”
“Barusan aku kirim ke cewek ku di Madiun sejuta empat
ratus buat biaya praktikum dia, neh lihat bukti transfer ku,” ucap Bimo sambil
menunjukkan bukti transfer ke Indri.
Agnes langsung terlihat kaget tidak percaya.
“Ih kamu ini dek! Nemen amat sih!” maki Agnes dengan kuat.
Bimo menutup layar handphonenya kembali dan meletakkan
ke atas meja.
“Salah mbak sendiri, kenapa nggak ngomong dari tadi.”
“Aduuuuhhhh, minta lagi dek. Bilang kalau kamu lagi
butuh banget.”
“Heeh! Nggak bisa gitulah mbak. Ada toh, uang yang
lagi dikasih terus diminta lagi.”
“Ayooo dong deekkk, mintain lagi. Kamu nggak kasihan
apa sama mbak seperti ini,” rengek Agnes sambil menggoyang pundak Bimo.
“Nggak bisa mbak, udah dibayarin ke sekolah. Aku tadi
begitu transfer, langsung bilang ke guru ku kalau Indri mau bayar uang praktik
lapangan. Makanya dia ditunggu di sekolah.”
“Ih kamu ini dek, pacarnya aja ditolongin. Sama kakak
sendiri nggak mau bantuin.”
Bimo menelan salivanya.
Dia jadi serba salah karena malah terlalu terbuka
membuatnya merasa bersalah.
“Bukan nggak mau bantuin mbak, tetep aku bantuin. Tapi
kalau seandainya nggak bisa hari ini gimana? Mungkin besok atau lusa,
tergantung kesibukan ibu. Mbak juga sih, dadakan banget ngomongnya.”
Agnes kemudian duduk terdiam.
Wajahnya terlihat malas untuk bangun dari duduknya.
__ADS_1
Bimo lalu duduk mendekati Agnes.
Dia usap pundak Agnes dengan pelan.
“Udah sih mbak, nggak usah bingung. Pasti nanti aku
bantuin, tapi kan nggak bisa secepet ini. Mbak pasti boleh kok bayar terlambat,
lagian masih besokkan butuh duitnya.”
“Iyaaa, tapi mbak kalau belum ada kepastian duitnya
itu malu lho dek.”
“Kalau pasti, pasti adanya mbak. Ibu nggak mungkin
nggak punya duit, cuma bisa transfernya kapan, itu yang belum tahu,” beber Bimo
sambil terus mengusap pundak Agnes dengan pelan.
Agnes menatap wajah Bimo.
Tiba-tiba dia rangkul tubuh Bimo dengan erat.
“Ya udah makasih dek, udah bantuin mbak,” ucap Agnes
dengan perlahan.
Bimo mengusap punggung belakang Agnes dengan pelan.
“Iya, udah jangan stress kaya gitu. Santai saja hadapi
masalah,” ucap Bimo yang terus mengusap punggung Agnes.
Agnes kembali menganggukkan kepalanya pelan.
“Mbak pergi dulu ya,” ucap Agnes lalu mencium pipi
kanan Bimo dengan lembut.
Setelah itu dia lepaskan rangkulan kedua tangannya
dari leher Bimo, namun Bimo kemudian memegang kedua tangan Agnes dengan sedikit
kuat.
“Iiiiyyyyaaaaa, mbak kudu tenang. Nggak usah gupek
hadapi apapun persoalannya,” ucap Bimo lalu menatap wajah Agnes dengan tatapan
penuh ketenangan.
Agnes pun tersenyum.
Dia rangkul kembali tubuh Bimo dengan lebih erat,
sambil dia bisikkan ke telinga Bimo.
“Dek, mbak sayang kamu.”
Bimo menganggukkan kepalanya pelan.
“Sama, aku juga sayang mbak. Udah yang tenang, jangan
stress kaya tadi,” ucap Bimo pelan.
Agnes melepaskan kedua tangannya lagi.
Dia lalu berjalan menuju ke ruang samping.
Namun baru beberapa langkah kedua kakinya melangkah,
tiba-tiba dia balikkan tubuhnya dan berjalan mendekati Bimo kembali.
“Dek, kamu beneran nggak mau tinggal di rumah mbak
Via?” tanya Agnes.
Bimo menggelengkan kepalanya pelan.
“Enak disini, bebas. Di sana nggak enak aku diomeli
mbak Via nanti,” jawab Bimo pelan.
Agnes tertawa lalu meninju lengan Bimo sedikit kuat.
“Memang kamu tahu mbak Via itu suka marah?”
“Ya tahulah mbak, dua tahun lho dia tinggal sama aku
di Madiun. Baru beberapa tahun inikan dia balik ke sini.”
Agnes kembali tertawa dengan renyah.
Setelah itu dia balikkan badannya kembali ke arah
ruang samping untuk mengambil motornya.
Bimo membukakan pintu rumah dan membiarkan Agnes
keluar dari dalam ruang samping bersama motornya.
Dia tunggui Agnes sampai keluar dari dalam pagar rumah,
dan setelah Agnes pergi.
Pagar rumah dia kunci dan kembali berjalan masuk ke
dalam rumah.
Di dalam rumah, dia pandangi seluruh sudut rumah.
Dia tahu, di rumah kosong seperti ini.
Pasti akan ada banyak jin yang ikut bersemayam di
dalamnya.
Untuk itu dia ingin agar para jin ini tadi tidak
menganggunya.
Dia lalu mengambil handphone dan speaker kecil yang
ada di dalam tas ranselnya tadi.
Setelah itu dia hidupkan suara syekh dari Arab Saudi
yang membacakan beberapa ayat suci Al Qur’an menggunakan gaya bacaan tartil.
Dan tidak lama kemudian, dia tersadar kalau dari tadi
belum mandi setelah pergi jalan-jalan dengan Agnes.
Bimo lihat jam di dinding yang menunjukkan jam 5 sore
lewat 30 menit.
“Waduh sebentar lagi masuk Maghrib, mandi dulu ah,” gumam
Bimo dalam hati.
Setelah itu Bimo segera berjalan menuju ke kamar mandi
dan bersiap untuk menuju ke masjid.
__ADS_1