Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 19


__ADS_3

Bimo terdiam dan berjalan mengikuti Agnes ke dapur.


Dia merasa ada yang aneh dengan Agnes saat ini.


Terlihat olehnya Agnes nampak menyembunyikan sesuatu


darinya.


“Kok nggak minta ke mbak Via atau mbak Renata aja? Aku


kan mahasiswa mbak, semenjak diusir bapak kemarin. Aku belum bisa kerja lagi,”


ucap Bimo sambil menatap wajah Agnes.


“Mbak nggak mau libatin mereka dek, selama ini mereka


nggak mau tahu keadaan mbak,” jawab Agnes dengan wajah yang terlihat lega usai


meneguk air putih.


Bimo mendelikkan kedua matanya sambil mengernyitkan


keningnya.


Dia benar-benar merasa ada keanehan yang dia tangkap


dari apa yang Agnes katakan kepadanya.


“Kok nggak mau libatin mereka? Memang ada masalah apa


sih mbak?” tanya Bimo penasaran.


Agnes menatap wajah Bimo dengan tatapan bingung.


“Mbak, mbak Agnes cerita yang sebenernya ada apa?


Nanti kalau memang bisa aku bantu, pasti aku bantu,” ucap Bimo pelan.


Dengan wajah penuh rasa malu dan sedikit ketakutan,


Agnes akhirnya menceritakan apa yang menjadi masalahnya.


“Gini lho dek, jujur mbak ngaku salah. Jadi uang


beasiswa mbak itu, separuh kemarin diminta mbak Via buat urus perceraian dia


sama mas Doni. Tapi nyatanya dia nggak jadi urus perceriarian dengan mas Doni


malah dipakek makan-makan kemarin,” ucap Agnes pelan.


Bimo mengernyitkan keningnya sebentar.


“Acara makan-makan kemarin itu ya?” ucap Bimo pelan


sambil mengernyitkan keningnya.


“He eh dek, itu kata mbak Via keinginan mamah yang


pengen makan enak. Jadinya mamah itu minta ke mbak Via dimasakin itu,” ucap


Agnes pelan.


“Tapi mbak Renata?”


“Mbak Renata juga ngasih uang dek, jadi gimana ya. Aku


ngasih, mbak Renata ngasih, dan sisanya ditambahin mbak Via,” ucap Agnes sambil


menatap wajah Bimo.


Bimo jadi merasa bersalah, gara-gara kedatangan


dirinya ke rumah budenya. Membuat keluarga budenya jadi kesulitan seperti ini.


Namun dia masih curiga kenapa kok Agnes malah meminta


uang kepadanya, sedangkan dia sendiri tahu kalau dirinya belum bekerja.


“Mbak telepon bapak sendiri aja ya, soalnya aku itu


nggak pernah minta duit bapak sama ibu selama ini.”


“Ih kok mbak sih! Kan kamu anaknya, kamulah yang


telepon bapak mu biar kirimin duit ke kamu,” sahut Agnes dengan wajah muram.


“Ah maleslah, selama ini aku nggak pernah minta duit


ke bapak ibu kok. Aku teleponin tapi bilang buat mbak gitu ya?”


“Ya janganlah dek, malu aku kalau kamu bilang buat


aku,” sahut Agnes dengan wajah panik.


Bimo terdiam kembali, ingin membantu tapi dia sendiri


kebingungan dengan keadaannya sekarang.


“Telat sehari nggak boleh ya mbak?” tanya Bimo sambil


menatap Agnes.


“Nggak bisa dek, lagian kalau telat kamu mau cari duit


darimana?”


“Rencana ku mau jual motor ku di Madiun.”


“Ih janganlah, nanti kalau ketahuan bapak ibu mu. Bisa


dimarahi aku dek!”


“Nggak apa-apa, itu motor aku beli sendiri pakek duit


tabungan ku kok,” ucap Bimo coba menenangkan Agnes.


“Eh tapi jual motor nggak bisa buru-buru dek, paling


tidak besok pagi kamu baru bisa duitan. Sedangkan aku butuhnya besok pagi,”


tanggap Agnes dengan nada sedikit kuat.


“Iya sih,” ucap Bimo dengan wajah yang terlihat


bingung.


Bimo pun jadi terdiam.


“Gimana ya dek?” tanya Agnes yang kembali ikutan


bingung.


“Belum tau solusinya mbak, soalnya akukan baru dua


hari di sini.”


“Makanya dek, tolong sih teleponin bapak mu. Bilang


kamu ada biaya yang belum dibayar gitu lho,” rengek Agnes dengan wajah


masamnya.


Setelah mendapat desakan seperti itu dari Agnes, Bimo


akhirnya luluh kembali.

__ADS_1


“Aku teleponin ibu aja ya, kalau bapak aku males


banget. Lagi musuhan soalnya,” ucap Bimo.


Agnes menganggukkan kepalanya.


Akhirnya terpaksa Bimo mau menghubungi ibunya.


Namun setelah dia menghubungi ibunya.


“Tuutt tuuttt tuuttt tuuttt!”


Bimo menatap layar handphonenya.


“Loh kok memanggil, kenapa nggak aktif ya,” ucap Bimo


lalu mengubah panggilan ke nomer telepon biasa.


Bimo lalu menghubungi ibunya ke nomer telepon biasa.


“Nomer yang anda hubungi, sedang tidak bisa menerima


panggilan anda.”


Bimo menggigit bibirnya pelan.


“Pada nggak aktif nomer ibu, lagi rapat paling mbak.


Nanti aku teleponin deh, minta nomer rekening mbak aja biar aku transfer nanti


kalau udah ditransfer ibu,” ucap Bimo sambil meletakkan handphonenya ke atas


meja.


“Ya udah, mbak kirim rekening mbak ya. Berapa nomer


handphone mu,” pinta Agnes sambil mengaktifkan layar handphonenya.


Bimo lalu menyebutkan nomernya, dan Agnes segera


menyimpan nomer Bimo lalu mengirimkan nomer rekening banknya kepada Bimo.


“Mbak, kalau seandainya neh. Ibu nggak bisa kirim duit


hari ini.”


“Ih kok nggak bisa sih! Ya harus bisa dong dek.”


“Lah kok maksa, namanya ibu orang sibuk lho mbak. Aku


aja sering banget nggak bisa hubungi ibu, dan perlu mbak tahu. Biaya sekolahnya


Arjuna, Nakula dan Sadewa. Bapak dan ibu itu sering terlambat kasih duitnya.”


“Lah kok bisa?”


“Ya bisalah, orang mereka tinggal di Surabaya. Pas


dimintain duit, bilangnya besok aja pas udah di Madiun. Eh udah


ditunggu-tunggu, nggak segera kirim duit dan nggak pulang ke Madiun. Terpaksa


besok lusa atau kadang besok lusanya lagi baru bayar,” beber Bimo sambil coba


menghubungi ibunya kembali.


Setelah dia hubungi kembali, ternyata nomer ibunya


masih belum aktif.


“Kok masih nggak aktif kenapa sih ibu ini, tapi memang


seringnya kayak gini mbak. Ibu itu suka lupa naruh hanpdhone,” tambah Bimo


Agnes langsung terlihat kebingungan wajahnya.


“Aduh, mbak musti gimana ya?” ucap Agnes bingung.


“Coba pinjem temen mbak dulu, ibu paling bisa kirim


kalau enggak besok. Ya lusa, jadi nggak bisa dadakan. Makanya selama ini aku


itu cari duit sendiri mbak, nggak pernah ngandelin uang bapak ibu. Kemarin aja


bayar registrasi sama uang gedung di UGM pakek tabungan ku sendiri kok.”


Tiba-tiba wajah Agnes berubah cerah.


“Eh kalau mbak pakek uang tabungan mu dulu dek? Boleh


nggak?”


“Barusan aku kirim ke cewek ku di Madiun sejuta empat


ratus buat biaya praktikum dia, neh lihat bukti transfer ku,” ucap Bimo sambil


menunjukkan bukti transfer ke Indri.


Agnes langsung terlihat kaget tidak percaya.


“Ih kamu ini dek! Nemen amat sih!” maki Agnes dengan kuat.


Bimo menutup layar handphonenya kembali dan meletakkan


ke atas meja.


“Salah mbak sendiri, kenapa nggak ngomong dari tadi.”


“Aduuuuhhhh, minta lagi dek. Bilang kalau kamu lagi


butuh banget.”


“Heeh! Nggak bisa gitulah mbak. Ada toh, uang yang


lagi dikasih terus diminta lagi.”


“Ayooo dong deekkk, mintain lagi. Kamu nggak kasihan


apa sama mbak seperti ini,” rengek Agnes sambil menggoyang pundak Bimo.


“Nggak bisa mbak, udah dibayarin ke sekolah. Aku tadi


begitu transfer, langsung bilang ke guru ku kalau Indri mau bayar uang praktik


lapangan. Makanya dia ditunggu di sekolah.”


“Ih kamu ini dek, pacarnya aja ditolongin. Sama kakak


sendiri nggak mau bantuin.”


Bimo menelan salivanya.


Dia jadi serba salah karena malah terlalu terbuka


membuatnya merasa bersalah.


“Bukan nggak mau bantuin mbak, tetep aku bantuin. Tapi


kalau seandainya nggak bisa hari ini gimana? Mungkin besok atau lusa,


tergantung kesibukan ibu. Mbak juga sih, dadakan banget ngomongnya.”


Agnes kemudian duduk terdiam.


Wajahnya terlihat malas untuk bangun dari duduknya.

__ADS_1


Bimo lalu duduk mendekati Agnes.


Dia usap pundak Agnes dengan pelan.


“Udah sih mbak, nggak usah bingung. Pasti nanti aku


bantuin, tapi kan nggak bisa secepet ini. Mbak pasti boleh kok bayar terlambat,


lagian masih besokkan butuh duitnya.”


“Iyaaa, tapi mbak kalau belum ada kepastian duitnya


itu malu lho dek.”


“Kalau pasti, pasti adanya mbak. Ibu nggak mungkin


nggak punya duit, cuma bisa transfernya kapan, itu yang belum tahu,” beber Bimo


sambil terus mengusap pundak Agnes dengan pelan.


Agnes menatap wajah Bimo.


Tiba-tiba dia rangkul tubuh Bimo dengan erat.


“Ya udah makasih dek, udah bantuin mbak,” ucap Agnes


dengan perlahan.


Bimo mengusap punggung belakang Agnes dengan pelan.


“Iya, udah jangan stress kaya gitu. Santai saja hadapi


masalah,” ucap Bimo yang terus mengusap punggung Agnes.


Agnes kembali menganggukkan kepalanya pelan.


“Mbak pergi dulu ya,” ucap Agnes lalu mencium pipi


kanan Bimo dengan lembut.


Setelah itu dia lepaskan rangkulan kedua tangannya


dari leher Bimo, namun Bimo kemudian memegang kedua tangan Agnes dengan sedikit


kuat.


“Iiiiyyyyaaaaa, mbak kudu tenang. Nggak usah gupek


hadapi apapun persoalannya,” ucap Bimo lalu menatap wajah Agnes dengan tatapan


penuh ketenangan.


Agnes pun tersenyum.


Dia rangkul kembali tubuh Bimo dengan lebih erat,


sambil dia bisikkan ke telinga Bimo.


“Dek, mbak sayang kamu.”


Bimo menganggukkan kepalanya pelan.


“Sama, aku juga sayang mbak. Udah yang tenang, jangan


stress kaya tadi,” ucap Bimo pelan.


Agnes melepaskan kedua tangannya lagi.


Dia lalu berjalan menuju ke ruang samping.


Namun baru beberapa langkah kedua kakinya melangkah,


tiba-tiba dia balikkan tubuhnya dan berjalan mendekati Bimo kembali.


“Dek, kamu beneran nggak mau tinggal di rumah mbak


Via?” tanya Agnes.


Bimo menggelengkan kepalanya pelan.


“Enak disini, bebas. Di sana nggak enak aku diomeli


mbak Via nanti,” jawab Bimo pelan.


Agnes tertawa lalu meninju lengan Bimo sedikit kuat.


“Memang kamu tahu mbak Via itu suka marah?”


“Ya tahulah mbak, dua tahun lho dia tinggal sama aku


di Madiun. Baru beberapa tahun inikan dia balik ke sini.”


Agnes kembali tertawa dengan renyah.


Setelah itu dia balikkan badannya kembali ke arah


ruang samping untuk mengambil motornya.


Bimo membukakan pintu rumah dan membiarkan Agnes


keluar dari dalam ruang samping bersama motornya.


Dia tunggui Agnes sampai keluar dari dalam pagar rumah,


dan setelah Agnes pergi.


Pagar rumah dia kunci dan kembali berjalan masuk ke


dalam rumah.


Di dalam rumah, dia pandangi seluruh sudut rumah.


Dia tahu, di rumah kosong seperti ini.


Pasti akan ada banyak jin yang ikut bersemayam di


dalamnya.


Untuk itu dia ingin agar para jin ini tadi tidak


menganggunya.


Dia lalu mengambil handphone dan speaker kecil yang


ada di dalam tas ranselnya tadi.


Setelah itu dia hidupkan suara syekh dari Arab Saudi


yang membacakan beberapa ayat suci Al Qur’an menggunakan gaya bacaan tartil.


Dan tidak lama kemudian, dia tersadar kalau dari tadi


belum mandi setelah pergi jalan-jalan dengan Agnes.


Bimo lihat jam di dinding yang menunjukkan jam 5 sore


lewat 30 menit.


“Waduh sebentar lagi masuk Maghrib, mandi dulu ah,” gumam


Bimo dalam hati.


Setelah itu Bimo segera berjalan menuju ke kamar mandi


dan bersiap untuk menuju ke masjid.

__ADS_1


__ADS_2