
Saat akan beranjak dari kursinya, Bimo melihat budenya
yang malah nampak santai dan cuek dengan keadaan yang terjadi di depan rumah.
“Bude, kok gitu mbak Via,” tanya Bimo pelan.
“Sssttt nggak apa-apa, udah ayo dimakan ini kue mu,”
jawab budenya sambil memberikan kue bolu di depan Bimo.
Bimo tersenyum sambil menatap makanan yang ada di
depannya, dia ambil sepotong kue bolu lalu dia letakkan di atas piring kecil.
Dia pun berusaha bisa menikmati suasana saat ini walau
dirinya masih merasa aneh karena kedua adik dan putera Via tidak ikut makan
bersamanya.
Ingin bersikap cuek, namun tetap saja hati dan
pikirannya tidak bisa mendiamkan hal ini.
Mulut ada saja rasanya ingin menanyakan keberadaan
kedua kakak dan keponakannya.
“Itu Mbak Agnes, Mbak Renata, Ayub dan Ali kok nggak
ikut makan?” tanya Bimo sambil terus mengunyah kue bolu di mulutnya.
“Nanti paling, nunggu Doni pergi dulu,” jawab budenya
sambil ikut mengunyah bolu di mulutnya.
Bimo menghentikan kunyahan mulutnya sembari
mengernyitkan keningnya.
Dia benar-benar merasa heran dengan apa yang baru saja
terjadi pada puteri budenya saat ini.
“Ini ada apa sih sebenernya,” gumam Bimo dalam hati.
Gandari bisa menangkap kerasahan di hati keponakannya
saat ini.
“Udah dinikmati aja makan malamnya naaaang, jangan
dengerin yang nggak penting,” bisik budenya pelan.
Bimo sedikit terhenyak dan melanjutkan mengunyah bolu
di mulutnya hingga hancur, setelah itu dia telan kemudian meneguk air putih
hingga sisa seperuh.
Setelah itu dia hela nafas panjang, dia berusaha untuk
tidak terfikirkan lagi tentang apa yang baru saja terjadi.
Tidak lama kemudian terdengar suara motor yang
dinyalakan, dan Doni memilih pergi meninggalkan Via.
“Ya ampun, mas Doni kok diusir gitu sih,” gumam Bimo
dalam hati.
Bimo benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang
terjadi saat ini.
Situasinya sangat membuat dirinya kurang nyaman,
apalagi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak lama kemudian terdengar suara pagar yang ditutup
dan dikunci kembali.
Bimo lalu mendengar langkah kaki Via menuju ke dalam
rumah, dan tak lama dia lihat Via berjalan menuju ke kamar dan membuka pintu
kamarnya.
“Udah pergi, ayo kita makan,” ucap Via memanggil
adik-adiknya.
Agnes dan Renata akhirnya keluar dari dalam kamar Via
bersama Ali dan Ayub putera Via.
Setelah itu mereka segera duduk di meja makan untuk
menikmati makan malam secara bersama-sama.
Di saat mereka sedang makan, tidak ada pembahasan
tentang Doni sama sekali.
Malah kebalikannya, Agnes tiba-tiba
menceritakan bagaimana dia melihat Bimo yang sedang kesurupan saat di rumah gondomanan.
__ADS_1
“Jadi dek Bimo ini tadi teriak-teriak sambil nendang
kue sama kopinya mbak, aku jadi khawatirkan. Terus aku panggilin saja
orang-orang sekitar, eh nggak lama dia langsung sadar,” ucap Agnes sambil
menikmati ikan pepes.
“Memang
kamu ngomong apa tadi di rumah
dek?” tanya Via seakan tahu kebiasan Bimo dari dulu.
Bimo tersenyum, dia tahu mereka semua seakan ingin
melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
Mereka sama sekali tidak ingin membahas masalah Doni,
namun mengalihkannya dengan membahas dirinya.
Tidak ingin membuat suasana makan menjadi keruh, dia
ikuti saja apa yang diinginkan ketiga kakak sepupunya ini.
“Tadi waktu masuk rumah, di ruang tamukan ada lukisan
Nyi Roro Kidul yang seksi nan cakep tuh mbak.”
“He eh, terus?” tanya Via sambil menatap wajah Bimo.
“Nah aku itu bilang, sayang kamu itu cuma gambar. Coba
kalau kamu nyata, kita bisa ngopi,” jawab Bimo sambil mengunyah bolu di
mulutnya.
“Halah kamu ini, nggak mungkin cuma ngopi. Pasti
pikiran mu mesum, dulu aja kamu pulang dari mondok di Ponorogo malah nyetel
film bokep gitu kok,” sahut Via sambil melirik ke arah Bimo.
“Mas Yudhis itu mbak, aku itu dijebak sama dia,” ucap
Bimo membela dirinya.
“Tapi kamu nonton juga too!” sahut Agnes dengan kuat.
“Iya, tapi dikit,” ucap Bimo sambil menikmati makan
malamnya.
“Hahahaha!” tawa Renata dan Via meledak setelah
Malam itu Bimo berhasil membuat orang satu rumah
tertawa cekakan dan sejenak melupakan masalah yang baru saja terjadi.
Dan kini gantian mereka membahas masalah yang terjadi
antara Bimo dengan kedua orang tuanya, di mana mereka menginginkan Bimo untuk
menjadi seorang tentara.
Bimo pun menceritakan kalau dia ingin menekuni dunia
seni khususnya dalam hal seni desain gambar modern.
Dan itu yang membuat dirinya mampu mandiri di usia
muda saat ini.
Diam-diam, Agnes dan Renata menatap wajah Bimo dengan
penuh senyuman.
Di dalam benak mereka, terbesit sebuah niat untuk
memanfaatkan apa yang Bimo miliki.
Akhirnya tanpa terasa pembicaraan pun berlangsung
hingga malam.
Gandari dan Via meminta Bimo untuk menginap malam ini.
“Kalau bisa jangan malam ini aja dek, kamu setiap hari
tinggal di sini aja ya?” pinta Via.
Bimo tersenyum mendengar permintaan tersebut.
Dia masih ingin tinggal sendiri karena malas jika
harus mendengar omelan atau aturan dari bude dan ketiga kakak sepupunya ini.
“Ya udah gampang mbak, sesekali tidur sana. Sesekali tidur
di sini, eman banget kalau rumah di sana kosong melompong nggak ada yang
makek,” jawab Bimo coba menetralisir hati kakaknya.
Via pun mencibirkan bibirnya karena tahu kalau adiknya
ini jelas tidak suka kalau harus tinggal bersamanya, dia tahu kalau adiknya ini
tentu risih jika harus mendengar banyak ocehan-ocehan darinya.
__ADS_1
Setelah itu mereka beranjak berdiri dan kembali ke
kamar masing-masing.
Bimo membantu Via memberesi meja makan dengan mencuci
semua perkakas yang baru saja mereka gunakan.
“Dek, nanti tidur di kamar atas sama Ayub aja ya. Ali
biar sama mbak,” ucap Via saat meletakkan piring dan gelas yang selesai dicuci.
“Ya mbak,” ucap Bimo sambil meneruskan pekerjaannya
mencuci piring dan gelas.
Usai mencuci piring dan perkakas lainnya, Bimo
beranjak menuju ke lantai atas untuk tidur bersama Ayub.
***
Jam
03:30 pagi, di saat semua orang terlelap dalam tidur. Bimo tiba-tiba mendapat
panggilan alam.
Perutnya
terasa mulas hingga terasa ingin keluar ampasnya saat dia kentut.
Takut
kalau beneran keluar ampas, Bimo tahan lalu bangun dari tidurnya.
Dia
segera berlari menuruni anak tangga lalu menuju ke kamar
mandi.
Tidak
lama kemudian terdengar suara kentut disertai suara air yang keluar dari kran
dengan begitu kuat.
Bimo
nampak mengeluarkan ampas kotoran dan segera menyentornya menggunakan air.
15
menit kemudian, Bimo sudah selesai membuang hajat.
Dia
lihat jam sudah pukul 03:45 waktu kota Jogja.
Sebentar
lagi masuk waktu subuh.
Masih
ada waktu baginya untuk melaksanakan shalat tahajud pagi ini.
Sekalian
saja dia ambil wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.
Usai
mengambil wudhu, Bimo lalu berjalan kembali ke ruang tv.
Dia
gelar sajadah dan melaksanakan shalat tahajud sendirian.
Dua
rekaat pertama dia lalui tanpa ada gangguan apa-apa.
Namun
saat dia melaksanakan shalat 2 rekaat lagi, baru pada rekaat pertama. Tiba-tiba
ada seseorang yang menepuk pundak belakangnya memberi tanda kalau dia ingin
ikut shalat berjamaah dengan dirinya.
Bimo
langsung kaget seketika.
Jika
itu manusia, seharusnya dia mendengar langkah kaki
atau mendengar suara orang yang mengambil air wudhu.
Namun
dia dari tadi tidak mendengar suara apapun.
Hal ini membuat dirinya penasaran, siapakah orang yang
sedang ikut shalat bersamanya saat ini.
__ADS_1