Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 9


__ADS_3

Saat akan beranjak dari kursinya, Bimo melihat budenya


yang malah nampak santai dan cuek dengan keadaan yang terjadi di depan rumah.


“Bude, kok gitu mbak Via,” tanya Bimo pelan.


“Sssttt nggak apa-apa, udah ayo dimakan ini kue mu,”


jawab budenya sambil memberikan kue bolu di depan Bimo.


Bimo tersenyum sambil menatap makanan yang ada di


depannya, dia ambil sepotong kue bolu lalu dia letakkan di atas piring kecil.


Dia pun berusaha bisa menikmati suasana saat ini walau


dirinya masih merasa aneh karena kedua adik dan putera Via tidak ikut makan


bersamanya.


Ingin bersikap cuek, namun tetap saja hati dan


pikirannya tidak bisa mendiamkan hal ini.


Mulut ada saja rasanya ingin menanyakan keberadaan


kedua kakak dan keponakannya.


“Itu Mbak Agnes, Mbak Renata, Ayub dan Ali kok nggak


ikut makan?” tanya Bimo sambil terus mengunyah kue bolu di mulutnya.


“Nanti paling, nunggu Doni pergi dulu,” jawab budenya


sambil ikut mengunyah bolu di mulutnya.


Bimo menghentikan kunyahan mulutnya sembari


mengernyitkan keningnya.


Dia benar-benar merasa heran dengan apa yang baru saja


terjadi pada puteri budenya saat ini.


“Ini ada apa sih sebenernya,” gumam Bimo dalam hati.


Gandari bisa menangkap kerasahan di hati keponakannya


saat ini.


“Udah dinikmati aja makan malamnya naaaang, jangan


dengerin yang nggak penting,” bisik budenya pelan.


Bimo sedikit terhenyak dan melanjutkan mengunyah bolu


di mulutnya hingga hancur, setelah itu dia telan kemudian meneguk air putih


hingga sisa seperuh.


Setelah itu dia hela nafas panjang, dia berusaha untuk


tidak terfikirkan lagi tentang apa yang baru saja terjadi.


Tidak lama kemudian terdengar suara motor yang


dinyalakan, dan Doni memilih pergi meninggalkan Via.


“Ya ampun, mas Doni kok diusir gitu sih,” gumam Bimo


dalam hati.


Bimo benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang


terjadi saat ini.


Situasinya sangat membuat dirinya kurang nyaman,


apalagi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Tidak lama kemudian terdengar suara pagar yang ditutup


dan dikunci kembali.


Bimo lalu mendengar langkah kaki Via menuju ke dalam


rumah, dan tak lama dia lihat Via berjalan menuju ke kamar dan membuka pintu


kamarnya.


“Udah pergi, ayo kita makan,” ucap Via memanggil


adik-adiknya.


Agnes dan Renata akhirnya keluar dari dalam kamar Via


bersama Ali dan Ayub putera Via.


Setelah itu mereka segera duduk di meja makan untuk


menikmati makan malam secara bersama-sama.


Di saat mereka sedang makan, tidak ada pembahasan


tentang Doni sama sekali.


Malah kebalikannya, Agnes tiba-tiba


menceritakan bagaimana dia melihat Bimo yang sedang kesurupan saat di rumah gondomanan.

__ADS_1


“Jadi dek Bimo ini tadi teriak-teriak sambil nendang


kue sama kopinya mbak, aku jadi khawatirkan. Terus aku panggilin saja


orang-orang sekitar, eh nggak lama dia langsung sadar,” ucap Agnes sambil


menikmati ikan pepes.


“Memang


kamu ngomong apa tadi di rumah


dek?” tanya Via seakan tahu kebiasan Bimo dari dulu.


Bimo tersenyum, dia tahu mereka semua seakan ingin


melupakan kejadian yang baru saja terjadi.


Mereka sama sekali tidak ingin membahas masalah Doni,


namun mengalihkannya dengan membahas dirinya.


Tidak ingin membuat suasana makan menjadi keruh, dia


ikuti saja apa yang diinginkan ketiga kakak sepupunya ini.


“Tadi waktu masuk rumah, di ruang tamukan ada lukisan


Nyi Roro Kidul yang seksi nan cakep tuh mbak.”


“He eh, terus?” tanya Via sambil menatap wajah Bimo.


“Nah aku itu bilang, sayang kamu itu cuma gambar. Coba


kalau kamu nyata, kita bisa ngopi,” jawab Bimo sambil mengunyah bolu di


mulutnya.


“Halah kamu ini, nggak mungkin cuma ngopi. Pasti


pikiran mu mesum, dulu aja kamu pulang dari mondok di Ponorogo malah nyetel


film bokep gitu kok,” sahut Via sambil melirik ke arah Bimo.


“Mas Yudhis itu mbak, aku itu dijebak sama dia,” ucap


Bimo membela dirinya.


“Tapi kamu nonton juga too!” sahut Agnes dengan kuat.


“Iya, tapi dikit,” ucap Bimo sambil menikmati makan


malamnya.


“Hahahaha!” tawa Renata dan Via meledak setelah


Malam itu Bimo berhasil membuat orang satu rumah


tertawa cekakan dan sejenak melupakan masalah yang baru saja terjadi.


Dan kini gantian mereka membahas masalah yang terjadi


antara Bimo dengan kedua orang tuanya, di mana mereka menginginkan Bimo untuk


menjadi seorang tentara.


Bimo pun menceritakan kalau dia ingin menekuni dunia


seni khususnya dalam hal seni desain gambar modern.


Dan itu yang membuat dirinya mampu mandiri di usia


muda saat ini.


Diam-diam, Agnes dan Renata menatap wajah Bimo dengan


penuh senyuman.


Di dalam benak mereka, terbesit sebuah niat untuk


memanfaatkan apa yang Bimo miliki.


Akhirnya tanpa terasa pembicaraan pun berlangsung


hingga malam.


Gandari dan Via meminta Bimo untuk menginap malam ini.


“Kalau bisa jangan malam ini aja dek, kamu setiap hari


tinggal di sini aja ya?” pinta Via.


Bimo tersenyum mendengar permintaan tersebut.


Dia masih ingin tinggal sendiri karena malas jika


harus mendengar omelan atau aturan dari bude dan ketiga kakak sepupunya ini.


“Ya udah gampang mbak, sesekali tidur sana. Sesekali tidur


di sini, eman banget kalau rumah di sana kosong melompong nggak ada yang


makek,” jawab Bimo coba menetralisir hati kakaknya.


Via pun mencibirkan bibirnya karena tahu kalau adiknya


ini jelas tidak suka kalau harus tinggal bersamanya, dia tahu kalau adiknya ini


tentu risih jika harus mendengar banyak ocehan-ocehan darinya.

__ADS_1


Setelah itu mereka beranjak berdiri dan kembali ke


kamar masing-masing.


Bimo membantu Via memberesi meja makan dengan mencuci


semua perkakas yang baru saja mereka gunakan.


“Dek, nanti tidur di kamar atas sama Ayub aja ya. Ali


biar sama mbak,” ucap Via saat meletakkan piring dan gelas yang selesai dicuci.


“Ya mbak,” ucap Bimo sambil meneruskan pekerjaannya


mencuci piring dan gelas.


Usai mencuci piring dan perkakas lainnya, Bimo


beranjak menuju ke lantai atas untuk tidur bersama Ayub.


***


Jam


03:30 pagi, di saat semua orang terlelap dalam tidur. Bimo tiba-tiba mendapat


panggilan alam.


Perutnya


terasa mulas hingga terasa ingin keluar ampasnya saat dia kentut.


Takut


kalau beneran keluar ampas, Bimo tahan lalu bangun dari tidurnya.


Dia


segera berlari menuruni anak tangga lalu menuju ke kamar


mandi.


Tidak


lama kemudian terdengar suara kentut disertai suara air yang keluar dari kran


dengan begitu kuat.


Bimo


nampak mengeluarkan ampas kotoran dan segera menyentornya menggunakan air.


15


menit kemudian, Bimo sudah selesai membuang hajat.


Dia


lihat jam sudah pukul 03:45 waktu kota Jogja.


Sebentar


lagi masuk waktu subuh.


Masih


ada waktu baginya untuk melaksanakan shalat tahajud pagi ini.


Sekalian


saja dia ambil wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.


Usai


mengambil wudhu, Bimo lalu berjalan kembali ke ruang tv.


Dia


gelar sajadah dan melaksanakan shalat tahajud sendirian.


Dua


rekaat pertama dia lalui tanpa ada gangguan apa-apa.


Namun


saat dia melaksanakan shalat 2 rekaat lagi, baru pada rekaat pertama. Tiba-tiba


ada seseorang yang menepuk pundak belakangnya memberi tanda kalau dia ingin


ikut shalat berjamaah dengan dirinya.


Bimo


langsung kaget seketika.


Jika


itu manusia, seharusnya dia mendengar langkah kaki


atau mendengar suara orang yang mengambil air wudhu.


Namun


dia dari tadi tidak mendengar suara apapun.


Hal ini membuat dirinya penasaran, siapakah orang yang


sedang ikut shalat bersamanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2