
Melihat kakak sepupunya nampak bersitegang dengan
seseorang yang tidak dia kenal, Bimo segera berlari mendatanginya.
Agnes pun nampak senang saat melihat Bimo yang berlari
mendatangi dirinya.
“Mbak Agnes! Ada apa ini?” tanya Bimo sambil menatap
Agnes.
Agnes segera berdiri dan berlari ke belakang Bimo.
“Tahu tuh dek, orang stress marah-marah aja kerjaannya!”
jawab Agnes sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung Bimo.
Bimo menatap pria yang masih berdiri di depannya.
“Masnya siapa?” tanya Bimo.
“Heh lha kamu itu siapa? Gua cowoknya dia!” bentak si
pria dengan nada kuat.
“Ih cowok darimana? Kenal aja kagak!” sahut Agnes
sambil menekan punggung Bimo.
Bimo menoleh sebentar ke arah Agnes, dan dia balikkan
lagi wajahnya ke arah depan.
“Heh! Jangan kayak gitu kamu ya Nes! Ingat nggak! Kamu
masih punya hutang sama aku tiga juta!”
“Hutang apaan! Orang kamu kasih itu cuma-cuma sama
aku!”
“Cuma-cuma gimana! Orang kamu kagak mau aku ajak
ngent** kok!”
Bimo meradang dan mendelik lebar kedua matanya.
“Jaga mulut kamu ya! Mau aku lempar ke lautan!” maki
Bimo dengan kuat.
“Apaan lu pake lempar-lempar gua!”
Bimo berjalan mendatangi si pria dengan tubuh
tegapnya.
Si pria pun mundur ke belakang karena tubuhnya kalah
besar dengan Bimo.
Namun tiba-tiba si pria menghujamkan tangan kanannya
untuk menghajar Bimo.
Dengan cepat Bimo tangkis tangan pria tersebut dan dia
lemparkan ke pasir.
“Wuutt duuuugggg!”
Si pria pun mengaduh karena baru saja terlempar di
pasiran.
“Bangsaaattt!” maki pria tersebut.
Perlahan kemudian Bimo membaca ayat kursi dan
mengucapkan shalawat badriyah dalam hatinya.
Dan keajaiban pun terjadi.
Tiba-tiba wajah si pria ini berubah.
“Eee bro-bro, sorry sebelumnya. Iya iya, gua ngaku
salah. Gua minta maaf, ya udah gua ikhlasin aja duit gua ke elu Nes. Tapi
jangan lempar gua lagi ke lautan ya,” pinta si pria dengan wajah penuh
ketakutan.
Bimo menganggukkan kepalanya namun kedua matanya masih
melotot.
“Eee gu-gu-gua pergi sekarang,” ucap si pria
sambil berjalan meninggalkan Bimo.
“Heiii Yogaaa! Gantengkan cowok ku!” teriak Agnes sambil tertawa centil ke arah cowok tersebut.
Agnes lalu bergelayut manja sambil merangkul tangan
Bimo.
Melihat Agnes yang terlihat manja dengan pria tak dia
kenal, si pria yang bernama Yoga ini nampak semakin ketakutan.
Dia memilih pergi bersama seorang cewek yang terlihat
kaget saat bertemu dengannya.
Setelah si cowok itu pergi, Bimo baru bisa bernafas
lega.
Berkelahi bagi Bimo sebenarnya bukan hal baru.
__ADS_1
Dia pernah menjadi pemain sepak bola dari SMP hingga
SMA, bergesekan dengan pemain lawan hingga harus berkelahi di atas lapangan
merupakan hal biasa baginya.
Namun demikian dia tidak serta merta mau melakukannya
jika bukan karena untuk membela nama baiknya.
“Memang
dia siapa mbak?” tanya Bimo sambilmenatap wajah
Agnes.
“Nggak
penting, nanti aja kapan-kapan aku ceritakan.
Aku pengen cerita dulu masalah yang penting terjadi,”jawab Agnes lalu menarik tangan Bimo untuk duduk di kursi panjang.
Bimo masih mengatur nafasnya namun tetap mengikuti
ajakan Agnes untuk duduk di kursi panjang yang ada di depannya.
Walau sudah duduk dia benar-benar masih bingung dengan
keadaan yang baru saja terjadi.
Ada pria yang mengaku memberi uang Rp 3 juta kepada
Agnes, dengan harapan bisa tidur dengan kakak sepupunya ini.
Dan sepertinya Agnes tidak mau tidur dengan pria yang
bernama Yoga tadi, namun uangnya tetap dia bawa.
Jadi ada kemungkinan Yoga menagih uang tersebut karena
Agnes yang tidak mau diajak tidur olehnya.
Bimo menghela nafas panjang lalu menuangkan air putih
di dalam gelas.
Setelah itu dia teguk perlahan hingga habis.
Melihat Bimo yang nampak sudah tenang, Agnes
menengok ke kanan dan ke kirinya.
Dia lalu mendekatkan kursinya ke meja biar
wajahnya lebih dekat ke Bimo.
“Dek
tolong jualin rumah di Gondomanan ya,” bisik Agnes sambil mendekatkan wajahnya
ke Bimo.
Bimo mengernyitkan keningnya.
penjualan rumah.
Apalagi rumah itu akan dia tempati dan rasanya sangat
nyaman untuk dia tinggali.
“Kok
dijual? Memang ada masalah apa mbak?” tanya Bimo kaget.
“Gini,
tapi jangan cerita ke mbak Via ya,” bisik Agnes.
“Oke.”
“Jadi,
beberapa bulan ini. Kurang lebih sudah tiga
bulan inilah, mas Doni sama mbak Via itukan
sering ribut sampai mereka pisah ranjang.”
Bimo
mulai serius mendengarkan cerita Agnes.
Agnes kemudian melanjutkan ceritanya.
“Mas Doni itu kan udah jadi PNS, jadi dia itu suka malu kalau lihat mbak
Via manggung. Nah dia itu minta mbak Via berhenti manggung, tapi mbak Via nggak
mau.”
“Lah, kenapa nggak mau? Kan mas Doni udah jadi PNS?”
“Gaji PNS berapa sih dek? Mbak Via kan masih harus
bantuin mamah berobat, bantuin biaya kuliah ku, belum susu anak-anaknya.”
Bimo mengernyitkan keningnya kembali.
“Kenapa urusan bude sama mbak Agnes jadi urusan mas
Doni juga? Bukanya bude masih terima uang gaji almarhum pakde? Dan mbak Agnes
dapet beasiswa?”
“Iya, tapi akukan beasiswa cuma buat kuliah aja dek.
Uang saku dan uang tugas yang lain belum
ada.”
Bimo terdiam.
__ADS_1
Dalam hatinya mengatakan, “kenapa mbak Agnes nggak
kerja?”
Tapi untuk mengatakan itu dia tidak tega.
Pikir dia sangat sulit bagi mahasiswi atau pun
mahasiswa yang berkuliah untuk disambi bekerja.
“Aduh mbak, jangan dijual deh. Bisa gawat nanti kalau
rumah dijual. Kalau masalahnya tidak ada uang buat makan, gimana kalau kita
berbisnis?” tawar Bimo sambil menatap wajah Agnes.
Agnes membalas tatapan Bimo.
“Bisnis apa ya dek?” tanya Agnes dengan nada serius.
Bimo terdiam sejenak.
Tidak lama kemudian beberapa orang nampak berdatangan
memasuki warung makan.
Pakaian mereka keren-keren dan terlihat membawa
beberapa alat musik seperti gitar, piano kecil, gendang dan biola.
Bimo yang biasa bermain gitar tiba-tiba mendapat
inspirasi.
“Mbak suka nyanyikan?” tanya Bimo sambil menatap wajah
Agne.
“Suka,” jawab Agnes lalu menatap ke arah para musisi
tadi.
Ternyata di rumah makan tersebut, setelah adzan dhuhur
biasaya mereka akan mengadakan live konser.
Dan pihak rumah makan akan menyiarkan secara live
acara tersebut melalui akun media sosial yang mereka miliki.
“Bentar mbak, kita dengerin dulu kualitas suara
mereka,” bisik Bimo pelan.
Agnes pun menganggukkan kepalanya dan coba ikut
mendengarkan para pengamen tadi.
Tidak lama kemudian beberapa orang datang
mempersiapkan beberapa mic yang akan digunakan para musisi tadi untuk
bernyanyi.
Para musisi jalanan tadi mulai memberikan kata-kata
sambutan bersama kawan-kawannya.
Mereka lalu memainkan alat musik yang mereka bawa.
Lagu pertama yang mereka nyanyikan adalah lagu
kenangan yang berjudul “Yogyakarta” yang sempat dinyanyikan Katon Bagaskara.
Bimo mendengarkan suara dan permainan musik mereka.
“Eemmm lumayan suara mereka,” gumam Bimo dalam hati.
Bimo berfikir keras usaha apa yang bisa dia jalankan
bersama kakak sepupunya dalam waktu dekat ini.
“Kira-kira gimana dek? Bisa nggak kamu bantu jual
rumah itu?”
Bimo menggelengkan kepalanya pelan.
“Jangan dulu mbak, mending sekarang kita makan aja ya.
Kita bahas itu sambil jalan,” ucap Bimo pelan.
Agnes menganggukkan kepalanya pelan.
Mereka kemudian segera menikmati makanan yang sudah
tersaji.
Namun baru saja Agnes terdiam dan menikmati makannya,
tiba-tiba Agnes bicara kembali soal rumah itu.
“Jadi dek, rencana ku sama mamah. Kalau rumah itu bisa
laku, tolong kamu cariinrumah dipinggir jalan gitu yang
bisa buat buka toko.”
Bimo mengernyitkan keningnya sebentar.
“Rumah Gondomanan kan bisa buat buka usaha jugambak? Disitukan padat penduduknya. Buat
jualan nasi rames atau produksi roti terus dijual online kan bisa?”
“Eee
gini, di rumah itu. Sepeninggal papah, semuanya sering diganggu.”
“Diganggu?
Maksudnya mbak?” tukas Bimo dengan kening berkerut dan
__ADS_1
mata mengkeret untuk menunjukkan rasa kagetnyalalu menatap wajah Agnes.