Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 14


__ADS_3

Melihat kakak sepupunya nampak bersitegang dengan


seseorang yang tidak dia kenal, Bimo segera berlari mendatanginya.


Agnes pun nampak senang saat melihat Bimo yang berlari


mendatangi dirinya.


“Mbak Agnes! Ada apa ini?” tanya Bimo sambil menatap


Agnes.


Agnes segera berdiri dan berlari ke belakang Bimo.


“Tahu tuh dek, orang stress marah-marah aja kerjaannya!”


jawab Agnes sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung Bimo.


Bimo menatap pria yang masih berdiri di depannya.


“Masnya siapa?” tanya Bimo.


“Heh lha kamu itu siapa? Gua cowoknya dia!” bentak si


pria dengan nada kuat.


“Ih cowok darimana? Kenal aja kagak!” sahut Agnes


sambil menekan punggung Bimo.


Bimo menoleh sebentar ke arah Agnes, dan dia balikkan


lagi wajahnya ke arah depan.


“Heh! Jangan kayak gitu kamu ya Nes! Ingat nggak! Kamu


masih punya hutang sama aku tiga juta!”


“Hutang apaan! Orang kamu kasih itu cuma-cuma sama


aku!”


“Cuma-cuma gimana! Orang kamu kagak mau aku ajak


ngent** kok!”


Bimo meradang dan mendelik lebar kedua matanya.


“Jaga mulut kamu ya! Mau aku lempar ke lautan!” maki


Bimo dengan kuat.


“Apaan lu pake lempar-lempar gua!”


Bimo berjalan mendatangi si pria dengan tubuh


tegapnya.


Si pria pun mundur ke belakang karena tubuhnya kalah


besar dengan Bimo.


Namun tiba-tiba si pria menghujamkan tangan kanannya


untuk menghajar Bimo.


Dengan cepat Bimo tangkis tangan pria tersebut dan dia


lemparkan ke pasir.


“Wuutt duuuugggg!”


Si pria pun mengaduh karena baru saja terlempar di


pasiran.


“Bangsaaattt!” maki pria tersebut.


Perlahan kemudian Bimo membaca ayat kursi dan


mengucapkan shalawat badriyah dalam hatinya.


Dan keajaiban pun terjadi.


Tiba-tiba wajah si pria ini berubah.


“Eee bro-bro, sorry sebelumnya. Iya iya, gua ngaku


salah. Gua minta maaf, ya udah gua ikhlasin aja duit gua ke elu Nes. Tapi


jangan lempar gua lagi ke lautan ya,” pinta si pria dengan wajah penuh


ketakutan.


Bimo menganggukkan kepalanya namun kedua matanya masih


melotot.


“Eee gu-gu-gua pergi sekarang,” ucap si pria


sambil berjalan meninggalkan Bimo.


“Heiii Yogaaa! Gantengkan cowok ku!” teriak Agnes sambil tertawa centil ke arah cowok tersebut.


Agnes lalu bergelayut manja sambil merangkul tangan


Bimo.


Melihat Agnes yang terlihat manja dengan pria tak dia


kenal, si pria yang bernama Yoga ini nampak semakin ketakutan.


Dia memilih pergi bersama seorang cewek yang terlihat


kaget saat bertemu dengannya.


Setelah si cowok itu pergi, Bimo baru bisa bernafas


lega.


Berkelahi bagi Bimo sebenarnya bukan hal baru.

__ADS_1


Dia pernah menjadi pemain sepak bola dari SMP hingga


SMA, bergesekan dengan pemain lawan hingga harus berkelahi di atas lapangan


merupakan hal biasa baginya.


Namun demikian dia tidak serta merta mau melakukannya


jika bukan karena untuk membela nama baiknya.


“Memang


dia siapa mbak?” tanya Bimo sambilmenatap wajah


Agnes.


“Nggak


penting, nanti aja kapan-kapan aku ceritakan.


Aku pengen cerita dulu masalah yang penting terjadi,”jawab Agnes lalu menarik tangan Bimo untuk duduk di kursi panjang.


Bimo masih mengatur nafasnya namun tetap mengikuti


ajakan Agnes untuk duduk di kursi panjang yang ada di depannya.


Walau sudah duduk dia benar-benar masih bingung dengan


keadaan yang baru saja terjadi.


Ada pria yang mengaku memberi uang Rp 3 juta kepada


Agnes, dengan harapan bisa tidur dengan kakak sepupunya ini.


Dan sepertinya Agnes tidak mau tidur dengan pria yang


bernama Yoga tadi, namun uangnya tetap dia bawa.


Jadi ada kemungkinan Yoga menagih uang tersebut karena


Agnes yang tidak mau diajak tidur olehnya.


Bimo menghela nafas panjang lalu menuangkan air putih


di dalam gelas.


Setelah itu dia teguk perlahan hingga habis.


Melihat Bimo yang nampak sudah tenang, Agnes


menengok ke kanan dan ke kirinya.


Dia lalu mendekatkan kursinya ke meja biar


wajahnya lebih dekat ke Bimo.


“Dek


tolong jualin rumah di Gondomanan ya,” bisik Agnes sambil mendekatkan wajahnya


ke Bimo.


Bimo mengernyitkan keningnya.


penjualan rumah.


Apalagi rumah itu akan dia tempati dan rasanya sangat


nyaman untuk dia tinggali.


“Kok


dijual? Memang ada masalah apa mbak?” tanya Bimo kaget.


“Gini,


tapi jangan cerita ke mbak Via ya,” bisik Agnes.


“Oke.”


“Jadi,


beberapa bulan ini. Kurang lebih sudah tiga


bulan inilah, mas Doni sama mbak Via itukan


sering ribut sampai mereka pisah ranjang.”


Bimo


mulai serius mendengarkan cerita Agnes.


Agnes kemudian melanjutkan ceritanya.


“Mas Doni itu kan udah jadi PNS, jadi dia itu suka malu kalau lihat mbak


Via manggung. Nah dia itu minta mbak Via berhenti manggung, tapi mbak Via nggak


mau.”


“Lah, kenapa nggak mau? Kan mas Doni udah jadi PNS?”


“Gaji PNS berapa sih dek? Mbak Via kan masih harus


bantuin mamah berobat, bantuin biaya kuliah ku, belum susu anak-anaknya.”


Bimo mengernyitkan keningnya kembali.


“Kenapa urusan bude sama mbak Agnes jadi urusan mas


Doni juga? Bukanya bude masih terima uang gaji almarhum pakde? Dan mbak Agnes


dapet beasiswa?”


“Iya, tapi akukan beasiswa cuma buat kuliah aja dek.


Uang saku dan uang tugas  yang lain belum


ada.”


Bimo terdiam.

__ADS_1


Dalam hatinya mengatakan, “kenapa mbak Agnes nggak


kerja?”


Tapi untuk mengatakan itu dia tidak tega.


Pikir dia sangat sulit bagi mahasiswi atau pun


mahasiswa yang berkuliah untuk disambi bekerja.


“Aduh mbak, jangan dijual deh. Bisa gawat nanti kalau


rumah dijual. Kalau masalahnya tidak ada uang buat makan, gimana kalau kita


berbisnis?” tawar Bimo sambil menatap wajah Agnes.


Agnes membalas tatapan Bimo.


“Bisnis apa ya dek?” tanya Agnes dengan nada serius.


Bimo terdiam sejenak.


Tidak lama kemudian beberapa orang nampak berdatangan


memasuki warung makan.


Pakaian mereka keren-keren dan terlihat membawa


beberapa alat musik seperti gitar, piano kecil, gendang dan biola.


Bimo yang biasa bermain gitar tiba-tiba mendapat


inspirasi.


“Mbak suka nyanyikan?” tanya Bimo sambil menatap wajah


Agne.


“Suka,” jawab Agnes lalu menatap ke arah para musisi


tadi.


Ternyata di rumah makan tersebut, setelah adzan dhuhur


biasaya mereka akan mengadakan live konser.


Dan pihak rumah makan akan menyiarkan secara live


acara tersebut melalui akun media sosial yang mereka miliki.


“Bentar mbak, kita dengerin dulu kualitas suara


mereka,” bisik Bimo pelan.


Agnes pun menganggukkan kepalanya dan coba ikut


mendengarkan para pengamen tadi.


Tidak lama kemudian beberapa orang datang


mempersiapkan beberapa mic yang akan digunakan para musisi tadi untuk


bernyanyi.


Para musisi jalanan tadi mulai memberikan kata-kata


sambutan bersama kawan-kawannya.


Mereka lalu memainkan alat musik yang mereka bawa.


Lagu pertama yang mereka nyanyikan adalah lagu


kenangan yang berjudul “Yogyakarta” yang sempat dinyanyikan Katon Bagaskara.


Bimo mendengarkan suara dan permainan musik mereka.


“Eemmm lumayan suara mereka,” gumam Bimo dalam hati.


Bimo berfikir keras usaha apa yang bisa dia jalankan


bersama kakak sepupunya dalam waktu dekat ini.


“Kira-kira gimana dek? Bisa nggak kamu bantu jual


rumah itu?”


Bimo menggelengkan kepalanya pelan.


“Jangan dulu mbak, mending sekarang kita makan aja ya.


Kita bahas itu sambil jalan,” ucap Bimo pelan.


Agnes menganggukkan kepalanya pelan.


Mereka kemudian segera menikmati makanan yang sudah


tersaji.


Namun baru saja Agnes terdiam dan menikmati makannya,


tiba-tiba Agnes bicara kembali soal rumah itu.


“Jadi dek, rencana ku sama mamah. Kalau rumah itu bisa


laku, tolong kamu cariinrumah dipinggir jalan gitu yang


bisa buat buka toko.”


Bimo mengernyitkan keningnya sebentar.


“Rumah Gondomanan kan bisa buat buka usaha jugambak? Disitukan padat penduduknya. Buat


jualan nasi rames atau produksi roti terus dijual online kan bisa?”


“Eee


gini, di rumah itu. Sepeninggal papah, semuanya sering diganggu.”


“Diganggu?


Maksudnya mbak?” tukas Bimo dengan kening berkerut dan

__ADS_1


mata mengkeret untuk menunjukkan rasa kagetnyalalu menatap wajah Agnes.


__ADS_2