Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 12


__ADS_3

Di taman belakang tersedia berbagai jenis tanaman hias


dan tanaman obat-obatan yang bisa dia gunakan untuk membuat jamu.


Ada lengkuas, kunyit, kencur, kunyit putih, sereh,


daun sirih, sirih merah dan yang membuatnya kaget ternyata ada daun unik yang


nampak rimbun daunnya.


“Ini daun apa ya?” gumam Bimo dalam hati.


Bimo benar-benar lupa dengan daun yang ada di depannya


saat ini.


Dia merasa pernah melihatnya namun lupa di manakah


daun itu pernah dia lihat.


Akhirnya dia ingin mencari tahu jenis daun apakah yang


ada di belakang rumah budenya ini, dan dia akan mencari tahu melalui google


yang bisa dia akses melalui handphonenya.


Saat dia buka layar handphonenya, kedua kakinya merasa


sedikit pegal jika terus menerus berdiri.


Dia lalu mendatangi kursi yang ada di belakangnya.


Terlihat di kursi ada beberapa daun kering yang


berjatuhan di atasnya.


“Fuuuhhhh!” tiupnya dengan kuat


Daun pun berjatuhan ke rumput, dan segera dia duduki


sambil merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.


Setelah itu dia akses google untuk mencari jenis daun


apakah yang ada di dalam polybag tersebut.


Namun belum sampai dia berhasil menemukan jenis daun


tersebut, tiba-tiba sinyal di handphonenya menjadi melambat.


“Lah kok lemot banget sih, handphone burik!” umpat


Bimo sedikit kesal.


Dia tatap ke sekeliling taman.


Udaranya sangat segar di pagi itu, cuitan burung


gereja begitu terdengar merdu.


“Aneh bude ini, rumah sebagus ini malah ditinggal,”


gumam Bimo dalam hati.


Bimo menemukan kedamaian saat duduk sendiri di taman


belakang rumah ini.


Dia jadi lupa untuk mengakses internet di


handphonenya.


Gitar yang ada di tangannya, melupakan dirinya untuk


mencari tahu jenis apakah daun yang ada di depannya saat ini.


Dia malah menyetel senar gitar agar pas ditelinganya


saat dia petikkan berbagai kunci G maupun kunci C.


Tidak lama kemudian terdengar suara sendok yang


mengaduk minuman di dalam gelas.


Bimo sedikit terhenyak kaget karena tidak meminta


Agnes untuk membuatkan dirinya minuman, tapi tiba-tiba saja Agnes membuatkan


minuman untuknya.


Dia teringat kalau dirinya ingin bertanya kepada Agnes


tentang keadaan keluarga Via yang sesungguhnya, dan apa yang menjadi penyebab


perpisahan mereka.


Namun untuk menunggu kakaknya datang, dia mainkan


beberapa lagu dengan memetik gitar secara perlahan.


“Tiiinggg tiiiingggg tuuungggg tueeengggg,” bunyi


petikan gitar yang mengalun merdu.


Setelah merasa pas setelannya, mulailah Bimo


bernyanyi.


“Mbok ojo satru, satru wae sayaaang kuuuuuu,” ucap


Bimo saat mengambil bagian reff lagu Satru 2 yang diciptakan penyanyi tetangga


kota dengannya yaitu Deny Caknan.


“Tiingg tuuunnggg tiiingg tuuungggg,” bunyi gitar yang


kembali mengalun.


Tak lama kemudian mulailah dia menyanyikan lagu


diiringi petikan suara gitar yang mengalun dengan perlahan.


“Yen kangeeenn ngoomoongg kangeeennnn, rasah tukaran


waaee. Mbook dieman-eman, hubungaaneeee,” ucap Bimo sambil terus memainkan


petikan gitarnya.


Tak lama setelah itu terlihat Agnes berjalan menyusul

__ADS_1


dirinya sambil membawakan nampan yang berisi dua gelas espresso dan sepiring


kue camilan di dalamnya.


Bimo terus melanjutkan nyanyiannya saat melihat Agnes


datang membawakan makanan tersebut.


“Uwong sing tak tresnani, tak gawe sandaran atiiii.


Mbok ojo satru, satru waeee sayang kuuuu.”


Agnes tersenyum senang mendengar suara Bimo yang asyik


bernyanyi sambil memainkan gitar miliknya.


Dia lalu duduk di samping Bimo dan ikut bernyanyi


dengan nada yang dia sesuaikan dengan alunan petikan gitar yang Bimo mainkan.


Pagi ini terasa sejuk bagi Agnes, bisa bernyanyi sambil


menikmati camilan dan segelas espresso hangat.


Hal yang tidak pernah dia lakukan lagi selama tinggal


di rumah Via dan di kosnya Solo sana.


Dan pagi ini, dia bisa menikmati paginya berdua dengan


Bimo.


Sesekali dia dekatkan wajahnya ke pipi Bimo, dan Bimo pun


makin asyik untuk terus bernyanyi.


Bagi Agnes pagi ini sangat menyenangkan hatinya, dia


bisa bernyanyi berdua dengan seorang pria yang bisa memberikan ketenangan untuknya.


Entah apa hal, dia merasa nyaman saat bersama Bimo.


Bimo pun demikian, dia merasa nyaman saat bersama


kakak sepupunya Agnes.


Bisa bernyanyi dan bersenda gurau, tidak seperti


hari-harinya yang dia habiskan dengan berlatih dan berlatih agar bisa masuk ke


TNI.


***


Tanpa terasa sudah dua jam mereka bernyanyi sambil


menghabiskan kopi dan camilan.


Sinar mentari pun mulai terasa menyengat seiring


bergulirnya waktu.


Bimo tertawa senang dan ceria bisa bernyanyi dengan


Agnes, apalagi ternyata Agnes bisa menyanyikan lagu apa saja.


Bukan hanya lagu bahasa Indonesia, lagu-lagu jawa pun


Sejenak Bimo benar-benar lupa dengan masalah yang


sedang dia risaukan sebelumnya, begitu juga dengan Agnes.


Wajahnya terlihat begitu ceria dan lupa dengan masalah


yang telah membelitnya.


Usai lelah bernyanyi, Bimo memandangi lingkungan


sekitar rumah.


“Rumah ini asyik banget lho mbak, kenapa nggak tinggal


di sini saja mbak Agnes sama bude?” tanya Bimo sambil kepalanya berkeliling


menatap keadaan sekitar.


Agnes yang duduk di samping Bimo nampak ikut lelah,


dia lalu merebahkan tubuhnya ke pundak Bimo.


Tercium aroma harum dari baju dan tubuh Agnes yang


menyeruak masuk ke dalam dua lubang hidung Bimo.


“Aku belum mandi lho mbak, kok mbak lendotin seperti


ini,” ucap Bimo yang cukup sadar diri kalau aroma tubuhnya agak sedikit asam.


Agnes diam saja dan tidak memperdulikan ucapan Bimo,


dia nampak asyik-asyik saja saat berdekatan dengan tubuh adik sepupu yang dia


temui saat sudah besar dan beranjak dewasa.


“Mamah sehari-harinya sendiri dek, aku kan ngekos di


Solo. Mbak Renata juga di Solo.”


Bimo terhenyak kaget saat mendengar jawaban Agnes yang


mengatakan kalau Renata juga kerja di Solo.


“Eh bentar, beneran mbak Renata kerja di rumah sakit


Solo?” tanya Bimo sambil mengernyitkan keningnya.


“Iya, dia kerja di rumah sakit dokter Oen,” jawab


Agnes disertai anggukkan kepalanya pelan.


“Mbak pernah ketemu sama mbak Renata waktu di rumah


sakit?”


“Belum sih, tapi dia sering kok ke kos mbak pakek baju


seragam karyawan situ.”


“Oh iya to,” ucap Bimo sambil menganggukkan kepalanya

__ADS_1


pelan.


Bimo lalu meneguk sedikit mocachino untuk meredakan


ketegangannya, setelah itu dia letakkan kembali gelasnya ke atas meja.


Usai meletakkan gelas di atas meja, Bimo jadi teringat


dengan masalah yang dialami Via dan Doni.


“Eh mbak, status mbak Via sama mas Doni itu gimana ya?


Sudah resmi cerai, atau gimana?”


“Enggak kok, masih pisah ranjang aja. Mbak Via marah


gara-gara mas Doni melarang dia nyanyi di panggung ke panggung, sedangkan gaji


mas Doni sebagai PNS masih belum mencukupi kebutuhan mereka.”


Bimo mengernyitkan keningnya sambil menganggukkan


kepalanya sekali usai mendengar jawaban Agnes.


“Bener dugaan ku berarti mbak,” ucap Bimo sambil menatap


ke arah Agnes.


“Tapi biarin saja dek, itu urusan mereka berdua. Kita


nggak usah ikut campur,” ucap Agnes sambil memegang gelas menggunakan kedua


tangannya.


Bimo menggigit pelan bibirnya.


Dia tatap ke arah gelas yang ada di depannya sambil


berfikir tentang keadaan keluarga Via.


Bagi dia, perpisahan seperti itu bisa membuat jiwa


kedua putera mereka jelas terganggu.


Mereka masih membutuhkan kehadiran Doni sebagai


bapaknya, apa jadinya jiwa mereka jika dalam keseharian tidak ada sosok pria


dewasa yang membimbing jiwa menuju ke arah dewasa.


Tapi


tiba-tiba Agnes bertanya, “Kamu beneran belum tahu apa yang sudah terjadi di


keluarga ini dek?”


Bimo


kaget sampai mengangkat kedua alisnya.


“Belum,


memang ada apa sih mbak?”


“Nanti


mbak ceritain, habisin dulu aja kopimu. Setelah ini kita main keluar.”


Bimo


mengernyitkan keningnya, dia menoleh ke arah Agnes yang


masih melendotkan punggungnya ke tubuh samping kanannya.


“Kenapa ngobrol di luar mbak? Di rumah ini kita cuma


berdua, nggak ada yang denger apa yang akan kita obrolkan. Mending ngobrol di


sini saja lho,” ucap Bimo dengan penuh keheranan.


“Nggak mau, mbak pengen ajak kamu jalan-jalan. Mumpung


mbak di Jogja, soalnya kalau besok mbak udah balik ke Solo. Jadi nggak bisa


jalan-jalan sama kamu.”


“Memang mau jalan-jalan kemana?”


“Ada deh, di Jogja ini banyak destinasi wisata yang


belum kamu tahu. Tempatnya asyik dan romantis, pasti kamu bakalan suka kalau ke


tempat itu.”


“Oh gitu, ya udah aku habisin dulu kopi ini terus mandi ya,” jawab Bimo sambil memasukkan kue ke dalammulutnya.


Agnes menganggukkan kepalanya lalu menegakkan


punggungnya.


Dia ambil gelas espressonya lalu dia seruput perlahan.


Tidak lama setelah itu Agnes berdiri lalu berjalan


menuju ke dapur untuk mengurusi cuciannya.


Bimo ikut berdiri dan berjalan menuju ke dalam kamar


Agnes.


Sesampainya di dalam kamar Agnes, dia lepas celana


panjang yang dia kenakan tadi lalu dia letakkan ke sandaran kursi.


Setelah itu dia berjalan menuju ke dalam kamar mandi


dengan mengenakan celana kolor sedengkul dan kaos dalaman.


Di saat Bimo masuk ke dalam kamar mandi, Agnes


tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan memeriksa isi dompet Bimo.


Dia lihat ada uang seratus ribuan sebanyak sepuluh


lembar dan lima puluh ribu tiga lembar.


Sisanya uang receh lima ribuan dan dua ribuan sepuluh


lembar.

__ADS_1


“Hemmm lumayan juga duit dia,” gumam Agnes dalam hati.


__ADS_2