
Di taman belakang tersedia berbagai jenis tanaman hias
dan tanaman obat-obatan yang bisa dia gunakan untuk membuat jamu.
Ada lengkuas, kunyit, kencur, kunyit putih, sereh,
daun sirih, sirih merah dan yang membuatnya kaget ternyata ada daun unik yang
nampak rimbun daunnya.
“Ini daun apa ya?” gumam Bimo dalam hati.
Bimo benar-benar lupa dengan daun yang ada di depannya
saat ini.
Dia merasa pernah melihatnya namun lupa di manakah
daun itu pernah dia lihat.
Akhirnya dia ingin mencari tahu jenis daun apakah yang
ada di belakang rumah budenya ini, dan dia akan mencari tahu melalui google
yang bisa dia akses melalui handphonenya.
Saat dia buka layar handphonenya, kedua kakinya merasa
sedikit pegal jika terus menerus berdiri.
Dia lalu mendatangi kursi yang ada di belakangnya.
Terlihat di kursi ada beberapa daun kering yang
berjatuhan di atasnya.
“Fuuuhhhh!” tiupnya dengan kuat
Daun pun berjatuhan ke rumput, dan segera dia duduki
sambil merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.
Setelah itu dia akses google untuk mencari jenis daun
apakah yang ada di dalam polybag tersebut.
Namun belum sampai dia berhasil menemukan jenis daun
tersebut, tiba-tiba sinyal di handphonenya menjadi melambat.
“Lah kok lemot banget sih, handphone burik!” umpat
Bimo sedikit kesal.
Dia tatap ke sekeliling taman.
Udaranya sangat segar di pagi itu, cuitan burung
gereja begitu terdengar merdu.
“Aneh bude ini, rumah sebagus ini malah ditinggal,”
gumam Bimo dalam hati.
Bimo menemukan kedamaian saat duduk sendiri di taman
belakang rumah ini.
Dia jadi lupa untuk mengakses internet di
handphonenya.
Gitar yang ada di tangannya, melupakan dirinya untuk
mencari tahu jenis apakah daun yang ada di depannya saat ini.
Dia malah menyetel senar gitar agar pas ditelinganya
saat dia petikkan berbagai kunci G maupun kunci C.
Tidak lama kemudian terdengar suara sendok yang
mengaduk minuman di dalam gelas.
Bimo sedikit terhenyak kaget karena tidak meminta
Agnes untuk membuatkan dirinya minuman, tapi tiba-tiba saja Agnes membuatkan
minuman untuknya.
Dia teringat kalau dirinya ingin bertanya kepada Agnes
tentang keadaan keluarga Via yang sesungguhnya, dan apa yang menjadi penyebab
perpisahan mereka.
Namun untuk menunggu kakaknya datang, dia mainkan
beberapa lagu dengan memetik gitar secara perlahan.
“Tiiinggg tiiiingggg tuuungggg tueeengggg,” bunyi
petikan gitar yang mengalun merdu.
Setelah merasa pas setelannya, mulailah Bimo
bernyanyi.
“Mbok ojo satru, satru wae sayaaang kuuuuuu,” ucap
Bimo saat mengambil bagian reff lagu Satru 2 yang diciptakan penyanyi tetangga
kota dengannya yaitu Deny Caknan.
“Tiingg tuuunnggg tiiingg tuuungggg,” bunyi gitar yang
kembali mengalun.
Tak lama kemudian mulailah dia menyanyikan lagu
diiringi petikan suara gitar yang mengalun dengan perlahan.
“Yen kangeeenn ngoomoongg kangeeennnn, rasah tukaran
waaee. Mbook dieman-eman, hubungaaneeee,” ucap Bimo sambil terus memainkan
petikan gitarnya.
Tak lama setelah itu terlihat Agnes berjalan menyusul
__ADS_1
dirinya sambil membawakan nampan yang berisi dua gelas espresso dan sepiring
kue camilan di dalamnya.
Bimo terus melanjutkan nyanyiannya saat melihat Agnes
datang membawakan makanan tersebut.
“Uwong sing tak tresnani, tak gawe sandaran atiiii.
Mbok ojo satru, satru waeee sayang kuuuu.”
Agnes tersenyum senang mendengar suara Bimo yang asyik
bernyanyi sambil memainkan gitar miliknya.
Dia lalu duduk di samping Bimo dan ikut bernyanyi
dengan nada yang dia sesuaikan dengan alunan petikan gitar yang Bimo mainkan.
Pagi ini terasa sejuk bagi Agnes, bisa bernyanyi sambil
menikmati camilan dan segelas espresso hangat.
Hal yang tidak pernah dia lakukan lagi selama tinggal
di rumah Via dan di kosnya Solo sana.
Dan pagi ini, dia bisa menikmati paginya berdua dengan
Bimo.
Sesekali dia dekatkan wajahnya ke pipi Bimo, dan Bimo pun
makin asyik untuk terus bernyanyi.
Bagi Agnes pagi ini sangat menyenangkan hatinya, dia
bisa bernyanyi berdua dengan seorang pria yang bisa memberikan ketenangan untuknya.
Entah apa hal, dia merasa nyaman saat bersama Bimo.
Bimo pun demikian, dia merasa nyaman saat bersama
kakak sepupunya Agnes.
Bisa bernyanyi dan bersenda gurau, tidak seperti
hari-harinya yang dia habiskan dengan berlatih dan berlatih agar bisa masuk ke
TNI.
***
Tanpa terasa sudah dua jam mereka bernyanyi sambil
menghabiskan kopi dan camilan.
Sinar mentari pun mulai terasa menyengat seiring
bergulirnya waktu.
Bimo tertawa senang dan ceria bisa bernyanyi dengan
Agnes, apalagi ternyata Agnes bisa menyanyikan lagu apa saja.
Bukan hanya lagu bahasa Indonesia, lagu-lagu jawa pun
Sejenak Bimo benar-benar lupa dengan masalah yang
sedang dia risaukan sebelumnya, begitu juga dengan Agnes.
Wajahnya terlihat begitu ceria dan lupa dengan masalah
yang telah membelitnya.
Usai lelah bernyanyi, Bimo memandangi lingkungan
sekitar rumah.
“Rumah ini asyik banget lho mbak, kenapa nggak tinggal
di sini saja mbak Agnes sama bude?” tanya Bimo sambil kepalanya berkeliling
menatap keadaan sekitar.
Agnes yang duduk di samping Bimo nampak ikut lelah,
dia lalu merebahkan tubuhnya ke pundak Bimo.
Tercium aroma harum dari baju dan tubuh Agnes yang
menyeruak masuk ke dalam dua lubang hidung Bimo.
“Aku belum mandi lho mbak, kok mbak lendotin seperti
ini,” ucap Bimo yang cukup sadar diri kalau aroma tubuhnya agak sedikit asam.
Agnes diam saja dan tidak memperdulikan ucapan Bimo,
dia nampak asyik-asyik saja saat berdekatan dengan tubuh adik sepupu yang dia
temui saat sudah besar dan beranjak dewasa.
“Mamah sehari-harinya sendiri dek, aku kan ngekos di
Solo. Mbak Renata juga di Solo.”
Bimo terhenyak kaget saat mendengar jawaban Agnes yang
mengatakan kalau Renata juga kerja di Solo.
“Eh bentar, beneran mbak Renata kerja di rumah sakit
Solo?” tanya Bimo sambil mengernyitkan keningnya.
“Iya, dia kerja di rumah sakit dokter Oen,” jawab
Agnes disertai anggukkan kepalanya pelan.
“Mbak pernah ketemu sama mbak Renata waktu di rumah
sakit?”
“Belum sih, tapi dia sering kok ke kos mbak pakek baju
seragam karyawan situ.”
“Oh iya to,” ucap Bimo sambil menganggukkan kepalanya
__ADS_1
pelan.
Bimo lalu meneguk sedikit mocachino untuk meredakan
ketegangannya, setelah itu dia letakkan kembali gelasnya ke atas meja.
Usai meletakkan gelas di atas meja, Bimo jadi teringat
dengan masalah yang dialami Via dan Doni.
“Eh mbak, status mbak Via sama mas Doni itu gimana ya?
Sudah resmi cerai, atau gimana?”
“Enggak kok, masih pisah ranjang aja. Mbak Via marah
gara-gara mas Doni melarang dia nyanyi di panggung ke panggung, sedangkan gaji
mas Doni sebagai PNS masih belum mencukupi kebutuhan mereka.”
Bimo mengernyitkan keningnya sambil menganggukkan
kepalanya sekali usai mendengar jawaban Agnes.
“Bener dugaan ku berarti mbak,” ucap Bimo sambil menatap
ke arah Agnes.
“Tapi biarin saja dek, itu urusan mereka berdua. Kita
nggak usah ikut campur,” ucap Agnes sambil memegang gelas menggunakan kedua
tangannya.
Bimo menggigit pelan bibirnya.
Dia tatap ke arah gelas yang ada di depannya sambil
berfikir tentang keadaan keluarga Via.
Bagi dia, perpisahan seperti itu bisa membuat jiwa
kedua putera mereka jelas terganggu.
Mereka masih membutuhkan kehadiran Doni sebagai
bapaknya, apa jadinya jiwa mereka jika dalam keseharian tidak ada sosok pria
dewasa yang membimbing jiwa menuju ke arah dewasa.
Tapi
tiba-tiba Agnes bertanya, “Kamu beneran belum tahu apa yang sudah terjadi di
keluarga ini dek?”
Bimo
kaget sampai mengangkat kedua alisnya.
“Belum,
memang ada apa sih mbak?”
“Nanti
mbak ceritain, habisin dulu aja kopimu. Setelah ini kita main keluar.”
Bimo
mengernyitkan keningnya, dia menoleh ke arah Agnes yang
masih melendotkan punggungnya ke tubuh samping kanannya.
“Kenapa ngobrol di luar mbak? Di rumah ini kita cuma
berdua, nggak ada yang denger apa yang akan kita obrolkan. Mending ngobrol di
sini saja lho,” ucap Bimo dengan penuh keheranan.
“Nggak mau, mbak pengen ajak kamu jalan-jalan. Mumpung
mbak di Jogja, soalnya kalau besok mbak udah balik ke Solo. Jadi nggak bisa
jalan-jalan sama kamu.”
“Memang mau jalan-jalan kemana?”
“Ada deh, di Jogja ini banyak destinasi wisata yang
belum kamu tahu. Tempatnya asyik dan romantis, pasti kamu bakalan suka kalau ke
tempat itu.”
“Oh gitu, ya udah aku habisin dulu kopi ini terus mandi ya,” jawab Bimo sambil memasukkan kue ke dalammulutnya.
Agnes menganggukkan kepalanya lalu menegakkan
punggungnya.
Dia ambil gelas espressonya lalu dia seruput perlahan.
Tidak lama setelah itu Agnes berdiri lalu berjalan
menuju ke dapur untuk mengurusi cuciannya.
Bimo ikut berdiri dan berjalan menuju ke dalam kamar
Agnes.
Sesampainya di dalam kamar Agnes, dia lepas celana
panjang yang dia kenakan tadi lalu dia letakkan ke sandaran kursi.
Setelah itu dia berjalan menuju ke dalam kamar mandi
dengan mengenakan celana kolor sedengkul dan kaos dalaman.
Di saat Bimo masuk ke dalam kamar mandi, Agnes
tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan memeriksa isi dompet Bimo.
Dia lihat ada uang seratus ribuan sebanyak sepuluh
lembar dan lima puluh ribu tiga lembar.
Sisanya uang receh lima ribuan dan dua ribuan sepuluh
lembar.
__ADS_1
“Hemmm lumayan juga duit dia,” gumam Agnes dalam hati.