Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 18


__ADS_3

Kali ini Bimo mendiamkan Agnes yang memeluk tubuhnya


dengan lebih erat.


Sebagai pria yang beranjak dewasa, dia coba menikmati


keberuntungan yang tiba-tiba dia dapatkan secara dadakan ini.


“Hehehe, lumayan dapat bakpao lembut,” gumam Bimo


dalam hati.


Namun dirinya tidak mau terlalu lama merasakan bakpao


kembar karena akal sehatnya masih berfungsi dengan baik.


Dia lalu berupaya menenangkan kakak sepupunya ini agar


bisa lebih tenang dalam menyikapi sebuah permasalhan yang sedang dia hadapi.


Perlahan dia usap punggung belakang kakak sepupunya


menggunakan tangan kanannya sambil berkata, “Iiiiyaa tenang aja, pasti aku


tolongin mbaakk. Memang ada masalah apa sih sampai nangis-nangis seperti ini?”


Agnes lalu melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Bimo.


Dia tatap wajah adik sepupunya ini dengan wajah yang


masih dipenuhi air mata.


Melihat wajah cantik Agnes dipenuhi air mata, membuat


Bimo tersenyum.


Perlahan dia hapus air mata yang membasahi wajah ayu


Agnes dengan kedua tangannya.


“Udaahhh, tenaang. Jangan nangis lagi, cerita dulu apa


masalah mbak sekarang?” tanya Bimo sambil menatap wajah kakak sepupunya.


“Mbak butuh duit buat bayar kuliah dek,” ucap Agnes


perlahan sambil mengusap wajahnya.


Bimo terhenyak kaget kali ini.


Rona wajahnya seketika berubah karena dia sendiri


aslinya juga memiliki masalah yang tidak jauh berbeda dengan Agnes.


Namun dia masih bingung memberi jawaban apa kepada


Agnes saat ini.


Ingin memberi bantuan, tapi duit tabungannya sudah


berkurang lebih dulu karena mengirimkan uang kepada Indri.


Jika dia biarkan Agnes berkutat dengan masalahnya,


hatinya tak bisa melihat kakak sepupunya nelangsa mengalami masalah seperti


ini.


Indri yang orang lain dan tidak ada hubungan


kekeluargaan saja dia bantu, masak iya kakak sepupu yang memiliki hubungan ikatan


tali persaudaraan malah dia biarkan begitu saja.


Hatinya yang biasa dipenuhi welas asih dan penuh


tenggang rasa ini nampak tidak bisa membiarkan kakaknya terus menangis seperti


ini.


Apalagi dia juga belum tahu berapa nominal yang Agnes


butuhkan untuk membayar daftar ulang kuliahnya.


Perlahan dia tarik nafas dan coba mengajak kakaknya


bicara.


“Memang butuh berapa duit itu mbak?” tanya Bimo


sembari menatap wajah ayu kakak sepupunya.


“Dua juta tiga ratus,” jawab Agnes dengan wajah muram.


Bimo terdiam, dia garuk kepalanya karena sedikit


bingung.


Uang Rp 2.300.000 merupakan uang yang sangat besar


bagi dirinya saat ini.


Masih bisa dia pakai untuk biaya hidup selama sebulan


di kota Jogja.


Perlahan dia tarik nafas lebih dalam, dia coba mencari


jawaban yang bisa membuat hati kakak sepupunya ini tidak gundah gulana terus


menerus.


“Eeemmmm gimana ya mbak?” ucap Bimo dengan wajah


bingung.


“Pinjemin ibu mu dek, atau ke bapak mu,” pinta Agnes


dengan sedikit manja lalu duduk di samping Bimo.


Bimo menggelengkan kepalanya, meminta uang kepada

__ADS_1


bapaknya jelas tidak mungkin dia lakukan.


Dia tahu kalau bapaknya tidak punya banyak duit,


walaupun bapaknya seorang perwira.


Selain sudah habis digunakan membayar cicilan rumah di


Surabaya, bapaknya juga masih membiayai sekolah ketiga adik dan Rita kakak


sepupunya yang sudah hampir selesai kuliahnya.


Apalagi kepergiannya dari rumah, harus dimulai dengan


drama pengusiran dari bapaknya.


Dan jika tiba-tiba sekarang dia meminta uang kepada


bapaknya, jelas itu akan sangat memalukan baginya.


“Enggak, aku nggak akan mau dan nggak akan pernah


minta uang ke bapak mbak. Sesulit dan sesempit apapun keadaan ku, mending aku


hidup gembel daripada minta uang ke bapak,” ujar Bimo menanggapi rengekan


Agnes.


“Ya ampun dek, please dong. Ini mbak minta tolong lho,


kamu jangan kaku gitu dong sama orang tua mu,” ucap Agnes dengan penuh harap.


Bimo kembali menggelengkan kepalanya pelan.


Dia yakin seyakinnya kalau bapaknya tidak akan mau


memberinya uang sekalipun dia mengatakan bahwa yang membutuhkan uang adalah


kakak sepupunya Agnes.


Karena dia juga tahu kalau bapaknya masih harus


membiayai kakak kandungnya yaitu Yudhistira yang sedang melanjutkan S1, biarpun


sudah berkarier di kepolisian.


Gaji kakaknya masih belum cukup untuk membiayai


kuliahnya sendiri, dan masih meminta uang kepada bapak dan ibunya.


Hanya dirinya yang selama ini sudah lepas dan tidak


pernah mendapat uang dari orang tuanya.


“Deekkk ayo doonggg, bantuin mbaak,” rengek Agnes


sambil merangkul tubuh Bimo lebih erat.


Bimo menganggukkan kepalanya berkali-kali dan mengusap


lengan Agnes.


“Iya iya iya, mbak yang sabar dulu ya. Jangan merengek


nangis, kalau mbak terus-terusan nangis. Aku nggak bisa mikir,” ucap Bimo


dengan pelan.


Agnes mengusap wajahnya dan mulai mereda tangisannya.


Setelah tangisan Agnes mulai mereda, Bimo baru mulai


bisa berfikir.


Akhirnya setelah dia berfikir, dia tetap akan membantu


Agnes namun tidak menggunakan uangnya karena biar bagaimana pun dia masih harus


mengutamakan dirinya lebih dulu.


Dia harus menyisihkan uang untuk kehidupannya sendiri


selama 12 hari lagi sampai bonus kemenangannya masuk ke dalam rekening.


Dia akan meminta uang kepada ibunya dengan alasan


butuh uang untuk biaya kuliahnya dia.


Walau itu sama artinya dia berbohong.


Terpaksa dia harus menjilat ludahnya sendiri demi


menolong kakak sepupunya.


Dia buka handphonenya dan coba menghubungi ibunya.


“Tuttt tuttt tuuttt!”


“Nggak aktif mbak,” ucap Bimo.


“Coba telepon bapak mu sih dek,” ucap Agnes.


Bimo menggelengkan kepalanya.


“Nggak kalau bapak, aku kemari karena ribut sama


beliau. Jadi nggak mungkin mbak minta duit ke beliau,” ucap Bimo dengan tegas.


Agnes menegang wajahnya.


Dia perlihatkan kebingungannya saat ini.


Bimo teringat kalau dia masih memiliki sepeda motor di


Madiun.


“Apa aku jual saja ya motor ku itu? Aku kan sekarang


tinggal di Jogja, jadi motor itu nggak akan kepakai. Nanti setelah duit dari


aplikasi cair, baru aku beli motor baru,” gumam Bimo dalam hati.

__ADS_1


Agnes menatap Bimo yang masih terlihat berfikir.


“Gimana dek?” tanya Agnes perlahan.


Bimo masih terdiam karena mengingat kalau saat ini dia masih belum bisa bekerja


karena laptop utama yang biasa dia gunakan untuk kerja masih dalam keadaan


rusak.


Biar pun saat ini dia masih memiliki 1 lagi laptop


cadangan, namun dia merasa itu belum bisa bekerja dengan cepat karena tidak


semua aplikasi yang dia butuhkan ada di laptop cadangannya tersebut.


Bimo menggigit bibirnya pelan.


Dia jadi ragu karena uang tabungannya tersisa Rp


3.600.000,- di rekening.


Jika dia berikan kepada Agnes, maka tersisa Rp


1.300.000,- lagi.


Uang segitu pikir dia masih cukup untuk hidup dia


selama seminggu atau dua minggu lagi, tapi itu jika bonusnya segera masuk


rekening.


Jika tidak segera masuk ke dalam rekening, maka dia


akan kehabisan uang dan terpaksa meminta uang kepada orang tuanya.


Hal yang sangat memalukan bagi dirinya sendiri sebagai


seorang lelaki.


Karena semenjak dia SMA hingga sekarang, dirinya tak


pernah meminta uang kepada bapak dan ibunya.


Kecuali dia disuruh bapak atau ibunya untuk membeli


barang untuk keperluan bisnis kedua orang tuanya, baru dia menerima uang dari


orang tuanya.


Ingin bersikap cuek, dia merasa tidak enak karena


dirinya tinggal di rumah budenya.


Tapi jika dia membantu, sisa tabungannya akan semakin


menipis.


“Eee mbak kapan lunasi uang kuliah itu?” tanya Bimo


sambil menatap wajah Agnes.


“Besok dek,” jawab Agnes dengan wajah muram.


“Loh uang beasiswa mbak Agneskan ada, kenapa nggak


mbak pakai itu?” tanya Bimo dengan wajah penuh tanya.


“Itulah dek, uang beasiswa mbak itu kepakek kemarin


buat mbak beli kebutuhan mamah,” jawab Agnes dengan nada seperti orang mau


menangis.


Bimo mengernyitkan keningnya.


“Kepakek buat bude?” ucap Bimo pelan.


Agnes  menganggukkan kepalanya pelan.


“Aduh gimana ya mbak,” ucap Bimo yang nampak ragu


untuk meminjamkan uagnya kepada Agnes.


“Kira-kira ada nggak dek?” tanya Agnes sambil menatap


wajah Bimo.


Bimo lalu mengeluarkan dompetnya.


Dia lihat di dalam dompetnya masih ada uang Rp 1 juta


lebih sedikit.


“Ini sisa duit ku mbak,” ucap Bimo.


Agnes melihat jumlah uang yang ada di dalam dompet


Bimo.


“Eee mbak pinjem lima ratus boleh nggak dek?” tanya


Agnes dengan wajah masam.


“Ya udah, ambil aja. Nggak usah pinjem,” jawab Bimo


lalu mengambil lima lembar seratusan dan dia berikan kepada Agnes.


Agnes menerima uang dari Bimo dengan wajah


berseri-seri.


“Tapi masih kurang sejuta delapan ratus lagi mbak,”


ucap Bimo sambil menatap wajah Agnes.


“Nggak apa-apa, nanti nunggu dari kamu aja sisanya,”


jawab Agnes sambil tersenyum menatap Bimo.


Dia lalu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air

__ADS_1


putih, setelah itu dia teguk dengan perlahan sambil berdiri.


__ADS_2