
Kali ini Bimo mendiamkan Agnes yang memeluk tubuhnya
dengan lebih erat.
Sebagai pria yang beranjak dewasa, dia coba menikmati
keberuntungan yang tiba-tiba dia dapatkan secara dadakan ini.
“Hehehe, lumayan dapat bakpao lembut,” gumam Bimo
dalam hati.
Namun dirinya tidak mau terlalu lama merasakan bakpao
kembar karena akal sehatnya masih berfungsi dengan baik.
Dia lalu berupaya menenangkan kakak sepupunya ini agar
bisa lebih tenang dalam menyikapi sebuah permasalhan yang sedang dia hadapi.
Perlahan dia usap punggung belakang kakak sepupunya
menggunakan tangan kanannya sambil berkata, “Iiiiyaa tenang aja, pasti aku
tolongin mbaakk. Memang ada masalah apa sih sampai nangis-nangis seperti ini?”
Agnes lalu melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Bimo.
Dia tatap wajah adik sepupunya ini dengan wajah yang
masih dipenuhi air mata.
Melihat wajah cantik Agnes dipenuhi air mata, membuat
Bimo tersenyum.
Perlahan dia hapus air mata yang membasahi wajah ayu
Agnes dengan kedua tangannya.
“Udaahhh, tenaang. Jangan nangis lagi, cerita dulu apa
masalah mbak sekarang?” tanya Bimo sambil menatap wajah kakak sepupunya.
“Mbak butuh duit buat bayar kuliah dek,” ucap Agnes
perlahan sambil mengusap wajahnya.
Bimo terhenyak kaget kali ini.
Rona wajahnya seketika berubah karena dia sendiri
aslinya juga memiliki masalah yang tidak jauh berbeda dengan Agnes.
Namun dia masih bingung memberi jawaban apa kepada
Agnes saat ini.
Ingin memberi bantuan, tapi duit tabungannya sudah
berkurang lebih dulu karena mengirimkan uang kepada Indri.
Jika dia biarkan Agnes berkutat dengan masalahnya,
hatinya tak bisa melihat kakak sepupunya nelangsa mengalami masalah seperti
ini.
Indri yang orang lain dan tidak ada hubungan
kekeluargaan saja dia bantu, masak iya kakak sepupu yang memiliki hubungan ikatan
tali persaudaraan malah dia biarkan begitu saja.
Hatinya yang biasa dipenuhi welas asih dan penuh
tenggang rasa ini nampak tidak bisa membiarkan kakaknya terus menangis seperti
ini.
Apalagi dia juga belum tahu berapa nominal yang Agnes
butuhkan untuk membayar daftar ulang kuliahnya.
Perlahan dia tarik nafas dan coba mengajak kakaknya
bicara.
“Memang butuh berapa duit itu mbak?” tanya Bimo
sembari menatap wajah ayu kakak sepupunya.
“Dua juta tiga ratus,” jawab Agnes dengan wajah muram.
Bimo terdiam, dia garuk kepalanya karena sedikit
bingung.
Uang Rp 2.300.000 merupakan uang yang sangat besar
bagi dirinya saat ini.
Masih bisa dia pakai untuk biaya hidup selama sebulan
di kota Jogja.
Perlahan dia tarik nafas lebih dalam, dia coba mencari
jawaban yang bisa membuat hati kakak sepupunya ini tidak gundah gulana terus
menerus.
“Eeemmmm gimana ya mbak?” ucap Bimo dengan wajah
bingung.
“Pinjemin ibu mu dek, atau ke bapak mu,” pinta Agnes
dengan sedikit manja lalu duduk di samping Bimo.
Bimo menggelengkan kepalanya, meminta uang kepada
__ADS_1
bapaknya jelas tidak mungkin dia lakukan.
Dia tahu kalau bapaknya tidak punya banyak duit,
walaupun bapaknya seorang perwira.
Selain sudah habis digunakan membayar cicilan rumah di
Surabaya, bapaknya juga masih membiayai sekolah ketiga adik dan Rita kakak
sepupunya yang sudah hampir selesai kuliahnya.
Apalagi kepergiannya dari rumah, harus dimulai dengan
drama pengusiran dari bapaknya.
Dan jika tiba-tiba sekarang dia meminta uang kepada
bapaknya, jelas itu akan sangat memalukan baginya.
“Enggak, aku nggak akan mau dan nggak akan pernah
minta uang ke bapak mbak. Sesulit dan sesempit apapun keadaan ku, mending aku
hidup gembel daripada minta uang ke bapak,” ujar Bimo menanggapi rengekan
Agnes.
“Ya ampun dek, please dong. Ini mbak minta tolong lho,
kamu jangan kaku gitu dong sama orang tua mu,” ucap Agnes dengan penuh harap.
Bimo kembali menggelengkan kepalanya pelan.
Dia yakin seyakinnya kalau bapaknya tidak akan mau
memberinya uang sekalipun dia mengatakan bahwa yang membutuhkan uang adalah
kakak sepupunya Agnes.
Karena dia juga tahu kalau bapaknya masih harus
membiayai kakak kandungnya yaitu Yudhistira yang sedang melanjutkan S1, biarpun
sudah berkarier di kepolisian.
Gaji kakaknya masih belum cukup untuk membiayai
kuliahnya sendiri, dan masih meminta uang kepada bapak dan ibunya.
Hanya dirinya yang selama ini sudah lepas dan tidak
pernah mendapat uang dari orang tuanya.
“Deekkk ayo doonggg, bantuin mbaak,” rengek Agnes
sambil merangkul tubuh Bimo lebih erat.
Bimo menganggukkan kepalanya berkali-kali dan mengusap
lengan Agnes.
“Iya iya iya, mbak yang sabar dulu ya. Jangan merengek
nangis, kalau mbak terus-terusan nangis. Aku nggak bisa mikir,” ucap Bimo
dengan pelan.
Agnes mengusap wajahnya dan mulai mereda tangisannya.
Setelah tangisan Agnes mulai mereda, Bimo baru mulai
bisa berfikir.
Akhirnya setelah dia berfikir, dia tetap akan membantu
Agnes namun tidak menggunakan uangnya karena biar bagaimana pun dia masih harus
mengutamakan dirinya lebih dulu.
Dia harus menyisihkan uang untuk kehidupannya sendiri
selama 12 hari lagi sampai bonus kemenangannya masuk ke dalam rekening.
Dia akan meminta uang kepada ibunya dengan alasan
butuh uang untuk biaya kuliahnya dia.
Walau itu sama artinya dia berbohong.
Terpaksa dia harus menjilat ludahnya sendiri demi
menolong kakak sepupunya.
Dia buka handphonenya dan coba menghubungi ibunya.
“Tuttt tuttt tuuttt!”
“Nggak aktif mbak,” ucap Bimo.
“Coba telepon bapak mu sih dek,” ucap Agnes.
Bimo menggelengkan kepalanya.
“Nggak kalau bapak, aku kemari karena ribut sama
beliau. Jadi nggak mungkin mbak minta duit ke beliau,” ucap Bimo dengan tegas.
Agnes menegang wajahnya.
Dia perlihatkan kebingungannya saat ini.
Bimo teringat kalau dia masih memiliki sepeda motor di
Madiun.
“Apa aku jual saja ya motor ku itu? Aku kan sekarang
tinggal di Jogja, jadi motor itu nggak akan kepakai. Nanti setelah duit dari
aplikasi cair, baru aku beli motor baru,” gumam Bimo dalam hati.
__ADS_1
Agnes menatap Bimo yang masih terlihat berfikir.
“Gimana dek?” tanya Agnes perlahan.
Bimo masih terdiam karena mengingat kalau saat ini dia masih belum bisa bekerja
karena laptop utama yang biasa dia gunakan untuk kerja masih dalam keadaan
rusak.
Biar pun saat ini dia masih memiliki 1 lagi laptop
cadangan, namun dia merasa itu belum bisa bekerja dengan cepat karena tidak
semua aplikasi yang dia butuhkan ada di laptop cadangannya tersebut.
Bimo menggigit bibirnya pelan.
Dia jadi ragu karena uang tabungannya tersisa Rp
3.600.000,- di rekening.
Jika dia berikan kepada Agnes, maka tersisa Rp
1.300.000,- lagi.
Uang segitu pikir dia masih cukup untuk hidup dia
selama seminggu atau dua minggu lagi, tapi itu jika bonusnya segera masuk
rekening.
Jika tidak segera masuk ke dalam rekening, maka dia
akan kehabisan uang dan terpaksa meminta uang kepada orang tuanya.
Hal yang sangat memalukan bagi dirinya sendiri sebagai
seorang lelaki.
Karena semenjak dia SMA hingga sekarang, dirinya tak
pernah meminta uang kepada bapak dan ibunya.
Kecuali dia disuruh bapak atau ibunya untuk membeli
barang untuk keperluan bisnis kedua orang tuanya, baru dia menerima uang dari
orang tuanya.
Ingin bersikap cuek, dia merasa tidak enak karena
dirinya tinggal di rumah budenya.
Tapi jika dia membantu, sisa tabungannya akan semakin
menipis.
“Eee mbak kapan lunasi uang kuliah itu?” tanya Bimo
sambil menatap wajah Agnes.
“Besok dek,” jawab Agnes dengan wajah muram.
“Loh uang beasiswa mbak Agneskan ada, kenapa nggak
mbak pakai itu?” tanya Bimo dengan wajah penuh tanya.
“Itulah dek, uang beasiswa mbak itu kepakek kemarin
buat mbak beli kebutuhan mamah,” jawab Agnes dengan nada seperti orang mau
menangis.
Bimo mengernyitkan keningnya.
“Kepakek buat bude?” ucap Bimo pelan.
Agnes menganggukkan kepalanya pelan.
“Aduh gimana ya mbak,” ucap Bimo yang nampak ragu
untuk meminjamkan uagnya kepada Agnes.
“Kira-kira ada nggak dek?” tanya Agnes sambil menatap
wajah Bimo.
Bimo lalu mengeluarkan dompetnya.
Dia lihat di dalam dompetnya masih ada uang Rp 1 juta
lebih sedikit.
“Ini sisa duit ku mbak,” ucap Bimo.
Agnes melihat jumlah uang yang ada di dalam dompet
Bimo.
“Eee mbak pinjem lima ratus boleh nggak dek?” tanya
Agnes dengan wajah masam.
“Ya udah, ambil aja. Nggak usah pinjem,” jawab Bimo
lalu mengambil lima lembar seratusan dan dia berikan kepada Agnes.
Agnes menerima uang dari Bimo dengan wajah
berseri-seri.
“Tapi masih kurang sejuta delapan ratus lagi mbak,”
ucap Bimo sambil menatap wajah Agnes.
“Nggak apa-apa, nanti nunggu dari kamu aja sisanya,”
jawab Agnes sambil tersenyum menatap Bimo.
Dia lalu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air
__ADS_1
putih, setelah itu dia teguk dengan perlahan sambil berdiri.