Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 13


__ADS_3

Agnes menutup kembali dompet Bimo dan dia masukkan ke


dalam saku celana adik sepupunya.


Setelah itu dia keluar dari kamar untuk menuju ke


dapur untuk memberesi cuciannya.


Lima belas menit kemudian, Bimo telah selesai mandi dan keluar dari dalam kamar mandi dengan


mengenakan handuk yang menutup bagian bawahnya saja.


Dia segera berjalan menuju ke dalam kamar Agnes dan


mengenakan pakaian untuk pergi.


Kali ini dia kenakan kaos berkerah dengan kain yang


dingin warna kuning keoranyean, dan celana panjang dari kain jeans warna hitam


legam.


Sangat pas dengan kulitnya yang putih sedikit


kekuningan.


Sepatu kets warna hitam kombinasi putih dengan tali


kuning, dan tak lupa pula topi model kodok patino warna abu-abu yang biasa


digunakan oleh para musisi ataupun seniman saat mengisi di depan panggung.


Topi dia selipkan di saku celana belakang sebelah kiri


dan akan dia gunakan saat berjalan di luar rumah.


Dia biasa menggunakan topi tersebut seakan ingin


mengatakan kepada semua orang bahwa dia adalah seorang seniman muda yang


memiliki kemampuan menghibur banyak orang.


Tak lupa parfum berharga mahal dia semprotkan ke


bagian penting tubuh dan bajunya.


Bagi dia, seorang seniman tidak boleh berpenampilan


apa adanya seperti gembel.


Seorang seniman harus berpenampilan yang maksimal,


keren, kece dan wangi.


Karena tugas seorang seniman menghibur khalayak ramai,


maka dia harus bisa berpenampilan yang menarik dan penuh dengan improvisasi.


“Yuk mbak,” ajak Bimo yang sudah terlihat keren.


Agnes tersenyum lebar melihat penampilan Bimo yang


benar-benar mirip artis.


“Ya ampun, ganteng dan keren banget kamu dek,” puji


Agnes dalam hati.


Agnes segera mengambil jaket tipisnya agar kulit


putihnya terhindar dari paparan sinar mentari yang mulai terasa terik di pagi itu.


Bimo kemudian berjalan lebih dulu ke depan karena


sudah tidak sabar ingin berjalan-jalan dengan Agnes.


Dia memang sudah lama mendengar berbagai obyek wisata di Jogja ini, namun tak sekalipun dia


pernah mendatanginya.


Karena sehari-harinya selama ini sibuk dengan berlatih


dan membuat desain gambar untuk mengikuti lomba desain serta membuatkan gambar


baju dan rumah untuk mendukung bisnis ibunya.


“Udah siap dek?” tanya Agnes yang sudah ada di ruang tamu.


“Udah mbak,” jawab Bimo dengan wajah sumringah.


Agnes tersenyum manis menatap wajah Bimo yang terlihat


bersih dan rapi.


Dia tak kuat menahan mulutnya untuk tidak memuji adik


sepupunya ini.


Setelah mengenakan helm, Bimo lalu membawa keluar


motor Agnes.


Dan Agnes mengunci semua pintu rumah dan segera


menyusul Bimo yang sudah duduk di atas motor matic menunggu dirinya datang.

__ADS_1


Sambil naik ke jok belakang, dia ajak adik sepupunya


ini bicara.


“Kamu keren banget dek, udah punya pacar belum?” tanya


Agnes lalu merangkulkan kedua tangannya ke perut Bimo.


Bimo terdiam tidak menjawab pertanyaan Agnes.


“Dek, udah punya pacar belum?” tanya Agnes yang


mengulangi pertanyaannya.


Bimo lalu mengambil dompetnya, dan dia perlihatkan


foto seorang gadis cantik berambut lurus pendek dengan kulit yang putih bersih.


“Udah, ne orangnya,” jawab Bimo sambil menunjukkan foto


gadis di dompetnya.


Agnes menatap foto gadis di dalam dompet Bimo.


“Ih cantik dek, tapi kamu nemen amat sih!” sahut Agnes


lalu menepuk lengan Bimo dengan kuat.


Bimo hanya tertawa kecil sambil menghidupkan mesin motor.


“Lah, kenapa memang?”


“Belum juga jadi istri udah nyimpen foto dia di situ.”


“Ya nggak apa-apalah, kan buat penyemangat hidup dan


pengingat kalau aku punya pacar mbak,” jawab Bimo lalu memasukkan dompetnya ke


dalam saku celananya kembali.


“Ya udah deh terserah kamu, yang penting kamu bahagia,”


ucap Agnes dengan wajah sedikit sewot.


Bimo hanya tersenyum mendengar ucapan Agnes, dia


hidupkan mesin motor dan setelah itu mereka segera berjalan menuju keluar dari


perkampungan.


Mereka berdua kemudian menuju ke jalan besar.


Motor pun menelusuri jalanan beraspal di kota Jogja


Bimo melihat ada papan penunjuk ke arah pantai Parangtritis.


“Mbak, itu ke arah pantai parangtritis ya?”


“Iya, kenapa? Kamu pengen ke pantai ya?”


“He eh, aku nggak pernah ke pantai soalnya.”


“Ya udah kita ke sana, ikuti aja jalan itu,” ucap


Agnes sambil mengarahkan wajahnya ke arah jalan yang menuju ke parangtritis.


Bimo lalu mengarahkan motor untuk menuju ke pantai


parangtritis.


Dengan senang Agnes pun menuruti ajakan Bimo.


Bimo yang masih memiliki uang tabungan dari kemenangan


berbagai lomba desain yang dia ikuti, ingin pergi ke pantai karena selama ini


belum pernah sekalipun bermain ke parangtritis.


Sesampainya di sana, dia ambil foto mereka berdua.


Agnes pun dengan senang mengambil foto dirinya dan


Bimo dengan berbagai pose.


Mulai dari gaya saat sendirian, berdua dan berbagai


gaya lainnya.


Terlihat mereka nampak begitu mesra saat berdua.


***


Tanpa terasa hari pun masuk waktu siang.


Adzan dhuhur terdengar berkumandang dari sebuah masjid


kecil yang ada di sekitar pantai.


Saat itu Bimo dan Agnes sedang berada di bibir pantai


untuk mengambil foto berdua.


“Kita shalat dulu yuk mbak,” ajak Bimo.


Agnes nampak ogah-ogahan mengikuti ajakan Bimo.

__ADS_1


Hal ini dikarenakan perut Agnes sudah mulai terasa


lapar.


“Kita makan aja dulu yuk dek, mbak udah laper ne


soalnya,” ucap Agnes dengan wajah kelaparan.


Bimo mengernyitkan keningnya.


“Memang


tadi kurang kenyang apa mbak makannya?” tanya Bimo penuh keheranan.


“Ini udah siang tau dek, ya jelas udah laper lagi dong,” jawab


Agnes sambil berjalan meninggalkan Bimo menuju ke sebuah warung makan.


Bimo berlari menyusul Agnes.


“Aduh mbak, tadi mbak Via udah bawain aku makanan tuh?


Nggak kemakan dong nanti makanan ku mbak?”


“Udah gampang, masukin ke kulkas aja. Nanti bisa


tinggal dipanasin lagi kalau mau makan. Itu masih bisa buat nanti malam sampai


besok kok.”


Bimo sejenak terdiam lalu menganggukkan kepalanya dan kemudian


mengikuti Agnes yang memilih duduk di bagian pojok warung makan yang menyediakan berbagai olahan ikan laut.


“Mbak pesenin bawal bakarya?” tawar Agnes.


Bimo membaca buku menu yang ada di depannya.


“Ya udah, samain aja kaya mbak,” jawabBimo


sambil tersenyum.


“Ya


udah,” sahut Agnes yang kemudian berjalan menuju dalam


warung.


Bimo


duduk sambil memandangi suasana sekitar warung.


Kedua


matanyalalu menoleh ke arah lautan yang berwarna


kebiru-biruan saat dari kejauhan.


Ombak nampak begitu besar disertai angin kencang


menerpa wajah.


Tidak


berapa lama Agnes sudah duduk kembali di depannya.


“Dek, ini kayaknya lama masaknya. Kalau mau shalat


dulu nggak apa-apa, biar mbak tungguin di sini aja,” ucap Agnes pelan.


Bimo mengangkat kedua alisnya.


“Ya udah aku tinggal shalat dulu ya mbak,” ucap Bimo


lalu berdiri dari duduknya.


Bimo berlarian menuju ke masjid yang ada di sekitar


pantai, dia tidak mau ketinggalan waktu berjamaah dengan wisatawan lokal yang


kebetulan ikut shalat berjamaah di masjid kecil yang ada di sekitar pantai.


Singkat cerita, usai shalat berjamaah.


Bimo segera kembali ke tempat Agnes dia tinggalkan.


Dari kejauhan dia melihat Agnes nampak sedang berdiri


dengan wajah tegang.


Di depan Agnes berdiri seorang pria tampan, berwajah


putih bersih dengan rambut dibelah tengah.


Tingginya 165 cm, dengan berat badan 68 kg.


Pria itu nampak memukul meja dan membentak Agnes


dengan kuat.


“Bruuaakkk!”


“Kayak gitu kamu ya! Sekarang aku nggak perduli!


Balikin duit ku cepattt!” maki si pria sambil marah-marah ke arah Agens.

__ADS_1


__ADS_2