
Agnes menutup kembali dompet Bimo dan dia masukkan ke
dalam saku celana adik sepupunya.
Setelah itu dia keluar dari kamar untuk menuju ke
dapur untuk memberesi cuciannya.
Lima belas menit kemudian, Bimo telah selesai mandi dan keluar dari dalam kamar mandi dengan
mengenakan handuk yang menutup bagian bawahnya saja.
Dia segera berjalan menuju ke dalam kamar Agnes dan
mengenakan pakaian untuk pergi.
Kali ini dia kenakan kaos berkerah dengan kain yang
dingin warna kuning keoranyean, dan celana panjang dari kain jeans warna hitam
legam.
Sangat pas dengan kulitnya yang putih sedikit
kekuningan.
Sepatu kets warna hitam kombinasi putih dengan tali
kuning, dan tak lupa pula topi model kodok patino warna abu-abu yang biasa
digunakan oleh para musisi ataupun seniman saat mengisi di depan panggung.
Topi dia selipkan di saku celana belakang sebelah kiri
dan akan dia gunakan saat berjalan di luar rumah.
Dia biasa menggunakan topi tersebut seakan ingin
mengatakan kepada semua orang bahwa dia adalah seorang seniman muda yang
memiliki kemampuan menghibur banyak orang.
Tak lupa parfum berharga mahal dia semprotkan ke
bagian penting tubuh dan bajunya.
Bagi dia, seorang seniman tidak boleh berpenampilan
apa adanya seperti gembel.
Seorang seniman harus berpenampilan yang maksimal,
keren, kece dan wangi.
Karena tugas seorang seniman menghibur khalayak ramai,
maka dia harus bisa berpenampilan yang menarik dan penuh dengan improvisasi.
“Yuk mbak,” ajak Bimo yang sudah terlihat keren.
Agnes tersenyum lebar melihat penampilan Bimo yang
benar-benar mirip artis.
“Ya ampun, ganteng dan keren banget kamu dek,” puji
Agnes dalam hati.
Agnes segera mengambil jaket tipisnya agar kulit
putihnya terhindar dari paparan sinar mentari yang mulai terasa terik di pagi itu.
Bimo kemudian berjalan lebih dulu ke depan karena
sudah tidak sabar ingin berjalan-jalan dengan Agnes.
Dia memang sudah lama mendengar berbagai obyek wisata di Jogja ini, namun tak sekalipun dia
pernah mendatanginya.
Karena sehari-harinya selama ini sibuk dengan berlatih
dan membuat desain gambar untuk mengikuti lomba desain serta membuatkan gambar
baju dan rumah untuk mendukung bisnis ibunya.
“Udah siap dek?” tanya Agnes yang sudah ada di ruang tamu.
“Udah mbak,” jawab Bimo dengan wajah sumringah.
Agnes tersenyum manis menatap wajah Bimo yang terlihat
bersih dan rapi.
Dia tak kuat menahan mulutnya untuk tidak memuji adik
sepupunya ini.
Setelah mengenakan helm, Bimo lalu membawa keluar
motor Agnes.
Dan Agnes mengunci semua pintu rumah dan segera
menyusul Bimo yang sudah duduk di atas motor matic menunggu dirinya datang.
__ADS_1
Sambil naik ke jok belakang, dia ajak adik sepupunya
ini bicara.
“Kamu keren banget dek, udah punya pacar belum?” tanya
Agnes lalu merangkulkan kedua tangannya ke perut Bimo.
Bimo terdiam tidak menjawab pertanyaan Agnes.
“Dek, udah punya pacar belum?” tanya Agnes yang
mengulangi pertanyaannya.
Bimo lalu mengambil dompetnya, dan dia perlihatkan
foto seorang gadis cantik berambut lurus pendek dengan kulit yang putih bersih.
“Udah, ne orangnya,” jawab Bimo sambil menunjukkan foto
gadis di dompetnya.
Agnes menatap foto gadis di dalam dompet Bimo.
“Ih cantik dek, tapi kamu nemen amat sih!” sahut Agnes
lalu menepuk lengan Bimo dengan kuat.
Bimo hanya tertawa kecil sambil menghidupkan mesin motor.
“Lah, kenapa memang?”
“Belum juga jadi istri udah nyimpen foto dia di situ.”
“Ya nggak apa-apalah, kan buat penyemangat hidup dan
pengingat kalau aku punya pacar mbak,” jawab Bimo lalu memasukkan dompetnya ke
dalam saku celananya kembali.
“Ya udah deh terserah kamu, yang penting kamu bahagia,”
ucap Agnes dengan wajah sedikit sewot.
Bimo hanya tersenyum mendengar ucapan Agnes, dia
hidupkan mesin motor dan setelah itu mereka segera berjalan menuju keluar dari
perkampungan.
Mereka berdua kemudian menuju ke jalan besar.
Motor pun menelusuri jalanan beraspal di kota Jogja
Bimo melihat ada papan penunjuk ke arah pantai Parangtritis.
“Mbak, itu ke arah pantai parangtritis ya?”
“Iya, kenapa? Kamu pengen ke pantai ya?”
“He eh, aku nggak pernah ke pantai soalnya.”
“Ya udah kita ke sana, ikuti aja jalan itu,” ucap
Agnes sambil mengarahkan wajahnya ke arah jalan yang menuju ke parangtritis.
Bimo lalu mengarahkan motor untuk menuju ke pantai
parangtritis.
Dengan senang Agnes pun menuruti ajakan Bimo.
Bimo yang masih memiliki uang tabungan dari kemenangan
berbagai lomba desain yang dia ikuti, ingin pergi ke pantai karena selama ini
belum pernah sekalipun bermain ke parangtritis.
Sesampainya di sana, dia ambil foto mereka berdua.
Agnes pun dengan senang mengambil foto dirinya dan
Bimo dengan berbagai pose.
Mulai dari gaya saat sendirian, berdua dan berbagai
gaya lainnya.
Terlihat mereka nampak begitu mesra saat berdua.
***
Tanpa terasa hari pun masuk waktu siang.
Adzan dhuhur terdengar berkumandang dari sebuah masjid
kecil yang ada di sekitar pantai.
Saat itu Bimo dan Agnes sedang berada di bibir pantai
untuk mengambil foto berdua.
“Kita shalat dulu yuk mbak,” ajak Bimo.
Agnes nampak ogah-ogahan mengikuti ajakan Bimo.
__ADS_1
Hal ini dikarenakan perut Agnes sudah mulai terasa
lapar.
“Kita makan aja dulu yuk dek, mbak udah laper ne
soalnya,” ucap Agnes dengan wajah kelaparan.
Bimo mengernyitkan keningnya.
“Memang
tadi kurang kenyang apa mbak makannya?” tanya Bimo penuh keheranan.
“Ini udah siang tau dek, ya jelas udah laper lagi dong,” jawab
Agnes sambil berjalan meninggalkan Bimo menuju ke sebuah warung makan.
Bimo berlari menyusul Agnes.
“Aduh mbak, tadi mbak Via udah bawain aku makanan tuh?
Nggak kemakan dong nanti makanan ku mbak?”
“Udah gampang, masukin ke kulkas aja. Nanti bisa
tinggal dipanasin lagi kalau mau makan. Itu masih bisa buat nanti malam sampai
besok kok.”
Bimo sejenak terdiam lalu menganggukkan kepalanya dan kemudian
mengikuti Agnes yang memilih duduk di bagian pojok warung makan yang menyediakan berbagai olahan ikan laut.
“Mbak pesenin bawal bakarya?” tawar Agnes.
Bimo membaca buku menu yang ada di depannya.
“Ya udah, samain aja kaya mbak,” jawabBimo
sambil tersenyum.
“Ya
udah,” sahut Agnes yang kemudian berjalan menuju dalam
warung.
Bimo
duduk sambil memandangi suasana sekitar warung.
Kedua
matanyalalu menoleh ke arah lautan yang berwarna
kebiru-biruan saat dari kejauhan.
Ombak nampak begitu besar disertai angin kencang
menerpa wajah.
Tidak
berapa lama Agnes sudah duduk kembali di depannya.
“Dek, ini kayaknya lama masaknya. Kalau mau shalat
dulu nggak apa-apa, biar mbak tungguin di sini aja,” ucap Agnes pelan.
Bimo mengangkat kedua alisnya.
“Ya udah aku tinggal shalat dulu ya mbak,” ucap Bimo
lalu berdiri dari duduknya.
Bimo berlarian menuju ke masjid yang ada di sekitar
pantai, dia tidak mau ketinggalan waktu berjamaah dengan wisatawan lokal yang
kebetulan ikut shalat berjamaah di masjid kecil yang ada di sekitar pantai.
Singkat cerita, usai shalat berjamaah.
Bimo segera kembali ke tempat Agnes dia tinggalkan.
Dari kejauhan dia melihat Agnes nampak sedang berdiri
dengan wajah tegang.
Di depan Agnes berdiri seorang pria tampan, berwajah
putih bersih dengan rambut dibelah tengah.
Tingginya 165 cm, dengan berat badan 68 kg.
Pria itu nampak memukul meja dan membentak Agnes
dengan kuat.
“Bruuaakkk!”
“Kayak gitu kamu ya! Sekarang aku nggak perduli!
Balikin duit ku cepattt!” maki si pria sambil marah-marah ke arah Agens.
__ADS_1