
Malam setelah menjalankan shalat maghrib, di saat semua keluarga tengah bersiap untuk
makan malam.
Bimo
yang menjadi satu-satunya pria dewasa di rumah itu seperti biasa coba meringankan pekerjaan kakak sepupunya yang tengah
masak di dapur.
Namun dia menjadi sedikit bingung, karena sampai
masuk waktu Maghrib.
Doni suami Via masih belum sampai di rumah.
Sambil membantu Via, dia coba tanyakan keberadaan Doni
kepada kakak sepupunya.
“Mas
Doni kemana mbak?” tanya Bimo sambil membantu mencuci piring.
“Udah nggak di sini, udahlah jangan tanya-tanya dia lagi,” jawab
Via sambil mengiris cabe.
Bimo terhenyak kaget saat mendengar jawaban dari Via.
Dia baru tahu kalau ternyata sedang ada masalah besar
yang terjadi pada keluarga kakak sepupunya saat ini.
Ingin bertanya lebih jauh tentang masalah apa yang
terjadi pada mereka, dia tidak enak karena khawatir membuat Via marah.
Apalagi dia lihat Via nampak begitu sibuk mempersiapkan makan malam untuk seluruh
keluarganya.
Bukan jawaban berupa omongan yang mungkin akan dia
terima, melainkan lemparan sotil yang seringkali Via lakukan saat stress tengah
melanda.
Usai mencuci piring dan perkakas lainnya, dia coba dekati Via yang kali ini tengah
mengiris cabe kecil-kecil untuk dicampur ke sayuran yang tengah direbus di atas wajan.
“Sini
aku bantu ngaduk sayurnya mbak,” ucap Bimo lalumengambil alih sotil besi untuk masak.
Perlahan kemudian diaaduk-aduk tumis
kangkung yang dicampur dengan irisan bawang merah bawang putih dan berbagai
bumbu masak lainnya.
Usai
tumis kangkungnya mateng, Via lalu meminta kepada Bimo untuk membawanya ke meja
makan.
“Bawa ke meja makan dek,” pinta Via.
Bimo
pun segera membawa tumis kangkung tersebut ke meja makan yang tidak jauh dari
tempat Via memasak.
Setelah itu dia kembali ke dekat
Viauntuk membantu memindahkan makanan dari dapur ke meja makan.
Namun saat akan memindahkan makanan yang lain,
ternyata belum ada yang matang dan bisa dipindahkan.
“Lah mana lagi yang mau dibawa ke meja?” tanya Bimo.
Via
yang masihmembakar ikan pepes yang sudah
dibungkus dengan daun pisang menoleh ke arah Bimo.
“Belum
ada, tolong bakarin ikannya dulu dek. Nanti yang angkatin ke meja biar mbak
Renata sama mbakAgnes,” ucap Via sambil menarik tangan
Bimo untuk mendekati panggangan yang terbuat dari batu kali.
Bimo
lalu menuruti keinginan Via, perlahan dia bolak
balik pepes buatan kakak sepupunya ini hingga terlihat matang.
Via tertawa melihat adik sepupunya ini.
“Dek kamu inget nggak waktu kita goreng telur dulu?”
tanya Via yang berdiri di belakang Bimo.
Bimo teringat memori dua tahun lalu, saat dia masih
SMA.
Via yang kala itu tengah hamil 7 bulan, kebingungan
karena di rumah Madiun sedang tidak ada makanan.
Saat itu jam 12 malam, Doni suami Via sudah nyenyak
dalam tidurnya.
Hanya Bimo yang masih terjaga karena baru pulang dari
bermain bola.
Via merengek minta ditemani masak telur dadar,
berhubung Bimo kasihan. Dia yang akhirnya bertindak sebagai koki.
Saat akan membalikkan telur, dia coba memamerkan
atraksi dengan melempar telur ke atas.
Namun yang terjadi, telur malah jatuh ke lantai dan
Via gagal makan malam itu gara-garanya telur di rumah cuma tinggal 1 butir.
“Oh itu, hahaha. Inget banget mbaaakkk.”
“Ih kamu itu dek, bikin kesel aja waktu itu,” seru Via
__ADS_1
sambil menempelkan dagunya ke pundak kanan Bimo.
“Eh tapi kan akhirnya tak beliin nasi pecel lauk telur
ceplok to.”
“Yeee, tetep bedalah dek. Orang waktu itu pengennya
ceplok sendiri,” sahut Via sambil meninju punggung Bimo dengan pelan.
Bimo hanya tersenyum mendengar ucapan Via.
“Haduuuhhh, pusing bener deh ngopenin ibu hamil waktu
itu,” ucap Bimo menanggapi kenangan beberapa tahun silam dengan Via.
“Ya nggak apa-apalah, itung-itung belajar nanti kalau
punya istri. Jadi nggak kaget,” sahut Via lalu berjalan ke meja dapur untuk
melanjutkan pekerjaan lainnya.
Bimo kembali tersenyum mendengar ucapan Via, dia lalu
melanjutkan membakar ikan pepes hingga benar-benar matang.
Sementara itu Agnes diam-diam mengintip di dapur untuk
melihat apa yang dilakukan Bimo dengan Via.
Setelah mengetahui apa yang dilakukan Bimo di dapur
bersama kakaknya Via, dia segera berjalan menuju ke ruang tv yang sudah ada
mamah dan kakakny Renata.
“Eh mah, enak juga ya ada dek Bimo di sini,” ucap
Agnes pelan.
“Kenapa memang?” tanya Gandari penasaran.
“Nggak capek nyuci piring aku mah, soalnya semua sudah
dicuciin dek Bimo,” jawab Agnes.
“Iya aku juga enak nggak capek anterin mbak Via
keliling nagihin duit kue,” tambah Renata.
“Kalian berdua ini lho, bantuin kakaknya kok pakek
ngeluh capek. Kasihan mbak Via capek cari duit buat kita semua,” tanggap
Gandari coba menasehati kedua puterinya.
“Lha gimana, mbak Via galak sih kalau sama kita-kita. Tapi
giliran sama dek Bimo, dia malah keliatan baik,” ucap Renata.
Gandari melihat waktu sudah mendekati pukul 19:00
waktu kota Jogja.
“Eh udah mau jam tujuh, kalian ajak Ali sama Ayub ke
kamar,” pinta Gandari sambil menepuk punggung kedua puterinya
Via dan Renata seperti sudah memiliki kebiasaan untuk
mengajak dua keponakannya di jam segitu untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Entah hal apa yang membuat mereka melakukannya, namun
hal itu seperti sudah terbiasa mereka lakukan.
siap.
Bimopindahkan seluruh makanan ke atas meja makan dengan perlahan, dan setelah
dia pindahkan semua makanan ke atas meja.
Baru dia sadar dan sedikit heran karena ternyata sudah ada banyak makanan yang tersaji di atas
meja.
Seperti
ada pesta kecil-kecilan yang diadakan oleh Via.
Dia
lalu bertanya kepada budenya yang duduk disampingnya.
“Ada
acara apa to ini bude, kok mbak Via kayak lagi adakan pesta?” tanya Bimo
perlahan ke budenya.
“Nggak ada apa-apa, cuma pengen makan bareng-bareng aja,” balas Gandariperlahan menjawab pertanyaan Bimo.
Bimo merasa aneh, karena tahu kalau kakak sepupunya
ini tidak memegang uang banyak.
Tapi malah memasak makanan yang lumayan banyak.
Namun sekali lagi dia tidak ingin menunjukkan rasa
ingin tahunya kepada Gandari.
Pikir dia, sebagai cowok tidak perlu menanyakan
hal-hal yang tidak layak dia ketahui.
Apalagi urusan makanan yang menurutnya sangat sepele
untuk dia ketahui.
Tiba-tiba saja rasa ingin tahunya dialihkan ke hal
lain, dia jadi penasaran dengan keberadaan suami Via si Doni.
“Eh bude, mas Doni kata mbak Via udah nggak di sini
ya?” tanya Bimo pelan.
“Sstttt,
jangan kuat-kuat. Nggak enak sama mbak yu mu,” ucapbudenya perlahan.
“Tadi aku sudah nanya bude, tapi mbak Via nggak mau
jawab,” balas Bimo dengan pelan.
“Ya udah, jangan ditanya. Nanti aja kapan-kapan bude
ceritaiin,” bisik budenya pelan.
Bimo menganggukkan kepalanya, dia baru sadar kalau sekarang
dirinya tertarik untuk jadi pria yang suka kepo dengan permasalahan yang
__ADS_1
terjadi.
Biasanya dia orang yang super cuek dan nggak mau tahu
apa yang terjadi di lingkungannya.
Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di depan laptop
untuk mengejar proyek desain dan memenuhi permintaan ibunya yang memesan gambar
baju ataupun rumah yang akan dijual.
Namun setelah berada di Jogja, tiba-tiba dia jadi
lebih banyak memikirkan apa yang terjadi dengan keluarga kakak sepupunya.
“Ya ampun, kalau memang sampai kudu pisah. Kok kasihan
anak-anaknya ya,” gumam Bimo dalam hati.
Bimo sangat menyayangkan jika sampai Doni dan Via
harus benar-benar berpisah.
Karena dulunya dia sangat tahu bagaimana
perjuangan Via dan Doni.
Berawal
dari karyawan honor di pemda Madiun, tinggal satu rumah dengan keluarganya selama beberapa tahun di Madiun sampai punya anak.
Lalu
mendapat tempat di Jogja setelah Pandu bapaknya Bimo meminta Doni untuk menjadi PNS di sini.
Namun kini dia mendapati berita perpisahan kakak
sepupunya dengan suaminya yang menurutnya orang baik dan tidak neko-neko.
Dia menduga permasalahan yang terjadi di keluarga kakaknya ini karena Via masih belum berhenti
nyanyi, hingga membuat Doni dan Via mengalami ketegangan.
Namun
dia sadar, budenya sendiri juga merupakan seorang biduan.
Dunia
tarik suara sudah mendarah daging di keluarga ini, jadi sangat sulit bagi
mereka untuk berhenti menjadi penyanyi.
“Ah entahlah, lebih baik aku nggak usah nanya yang aneh-aneh ke mereka
kalau mereka nggak kasih tahu sendiri,” gumam Bimo dalam hati.
Tidak lama kemudian Via masuk ke
ruang makan sambil membawa bolu gulung isi nanas.
“Tataaaa, ini dek mbak buatin kue kesukaan mu,” ucap
Via sambil meletakkan bolu tadi ke atas meja tepat di depan Bimo.
“Waooowwwww!”
Bimo
tersenyum senang sampai mendelik kedua matanya karena ini merupakan kue
kesukaannya.
Namun
dia tidak ingin terlihat sebagai orang udik yang langsung memakan kue
tersebut.
Dia tetap berupaya bersikap tenang walau wajahnya
terlihat senang.
Tidak
lama kemudian terdengar suara motor memasuki halaman depan.
“Mas
Doni ya,” ucap Bimo sambil menoleh ke arah Via.
Via
menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke depan.
Entah apa yang akan dia lakukan, namun hal itu membuat
Bimo menjadi sedikit khawatir akan terjadi keributan di antara
mereka berdua.
“Bude, itu nggak apa-apakan mas Doni sama mbak Via?”
tanya Bimo dengan wajah sedikit tegang.
“Nggak apa-apa, tenang saja,” jawab budenya yang
kemudian malah mengiris kue bolu untuknya.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu pagar yang
dibuka dari dalam.
Dan setelah itu.
“Aku sudah bilang mas, kalau mau nengok anak-anak
jangan malam. Sore pulang kerja kan bisa!” teriak Via yang terdengar kuat
suaranya.
“Maah, ini aku baru pulang dari kantor. Ini tadi aku
ada tamu dari Jakarta, jadi baru sempet kesini setelah maghrib ini,” beber Doni
coba menjelaskan situasinya.
“Aku nggak perduli, mau ada tamu apa enggak. Sekarang
anak-anak sudah pada tidur. Besok sore saja kalau mau nengok anak-anak, mereka
pas liburan,” sahut Via.
“Masak iya mereka sudah tidur? Ini kan masih maghrib
mah? Jangan bohong gitu dong. Dosa kamu jauhin bapak sama anaknya.”
“Aku enggak bohong! Kamu aja yang nggak pernah
perhatian sama mereka!” jawab Via dengan nada ketus.
Bimo merasa khawatir setelah mendengar keributan
__ADS_1
tersebut.
Dia harus melakukan sesuatu demi mendamaikan keduanya.