Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 8


__ADS_3

Malam setelah menjalankan shalat maghrib, di saat semua keluarga tengah bersiap untuk


makan malam.


Bimo


yang menjadi satu-satunya pria dewasa di rumah itu seperti biasa coba meringankan pekerjaan kakak sepupunya yang tengah


masak di dapur.


Namun dia menjadi sedikit bingung, karena sampai


masuk waktu Maghrib.


Doni suami Via masih belum sampai di rumah.


Sambil membantu Via, dia coba tanyakan keberadaan Doni


kepada kakak sepupunya.


“Mas


Doni kemana mbak?” tanya Bimo sambil membantu mencuci piring.


“Udah nggak di sini, udahlah jangan tanya-tanya dia lagi,” jawab


Via sambil mengiris cabe.


Bimo terhenyak kaget saat mendengar jawaban dari Via.


Dia baru tahu kalau ternyata sedang ada masalah besar


yang terjadi pada keluarga kakak sepupunya saat ini.


Ingin bertanya lebih jauh tentang masalah apa yang


terjadi pada mereka, dia tidak enak karena khawatir membuat Via marah.


Apalagi dia lihat Via nampak begitu sibuk mempersiapkan makan malam untuk seluruh


keluarganya.


Bukan jawaban berupa omongan yang mungkin akan dia


terima, melainkan lemparan sotil yang seringkali Via lakukan saat stress tengah


melanda.


Usai mencuci piring dan perkakas lainnya, dia coba dekati Via yang kali ini tengah


mengiris cabe kecil-kecil untuk dicampur ke sayuran yang tengah direbus di atas wajan.


“Sini


aku bantu ngaduk sayurnya mbak,” ucap Bimo lalumengambil alih sotil besi untuk masak.


Perlahan kemudian diaaduk-aduk tumis


kangkung yang dicampur dengan irisan bawang merah bawang putih dan berbagai


bumbu masak lainnya.


Usai


tumis kangkungnya mateng, Via lalu meminta kepada Bimo untuk membawanya ke meja


makan.


“Bawa ke meja makan dek,” pinta Via.


Bimo


pun segera membawa tumis kangkung tersebut ke meja makan yang tidak jauh dari


tempat Via memasak.


Setelah itu dia kembali ke dekat


Viauntuk membantu memindahkan makanan dari dapur ke meja makan.


Namun saat akan memindahkan makanan yang lain,


ternyata belum ada yang matang dan bisa dipindahkan.


“Lah mana lagi yang mau dibawa ke meja?” tanya Bimo.


Via


yang masihmembakar ikan pepes yang sudah


dibungkus dengan daun pisang menoleh ke arah Bimo.


“Belum


ada, tolong bakarin ikannya dulu dek. Nanti yang angkatin ke meja biar mbak


Renata sama mbakAgnes,” ucap Via sambil menarik tangan


Bimo untuk mendekati panggangan yang terbuat dari batu kali.


Bimo


lalu menuruti keinginan Via, perlahan dia bolak


balik pepes buatan kakak sepupunya ini hingga terlihat matang.


Via tertawa melihat adik sepupunya ini.


“Dek kamu inget nggak waktu kita goreng telur dulu?”


tanya Via yang berdiri di belakang Bimo.


Bimo teringat memori dua tahun lalu, saat dia masih


SMA.


Via yang kala itu tengah hamil 7 bulan, kebingungan


karena di rumah Madiun sedang tidak ada makanan.


Saat itu jam 12 malam, Doni suami Via sudah nyenyak


dalam tidurnya.


Hanya Bimo yang masih terjaga karena baru pulang dari


bermain bola.


Via merengek minta ditemani masak telur dadar,


berhubung Bimo kasihan. Dia yang akhirnya bertindak sebagai koki.


Saat akan membalikkan telur, dia coba memamerkan


atraksi dengan melempar telur ke atas.


Namun yang terjadi, telur malah jatuh ke lantai dan


Via gagal makan malam itu gara-garanya telur di rumah cuma tinggal 1 butir.


“Oh itu, hahaha. Inget banget mbaaakkk.”


“Ih kamu itu dek, bikin kesel aja waktu itu,” seru Via

__ADS_1


sambil menempelkan dagunya ke pundak kanan Bimo.


“Eh tapi kan akhirnya tak beliin nasi pecel lauk telur


ceplok to.”


“Yeee, tetep bedalah dek. Orang waktu itu pengennya


ceplok sendiri,” sahut Via sambil meninju punggung Bimo dengan pelan.


Bimo hanya tersenyum mendengar ucapan Via.


“Haduuuhhh, pusing bener deh ngopenin ibu hamil waktu


itu,” ucap Bimo menanggapi kenangan beberapa tahun silam dengan Via.


“Ya nggak apa-apalah, itung-itung belajar nanti kalau


punya istri. Jadi nggak kaget,” sahut Via lalu berjalan ke meja dapur untuk


melanjutkan pekerjaan lainnya.


Bimo kembali tersenyum mendengar ucapan Via, dia lalu


melanjutkan membakar ikan pepes hingga benar-benar matang.


Sementara itu Agnes diam-diam mengintip di dapur untuk


melihat apa yang dilakukan Bimo dengan Via.


Setelah mengetahui apa yang dilakukan Bimo di dapur


bersama kakaknya Via, dia segera berjalan menuju ke ruang tv yang sudah ada


mamah dan kakakny Renata.


“Eh mah, enak juga ya ada dek Bimo di sini,” ucap


Agnes pelan.


“Kenapa memang?” tanya Gandari penasaran.


“Nggak capek nyuci piring aku mah, soalnya semua sudah


dicuciin dek Bimo,” jawab Agnes.


“Iya aku juga enak nggak capek anterin mbak Via


keliling nagihin duit kue,” tambah Renata.


“Kalian berdua ini lho, bantuin kakaknya kok pakek


ngeluh capek. Kasihan mbak Via capek cari duit buat kita semua,” tanggap


Gandari coba menasehati kedua puterinya.


“Lha gimana, mbak Via galak sih kalau sama kita-kita. Tapi


giliran sama dek Bimo, dia malah keliatan baik,” ucap Renata.


Gandari melihat waktu sudah mendekati pukul 19:00


waktu kota Jogja.


“Eh udah mau jam tujuh, kalian ajak Ali sama Ayub ke


kamar,” pinta Gandari sambil menepuk punggung kedua puterinya


Via dan Renata seperti sudah memiliki kebiasaan untuk


mengajak dua keponakannya di jam segitu untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Entah hal apa yang membuat mereka melakukannya, namun


hal itu seperti sudah terbiasa mereka lakukan.


siap.


Bimopindahkan seluruh makanan ke atas meja makan dengan perlahan, dan setelah


dia pindahkan semua makanan ke atas meja.


Baru dia sadar dan sedikit heran karena ternyata sudah ada banyak makanan yang tersaji di atas


meja.


Seperti


ada pesta kecil-kecilan yang diadakan oleh Via.


Dia


lalu bertanya kepada budenya yang duduk disampingnya.


“Ada


acara apa to ini bude, kok mbak Via kayak lagi adakan pesta?” tanya Bimo


perlahan ke budenya.


“Nggak ada apa-apa, cuma pengen makan bareng-bareng aja,” balas Gandariperlahan menjawab pertanyaan Bimo.


Bimo merasa aneh, karena tahu kalau kakak sepupunya


ini tidak memegang uang banyak.


Tapi malah memasak makanan yang lumayan banyak.


Namun sekali lagi dia tidak ingin menunjukkan rasa


ingin tahunya kepada Gandari.


Pikir dia, sebagai cowok tidak perlu menanyakan


hal-hal yang tidak layak dia ketahui.


Apalagi urusan makanan yang menurutnya sangat sepele


untuk dia ketahui.


Tiba-tiba saja rasa ingin tahunya dialihkan ke hal


lain, dia jadi penasaran dengan keberadaan suami Via si Doni.


“Eh bude, mas Doni kata mbak Via udah nggak di sini


ya?” tanya Bimo pelan.


“Sstttt,


jangan kuat-kuat. Nggak enak sama mbak yu mu,” ucapbudenya perlahan.


“Tadi aku sudah nanya bude, tapi mbak Via nggak mau


jawab,” balas Bimo dengan pelan.


“Ya udah, jangan ditanya. Nanti aja kapan-kapan bude


ceritaiin,” bisik budenya pelan.


Bimo menganggukkan kepalanya, dia baru sadar kalau sekarang


dirinya tertarik untuk jadi pria yang suka kepo dengan permasalahan yang

__ADS_1


terjadi.


Biasanya dia orang yang super cuek dan nggak mau tahu


apa yang terjadi di lingkungannya.


Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di depan laptop


untuk mengejar proyek desain dan memenuhi permintaan ibunya yang memesan gambar


baju ataupun rumah yang akan dijual.


Namun setelah berada di Jogja, tiba-tiba dia jadi


lebih banyak memikirkan apa yang terjadi dengan keluarga kakak sepupunya.


“Ya ampun, kalau memang sampai kudu pisah. Kok kasihan


anak-anaknya ya,” gumam Bimo dalam hati.


Bimo sangat menyayangkan jika sampai Doni dan Via


harus benar-benar berpisah.


Karena dulunya dia sangat tahu bagaimana


perjuangan Via dan Doni.


Berawal


dari karyawan honor di pemda Madiun, tinggal satu rumah dengan keluarganya selama beberapa tahun di Madiun sampai punya anak.


Lalu


mendapat tempat di Jogja setelah Pandu bapaknya Bimo meminta Doni untuk menjadi PNS di sini.


Namun kini dia mendapati berita perpisahan kakak


sepupunya dengan suaminya yang menurutnya orang baik dan tidak neko-neko.


Dia menduga permasalahan yang terjadi di keluarga kakaknya ini karena Via masih belum berhenti


nyanyi, hingga membuat Doni dan Via mengalami ketegangan.


Namun


dia sadar, budenya sendiri juga merupakan seorang biduan.


Dunia


tarik suara sudah mendarah daging di keluarga ini, jadi sangat sulit bagi


mereka untuk berhenti menjadi penyanyi.


“Ah entahlah, lebih baik aku nggak usah nanya yang aneh-aneh ke mereka


kalau mereka nggak kasih tahu sendiri,” gumam Bimo dalam hati.


Tidak lama kemudian Via masuk ke


ruang makan sambil membawa bolu gulung isi nanas.


“Tataaaa, ini dek mbak buatin kue kesukaan mu,” ucap


Via sambil meletakkan bolu tadi ke atas meja tepat di depan Bimo.


“Waooowwwww!”


Bimo


tersenyum senang sampai mendelik kedua matanya karena ini merupakan kue


kesukaannya.


Namun


dia tidak ingin terlihat sebagai orang udik yang langsung memakan kue


tersebut.


Dia tetap berupaya bersikap tenang walau wajahnya


terlihat senang.


Tidak


lama kemudian terdengar suara motor memasuki halaman depan.


“Mas


Doni ya,” ucap Bimo sambil menoleh ke arah Via.


Via


menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke depan.


Entah apa yang akan dia lakukan, namun hal itu membuat


Bimo menjadi sedikit khawatir akan terjadi keributan di antara


mereka berdua.


“Bude, itu nggak apa-apakan mas Doni sama mbak Via?”


tanya Bimo dengan wajah sedikit tegang.


“Nggak apa-apa, tenang saja,” jawab budenya yang


kemudian malah mengiris kue bolu untuknya.


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu pagar yang


dibuka dari dalam.


Dan setelah itu.


“Aku sudah bilang mas, kalau mau nengok anak-anak


jangan malam. Sore pulang kerja kan bisa!” teriak Via yang terdengar kuat


suaranya.


“Maah, ini aku baru pulang dari kantor. Ini tadi aku


ada tamu dari Jakarta, jadi baru sempet kesini setelah maghrib ini,” beber Doni


coba menjelaskan situasinya.


“Aku nggak perduli, mau ada tamu apa enggak. Sekarang


anak-anak sudah pada tidur. Besok sore saja kalau mau nengok anak-anak, mereka


pas liburan,” sahut Via.


“Masak iya mereka sudah tidur? Ini kan masih maghrib


mah? Jangan bohong gitu dong. Dosa kamu jauhin bapak sama anaknya.”


“Aku enggak bohong! Kamu aja yang nggak pernah


perhatian sama mereka!” jawab Via dengan nada ketus.


Bimo merasa khawatir setelah mendengar keributan

__ADS_1


tersebut.


Dia harus melakukan sesuatu demi mendamaikan keduanya.


__ADS_2