
Bimo
masih berusaha membebaskan diri dari cengkeraman wanita yang berdiri di
depannya.
Dia memang melupakan apa yang
telah dia ucapankan saat baru pertama masuk ke dalam rumah tadi.
Hal ini yang membuat dirinyatidak tahu
kenapa wanita ini tiba-tiba marah kepadanya.
“Mbaaakkk,
ja-ja-jangan seperti ini. Se-se-semua
bisa dibicarakan dengan ba-baik-baik,” ucap Bimo coba melobi si wanita yang
masih terlihat begitu marah kepadanya.
Si
wanita tidak perduli dengan apa yang Bimo ucapkan.
Dia
terlihat semakin kuat mencengkeram leher Bimo dari kejauhan.
“Aaarggghhhh! Too-too-toloongg!” teriak Bimo dengan
kuat.
Bimo
yang masih kesakitan lalu berusaha menarik sesuatu di lehernya, dia masih
berusaha membebaskan diri dari cengkeraman yang tak terlihat.
Namun
setelah mencoba dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, ternyata cukup sulit bagi Bimo untuk membebaskan dirinya.
Nafasnya terasa semakin menyempit, sulit bagi dia
untuk menghela nafasnya.
Dia kemudian mencoba untuk berdiri agar
bisa menyerang balik si wanita ini.
Keanehan pun terjadi.
Tiba-tiba
seluruh otot tangan, pundak hingga kedua kakinya
mengeras dan kaku.
Dia
sulit untuk bergerak.
Bahkan
untuk menggerakan jari jemarinya terasa berat.
“Duh ya Alloh, aku nggak mau mati muda. Aku masih
perjaka dan belum merasakan nikmatnya bersenggama, aku belum mau mati ya
Alloh,” ungkap Bimo dalam hati.
Bimo terus berusaha melawan kekuatan si wanita ini.
Perlahan dia berdiri sambil terus menahan rasa sakit
di lehernya.
Namun kedua kakinya bergoyang karena menahan rasa
sakit yang sangat sangat sangat sakit melebihi sakitnya saat dia diputuskan
kekasih yang lagi dia sayangi.
“Aaarrggghhh! To! Tooloongg!” teriak Bimo sambil
berusaha meraih telunjuk si wanita.
Merasa
keadaannya memang sudah sulit untuk melawan, Bimo coba pasrah dengan menghela
nafas dan melemaskan semua otot tubuhnya sambil mengucapkan, “Bismillah.”
Dan tidak lama setelah itu.
“Bluukkkk!”
Mendadak
semua berubah menjadi gelap dan Bimo merasa nafasnya berubah menjadi lebih
longgar.
Dia
mulai mendengar suara banyak orang yang ada di sekitarnya.
“Dek,
dek Bimooo,” panggil seseorang yang terdengar
seperti suara wanita.
Bimo
langsung tersadar.
Dia
lalu membuka kedua matanya.
Terlihat olehnya
suasana di
dalam rumah sudah penuh orang.
Bimo
bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
“Ini
ada apa ya,” gumam Bimo saat kedua matanya mulai terbuka.
Bimo
lalu duduk di atas lantai ruang tamu.
Punggungnya dia sandarkan ke sofa ruang tamu yang ada
di belakangnya.
Terlihat olehnyakopi
dan kue camilan yang sebelumnya dia letakkan di atas meja tiba-tiba sudah
berantakan di lantai.
Terlihat
juga olehnya beberapa pria dan wanita yang ada di dalam rumah.
“Eee
ini pada kenapa ya?” gumam Bimo dalam hati bingung.
“Dek,
kamu nggak apa-apakan?” tanya seorang wanita muda yang wajahnya putih bersih
dengan rambut lurus sedikit pirang dan dipotong pendek sebahu.
Wanita
ini bernama Agnes, berusia 21 tahun, puteri bungsu Gandari yang memiliki rumah
ini.
Agnes
saat ini sedang berkuliah di Universitas Sebelas Maret Solo mengambil Fakultas
__ADS_1
Keguruan Ilmu Pendidikan dengan jurusan Guru Kesenian.
Wajah
Agnes sangat mirip dengan artis penyanyiAgnes Monica.
Bimo
menatap wajah Agnes karena masih belum dia kenali siapakah wanita ini.
“Tadi
aku kenapa ya, kok aku jadi lupa,” ucap Bimo sambil menggaruk kepalanya pelan.
Semua
orang yang ada di ruangan tersebut ribut saling bersahut-sahutan.
Terdengar
ramai seperti pasar.
Dia
menatap semua orang yang ada di ruangan dengan tatapan penuh kebingungan.
Agnes
yang sebelumnya duduk di samping Bimo, tiba-tiba bangkit dari duduknya lalu
keluar dari ruangan dan nampak mengaktifkan handphonenya.
Dia
lalu menghubungi kakak kandungnya yang bernama Via.
“Hallo mbak, dek Bimo sudah di rumah. Dia baru aja
kerasukan Nyi Roro Kidul kayanya.”
“Ya ampun kok bisa lho, coba tanyain kemana handphone
dia. Dihubungi dari tadi nggak bisa-bisa,” ucap Via.
“Ya udah nanti aku tanya, ini anaknya baru sadar
mbak,” ucap Agnes.
Di saat Agnes tengah ngobrol dengan kakaknya, dari
kejauhan Bimo
hanya menatapnya dan mendiamkan karena masih belum mengetahui siapakah Agnes.
Tiba-tiba.
“Sudah
mas Bimo, tarik nafas dan coba rileks sedikit. Insya Alloh nanti bisa langsung
netral,” ucap pria dewasa yang kemudian memijit kedua pundaknya dengan kuat
hingga membuat perhatian Bimo jadi teralihkan.
Perhatian Bimo teralihkan, dia tatap pria muda di
depannya.
Pria
muda ini bernama Sayyid, dia biasa dipanggil Ustad Sayyid karena memang profesi
utamanya sebagai Guru ngaji di berbagai majelis taklim, memiliki pondok
pesantren sendiri, dan sering meruqyah orang-orang yang terkena gangguan jin.
Bimo
meringis menahan rasa sakit yang ditimbulkan saat Ustad Sayyid memijit kedua pundaknya.
“Auuwww eh pak maaf, ini ada apa ya? Kenapa kok tiba-tiba rumah
jadi begitu ramai seperti ini,” tanya Bimo sambil menoleh ke arah Ustad Sayyid
yang masih memijit kedua pundaknya.
Ustad
Sayyid lalu mengurangi tekanan di tangannya.
“Sampean
Bimo.
Bimo terhenyak kaget.
“Hah
kemasukan jin jahat? Maksudnya pak?” tanya Bimo bingung dan masih terus menatap
wajah ke arah Ustad Sayyid.
Ustad
Sayyid tidak menjawab lalu mengulangi lagi memijit kedua pundak Bimo dengan
kuat.
Lalu membaca do’a dengan kalimat, “A’udzu
bikalimatillahi tammaaati minsyarri makhlaq.”
Bimo
coba menahan rasa sakit karena kedua tangan Ustad Sayyid terasa kuat dan sakit
sekali di pundaknya.
Namun dia teringat dengan ucapan yang diucapkan Ustad
Sayyid barusan, itu merupakan bacaan yang seringkali dia dengar dari kakeknya
saat dia masih belajar di pondok pesantren milik kakek dari ibunya.
Tidak lama kemudian.
“Aiiiggghhhh,
iiiwaaakkk,” sahut Bimo yang tiba-tiba mulai bersendawa.
“Nah
itu sudah mulai keluar anginnya,” ucap Ustad Sayyid kemudian memijit kedua sisi
punggung Bimo dengan kuat.
Bimo
menahan rasa sakit di punggungnya.
Tiba-tiba
perutnya menjadi mulas dan dia ingin mengeluarkan gas, sekuat tenaga dia tahan karena
takut kalau aroma gasnya mengganggu semua orang yang berada di dalam ruangan.
Namun
ternyata, pijitan pria tersebut malah memaksa gas di dalam perutnya untuk
keluar hingga akhirnya.
“Duuuttttt!”
Kentut pun terpaksa keluar karena sudah tak tertahan
lagi.
“Nah
angine keluar lagi tuh, wis nggak apa-apa mas. Keluarin aja semua,” ucap Ustad
Sayyid yang semakin kuat memijit punggung Bimo.
Bimo pun jadi kaget dibuatnya.
Setelah
membuang gas dari dalam perutnya, tiba-tiba saja badannya langsung terasa enteng
dan dia merasa kembali fit.
Badannya
yang sebelumnya terasa berat dan sulit untuk bergerak,
__ADS_1
tiba-tiba saja langsung terasaringan dan serasa tidak ada gangguan
apapun di badannya.
“Naaahhh,
gimana sekarang badane mas?” tanya Ustad Sayyid sambil tertawa ceria di depan
Bimo.
Bimo
nyengir kesenengan.
“Eeenak
pak, badan jadi enteng,” jawab Bimo tersenyum kesenengan.
Ustad
Sayyid lalu menghentikan pijitannya dan dia sedikit menjauh karena aroma kentut
Bimo sungguh membuatnya mual.
Bimo baru sadar, bahwa apa yang dulu diajarkan oleh
kakeknya ini ternyata memang benar-benar bermanfaat untuk dirinya pribadi saat
ini.
Namun
tidak lama kemudian, Agnes yang sudah selesai berbicara dengan kakaknya lalu
berjalan mendekati Bimo.
Saat
berada di dekat Bimo, dia kaget karena tiba-tiba mencium aroma telur busuk.
“Ih
bau apa sih ini? Kok kaya bau kentut?” kata Agnes sambil menutup dua lubang
hidungnya.
“Itu
aroma jin mbak,” ucap ustad Sayyid yang sudah lebih dulu berdiri menjauh dari
tempat dia sebelumnya.
Bimo
tersenyum cengar cengir karena malu untuk mengakui kalau bau busuk itu adalah
kentut dia.
Agnes
menghiraukan aroma kentut Bimo.
“Pak
Ustad, gimana ini adek ku? Sudah sehat ya?” tanya Agnes sambil menatap ke arah
Ustad Sayyid.
“Insya
Alloh sudah mbak, adek sampean ini cukup kuat kok,” jawab Ustad Sayyid lalu
tersenyum menatap Bimo.
Beberapa
orang yang hadir disitu lalu berangsur beranjak pergi karena melihat Bimo yang
sudah siuman dan nampak sudah kuat.
“Jadi
nggak usah dibawa ke rumah sakit ya tad?” tanyanya lagi sambil memungut kue dan
gelas yang bergelimangan di lantai.
“Nggak
usah mbak, sudah sehat kok adeknya ini,” jawab Ustad Sayyid lalu tersenyum
menatap Bimo.
Agnes
tersenyum lalu membersihkan kopi yang tumpah di lantai, setelah itu dia bawa
gelas dan kue camilan ke dapur.
Bimo
coba berdiri, lalu duduk di atas kursi panjang.
Dia
masih belum mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
Ustad
Sayyid kemudian duduk di sampingnya.
“Mas
cerita apa yang baru saja terjadi sama sampean tadi?” tanya Ustad Sayyid dengan
pelan.
Bimo
menarik nafas sambil melihat ke arah lukisan wanita
Nyi Roro Kidul seksi yang ada di depannya.
Dia
coba ingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi dengan dirinya barusan.
Setelah
dia buka kembali memorinya, langsung dia teringat dengan apa yang tadi dia
alami.
“Gini
pak, kalau tidak salah. Saya mimpi bertemu dengan wanita
yang ada di dalam lukisan itu, terus dia marah mau nyekik leher
saya,” jawab Bimo sambil menatap lukisan Nyi Roro Kidul
yang ada di depannya.
Ustad
Sayyid menganggukkan kepalanya.
“Sampean
pasti sudah berbuat salah di rumah ini,” ucap Ustad Sayyid pelan sambil menepuk
paha Bimo.
“Maksudnya?”
tanya Bimo bingung.
“Apa
kata-kata yang sampean ucapkan sebelum tertidur tadi?” tanya Ustad Sayyid yang
nampak mulai memahami apa yang telah terjadi pada diri Bimo.
Bimo
terdiam sambil menatap lukisan si Nyi Roro Kidul yang menurutnya
sangat seksi sekali.
Tiba-tiba dia teringat dengan apa yang dia katakan
saat masuk ke dalam rumah tadi.
“Saya tadi cuma bilang sayang kalau dia hanya wanita yang ada di dalam lukisan, jika dia berada di sini. Saya akan
ajak dia ngopi,”
__ADS_1
beber Bimo panjang lebar.