Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 4


__ADS_3

Bimo


masih berusaha membebaskan diri dari cengkeraman wanita yang berdiri di


depannya.


Dia memang melupakan apa yang


telah dia ucapankan saat baru pertama masuk ke dalam rumah tadi.


Hal ini yang membuat dirinyatidak tahu


kenapa wanita ini tiba-tiba marah kepadanya.


“Mbaaakkk,


ja-ja-jangan seperti ini. Se-se-semua


bisa dibicarakan dengan ba-baik-baik,” ucap Bimo coba melobi si wanita yang


masih terlihat begitu marah kepadanya.


Si


wanita tidak perduli dengan apa yang Bimo ucapkan.


Dia


terlihat semakin kuat mencengkeram leher Bimo dari kejauhan.


“Aaarggghhhh! Too-too-toloongg!” teriak Bimo dengan


kuat.


Bimo


yang masih kesakitan lalu berusaha menarik sesuatu di lehernya, dia masih


berusaha membebaskan diri dari cengkeraman yang tak terlihat.


Namun


setelah mencoba dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, ternyata cukup sulit bagi Bimo untuk membebaskan dirinya.


Nafasnya terasa semakin menyempit, sulit bagi dia


untuk menghela nafasnya.


Dia kemudian mencoba untuk berdiri agar


bisa menyerang balik si wanita ini.


Keanehan pun terjadi.


Tiba-tiba


seluruh otot tangan, pundak hingga kedua kakinya


mengeras dan kaku.


Dia


sulit untuk bergerak.


Bahkan


untuk menggerakan jari jemarinya terasa berat.


“Duh ya Alloh, aku nggak mau mati muda. Aku masih


perjaka dan belum merasakan nikmatnya bersenggama, aku belum mau mati ya


Alloh,” ungkap Bimo dalam hati.


Bimo terus berusaha melawan kekuatan si wanita ini.


Perlahan dia berdiri sambil terus menahan rasa sakit


di lehernya.


Namun kedua kakinya bergoyang karena menahan rasa


sakit yang sangat sangat sangat sakit melebihi sakitnya saat dia diputuskan


kekasih yang lagi dia sayangi.


“Aaarrggghhh! To! Tooloongg!” teriak Bimo sambil


berusaha meraih telunjuk si wanita.


Merasa


keadaannya memang sudah sulit untuk melawan, Bimo coba pasrah dengan menghela


nafas dan melemaskan semua otot tubuhnya sambil mengucapkan, “Bismillah.”


Dan tidak lama setelah itu.


“Bluukkkk!”


Mendadak


semua berubah menjadi gelap dan Bimo merasa nafasnya berubah menjadi lebih


longgar.


Dia


mulai mendengar suara banyak orang yang ada di sekitarnya.


“Dek,


dek Bimooo,” panggil seseorang yang terdengar


seperti suara wanita.


Bimo


langsung tersadar.


Dia


lalu membuka kedua matanya.


Terlihat olehnya


suasana di


dalam rumah sudah penuh orang.


Bimo


bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


“Ini


ada apa ya,” gumam Bimo saat kedua matanya mulai terbuka.


Bimo


lalu duduk di atas lantai ruang tamu.


Punggungnya dia sandarkan ke sofa ruang tamu yang ada


di belakangnya.


Terlihat olehnyakopi


dan kue camilan yang sebelumnya dia letakkan di atas meja tiba-tiba sudah


berantakan di lantai.


Terlihat


juga olehnya beberapa pria dan wanita yang ada di dalam rumah.


“Eee


ini pada kenapa ya?” gumam Bimo dalam hati bingung.


“Dek,


kamu nggak apa-apakan?” tanya seorang wanita muda yang wajahnya putih bersih


dengan rambut lurus sedikit pirang dan dipotong pendek sebahu.


Wanita


ini bernama Agnes, berusia 21 tahun, puteri bungsu Gandari yang memiliki rumah


ini.


Agnes


saat ini sedang berkuliah di Universitas Sebelas Maret Solo mengambil Fakultas

__ADS_1


Keguruan Ilmu Pendidikan dengan jurusan Guru Kesenian.


Wajah


Agnes sangat mirip dengan artis penyanyiAgnes Monica.


Bimo


menatap wajah Agnes karena masih belum dia kenali siapakah wanita ini.


“Tadi


aku kenapa ya, kok aku jadi lupa,” ucap Bimo sambil menggaruk kepalanya pelan.


Semua


orang yang ada di ruangan tersebut ribut saling bersahut-sahutan.


Terdengar


ramai seperti pasar.


Dia


menatap semua orang yang ada di ruangan dengan tatapan penuh kebingungan.


Agnes


yang sebelumnya duduk di samping Bimo, tiba-tiba bangkit dari duduknya lalu


keluar dari ruangan dan nampak mengaktifkan handphonenya.


Dia


lalu menghubungi kakak kandungnya yang bernama Via.


“Hallo mbak, dek Bimo sudah di rumah. Dia baru aja


kerasukan Nyi Roro Kidul kayanya.”


“Ya ampun kok bisa lho, coba tanyain kemana handphone


dia. Dihubungi dari tadi nggak bisa-bisa,” ucap Via.


“Ya udah nanti aku tanya, ini anaknya baru sadar


mbak,” ucap Agnes.


Di saat Agnes tengah ngobrol dengan kakaknya, dari


kejauhan Bimo


hanya menatapnya dan mendiamkan karena masih belum mengetahui siapakah Agnes.


Tiba-tiba.


“Sudah


mas Bimo, tarik nafas dan coba rileks sedikit. Insya Alloh nanti bisa langsung


netral,” ucap pria dewasa yang kemudian memijit kedua pundaknya dengan kuat


hingga membuat perhatian Bimo jadi teralihkan.


Perhatian Bimo teralihkan, dia tatap pria muda di


depannya.


Pria


muda ini bernama Sayyid, dia biasa dipanggil Ustad Sayyid karena memang profesi


utamanya sebagai Guru ngaji di berbagai majelis taklim, memiliki pondok


pesantren sendiri, dan sering meruqyah orang-orang yang terkena gangguan jin.


Bimo


meringis menahan rasa sakit yang ditimbulkan saat Ustad Sayyid memijit kedua pundaknya.


“Auuwww eh pak maaf, ini ada apa ya? Kenapa kok tiba-tiba rumah


jadi begitu ramai seperti ini,” tanya Bimo sambil menoleh ke arah Ustad Sayyid


yang masih memijit kedua pundaknya.


Ustad


Sayyid lalu mengurangi tekanan di tangannya.


“Sampean


Bimo.


Bimo terhenyak kaget.


“Hah


kemasukan jin jahat? Maksudnya pak?” tanya Bimo bingung dan masih terus menatap


wajah ke arah Ustad Sayyid.


Ustad


Sayyid tidak menjawab lalu mengulangi lagi memijit kedua pundak Bimo dengan


kuat.


Lalu membaca do’a dengan kalimat, “A’udzu


bikalimatillahi tammaaati minsyarri makhlaq.”


Bimo


coba menahan rasa sakit karena kedua tangan Ustad Sayyid terasa kuat dan sakit


sekali di pundaknya.


Namun dia teringat dengan ucapan yang diucapkan Ustad


Sayyid barusan, itu merupakan bacaan yang seringkali dia dengar dari kakeknya


saat dia masih belajar di pondok pesantren milik kakek dari ibunya.


Tidak lama kemudian.


“Aiiiggghhhh,


iiiwaaakkk,” sahut Bimo yang tiba-tiba mulai bersendawa.


“Nah


itu sudah mulai keluar anginnya,” ucap Ustad Sayyid kemudian memijit kedua sisi


punggung Bimo dengan kuat.


Bimo


menahan rasa sakit di punggungnya.


Tiba-tiba


perutnya menjadi mulas dan dia ingin mengeluarkan gas, sekuat tenaga dia tahan karena


takut kalau aroma gasnya mengganggu semua orang yang berada di dalam ruangan.


Namun


ternyata, pijitan pria tersebut malah memaksa gas di dalam perutnya untuk


keluar hingga akhirnya.


“Duuuttttt!”


Kentut pun terpaksa keluar karena sudah tak tertahan


lagi.


“Nah


angine keluar lagi tuh, wis nggak apa-apa mas. Keluarin aja semua,” ucap Ustad


Sayyid yang semakin kuat memijit punggung Bimo.


Bimo pun jadi kaget dibuatnya.


Setelah


membuang gas dari dalam perutnya, tiba-tiba saja badannya langsung terasa enteng


dan dia merasa kembali fit.


Badannya


yang sebelumnya terasa berat dan sulit untuk bergerak,

__ADS_1


tiba-tiba saja langsung terasaringan dan serasa tidak ada gangguan


apapun di badannya.


“Naaahhh,


gimana sekarang badane mas?” tanya Ustad Sayyid sambil tertawa ceria di depan


Bimo.


Bimo


nyengir kesenengan.


“Eeenak


pak, badan jadi enteng,” jawab Bimo tersenyum kesenengan.


Ustad


Sayyid lalu menghentikan pijitannya dan dia sedikit menjauh karena aroma kentut


Bimo sungguh membuatnya mual.


Bimo baru sadar, bahwa apa yang dulu diajarkan oleh


kakeknya ini ternyata memang benar-benar bermanfaat untuk dirinya pribadi saat


ini.


Namun


tidak lama kemudian, Agnes yang sudah selesai berbicara dengan kakaknya lalu


berjalan mendekati Bimo.


Saat


berada di dekat Bimo, dia kaget karena tiba-tiba mencium aroma telur busuk.


“Ih


bau apa sih ini? Kok kaya bau kentut?” kata Agnes sambil menutup dua lubang


hidungnya.


“Itu


aroma jin mbak,” ucap ustad Sayyid yang sudah lebih dulu berdiri menjauh dari


tempat dia sebelumnya.


Bimo


tersenyum cengar cengir karena malu untuk mengakui kalau bau busuk itu adalah


kentut dia.


Agnes


menghiraukan aroma kentut Bimo.


“Pak


Ustad, gimana ini adek ku? Sudah sehat ya?” tanya Agnes sambil menatap ke arah


Ustad Sayyid.


“Insya


Alloh sudah mbak, adek sampean ini cukup kuat kok,” jawab Ustad Sayyid lalu


tersenyum menatap Bimo.


Beberapa


orang yang hadir disitu lalu berangsur beranjak pergi karena melihat Bimo yang


sudah siuman dan nampak sudah kuat.


“Jadi


nggak usah dibawa ke rumah sakit ya tad?” tanyanya lagi sambil memungut kue dan


gelas yang bergelimangan di lantai.


“Nggak


usah mbak, sudah sehat kok adeknya ini,” jawab Ustad Sayyid lalu tersenyum


menatap Bimo.


Agnes


tersenyum lalu membersihkan kopi yang tumpah di lantai, setelah itu dia bawa


gelas dan kue camilan ke dapur.


Bimo


coba berdiri, lalu duduk di atas kursi panjang.


Dia


masih belum mengerti apa yang terjadi pada dirinya.


Ustad


Sayyid kemudian duduk di sampingnya.


“Mas


cerita apa yang baru saja terjadi sama sampean tadi?” tanya Ustad Sayyid dengan


pelan.


Bimo


menarik nafas sambil melihat ke arah lukisan wanita


Nyi Roro Kidul seksi yang ada di depannya.


Dia


coba ingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi dengan dirinya barusan.


Setelah


dia buka kembali memorinya, langsung dia teringat dengan apa yang tadi dia


alami.


“Gini


pak, kalau tidak salah. Saya mimpi bertemu dengan wanita


yang ada di dalam lukisan itu, terus dia marah mau nyekik leher


saya,” jawab Bimo sambil menatap lukisan Nyi Roro Kidul


yang ada di depannya.


Ustad


Sayyid menganggukkan kepalanya.


“Sampean


pasti sudah berbuat salah di rumah ini,” ucap Ustad Sayyid pelan sambil menepuk


paha Bimo.


“Maksudnya?”


tanya Bimo bingung.


“Apa


kata-kata yang sampean ucapkan sebelum tertidur tadi?” tanya Ustad Sayyid yang


nampak mulai memahami apa yang telah terjadi pada diri Bimo.


Bimo


terdiam sambil menatap lukisan si Nyi Roro Kidul yang menurutnya


sangat seksi sekali.


Tiba-tiba dia teringat dengan apa yang dia katakan


saat masuk ke dalam rumah tadi.


“Saya tadi cuma bilang sayang kalau dia hanya wanita yang ada di dalam lukisan, jika dia berada di sini. Saya akan


ajak dia ngopi,”

__ADS_1


beber Bimo panjang lebar.


__ADS_2