Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 6


__ADS_3

Bimo


kesulitan mengendalikan kedua tangannya.


Suara


cambukan cemeti yang diiringi tabuhan gamelan dan tiupan terompet yang mengalun begitu kuatdi pinggir jalan benar-benar mengganggu


pendengarannya.


Tanpa


sengaja dia melihat beberapa orang memberikan uang receh kepada pria yang


membawa sebuah wadah yang digunakan untuk menerima pemberian dari para pengguna


jalan yang berhenti di depan lampu lalu lintas.


Kedua


tangannya yang bergerak seperti seorang Nyi Roro Kidul yang seksi seakan tiada


henti untuk terus menari.


“Astaghfirullah,


astaghfirullaaahhh,” seru Bimo dalam hatinya.


Bimo


berusaha menguasai dirinya kembali, dia tidak ingin menjadi orang yang dikuasai


oleh jin jahat seperti yang dibilang ustad Sayyid tadi.


“Ashhaduanlaaa


iillaaaa haailallaaaahhhh,” seru Bimo dalam hati.


Berkali-kali dia mengucapkan dua kalimat syahadat


sembari berusaha mengeluarkan tenaganya dengan kuat agar bisa terbebas dari


rasa yang sakit yang membelenggunya.


“Uuuhhhh! Allaahhhhuuu Akbaarrrr!”


“Praanggg.”


Tiba-tiba


kedua mata Bimo nampak cerah dan terang benderang lagi.


Kedua


telinganya menjadi jelas dan suara dengungan yang memenuhi telinganya tadi


tiba-tiba menghilang.


Namun


dia kaget saat melihat Agnes yang tiba-tiba ikut menari mengikuti alunan musik


yang dimainkan orang-orang tersebut.


Kedua telapak tangan Agnes begitu luwes bergerak


seperti Nyi Roro Kidul yang seksi.


Dia menari seperti penari jatilan disertai dengan


gerakan mata ke kanan ke kiri dan terkadang ke atas bawah.


“Astaghfirullah


mbak,” ucap Bimo kaget.


Bimo


kaget, karena wajah yang dia lihat kali ini bukanlah wajah Agnes.


Melainkan


wanita yang ada di lukisan rumah budenya tadi.


Buru-buru


dia duduk kembali ke atas jok motor dan melihat


keadaan sekitarjalan.


Saat


dia rasa jalanan sepi, dan lampu hijau menyala. Dengan cepat dia tancap gas


meninggalkan sekelompok orang yang tengah memainkan musik tradisional tadi.


Dia


lihat Agnes masih terus menari di belakangnya.


Khawatir


kalau Agnes melompat dari atas motor, Bimo langsung mengurangilaju motornya kemudian mencari tempat yang lapang untuk berhenti.


Tidak


lama akhirnya dia melihat ada tanah lapang yang sepi.


Dengan


cepat dia segera menghentikan laju motor di atas tanah lapang tersebut.


Dia


lalu turun dari motor dan segera berdiri di samping Agnes.


Perlahan


dia lepas helm yang dikenakan Agnes, lalu dia letakkan di pinggir jalan.


“Mbak,


mbak,” panggil Bimo sambil memijit tengkuk leher belakang Agnes dengan pelan.


Agnes


menghiraukan panggilannya.


Dia


masih terus menari seperti orang gila.


“Astaghfirullah.


Mbak sadar mbak, jangan mau dikuasai jin,” bisik Bimo perlahan ke telinga


Agnes.


Agnes


masih terus menari danmenghiraukan bisikan Bimo.


Kali ini tarian Agnes begitu kuat disertai dengan


kedua mata yang mendelik lebar seperti penari Bali dengan jemari yang bergerak


lincah.


Wajah Bimo yang berada di dekat telinga Agnes,


tiba-tiba di dorongnya dengan perlahan agar menyingkir dari wajahnya.


Bimo pun sempat malu saat wajahnya didorong Agnes, dia lalumelihat


ke sekelilingnya.


Tidak


ada satupun orang yang bisa dia mintai tolong untuk menyadarkan Agnes saat ini.


Dia


menduga Agnes saat ini seperti apa yang dia rasakan barusan.


Telinga


berdengung dengan kuat, dan tidak bisa menguasai kedua tangan dan jiwanya.


“Mbaakkk sadar mbaakkk,” bisik Bimo dengan pelan ke


telinga Agnes.


Agnes masih belum mau merespon suaranya.


Dia coba pegang kedua tangan Agnes agar tidak terus


menari, namun Agnes masih belum mau berhenti.


Akhirnya


dia coba membisikkan beberapa kalimat ke telinga Agnes.


“A’udzu


bikalimatillahi tammaaah,” bisik Bimo pelan ke telinga Agnes.


Usai membisikkan potongan ayat kursi, Agnes masih terus menari.


Dia lalu


membacakan beberapa kalimat ta’awudz.


“A’udzubillah


himinasyaithoon nirroojiim. Bismillah hirrakh maanirrookhiim,” bisik Bimo


perlahan di telinga kiri Agnes sambil terus memijit tengkuk leher belakangnya


dengan kuat.


Keajaiban pun terjadi dengan cepat, Agnes tiba-tiba


mengaduh karenakesakitan.


“Aduudduuuu,


sakit dek sakit,” sergah Agnes mengeluh kesakitan disaat Bimo menekan


tengkuknya dengan kuat.


Wajah


Agnes seketika berubah menjadi Agnes kembali.


Bimo


menarik nafas panjang lalu dia lepaskan perlahan.


“Alhamdulillah


mbak bisa terlepas dari pengaruh jin jahat ini,” gumam Bimo dalam hati.


Wajah


Agnes nampak penuh dengan peluh.


Bimo mengambil kain handuk kering miliknya yang masih baru dari dalam tas.


Lalu


perlahan dia usapkan handuk tersebut ke wajah Agnessembari menata rambut Agnes agar kembali rapi.


“Ini


handuk baru mbak, nggak apa-apa ya daripada bedak mbak luntur,” ucap Bimo


sambil terus mengusapkan handuk kecil ke wajah Agnes.


Agnes terdiam dan membiarkan Bimo mengusap wajah putihnya.


Kedua bola matanya menatap wajah Bimo disertai


senyuman manis dari bibir tipisnya.


Setelah beberapa saat Bimo mengusap wajah Agnes, tidak


lama kemudian Agnes sepenuhnya pulih dari ketidaksadarannya.


“Eh


ada apa ini dek?” tanya Agnes yang nampak baru sadar saat wajahnya diusap oleh


Bimo menggunakan handuk kecil yang masih kecium aroma parfum lavender.

__ADS_1


“Telinga


mbak tadi dengerin suara apa?” tanya Bimo usai mengusap wajah Agnes.


“Apa


yach, kayak suara dengungan yang kenceng banget,” jawab Agnes sambil menatap


wajah Bimo yang masih berdiri melipat handuknya.


Usai


melipat handuk kecilnya, Bimo lalu memasukkan ke dalam tas ranselnya kembali.


“Dek,


tadi memang ada apa sih?” tanya Agnes kepo namun masih duduk di atas motor.


“Nggak


apa-apa,” jawab Bimo lalu mengambil helm Agnes yang tergeletak di tanah.


“Neh


di pakai mbak helmnya,” ucap Bimo sambil mengenakan helm diatas kepala Agnes.


Agnes terdiam saat Bimo mengenakan helm di atas


kepalanya.


Dia


seakan dimanjakan oleh adik sepupu yang baru ditemui hari ini.


Usai


memasukkan pengait helm hingga bunyi “klik,” Bimo lalu naik kembali ke jok


depan.


Dia


hidupkan motor lalu melaju kembali menuju rumah Via, kakak sepupunya.


Sedangkan Agnes, dia kembali duduk di belakang sambil


memegang perut Bimo.


Beberapa kali kedua telapak tangannya coba meraba


******** Bimo, namun sekali lagi Bimo tidak begitu memperhatikan dan


meresponnya.


Hal ini bisa terjadi karena selama dalam


perjalanan, Bimo merasa ada yang aneh dengan penglihatannya.


Dia


menjadi bisa melihat semua hal yang ada di sekitar jalan raya.


Banyak


orang-orang aneh yang tiba-tiba muncul di depannya.


Bahkan


saat dia sedang mengebut, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang berlari sambil


menenteng kepalanya menyeberang jalan tanpa melihat jalanan.


Bimo


sempat mengerem dengan kuat hingga membuat kedua buah dadaAgnes


menempel ke punggungnya.


“Dek


ada apa sih?” tanya Agnes kaget sambil memukul lengan Bimo dengan kuat.


Bimo


terdiam sambil terus melaju dan mengendalikan laju motor.


“Sorry


mbak, barusan aku kelilipan tadi,” jawab Bimo sambil cengengesan.


Bimo


coba memfokuskan pikirannya ke depan lagi.


“Astaghfirullah,


jangan-jangan aku jadi anak indigo ini,” gumam Bimo dalam hati.


Bimo


jadi sedikit khawatir saat menjalankan motornya.


Dia


khawatir tidak bisa membedakan mana manusia dan mana jin.


“Ya


Alloh, hamba mohon ampunan Mu atas kesombongn hamba ini,” gumam Bimo dalam hati


yang mulai menyadari kesalahannya sendiri.


Namun


apa yang Bimo ucapkan, ternyata tidak akan mampu mengembalikan apa yang sudah


dia lakukan.


Dia


merasa mendapat hukuman atas ketidak percayaannya selama ini.


Dia


percaya dengan adanya Tuhan dan Malaikat, namun dia tidak mempercayai adanya


makhluk lain di muka bumi ini.


yang baru dia sadari sekarang.


“Duh


aku kudu ati-ati ini,” gumam Bimo dalam hati.


***


Akhirnya


tidak lama setelah itu, sampailah mereka berdua di rumah Via.


Saat


masih di atas motor dan baru sampai depan rumah, tiba-tiba saja dia diteriaki


oleh seorang wanita berusia 25tahun.


“Hoeeee


dek Bimo! Akhirnya sampai kesini juga


kamuu,”


sapa Via yang sedang menjemur pakaian dan hanya mengenakan daster tanpa lengan


yang panjangnya sepaha.


Via


kakak sepupu Bimo ini memiliki profesi sebagai biduan dangdut kelas atas.


Bimo tertegun kaget saat melihat


penampilan Via sekarang sudah sangat berubah.


Via yang dulunya agak gendut, berkulit gelap, galak,


suaranya kenceng, dan seringkali mencubit.


Kini telah berubah menjadi wanita yang seksi, berkulit putih, cantik dan glowing.


Mirip banget plek ketipleknya dengan penyanyi Via


Vallen.


Hal ini membuat Bimo menggelengkan kepalanya


perlahan.


Apalagi


rambut Via yang mengombak nampak indah dengan cat rambut warna


emas.


“Ya ampuunnn mbaakk, berubah banget sekarang. Jadi tambah cantik, seksi, putih,” puji Bimo


lalu turun dari atas motor.


Bimo


lalu melepas helm yang dia kenakan kemudian berjalan mendatangi Via.


Dia


cium tangan kakaknya itu sambil membungkukkan badannya.


Via


lalu mengusap kepala Bimo dan lanjut memeluk tubuh Bimo


dengan erat.


Tanpa sengaja dada Bimo menempel dengan kedua buah


dada Via yang besar dan montok.


Namun berhubung Bimo ini bocah lugu, lucu tur wagu.


Dia abaikan rasa itu.


Sebagai adik sepupu, dia tetap menganggap Via adalah


kakak yang harus dia hormati, sayangi dan lindungi.


Bimo lalu membalas pelukan erat kakak sepupunya


inidengan lebih erat.


“Kamu itu lho, hape kamu kenapa kok nggak bisa


dihubungi?” tanya Agnes sambil menepuk pundak Bimo.


“Ilang dicuri orang mbak,” jawab Bimo dengan


santainya.


“Ya


ampun, makanya toh. Kalau naik bis jangan tidur mulu,” ucap


Via sambil menarik hidung Bimo sedikit kuat.


Bimo hanya tersenyum sambil membalas tatapan Via


dengan sedikit tertawa.


“Beneran ganteng banget lho kamu ini, ya ampuuunnn


seneng aku punya adek ganteng kaya kamu,” ucap Via sambil mencubit pipi Bimo sedikit kuat.


“Auuwww!” teriak Bimo.


Bimo jadi teringat dengan kebiasaan kakak sepupunya


ini yang suka mencubit dirinya dulu.


Namun lain dulu lain sekarang.


Baginya wanita yang memiliki tinggi badan 159 cm


dengan berat badan 60 kg ini sudah sangat cantik, seksi dan begitu mempesona.


Jangankan dicubit, mau digampar pun mungkin Bimo akan

__ADS_1


diam saja asalkan dilakukan dengan penuh kasih sayang.


Bimo pun hanya tersenyum manis mendengar ucapanVia.


“Padahal udah empat bulan aku lari-lari tiap pagi


sampai sore buat jadi tentara lho mbak, jadi kulit ku banyak kebakar sinar


matahari,” jawab Bimo pelan.


“Iya udah, nggak usah diinget-inget. Bapak mu memang


suka gitu, maksain kehendakanya sendiri. Dah sekarang kamu mau kuliah di sini,


kamu kudu serius belajarnya. Masih suka ikut lomba desain logokan?”


“Ya masih dong mbak, dapet duit dari mana lagi kalau


enggak dari situ. Udah lama nggak dikasih duit bapak ibu soalnya aku,” jawab


Bimo sambil menatap wajah ayu Via.


Via mengacungkan ujung ibu jarinya ke arah Bimo, dia


lalu mengajak adeknya masuk ke dalam rumah.


Kakak sepupu Bimo ini selain sebagai


biduan, Via berprofesi sebagai instruktur senam.


Maka


tak heran apabiladia memiliki body yang cukup bagus.


Bimo


yang berdiri di samping Via,tiba-tiba melihat ada seorang pria tua


yang berdiri di depan pintu rumah kakak sepupunya ini.


“Loh


kok ada pakde,” gumam Bimo dalam hati.


Bimo teringat kalau pakdenya ini sudah meninggal dua tahun lalu, dia berniat mendatangi pakdenya.


Tiba-tiba kakinya selangkah lebih lebar mendatangi


pakdenya, namun tiba-tiba


pakdenya menghilang dengan cepat.


Via


kaget melihat sikap Bimo.


“Heh


dek, kamu ini mau kemana kok main nyelonong aja seperti


itu,” teriak Via yang masih ingin menggandeng tangan Bimo.


Bimo


menoleh ke arah Via.


“Mbak,


eee amet. Aku kebelet pipis,” ucap Bimo sambil


pura-pura sedang menahan kencing.


“Oalah


ya ampun, ya udah sana masuk ke kamar mandi,” sahut Via lalu mengambil ember


yang dia gunakan untuk menjemur pakaian.


Bimo


lalu berlari ke dalam kamar mandi karena dia memang kebelet pipis, walau tidak


kebelet banget.


Via


dan Agnes kemudian menyusul masuk ke dalam rumah.


***


Usai


kencing, Bimo keluar dari kamar mandi dengan wajah


lega.


Namun tanpa sengaja dia melihat


ada Angelica, wanita yang dia temui tadi pagi saat di bis.


Angelica terlihat tengah duduk


nonton tv bersama mamahnya.


“Loh mbak Angelica, Alhamdulillah dompet dan duit ku


ketemu lagi,” gumam Bimo dalam hati.


Di saat Bimo nampak kaget saat melihat Angelica,


Angelica pun nampak kaget saat menatap Bimo.


Bimo melihat kekagetan Angelica, namun berhubung dia


belum begitu tahu siapakah Angelica ini sebenarnya.


Dia memilih untuk menyapa budenya lebih dulu.


“Bude


Gandariiii,” sapa Bimo yang langsung berjalan mendatangi budenya.


Bimo


lalu menekuk kedualututnya hingga menyentuh lantai.


Dia


cium punggung telapak tangan budenya dengan lembut.


Gandari


tersenyum melihat kesopanan kemenakannya yang biasa bengal dan sulit diaturini.


“Hape mu kemana to tole cah bagus?” tanya budenya


sambil mengusap ubun-ubun kepalanya.


Bimo ingin memberitahu budenya kalau Angelicalah yang


mengambil handphone miliknya, namun entah kenapa dia berubah pikiran.


Dia tidak ingin mempermalukan Angelica di depan


budenya karena dia sendiri masih belum mengetahui siapakah Angelica ini.


Apakah kakak sepupunya, atau orang lain yang kebetulan


main di rumah kakaknya Via.


“Ilang bude, tadi ketiduran di bis.”


“Ya Alloh toleeee toleeee, kamu ini dari dulu sampek


sekarang masih aja suka molor waktu di bis,” tanggap budenya pelan.


Bimo tidak ingin membahas hanphonenya yang dicuri


Angelica, dia hanya ingin tahu siapakah wanita yang sudah ada di samping


budenya ini.


Perlahan dia tolehkan kepalanya ke arah Angelica.


“Ini mbak siapa bude?” tanya Bimo yang kemudian kembali


menatap ke arah budenya.


“Ini mbak Renata bocah


bagus, adiknya mbak Via,” jawab Gandari sambil menarik tangan Angelica yang


ternyata bernama Renata untuk bersalaman dengan Bimo.


Bimo lalu menjabat tangan Renata dengan pelan.


Dia tersenyum manis menunjukkan keramahannya.


“Ouw mbak Renata, bukan mbak Angelica ya bude?” tanya


Bimo sambil menekan tangan Renata sedikit kuat.


Renata yang sebelumnya menyamar menjadi Angelica hanya


terdiam.


Sedangkan Bimo masih menatap wanita ayu di depannya


ini dengan ramah.


“Mbak


Renata, tambah cantik aja,” ucap Bimo lalu mencium punggung tangan Renata


dengan penuh rasa sopan.


Renata sempat kaget saat tangannya dicium Bimo, namun dia cobatersenyum melihat kesopanan Bimo.


Tiba-tiba di wajahnya terlihat betapa malunya dia,


karena pagi tadi dia menunjukkan kedua buah dadanya kepada adik sepupu yang


tidak pernah dia jumpai sebelumnya.


Namun berhubung dia tidak ingin diketahui kalau


sebelumnya pernah bertemu dengan Bimo, dia pun menyapa balik adik sepupunya ini


dengan penuh keakraban.


“Hehehehe makasih, kamu juga ganteng kok dek,” ucap


Renata sambil menepuk lengan Bimo dengan pelan.


Renata coba menghangatkan keadaan dengan menunjukkan


keakraban diantara dirinya dengan Bimo.


Kali ini mereka berusaha menetralisir keadaan dengan


lebih akrab dan tidak menganggap masalah yang sudah terjadi di bis menjadi


masalah yang besar.


Tidak lama keluar dari dalam kamar kedua anak Via


yaitu Ali dan Ayub.


Ali masih berusia 3 tahun dan Ayub 2 tahun, keduanya


memang sangat mengenal Bimo karena dari bayi sering bersama Bimo.


“Oommm Bimooo!” teriak mereka menyambut kedatangan


Bimo.


Bimo memeluk erat kedua keponakannya ini dan


memberikan hadiah yang ada di dalam tasnya.


Di saat kedua kakak dan keponakannya menyambutnya


dengan antusias, namun tidak dengan Agnes.


Dia


malah nampak suntuk dan uring-uringan dengan memasang tampang jutek.


“Kamu


ngapa Nes kok marah gitu?” tanya mamahnya sambil menatap puteri bungsunya yang


duduk di depannya.

__ADS_1


__ADS_2