
Bimo
kesulitan mengendalikan kedua tangannya.
Suara
cambukan cemeti yang diiringi tabuhan gamelan dan tiupan terompet yang mengalun begitu kuatdi pinggir jalan benar-benar mengganggu
pendengarannya.
Tanpa
sengaja dia melihat beberapa orang memberikan uang receh kepada pria yang
membawa sebuah wadah yang digunakan untuk menerima pemberian dari para pengguna
jalan yang berhenti di depan lampu lalu lintas.
Kedua
tangannya yang bergerak seperti seorang Nyi Roro Kidul yang seksi seakan tiada
henti untuk terus menari.
“Astaghfirullah,
astaghfirullaaahhh,” seru Bimo dalam hatinya.
Bimo
berusaha menguasai dirinya kembali, dia tidak ingin menjadi orang yang dikuasai
oleh jin jahat seperti yang dibilang ustad Sayyid tadi.
“Ashhaduanlaaa
iillaaaa haailallaaaahhhh,” seru Bimo dalam hati.
Berkali-kali dia mengucapkan dua kalimat syahadat
sembari berusaha mengeluarkan tenaganya dengan kuat agar bisa terbebas dari
rasa yang sakit yang membelenggunya.
“Uuuhhhh! Allaahhhhuuu Akbaarrrr!”
“Praanggg.”
Tiba-tiba
kedua mata Bimo nampak cerah dan terang benderang lagi.
Kedua
telinganya menjadi jelas dan suara dengungan yang memenuhi telinganya tadi
tiba-tiba menghilang.
Namun
dia kaget saat melihat Agnes yang tiba-tiba ikut menari mengikuti alunan musik
yang dimainkan orang-orang tersebut.
Kedua telapak tangan Agnes begitu luwes bergerak
seperti Nyi Roro Kidul yang seksi.
Dia menari seperti penari jatilan disertai dengan
gerakan mata ke kanan ke kiri dan terkadang ke atas bawah.
“Astaghfirullah
mbak,” ucap Bimo kaget.
Bimo
kaget, karena wajah yang dia lihat kali ini bukanlah wajah Agnes.
Melainkan
wanita yang ada di lukisan rumah budenya tadi.
Buru-buru
dia duduk kembali ke atas jok motor dan melihat
keadaan sekitarjalan.
Saat
dia rasa jalanan sepi, dan lampu hijau menyala. Dengan cepat dia tancap gas
meninggalkan sekelompok orang yang tengah memainkan musik tradisional tadi.
Dia
lihat Agnes masih terus menari di belakangnya.
Khawatir
kalau Agnes melompat dari atas motor, Bimo langsung mengurangilaju motornya kemudian mencari tempat yang lapang untuk berhenti.
Tidak
lama akhirnya dia melihat ada tanah lapang yang sepi.
Dengan
cepat dia segera menghentikan laju motor di atas tanah lapang tersebut.
Dia
lalu turun dari motor dan segera berdiri di samping Agnes.
Perlahan
dia lepas helm yang dikenakan Agnes, lalu dia letakkan di pinggir jalan.
“Mbak,
mbak,” panggil Bimo sambil memijit tengkuk leher belakang Agnes dengan pelan.
Agnes
menghiraukan panggilannya.
Dia
masih terus menari seperti orang gila.
“Astaghfirullah.
Mbak sadar mbak, jangan mau dikuasai jin,” bisik Bimo perlahan ke telinga
Agnes.
Agnes
masih terus menari danmenghiraukan bisikan Bimo.
Kali ini tarian Agnes begitu kuat disertai dengan
kedua mata yang mendelik lebar seperti penari Bali dengan jemari yang bergerak
lincah.
Wajah Bimo yang berada di dekat telinga Agnes,
tiba-tiba di dorongnya dengan perlahan agar menyingkir dari wajahnya.
Bimo pun sempat malu saat wajahnya didorong Agnes, dia lalumelihat
ke sekelilingnya.
Tidak
ada satupun orang yang bisa dia mintai tolong untuk menyadarkan Agnes saat ini.
Dia
menduga Agnes saat ini seperti apa yang dia rasakan barusan.
Telinga
berdengung dengan kuat, dan tidak bisa menguasai kedua tangan dan jiwanya.
“Mbaakkk sadar mbaakkk,” bisik Bimo dengan pelan ke
telinga Agnes.
Agnes masih belum mau merespon suaranya.
Dia coba pegang kedua tangan Agnes agar tidak terus
menari, namun Agnes masih belum mau berhenti.
Akhirnya
dia coba membisikkan beberapa kalimat ke telinga Agnes.
“A’udzu
bikalimatillahi tammaaah,” bisik Bimo pelan ke telinga Agnes.
Usai membisikkan potongan ayat kursi, Agnes masih terus menari.
Dia lalu
membacakan beberapa kalimat ta’awudz.
“A’udzubillah
himinasyaithoon nirroojiim. Bismillah hirrakh maanirrookhiim,” bisik Bimo
perlahan di telinga kiri Agnes sambil terus memijit tengkuk leher belakangnya
dengan kuat.
Keajaiban pun terjadi dengan cepat, Agnes tiba-tiba
mengaduh karenakesakitan.
“Aduudduuuu,
sakit dek sakit,” sergah Agnes mengeluh kesakitan disaat Bimo menekan
tengkuknya dengan kuat.
Wajah
Agnes seketika berubah menjadi Agnes kembali.
Bimo
menarik nafas panjang lalu dia lepaskan perlahan.
“Alhamdulillah
mbak bisa terlepas dari pengaruh jin jahat ini,” gumam Bimo dalam hati.
Wajah
Agnes nampak penuh dengan peluh.
Bimo mengambil kain handuk kering miliknya yang masih baru dari dalam tas.
Lalu
perlahan dia usapkan handuk tersebut ke wajah Agnessembari menata rambut Agnes agar kembali rapi.
“Ini
handuk baru mbak, nggak apa-apa ya daripada bedak mbak luntur,” ucap Bimo
sambil terus mengusapkan handuk kecil ke wajah Agnes.
Agnes terdiam dan membiarkan Bimo mengusap wajah putihnya.
Kedua bola matanya menatap wajah Bimo disertai
senyuman manis dari bibir tipisnya.
Setelah beberapa saat Bimo mengusap wajah Agnes, tidak
lama kemudian Agnes sepenuhnya pulih dari ketidaksadarannya.
“Eh
ada apa ini dek?” tanya Agnes yang nampak baru sadar saat wajahnya diusap oleh
Bimo menggunakan handuk kecil yang masih kecium aroma parfum lavender.
__ADS_1
“Telinga
mbak tadi dengerin suara apa?” tanya Bimo usai mengusap wajah Agnes.
“Apa
yach, kayak suara dengungan yang kenceng banget,” jawab Agnes sambil menatap
wajah Bimo yang masih berdiri melipat handuknya.
Usai
melipat handuk kecilnya, Bimo lalu memasukkan ke dalam tas ranselnya kembali.
“Dek,
tadi memang ada apa sih?” tanya Agnes kepo namun masih duduk di atas motor.
“Nggak
apa-apa,” jawab Bimo lalu mengambil helm Agnes yang tergeletak di tanah.
“Neh
di pakai mbak helmnya,” ucap Bimo sambil mengenakan helm diatas kepala Agnes.
Agnes terdiam saat Bimo mengenakan helm di atas
kepalanya.
Dia
seakan dimanjakan oleh adik sepupu yang baru ditemui hari ini.
Usai
memasukkan pengait helm hingga bunyi “klik,” Bimo lalu naik kembali ke jok
depan.
Dia
hidupkan motor lalu melaju kembali menuju rumah Via, kakak sepupunya.
Sedangkan Agnes, dia kembali duduk di belakang sambil
memegang perut Bimo.
Beberapa kali kedua telapak tangannya coba meraba
******** Bimo, namun sekali lagi Bimo tidak begitu memperhatikan dan
meresponnya.
Hal ini bisa terjadi karena selama dalam
perjalanan, Bimo merasa ada yang aneh dengan penglihatannya.
Dia
menjadi bisa melihat semua hal yang ada di sekitar jalan raya.
Banyak
orang-orang aneh yang tiba-tiba muncul di depannya.
Bahkan
saat dia sedang mengebut, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang berlari sambil
menenteng kepalanya menyeberang jalan tanpa melihat jalanan.
Bimo
sempat mengerem dengan kuat hingga membuat kedua buah dadaAgnes
menempel ke punggungnya.
“Dek
ada apa sih?” tanya Agnes kaget sambil memukul lengan Bimo dengan kuat.
Bimo
terdiam sambil terus melaju dan mengendalikan laju motor.
“Sorry
mbak, barusan aku kelilipan tadi,” jawab Bimo sambil cengengesan.
Bimo
coba memfokuskan pikirannya ke depan lagi.
“Astaghfirullah,
jangan-jangan aku jadi anak indigo ini,” gumam Bimo dalam hati.
Bimo
jadi sedikit khawatir saat menjalankan motornya.
Dia
khawatir tidak bisa membedakan mana manusia dan mana jin.
“Ya
Alloh, hamba mohon ampunan Mu atas kesombongn hamba ini,” gumam Bimo dalam hati
yang mulai menyadari kesalahannya sendiri.
Namun
apa yang Bimo ucapkan, ternyata tidak akan mampu mengembalikan apa yang sudah
dia lakukan.
Dia
merasa mendapat hukuman atas ketidak percayaannya selama ini.
Dia
percaya dengan adanya Tuhan dan Malaikat, namun dia tidak mempercayai adanya
makhluk lain di muka bumi ini.
yang baru dia sadari sekarang.
“Duh
aku kudu ati-ati ini,” gumam Bimo dalam hati.
***
Akhirnya
tidak lama setelah itu, sampailah mereka berdua di rumah Via.
Saat
masih di atas motor dan baru sampai depan rumah, tiba-tiba saja dia diteriaki
oleh seorang wanita berusia 25tahun.
“Hoeeee
dek Bimo! Akhirnya sampai kesini juga
kamuu,”
sapa Via yang sedang menjemur pakaian dan hanya mengenakan daster tanpa lengan
yang panjangnya sepaha.
Via
kakak sepupu Bimo ini memiliki profesi sebagai biduan dangdut kelas atas.
Bimo tertegun kaget saat melihat
penampilan Via sekarang sudah sangat berubah.
Via yang dulunya agak gendut, berkulit gelap, galak,
suaranya kenceng, dan seringkali mencubit.
Kini telah berubah menjadi wanita yang seksi, berkulit putih, cantik dan glowing.
Mirip banget plek ketipleknya dengan penyanyi Via
Vallen.
Hal ini membuat Bimo menggelengkan kepalanya
perlahan.
Apalagi
rambut Via yang mengombak nampak indah dengan cat rambut warna
emas.
“Ya ampuunnn mbaakk, berubah banget sekarang. Jadi tambah cantik, seksi, putih,” puji Bimo
lalu turun dari atas motor.
Bimo
lalu melepas helm yang dia kenakan kemudian berjalan mendatangi Via.
Dia
cium tangan kakaknya itu sambil membungkukkan badannya.
Via
lalu mengusap kepala Bimo dan lanjut memeluk tubuh Bimo
dengan erat.
Tanpa sengaja dada Bimo menempel dengan kedua buah
dada Via yang besar dan montok.
Namun berhubung Bimo ini bocah lugu, lucu tur wagu.
Dia abaikan rasa itu.
Sebagai adik sepupu, dia tetap menganggap Via adalah
kakak yang harus dia hormati, sayangi dan lindungi.
Bimo lalu membalas pelukan erat kakak sepupunya
inidengan lebih erat.
“Kamu itu lho, hape kamu kenapa kok nggak bisa
dihubungi?” tanya Agnes sambil menepuk pundak Bimo.
“Ilang dicuri orang mbak,” jawab Bimo dengan
santainya.
“Ya
ampun, makanya toh. Kalau naik bis jangan tidur mulu,” ucap
Via sambil menarik hidung Bimo sedikit kuat.
Bimo hanya tersenyum sambil membalas tatapan Via
dengan sedikit tertawa.
“Beneran ganteng banget lho kamu ini, ya ampuuunnn
seneng aku punya adek ganteng kaya kamu,” ucap Via sambil mencubit pipi Bimo sedikit kuat.
“Auuwww!” teriak Bimo.
Bimo jadi teringat dengan kebiasaan kakak sepupunya
ini yang suka mencubit dirinya dulu.
Namun lain dulu lain sekarang.
Baginya wanita yang memiliki tinggi badan 159 cm
dengan berat badan 60 kg ini sudah sangat cantik, seksi dan begitu mempesona.
Jangankan dicubit, mau digampar pun mungkin Bimo akan
__ADS_1
diam saja asalkan dilakukan dengan penuh kasih sayang.
Bimo pun hanya tersenyum manis mendengar ucapanVia.
“Padahal udah empat bulan aku lari-lari tiap pagi
sampai sore buat jadi tentara lho mbak, jadi kulit ku banyak kebakar sinar
matahari,” jawab Bimo pelan.
“Iya udah, nggak usah diinget-inget. Bapak mu memang
suka gitu, maksain kehendakanya sendiri. Dah sekarang kamu mau kuliah di sini,
kamu kudu serius belajarnya. Masih suka ikut lomba desain logokan?”
“Ya masih dong mbak, dapet duit dari mana lagi kalau
enggak dari situ. Udah lama nggak dikasih duit bapak ibu soalnya aku,” jawab
Bimo sambil menatap wajah ayu Via.
Via mengacungkan ujung ibu jarinya ke arah Bimo, dia
lalu mengajak adeknya masuk ke dalam rumah.
Kakak sepupu Bimo ini selain sebagai
biduan, Via berprofesi sebagai instruktur senam.
Maka
tak heran apabiladia memiliki body yang cukup bagus.
Bimo
yang berdiri di samping Via,tiba-tiba melihat ada seorang pria tua
yang berdiri di depan pintu rumah kakak sepupunya ini.
“Loh
kok ada pakde,” gumam Bimo dalam hati.
Bimo teringat kalau pakdenya ini sudah meninggal dua tahun lalu, dia berniat mendatangi pakdenya.
Tiba-tiba kakinya selangkah lebih lebar mendatangi
pakdenya, namun tiba-tiba
pakdenya menghilang dengan cepat.
Via
kaget melihat sikap Bimo.
“Heh
dek, kamu ini mau kemana kok main nyelonong aja seperti
itu,” teriak Via yang masih ingin menggandeng tangan Bimo.
Bimo
menoleh ke arah Via.
“Mbak,
eee amet. Aku kebelet pipis,” ucap Bimo sambil
pura-pura sedang menahan kencing.
“Oalah
ya ampun, ya udah sana masuk ke kamar mandi,” sahut Via lalu mengambil ember
yang dia gunakan untuk menjemur pakaian.
Bimo
lalu berlari ke dalam kamar mandi karena dia memang kebelet pipis, walau tidak
kebelet banget.
Via
dan Agnes kemudian menyusul masuk ke dalam rumah.
***
Usai
kencing, Bimo keluar dari kamar mandi dengan wajah
lega.
Namun tanpa sengaja dia melihat
ada Angelica, wanita yang dia temui tadi pagi saat di bis.
Angelica terlihat tengah duduk
nonton tv bersama mamahnya.
“Loh mbak Angelica, Alhamdulillah dompet dan duit ku
ketemu lagi,” gumam Bimo dalam hati.
Di saat Bimo nampak kaget saat melihat Angelica,
Angelica pun nampak kaget saat menatap Bimo.
Bimo melihat kekagetan Angelica, namun berhubung dia
belum begitu tahu siapakah Angelica ini sebenarnya.
Dia memilih untuk menyapa budenya lebih dulu.
“Bude
Gandariiii,” sapa Bimo yang langsung berjalan mendatangi budenya.
Bimo
lalu menekuk kedualututnya hingga menyentuh lantai.
Dia
cium punggung telapak tangan budenya dengan lembut.
Gandari
tersenyum melihat kesopanan kemenakannya yang biasa bengal dan sulit diaturini.
“Hape mu kemana to tole cah bagus?” tanya budenya
sambil mengusap ubun-ubun kepalanya.
Bimo ingin memberitahu budenya kalau Angelicalah yang
mengambil handphone miliknya, namun entah kenapa dia berubah pikiran.
Dia tidak ingin mempermalukan Angelica di depan
budenya karena dia sendiri masih belum mengetahui siapakah Angelica ini.
Apakah kakak sepupunya, atau orang lain yang kebetulan
main di rumah kakaknya Via.
“Ilang bude, tadi ketiduran di bis.”
“Ya Alloh toleeee toleeee, kamu ini dari dulu sampek
sekarang masih aja suka molor waktu di bis,” tanggap budenya pelan.
Bimo tidak ingin membahas hanphonenya yang dicuri
Angelica, dia hanya ingin tahu siapakah wanita yang sudah ada di samping
budenya ini.
Perlahan dia tolehkan kepalanya ke arah Angelica.
“Ini mbak siapa bude?” tanya Bimo yang kemudian kembali
menatap ke arah budenya.
“Ini mbak Renata bocah
bagus, adiknya mbak Via,” jawab Gandari sambil menarik tangan Angelica yang
ternyata bernama Renata untuk bersalaman dengan Bimo.
Bimo lalu menjabat tangan Renata dengan pelan.
Dia tersenyum manis menunjukkan keramahannya.
“Ouw mbak Renata, bukan mbak Angelica ya bude?” tanya
Bimo sambil menekan tangan Renata sedikit kuat.
Renata yang sebelumnya menyamar menjadi Angelica hanya
terdiam.
Sedangkan Bimo masih menatap wanita ayu di depannya
ini dengan ramah.
“Mbak
Renata, tambah cantik aja,” ucap Bimo lalu mencium punggung tangan Renata
dengan penuh rasa sopan.
Renata sempat kaget saat tangannya dicium Bimo, namun dia cobatersenyum melihat kesopanan Bimo.
Tiba-tiba di wajahnya terlihat betapa malunya dia,
karena pagi tadi dia menunjukkan kedua buah dadanya kepada adik sepupu yang
tidak pernah dia jumpai sebelumnya.
Namun berhubung dia tidak ingin diketahui kalau
sebelumnya pernah bertemu dengan Bimo, dia pun menyapa balik adik sepupunya ini
dengan penuh keakraban.
“Hehehehe makasih, kamu juga ganteng kok dek,” ucap
Renata sambil menepuk lengan Bimo dengan pelan.
Renata coba menghangatkan keadaan dengan menunjukkan
keakraban diantara dirinya dengan Bimo.
Kali ini mereka berusaha menetralisir keadaan dengan
lebih akrab dan tidak menganggap masalah yang sudah terjadi di bis menjadi
masalah yang besar.
Tidak lama keluar dari dalam kamar kedua anak Via
yaitu Ali dan Ayub.
Ali masih berusia 3 tahun dan Ayub 2 tahun, keduanya
memang sangat mengenal Bimo karena dari bayi sering bersama Bimo.
“Oommm Bimooo!” teriak mereka menyambut kedatangan
Bimo.
Bimo memeluk erat kedua keponakannya ini dan
memberikan hadiah yang ada di dalam tasnya.
Di saat kedua kakak dan keponakannya menyambutnya
dengan antusias, namun tidak dengan Agnes.
Dia
malah nampak suntuk dan uring-uringan dengan memasang tampang jutek.
“Kamu
ngapa Nes kok marah gitu?” tanya mamahnya sambil menatap puteri bungsunya yang
duduk di depannya.
__ADS_1