
Agnes masih memasang wajah jutek ke arah Bimo, namun
tak lama kemudian dia jelaskan apa hal yang membuatnya kesal saat ini.
“Kesel
aja sama adek satu ini!Yang lain dicium tangannya, aku malah
dikentutin,” jawab Agnes sewot.
Bimo
mendongakan wajahnya ke arah Agnes, lalu kembali mendekatkan wajahnya ke arahbudenya.
“Eh
bude, amit,” ucap Bimo sambil mendekati telingabudenya.
Gandari terkejut dan mendengarkan apa yang
keponakannya hendak bisikkan.
“Ini
mbak siapa sih bude? Dari tadi mau nanya nggak enak,” bisik Bimo ke telinga
budenya.
Setelah mendengar bisikan Bimo, Gandari malah tertawa
terbahak-bahak.
“Hahahaha.”
Melihat budenya tertawa, Bimo jadi merasa malu karena
ketahuan kalau dari tadi dirinya belum berkenalan dengan kakak sepupunya.
Padahal dari tadi dirinya sudah berjalan bersama dari
rumah Gondomanan sampai ke rumah Via.
Ini menunjukkan kalau Bimo termasuk pria pemalu yang
sulit berkomunikasi dengan orang lain.
Namun rupanya Gandari sudah sangat mengerti keadaan
keponakannya ini.
Dia lalu mengenalkan puteri bungsunya tadi kepada
Bimo.
“Dia
itu mbak Agnes lho tole cah bagus. Adiknya Mbak Via sama Mbak Renata,” sahut
budenya sambil memijit lengan kanan Bimo dengan pelan.
Bimo menoleh ke arah Agnes sambil memberikan senyuman
terbaiknya.
“Ouwalahmbak Agneesss tooo,” teriak Bimo lalu mendatangi Agnes.
Agnes
malah membuang muka, dia jadi enggan dekat dengan Bimo.
Bimo yang masih memasang mukacengengesan lalu duduk di samping
Agnes.
Dia
raih tangan Agnes.
“Salim
dulu mbak e,” ucapnya coba membujuk kakak sepupunya agar tidak marah
kepadanya.
Dia lalumencium punggung tangan Agnes.
Agnes
masih terlihat sewot walau Bimo sudah memperlakukan dirinya sama dengan kedua
kakaknya.
“Kok
masih marah mbak,” tanya Bimo sambilmenatap wajah
Agnes.
Agnes lalu membalas tatapan Bimo.
“Kamu
itu dari tadi ternyata belum kenal sama aku toh?”
Bimo kembali tertawa sambil menganggukkan kepalanya
pelan.
“Hehehe iya,” jawab Bimo dengan wajah cengengesan.
“Udah
sih Nes, adiknya jauh-jauh datang dari Madiun bukanya disambut malah
dimarah-marah,” sergah mamahnya dengan sedikit kuat suaranya.
“Adik
apaan sih mah, kenal aja barusan gini kok,” sahut Agnes kesal.
“Adek
nemu gede aku ini mbak,” ucap Bimo lalu tertawa cekikikan.
Agnes hanya mencibirkan bibirnya ke depan lalu pergi menuju
ke kamarnya.
Melihat Agnes masuk ke dalam kamarnya, Bimo lalu duduk
di samping budenya.
Dia merasa nyaman saat tinggal di rumah budenya kali
ini, walau tanggapan Agnes yang masih jutek dan sewot kepadanya tadi.
Baginya hal itu tidak terlalu menjadi masalah besar.
Karena yang penting baginya saat ini adalah budenya
masih mau menerima dirinya tinggal di rumahnya yang ada di gondomanan.
Baru saja dia duduk bersama budenya, Via nampak sudah
bersiap untuk pergi keluar dari rumah.
“Mau kemana mbak?” tanya Bimo.
“Mau keliling ambilin duit kue,” jawab Via.
Sadar diri kalau dirinya saat ini tengah menumpang di
rumah budenya, dia coba menyumbangkan tenaga untuk meringankan beban Via.
“Sama siapa keliling?” tanya Bimo kembali.
“Sama mbak Renata, kenapa? Kamu pengen ikut
jalan-jalan ya?” tanya Via.
Bimo menganggukkan kepala.
“Ya udah ayo,” ucap Via.
Gandari terkejut mendengar ajakan Via.
__ADS_1
“Eh jangan, bocah baru sampai dari Madiun kok kamu
ajak pergi to Via,” ucap Gandari.
“Nggak apa-apa bude, panas-panas gini kasihan mbak Via
keluyuran. Ntar kulitnya item,” ucap Bimo.
Gandari tersenyum mendengar jawaban Bimo yang sudah
berdiri dengan tegap dan nampak siap untuk pergi.
“Neh kuncinya, pakai motor mbak yang di garasi,” ucap
Via sambil memberikan kunci motor kepada Bimo.
Bimo menerima kunci motor tersebut lalu berpamitan
kepada budenya untuk mengantarkan Via keliling mengambil uang kue.
Setelah itu dia berjalan keluar dari rumah menuju ke
halaman depan.
Saat melintas di ruang tamu, dia lihat Renata tengah
bermain-main dengan dua keponakannya.
Bimo hanya diam saja saat melihat Renata tengah, dia coba
mengikhlaskan apa yang telah diambil Renata darinya saat di bis tadi.
Namun tiba-tiba dia teringat dengan kartu
handphonenya.
Dia masih membutuhkan kartu tersebut agar bisa
berkumunikasi dengan ibu dan kawan-kawannya.
Saat hendak membalikkan badannya, tiba-tiba Via sudah
berada di belakangnya dengan membawa tas belanjaan yang masih kosong isinya.
“Ada yang ketinggalan dek?” tanya Via.
Bimo terpaksa membatalkan niatnya untuk meminta nomer
handphonenya kepada Renata.
Pikir dia itu bisa dia lakukan nanti atau lusa karena
dia dan Renata sering bertemu.
“Nggak jadi ding, nyari dompet ku yang satu ternyata
masih ada,” jawab Bimo lalu terpaksa balik badan lagi dan segera berjalan
menuju ke garasi.
Via lalu mengikuti Bimo dengan berjalan menuju ke
garasi.
Setelah itu Bimo naik ke atas motor dan menghidupkan
mesin.
“Bruunggg duumm duummmm.”
Sementara Renata masih menatap dirinya dari dalam
ruang tamu dengan tatapan biasa saja, tidak nampak di wajahnya rasa tidak enak
atau malu kepadanya saat ini.
Bimo hanya terdiam dan mengalihkan perhatiannya dengan
Via.
Dia ikuti arahan dari Via yang mengajaknya menuju ke
10 tempat untuk mengambil uang kue.
Setelah mengantar ke 10 tempat tersebut, Via sekalian
Bimo pun ikut turun dari atas motor dan membawakan
belanjaan Via dari toko hingga ke motor.
Via pun nampak senang saat berbelanja dengan Bimo,
selain merasa aman. Dia juga merasa enak karena Bimo yang membawakan semua
belanjaannya.
Dan setelah belanja, Via mengajak Bimo untuk makan
siang ke warung soto yang jadi langganannya.
“Dek, kita makan soto dulu yuk.”
Bimo menganggukkan kepalanya karena memang tadi belum
sempat makan saat sampai di Jogja.
Saat duduk makan soto, dia lihat Via mengeluarkan isi
dompetnya.
Dia lihat hanya tersisa 1 lembar uang Rp 100 ribu di
dalam dompet kakak sepupunya.
“Mbak, duitnya habis ya?” tanya Bimo.
Via tertawa dan menepuk pundak Bimo sedikit kuat.
“Kamu ini, ngintip-ngintip duit mbak.”
Bimo tersenyum mendengar ucapan Via, dia hanya merasa
tidak enak jika membiarkan Via membayar makan siang mereka.
Apalagi duit kakaknya tinggal selembar uang Rp 100
ribu.
“Nggak apa-apa, besokkan mbak dapet dari uang kue. Di
ATM juga masih ada sejuta belum mbak ambil,” beber Via.
Bimo mengernyitkan keningnya.
“Ya ampun, cuma sisa sejuta di ATM,” gumamnya dalam
hati.
Dirinya jadi tidak enak tinggal bersama Via, dia pun
memilih akan tinggal di rumah Gondomanan saja.
Dan nanti dia yang akan membayar soto yang mereka
makan saat ini.
Di saat mereka sedang asyik makan soto sambil ngobrol
ngalur ngidul tidak karuan, datang seorang pengemis wanita yang masih muda
usianya dengan wajah terlihat kusam dengan baju lusuh dan acak-acakan.
Dia berdiri di depan warung menatap siapa sajakah
orang-orang yang sedang makan di dalam warung dan bisa dia mintai uang.
Terlihat olehnya ada seorang pria tampan dengan wanita
cantik yang asyik ngobrol sambil menikmati soto ayam dan tempe goreng.
Dia lalu berjalan mendatangi Bimo dan Via.
“Minta duitnya buuuu,” ucap wanita tersebut sambil
menengadahkan tangannya ke depan Via.
__ADS_1
Via mengangkat tangan kanannya memberi tanda kalau dia
tidak punya uang.
“Huuuu, cantik-cantik ternyata pelit!” gumam si
pengemis.
Biar begitu, wanita pengemis ini tetap bergeming
menengadahkan tangannya ke arah Via.
Melihat kakaknya tidak memberikan uang, Bimo lalu merogoh
kantong celananya.
Dia ambil selembar uang Rp 5 ribu dan dia berikan
kepada si wanita tersebut.
“Neh mbak,” ucap Bimo sambil mengulurkan tangan
kanannya ke arah si pengemis wanita tadi.
Via melihat uang yang Bimo berikan.
Si wanita pun menerima uang dari Bimo dengan
mengucapkan terima kasih.
“Matur nuwuuun,” ucapnya dan hendak pergi.
Namun tiba-tiba.
“Eh yu, jujuli tiga ribu,” ucap Via sambil menoleh ke
arah si wanita tadi.
Bimo pun terkejut mendengar ucapan Via.
Kedua matanya melotot hampir tidak percaya dengan apa
yang Via ucapkan.
“Mbak kok.”
“Sstttt, biarin,” bisik Via.
Wanita tadi lalu mengambil uang Rp 3 ribu dari dalam
saku bajunya dan dia berikan kembali kepada Via.
Setelah itu dia segera beranjak pergi meninggalkan
Bimo dan Via.
“Biarin dek, nanti kawan-kawan dia bakalan kesini,”
bisik Via pelan.
Bimo hanya mengangkat kedua alisnya ke atas dan
melanjutkan menikmati soto ayam.
Benar kata Via, tak lama kemudian datang lagi pengemis
wanita yang lebih tua.
Dia pun mengatungkan tangannya di depan Bimo dan Via.
Via lalu mengambil uang Rp 2 ribu dan dia berikan
kepada si pengemis tadi.
Si ibu tadi pun pergi dengan wajah senang.
Baru saja si ibu pergi, datang lagi dua remaja pria
yang mengamen di dekat Via.
Via berikan langsung uang yang masih tersisa kepada si
remaja tadi.
Mereka pun tidak jadi menyanyi dan hendak berlanjut
pergi, namun tiba-tiba.
“Heh, nyanyi dulu,” pinta Bimo.
Dua remaja tadi pun saling berpandangan.
“Tak tambah seribu nyanyi dulu,” ucap Bimo lalu
mengeluarkan sekeping uang seribu dari dalam kantongnya.
Mereka berdua pun terpaksa bernyanyi menghibur Bimo
dan Via lebih dulu sebelum pergi.
Via pun tertawa melihat tingkah Bimo.
Selesai mereka bernyanyi, dua remaja tadi segera
pergi.
“Ada lagi nggak ya mbak,” ucap Bimo sambil menatap ke
sekelilingnya.
“Halah udah dek, buruan habisin soto mu. Nanti malah
tambah banyak yang kesini,” ucap Via.
Bimo mengangkat kedua alis lalu melanjutkan dengan menghabiskan
sotonya.
Tak lama kemudian datang seorang pria berusia 46 tahun
mengenakan baju serba hitam dengan topi caping di kepala seperti yang biasa
digunakan para petani.
Baju yang dikenakan pria tersebut nampak lusuh dan
kotor seperti baru pulang dari ladang.
Dia berdiri di belakang Bimo dan menundukkan
kepalanya, dia tutupi wajahnya mengenakan topi caping yang dia kenakan.
Bimo menoleh dan memberikan uang Rp 5 ribu kepada pria
tersebut.
Namun si pria menolaknya.
“Aku kemari tidak meminta uang mu anak muda, aku hanya
meminta kepada mu untuk terus bersabar atas semua yang terjadi kepada mu.
Teruslah berbuat baik, dan jangan pernah membenci orang yang berusaha
memanfaatkan mu,” ucapnya dengan nada cepat.
Bimo dan Via pun terhenyak kaget dan menoleh ke arah
pria tersebut.
Namun dengan cepat si pria beranjak pergi meninggalkan
Bimo dan Via.
Bimo hendak berdiri mengejar si pria, namun Via segera
menarik tangan Bimo.
“Sudah dek jangan dikejar, biarin saja,” ucap Via
pelan.
Bimo membatalkan niatnya mengejar si pria.
Dia hanya menatap dari kejauhan dan membiarkan si pria
__ADS_1
berjalan meninggalkan dirinya.