Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 7


__ADS_3

Agnes masih memasang wajah jutek ke arah Bimo, namun


tak lama kemudian dia jelaskan apa hal yang membuatnya kesal saat ini.


“Kesel


aja sama adek satu ini!Yang lain dicium tangannya, aku malah


dikentutin,” jawab Agnes sewot.


Bimo


mendongakan wajahnya ke arah Agnes, lalu kembali mendekatkan wajahnya ke arahbudenya.


“Eh


bude, amit,” ucap Bimo sambil mendekati telingabudenya.


Gandari terkejut dan mendengarkan apa yang


keponakannya hendak bisikkan.


“Ini


mbak siapa sih bude? Dari tadi mau nanya nggak enak,” bisik Bimo ke telinga


budenya.


Setelah mendengar bisikan Bimo, Gandari malah tertawa


terbahak-bahak.


“Hahahaha.”


Melihat budenya tertawa, Bimo jadi merasa malu karena


ketahuan kalau dari tadi dirinya belum berkenalan dengan kakak sepupunya.


Padahal dari tadi dirinya sudah berjalan bersama dari


rumah Gondomanan sampai ke rumah Via.


Ini menunjukkan kalau Bimo termasuk pria pemalu yang


sulit berkomunikasi dengan orang lain.


Namun rupanya Gandari sudah sangat mengerti keadaan


keponakannya ini.


Dia lalu mengenalkan puteri bungsunya tadi kepada


Bimo.


“Dia


itu mbak Agnes lho tole cah bagus. Adiknya Mbak Via sama Mbak Renata,” sahut


budenya sambil memijit lengan kanan Bimo dengan pelan.


Bimo menoleh ke arah Agnes sambil memberikan senyuman


terbaiknya.


“Ouwalahmbak Agneesss tooo,” teriak Bimo lalu mendatangi Agnes.


Agnes


malah membuang muka, dia jadi enggan dekat dengan Bimo.


Bimo yang masih memasang mukacengengesan lalu duduk di samping


Agnes.


Dia


raih tangan Agnes.


“Salim


dulu mbak e,” ucapnya coba membujuk kakak sepupunya agar tidak marah


kepadanya.


Dia lalumencium punggung tangan Agnes.


Agnes


masih terlihat sewot walau Bimo sudah memperlakukan dirinya sama dengan kedua


kakaknya.


“Kok


masih marah mbak,” tanya Bimo sambilmenatap wajah


Agnes.


Agnes lalu membalas tatapan Bimo.


“Kamu


itu dari tadi ternyata belum kenal sama aku toh?”


Bimo kembali tertawa sambil menganggukkan kepalanya


pelan.


“Hehehe iya,” jawab Bimo dengan wajah cengengesan.


“Udah


sih Nes, adiknya jauh-jauh datang dari Madiun bukanya disambut malah


dimarah-marah,” sergah mamahnya dengan sedikit kuat suaranya.


“Adik


apaan sih mah, kenal aja barusan gini kok,” sahut Agnes kesal.


“Adek


nemu gede aku ini mbak,” ucap Bimo lalu tertawa cekikikan.


Agnes hanya mencibirkan bibirnya ke depan lalu pergi menuju


ke kamarnya.


Melihat Agnes masuk ke dalam kamarnya, Bimo lalu duduk


di samping budenya.


Dia merasa nyaman saat tinggal di rumah budenya kali


ini, walau tanggapan Agnes yang masih jutek dan sewot kepadanya tadi.


Baginya hal itu tidak terlalu menjadi masalah besar.


Karena yang penting baginya saat ini adalah budenya


masih mau menerima dirinya tinggal di rumahnya yang ada di gondomanan.


Baru saja dia duduk bersama budenya, Via nampak sudah


bersiap untuk pergi keluar dari rumah.


“Mau kemana mbak?” tanya Bimo.


“Mau keliling ambilin duit kue,” jawab Via.


Sadar diri kalau dirinya saat ini tengah menumpang di


rumah budenya, dia coba menyumbangkan tenaga untuk meringankan beban Via.


“Sama siapa keliling?” tanya Bimo kembali.


“Sama mbak Renata, kenapa? Kamu pengen ikut


jalan-jalan ya?” tanya Via.


Bimo menganggukkan kepala.


“Ya udah ayo,” ucap Via.


Gandari terkejut mendengar ajakan Via.

__ADS_1


“Eh jangan, bocah baru sampai dari Madiun kok kamu


ajak pergi to Via,” ucap Gandari.


“Nggak apa-apa bude, panas-panas gini kasihan mbak Via


keluyuran. Ntar kulitnya item,” ucap Bimo.


Gandari tersenyum mendengar jawaban Bimo yang sudah


berdiri dengan tegap dan nampak siap untuk pergi.


“Neh kuncinya, pakai motor mbak yang di garasi,” ucap


Via sambil memberikan kunci motor kepada Bimo.


Bimo menerima kunci motor tersebut lalu berpamitan


kepada budenya untuk mengantarkan Via keliling mengambil uang kue.


Setelah itu dia berjalan keluar dari rumah menuju ke


halaman depan.


Saat melintas di ruang tamu, dia lihat Renata tengah


bermain-main dengan dua keponakannya.


Bimo hanya diam saja saat melihat Renata tengah, dia coba


mengikhlaskan apa yang telah diambil Renata darinya saat di bis tadi.


Namun tiba-tiba dia teringat dengan kartu


handphonenya.


Dia masih membutuhkan kartu tersebut agar bisa


berkumunikasi dengan ibu dan kawan-kawannya.


Saat hendak membalikkan badannya, tiba-tiba Via sudah


berada di belakangnya dengan membawa tas belanjaan yang masih kosong isinya.


“Ada yang ketinggalan dek?” tanya Via.


Bimo terpaksa membatalkan niatnya untuk meminta nomer


handphonenya kepada Renata.


Pikir dia itu bisa dia lakukan nanti atau lusa karena


dia dan Renata sering bertemu.


“Nggak jadi ding, nyari dompet ku yang satu ternyata


masih ada,” jawab Bimo lalu terpaksa balik badan lagi dan segera berjalan


menuju ke garasi.


Via lalu mengikuti Bimo dengan berjalan menuju ke


garasi.


Setelah itu Bimo naik ke atas motor dan menghidupkan


mesin.


“Bruunggg duumm duummmm.”


Sementara Renata masih menatap dirinya dari dalam


ruang tamu dengan tatapan biasa saja, tidak nampak di wajahnya rasa tidak enak


atau malu kepadanya saat ini.


Bimo hanya terdiam dan mengalihkan perhatiannya dengan


Via.


Dia ikuti arahan dari Via yang mengajaknya menuju ke


10 tempat untuk mengambil uang kue.


Setelah mengantar ke 10 tempat tersebut, Via sekalian


Bimo pun ikut turun dari atas motor dan membawakan


belanjaan Via dari toko hingga ke motor.


Via pun nampak senang saat berbelanja dengan Bimo,


selain merasa aman. Dia juga merasa enak karena Bimo yang membawakan semua


belanjaannya.


Dan setelah belanja, Via mengajak Bimo untuk makan


siang ke warung soto yang jadi langganannya.


“Dek, kita makan soto dulu yuk.”


Bimo menganggukkan kepalanya karena memang tadi belum


sempat makan saat sampai di Jogja.


Saat duduk makan soto, dia lihat Via mengeluarkan isi


dompetnya.


Dia lihat hanya tersisa 1 lembar uang Rp 100 ribu di


dalam dompet kakak sepupunya.


“Mbak, duitnya habis ya?” tanya Bimo.


Via tertawa dan menepuk pundak Bimo sedikit kuat.


“Kamu ini, ngintip-ngintip duit mbak.”


Bimo tersenyum mendengar ucapan Via, dia hanya merasa


tidak enak jika membiarkan Via membayar makan siang mereka.


Apalagi duit kakaknya tinggal selembar uang Rp 100


ribu.


“Nggak apa-apa, besokkan mbak dapet dari uang kue. Di


ATM juga masih ada sejuta belum mbak ambil,” beber Via.


Bimo mengernyitkan keningnya.


“Ya ampun, cuma sisa sejuta di ATM,” gumamnya dalam


hati.


Dirinya jadi tidak enak tinggal bersama Via, dia pun


memilih akan tinggal di rumah Gondomanan saja.


Dan nanti dia yang akan membayar soto yang mereka


makan saat ini.


Di saat mereka sedang asyik makan soto sambil ngobrol


ngalur ngidul tidak karuan, datang seorang pengemis wanita yang masih muda


usianya dengan wajah terlihat kusam dengan baju lusuh dan acak-acakan.


Dia berdiri di depan warung menatap siapa sajakah


orang-orang yang sedang makan di dalam warung dan bisa dia mintai uang.


Terlihat olehnya ada seorang pria tampan dengan wanita


cantik yang asyik ngobrol sambil menikmati soto ayam dan tempe goreng.


Dia lalu berjalan mendatangi Bimo dan Via.


“Minta duitnya buuuu,” ucap wanita tersebut sambil


menengadahkan tangannya ke depan Via.

__ADS_1


Via mengangkat tangan kanannya memberi tanda kalau dia


tidak punya uang.


“Huuuu, cantik-cantik ternyata pelit!” gumam si


pengemis.


Biar begitu, wanita pengemis ini tetap bergeming


menengadahkan tangannya ke arah Via.


Melihat kakaknya tidak memberikan uang, Bimo lalu merogoh


kantong celananya.


Dia ambil selembar uang Rp 5 ribu dan dia berikan


kepada si wanita tersebut.


“Neh mbak,” ucap Bimo sambil mengulurkan tangan


kanannya ke arah si pengemis wanita tadi.


Via melihat uang yang Bimo berikan.


Si wanita pun menerima uang dari Bimo dengan


mengucapkan terima kasih.


“Matur nuwuuun,” ucapnya dan hendak pergi.


Namun tiba-tiba.


“Eh yu, jujuli tiga ribu,” ucap Via sambil menoleh ke


arah si wanita tadi.


Bimo pun terkejut mendengar ucapan Via.


Kedua matanya melotot hampir tidak percaya dengan apa


yang Via ucapkan.


“Mbak kok.”


“Sstttt, biarin,” bisik Via.


Wanita tadi lalu mengambil uang Rp 3 ribu dari dalam


saku bajunya dan dia berikan kembali kepada Via.


Setelah itu dia segera beranjak pergi meninggalkan


Bimo dan Via.


“Biarin dek, nanti kawan-kawan dia bakalan kesini,”


bisik Via pelan.


Bimo hanya mengangkat kedua alisnya ke atas dan


melanjutkan menikmati soto ayam.


Benar kata Via, tak lama kemudian datang lagi pengemis


wanita yang lebih tua.


Dia pun mengatungkan tangannya di depan Bimo dan Via.


Via lalu mengambil uang Rp 2 ribu dan dia berikan


kepada si pengemis tadi.


Si ibu tadi pun pergi dengan wajah senang.


Baru saja si ibu pergi, datang lagi dua remaja pria


yang mengamen di dekat Via.


Via berikan langsung uang yang masih tersisa kepada si


remaja tadi.


Mereka pun tidak jadi menyanyi dan hendak berlanjut


pergi, namun tiba-tiba.


“Heh, nyanyi dulu,” pinta Bimo.


Dua remaja tadi pun saling berpandangan.


“Tak tambah seribu nyanyi dulu,” ucap Bimo lalu


mengeluarkan sekeping uang seribu dari dalam kantongnya.


Mereka berdua pun terpaksa bernyanyi menghibur Bimo


dan Via lebih dulu sebelum pergi.


Via pun tertawa melihat tingkah Bimo.


Selesai mereka bernyanyi, dua remaja tadi segera


pergi.


“Ada lagi nggak ya mbak,” ucap Bimo sambil menatap ke


sekelilingnya.


“Halah udah dek, buruan habisin soto mu. Nanti malah


tambah banyak yang kesini,” ucap Via.


Bimo mengangkat kedua alis lalu melanjutkan dengan menghabiskan


sotonya.


Tak lama kemudian datang seorang pria berusia 46 tahun


mengenakan baju serba hitam dengan topi caping di kepala seperti yang biasa


digunakan para petani.


Baju yang dikenakan pria tersebut nampak lusuh dan


kotor seperti baru pulang dari ladang.


Dia berdiri di belakang Bimo dan menundukkan


kepalanya, dia tutupi wajahnya mengenakan topi caping yang dia kenakan.


Bimo menoleh dan memberikan uang Rp 5 ribu kepada pria


tersebut.


Namun si pria menolaknya.


“Aku kemari tidak meminta uang mu anak muda, aku hanya


meminta kepada mu untuk terus bersabar atas semua yang terjadi kepada mu.


Teruslah berbuat baik, dan jangan pernah membenci orang yang berusaha


memanfaatkan mu,” ucapnya dengan nada cepat.


Bimo dan Via pun terhenyak kaget dan menoleh ke arah


pria tersebut.


Namun dengan cepat si pria beranjak pergi meninggalkan


Bimo dan Via.


Bimo hendak berdiri mengejar si pria, namun Via segera


menarik tangan Bimo.


“Sudah dek jangan dikejar, biarin saja,” ucap Via


pelan.


Bimo membatalkan niatnya mengejar si pria.


Dia hanya menatap dari kejauhan dan membiarkan si pria

__ADS_1


berjalan meninggalkan dirinya.


__ADS_2