
Akhirnya usai berbicara di serambi depan candi
Prambanan, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah Gondomanan karena
hari sudah mulai sore.
Selama perjalanan, Agnes kembali merangkul dada Bimo
dari belakang dengan erat.
Dia tempelkan pipinya ke punggung sambil mulai
bercerita.
“Dek, kamu masih perjaka nggak?” tanya Agnes pelan.
“Masihlah mbak, kenapa memang?”
“Enggak apa-apa,” jawab Agnes pelan.
“Kalau mbak, masih perawan nggak?”
“Udah nggak.”
“Hah! Kok bisa mbak!” sahut Bimo kaget.
Saking kagetnya dia sampai mengerem dan mengurangi
laju motor hingga membuat kedua dada Agnes kembali menubruk pungungnya.
Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Agnes, namun
kedua tangannya terasa makin erat saat merangkul tubuh Bimo.
Dia letakkan pipinya ke pundak belakang Bimo, sambil
terus mengikatkan tangannya lebih erat lagi.
Tak lama kemudian mulailah Agnes bercerita.
“Mbak dulu sama kaya kamu, bucin sama seseorang. Tapi
begitu dia minta pembuktian cinta kepada mbak, dan mbak kasih keperawanan pada
dia. Dia tiba-tiba menghilang ninggalin mbak.”
Bimo tersentak kaget setelah mendengarkan apa yang
kakak sepupunya ucapkan.
Badannya langsung lemas, lunglai tak berdaya.
Dia seakan tak berdaya setelah mendengar pengkuan
Agnes.
“Ya Allooohhhhh, masalah apa lagi ini! Di saat mbak
Via cerai sama suaminya, mbak Renata jual diri di jalanan, eh mbak Agnes malah
tahu-tahu udah nggak perawan. Gimana sih ini anak-anak bude!” gumam Bimo dalam
hati.
Bimo benar-benar marah saat ini.
Namun kemarahannya tidak dia ungkapkan kepada Agnes
maupun orang lain.
Dia hela nafas panjang dan lebih memilih diam, tak
mengeluarkan sepatah kata pun.
“Dek,” ucap Agnes pelan.
Bimo menoleh ke arah belakang.
“Kenapa mbak?” tanya Bimo.
“Kok kamu diem.”
“Ya gimana mbak, semua sudah terjadi. Nggak mungkin
bisa diubah.”
“Iya sih, mbak cuma khawatir aja kalau nggak ada pria
yang mau nikah sama mbak kalau tahu mbak sudah tidak perawan nantinya,” ucap
Agnes yang terus menempelkan pipinya ke pundak Bimo.
“Nggak apa-apa mbak, pasti adalah yang mau nikah sama
mbak. Yang penting mbak jujur aja apa adanya sama calon nanti.”
Agnes kini gantian terdiam.
Memang tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain
menerima keadaannya seperti ini.
“Eee maaf, mbak sempet hamil nggak?”
“Enggak, cuma sekali. Itu pun nggak masuk banget, cuma
nempel dan udah mbak nggak mau lagi.”
“Oalah, itu mah nggak bakalan ilangin keperawanan
mbak. Eh tapi emang bisa nggak sampai masuk?” tanya Bimo yang malah makin
aneh-aneh pertanyaannya.
“Iya beneran, mbak soalnya takut banget dek waktu itu.
Makanya begitu nempel mbak langsung nangis dan nggak mau lagi ngulanginya,”
jawab Agnes pelan.
“Ya udah, mbak jangan ulangi lagi selain dengan suami.
Itu kehormatan wanita mbak, mbak harus jaga sampai di pernikahan nanti,” ucap
Bimo dengan nada pelan.
Agnes kembali terdiam, namun kedua tangannya masih
belum mau dia lepaskan dari tubuh Bimo.
Entah apa yang ada dalam benaknya, namun Bimo
merasakan kalau kakak sepupunya ini nampak sudah bisa mempercayai dirinya saat
ini.
__ADS_1
Dia mau terbuka dan menceritakan apa saja yang dialami
dalam hidupnya saat ini.
Hal ini membuat Bimo semakin sayang dengan kakak
sepupunya ini.
Mau terbuka dan memberi nasehat kepadanya.
Tidak lama kemudian sampailah mereka berdua di rumah
gondomanan.
Agnes tidak ikut turun dari motor, dia langsung
mengambil alih motornya karena ingin langsung pergi.
“Mbak mau langsung aja,” ucap Agnes sambil menatap
wajah Bimo.
Bimo menganggukkan kepalanya pelan.
“Mbak hati-hati di jalan, jangan melamun,” ucap Bimo
sambil menepuk pundak Agnes.
Agnes menganggukkan kepalanya, dan segera pergi
meninggalkan Bimo.
Bimo masih berdiri melihat Agnes yang kemudian pergi
hingga hilang dari pandangannya.
Setelah Agnes tidak terlihat, Bimo lalu membuka pagar
pintu rumah dan menutupnya kembali.
Dia kunci pintu pagar dan setelah itu masuk ke dalam
rumah.
Pintu depan dia kunci dan berjalan masuk ke dalam
kamar Agnes.
Setelah itu dia lepas baju dan menggantinya dengan
kaos rumahan.
Dia lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk buang
hajat kecil dan mengusap wajahnya dengan air.
Usai dari kamar mandi, dia berjalan menuju ke kamar
Agnes.
Sesampainya di kamar Agnes, dia hidupkan kipas angin
lalu merebahkan tubuhnya ke atas dipan.
“Huuffff, ada aja masalah di kehidupan ini,” ucap Bimo
perlahan.
Dia tatap langit-langit kamar Agnes untuk mencerna
“Semua masalah ini terjadi karena mereka kekurangan
uang, mbak Via ribut dan pisah sama mas Doni karena memiliki masalah uang yang
kurang. Mbak Renata kerja seperti ini karena dia malu jika tidak bisa
menghasilkan uang, kalau mbak Agnes nggak perawan lagi karena aku yakin kalau
dia dibodohi pacarnya dengan iming-iming uang juga,” gumam Bimo dalam hati.
Di saat tengah asyik rebahan, tiba-tiba Indri
kekasihnya menghubungi melalui telepon.
“Eh yayang telepon,” gumam Bimo dalam hati.
Dia dekatkan handphone ke telinganya.
“Hallo Yank.”
“Hallo mas, gimana sih mas. Adek tungguin dari tadi
kok nggak telepon-telepon,” ucap Indri dengan nada kesal.
“Loh gimana sih? Tadi katanya yayank yang mau telepon
mamas duluan. Mamas baru aja istirahat neh yank, mau telepon belum sempet.”
“Iiiihhhh Mamas gitu, adek lagi bingung ne mas.”
“Bingung kenapa?” tanya Bimo sambil mengernyitkan
keningnya.
“Adek kan mau praktik lapangan neh, butuh dana. Bapak
ibu belum ada duit, pinjem uang mamas dulu ada nggak?”
Bimo terdiam.
“Aduh, bonus dari lomba desain belum dikirim-kirim,
duit di rekening ku tinggal berapa juta ini,” gumam Bimo dalam hati.
Namun demikian, Bimo tidak bisa diam mendengarkan
keluhan kekasihnya ini.
Sesulit apapun keadaannya saat ini, dia akan upayakan
bisa membantu kekasihnya.
“Butuh berapa duit memang Yank?” tanya Bimo.
“Sejuta empat ratus mas,” jawab Indri.
“Oh ya udah, kalau cuma segitu mamas masih ada. Kapan
mau dikasih ke sekolah?”
“Lima hari lagi mas.”
“Ya udah besok dibayar ya, mamas kirim sore ini aja.”
“Beneran mas?”
__ADS_1
“Iya beneran, besok buruan dibayar ya,” pinta Bimo.
“Iya mas,” jawab Indri yang terdengar senang suaranya.
Bimo mematikan handphonenya dan menghubungi guru Indri
yang ada di sekolah.
Kebetulan Indri dulu adalah adik kelasnya, jadi dia
sangat mengenal semua guru Indri.
Dia beritahukan kalau pacarnya itu besok saat ke
sekolah akan membayar uang praktik kerja lapangan.
Dan guru yang Bimo hubungi pun menyatakan besok akan meminta
uang kepada Indri saat kekasihnya itu datang ke sekolah.
Setelah itu dia lihat nominal uang di rekeningnya.
“Lima juta, keambil sejuta empat ratus sisa tiga enam.
Cukuplah kalau buat hidup dua bulan sendirian di sini,” gumam Bimo dalam hati.
Bimo lalu mengirimkan uang Rp 1.400.000,- kepada
kekasihnya yang masih tinggal di Madiun.
Dan seperti biasa, kekasihnya pun mengucapkan terima
kasih atas kiriman uang yang dia berikan.
Dia berjanji akan mengembalikan setelah bapak dan
ibunya memberikan uang kepada dirinya.
Namun Bimo berbesar hati.
“Nggak usah, buat kamu aja Yank duitnya. Besok buruan
dibayar ke sekolah, soalnya mamas tadi udah bilang ke Bu Winda kalau besok kamu
mau bayar uang praktik lapangan saat kamu mau ke sekolah,” jawab Bimo melalui
pesan chat whatsapp.
“Oh ya udah mas, ini adek lagi otw ke ATM,” ujar Indri
masih melalui chat whatsapp.
“Ya hati-hati di jalan, minta do’anya semoga mamas
bisa dapet duit lagi. Duit mamas hasil menang lomba desain belum masuk rekening
semua soalnya,” jawab Bimo melalui chat whatsapp kepada Indri.
Indri pun mengirimkan emoji love kepada Bimo
berkali-kali.
Baru saja dia mengirimkan uang kepada Indri, tidak
lama kemudian terdengar suara motor yang kembali berhenti di depan rumah.
Tidak lama kemudian pintu pagar depan dibuka oleh
seseorang.
Bimo yang baru saja selesai chat dengan Indri langsung
kaget karena mendengar suara pintu pagar depan dibuka oleh seseorang.
Dia lalu berjalan keluar dari dalam kamar Agnes untuk
melihat siapakah orang yang baru saja datang.
Terlihat Agnes nampak sudah berada di depan rumah.
“Mbak Agnes, mau ngapain kemari lagi,” gumam Bimo
dalam hati.
Agnes berjalan sedikit cepat memasukkan motornya.
Bimo lalu membuka pintu samping rumah agar Agnes bisa
memasukkan motornya ke dalam.
“Mbak Agnes? Ada yang ketinggalan?” tanya Bimo sambil
mengernyitkan keningnya.
Agnes tidak menjawab pertanyaan Bimo.
Dia buru-buru membawa motor ke dalam ruang samping
lalu dia parkirkan di situ.
“Tutup dek pintunya,” pinta Agnes lalu berjalan masuk
menuju ke dalam kamarnya.
Bimo menaikkan kedua alisnya ke atas lalu menutup
pintu dan menguncinya.
Setelah itu dia berjalan menuju ke dalam rumah untuk
mengetahui apa hal yang membuat Agnes kembali lagi ke rumah
Baru saja dia berada di dalam rumah, Agnes tiba-tiba
membalikkan badannya dan memeluk tubuh Bimo.
“Dek Bimo, tolong mbak dek,” ucap Agnes dengan nada
penuh ketakutan.
Bimo pun terkejut mendengar rengekan Agnes.
“Eh ada apa mbak?” tanya Bimo dengan wajah kaget.
Bimo lalu coba melepaskan pelukan Agnes sambil dia
tatap wajah kakak sepupunya ini.
Terlihat olehnya kedua mata Agnes yang sudah berlinangan
air mata.
“Deekkk tolongin mbak deekkkk,” rengek Agnes kembali
sambil memeluk tubuh Bimo dengan lebih erat lagi.
__ADS_1