Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 17


__ADS_3

Akhirnya usai berbicara di serambi depan candi


Prambanan, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah Gondomanan karena


hari sudah mulai sore.


Selama perjalanan, Agnes kembali merangkul dada Bimo


dari belakang dengan erat.


Dia tempelkan pipinya ke punggung sambil mulai


bercerita.


“Dek, kamu masih perjaka nggak?” tanya Agnes pelan.


“Masihlah mbak, kenapa memang?”


“Enggak apa-apa,” jawab Agnes pelan.


“Kalau mbak, masih perawan nggak?”


“Udah nggak.”


“Hah! Kok bisa mbak!” sahut Bimo kaget.


Saking kagetnya dia sampai mengerem dan mengurangi


laju motor hingga membuat kedua dada Agnes kembali menubruk pungungnya.


Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Agnes, namun


kedua tangannya terasa makin erat saat merangkul tubuh Bimo.


Dia letakkan pipinya ke pundak belakang Bimo, sambil


terus mengikatkan tangannya lebih erat lagi.


Tak lama kemudian mulailah Agnes bercerita.


“Mbak dulu sama kaya kamu, bucin sama seseorang. Tapi


begitu dia minta pembuktian cinta kepada mbak, dan mbak kasih keperawanan pada


dia. Dia tiba-tiba menghilang ninggalin mbak.”


Bimo tersentak kaget setelah mendengarkan apa yang


kakak sepupunya ucapkan.


Badannya langsung lemas, lunglai tak berdaya.


Dia seakan tak berdaya setelah mendengar pengkuan


Agnes.


“Ya Allooohhhhh, masalah apa lagi ini! Di saat mbak


Via cerai sama suaminya, mbak Renata jual diri di jalanan, eh mbak Agnes malah


tahu-tahu udah nggak perawan. Gimana sih ini anak-anak bude!” gumam Bimo dalam


hati.


Bimo benar-benar marah saat ini.


Namun kemarahannya tidak dia ungkapkan kepada Agnes


maupun orang lain.


Dia hela nafas panjang dan lebih memilih diam, tak


mengeluarkan sepatah kata pun.


“Dek,” ucap Agnes pelan.


Bimo menoleh ke arah belakang.


“Kenapa mbak?” tanya Bimo.


“Kok kamu diem.”


“Ya gimana mbak, semua sudah terjadi. Nggak mungkin


bisa diubah.”


“Iya sih, mbak cuma khawatir aja kalau nggak ada pria


yang mau nikah sama mbak kalau tahu mbak sudah tidak perawan nantinya,” ucap


Agnes yang terus menempelkan pipinya ke pundak Bimo.


“Nggak apa-apa mbak, pasti adalah yang mau nikah sama


mbak. Yang penting mbak jujur aja apa adanya sama calon nanti.”


Agnes kini gantian terdiam.


Memang tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain


menerima keadaannya seperti ini.


“Eee maaf, mbak sempet hamil nggak?”


“Enggak, cuma sekali. Itu pun nggak masuk banget, cuma


nempel dan udah mbak nggak mau lagi.”


“Oalah, itu mah nggak bakalan ilangin keperawanan


mbak. Eh tapi emang bisa nggak sampai masuk?” tanya Bimo yang malah makin


aneh-aneh pertanyaannya.


“Iya beneran, mbak soalnya takut banget dek waktu itu.


Makanya begitu nempel mbak langsung nangis dan nggak mau lagi ngulanginya,”


jawab Agnes pelan.


“Ya udah, mbak jangan ulangi lagi selain dengan suami.


Itu kehormatan wanita mbak, mbak harus jaga sampai di pernikahan nanti,” ucap


Bimo dengan nada pelan.


Agnes kembali terdiam, namun kedua tangannya masih


belum mau dia lepaskan dari tubuh Bimo.


Entah apa yang ada dalam benaknya, namun Bimo


merasakan kalau kakak sepupunya ini nampak sudah bisa mempercayai dirinya saat


ini.

__ADS_1


Dia mau terbuka dan menceritakan apa saja yang dialami


dalam hidupnya saat ini.


Hal ini membuat Bimo semakin sayang dengan kakak


sepupunya ini.


Mau terbuka dan memberi nasehat kepadanya.


Tidak lama kemudian sampailah mereka berdua di rumah


gondomanan.


Agnes tidak ikut turun dari motor, dia langsung


mengambil alih motornya karena ingin langsung pergi.


“Mbak mau langsung aja,” ucap Agnes sambil menatap


wajah Bimo.


Bimo menganggukkan kepalanya pelan.


“Mbak hati-hati di jalan, jangan melamun,” ucap Bimo


sambil menepuk pundak Agnes.


Agnes menganggukkan kepalanya, dan segera pergi


meninggalkan Bimo.


Bimo masih berdiri melihat Agnes yang kemudian pergi


hingga hilang dari pandangannya.


Setelah Agnes tidak terlihat, Bimo lalu membuka pagar


pintu rumah dan menutupnya kembali.


Dia kunci pintu pagar dan setelah itu masuk ke dalam


rumah.


Pintu depan dia kunci dan berjalan masuk ke dalam


kamar Agnes.


Setelah itu dia lepas baju dan menggantinya dengan


kaos rumahan.


Dia lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk buang


hajat kecil dan mengusap wajahnya dengan air.


Usai dari kamar mandi, dia berjalan menuju ke kamar


Agnes.


Sesampainya di kamar Agnes, dia hidupkan kipas angin


lalu merebahkan tubuhnya ke atas dipan.


“Huuffff, ada aja masalah di kehidupan ini,” ucap Bimo


perlahan.


Dia tatap langit-langit kamar Agnes untuk mencerna


“Semua masalah ini terjadi karena mereka kekurangan


uang, mbak Via ribut dan pisah sama mas Doni karena memiliki masalah uang yang


kurang. Mbak Renata kerja seperti ini karena dia malu jika tidak bisa


menghasilkan uang, kalau mbak Agnes nggak perawan lagi karena aku yakin kalau


dia dibodohi pacarnya dengan iming-iming uang juga,” gumam Bimo dalam hati.


Di saat tengah asyik rebahan, tiba-tiba Indri


kekasihnya menghubungi melalui telepon.


“Eh yayang telepon,” gumam Bimo dalam hati.


Dia dekatkan handphone ke telinganya.


“Hallo Yank.”


“Hallo mas, gimana sih mas. Adek tungguin dari tadi


kok nggak telepon-telepon,” ucap Indri dengan nada kesal.


“Loh gimana sih? Tadi katanya yayank yang mau telepon


mamas duluan. Mamas baru aja istirahat neh yank, mau telepon belum sempet.”


“Iiiihhhh Mamas gitu, adek lagi bingung ne mas.”


“Bingung kenapa?” tanya Bimo sambil mengernyitkan


keningnya.


“Adek kan mau praktik lapangan neh, butuh dana. Bapak


ibu belum ada duit, pinjem uang mamas dulu ada nggak?”


Bimo terdiam.


“Aduh, bonus dari lomba desain belum dikirim-kirim,


duit di rekening ku tinggal berapa juta ini,” gumam Bimo dalam hati.


Namun demikian, Bimo tidak bisa diam mendengarkan


keluhan kekasihnya ini.


Sesulit apapun keadaannya saat ini, dia akan upayakan


bisa membantu kekasihnya.


“Butuh berapa duit memang Yank?” tanya Bimo.


“Sejuta empat ratus mas,” jawab Indri.


“Oh ya udah, kalau cuma segitu mamas masih ada. Kapan


mau dikasih ke sekolah?”


“Lima hari lagi mas.”


“Ya udah besok dibayar ya, mamas kirim sore ini aja.”


“Beneran mas?”

__ADS_1


“Iya beneran, besok buruan dibayar ya,” pinta Bimo.


“Iya mas,” jawab Indri yang terdengar senang suaranya.


Bimo mematikan handphonenya dan menghubungi guru Indri


yang ada di sekolah.


Kebetulan Indri dulu adalah adik kelasnya, jadi dia


sangat mengenal semua guru Indri.


Dia beritahukan kalau pacarnya itu besok saat ke


sekolah akan membayar uang praktik kerja lapangan.


Dan guru yang Bimo hubungi pun menyatakan besok akan meminta


uang kepada Indri saat kekasihnya itu datang ke sekolah.


Setelah itu dia lihat nominal uang di rekeningnya.


“Lima juta, keambil sejuta empat ratus sisa tiga enam.


Cukuplah kalau buat hidup dua bulan sendirian di sini,” gumam Bimo dalam hati.


Bimo lalu mengirimkan uang Rp 1.400.000,- kepada


kekasihnya yang masih tinggal di Madiun.


Dan seperti biasa, kekasihnya pun mengucapkan terima


kasih atas kiriman uang yang dia berikan.


Dia berjanji akan mengembalikan setelah bapak dan


ibunya memberikan uang kepada dirinya.


Namun Bimo berbesar hati.


“Nggak usah, buat kamu aja Yank duitnya. Besok buruan


dibayar ke sekolah, soalnya mamas tadi udah bilang ke Bu Winda kalau besok kamu


mau bayar uang praktik lapangan saat kamu mau ke sekolah,” jawab Bimo melalui


pesan chat whatsapp.


“Oh ya udah mas, ini adek lagi otw ke ATM,” ujar Indri


masih melalui chat whatsapp.


“Ya hati-hati di jalan, minta do’anya semoga mamas


bisa dapet duit lagi. Duit mamas hasil menang lomba desain belum masuk rekening


semua soalnya,” jawab Bimo melalui chat whatsapp kepada Indri.


Indri pun mengirimkan emoji love kepada Bimo


berkali-kali.


Baru saja dia mengirimkan uang kepada Indri, tidak


lama kemudian terdengar suara motor yang kembali berhenti di depan rumah.


Tidak lama kemudian pintu pagar depan dibuka oleh


seseorang.


Bimo yang baru saja selesai chat dengan Indri langsung


kaget karena mendengar suara pintu pagar depan dibuka oleh seseorang.


Dia lalu berjalan keluar dari dalam kamar Agnes untuk


melihat siapakah orang yang baru saja datang.


Terlihat Agnes nampak sudah berada di depan rumah.


“Mbak Agnes, mau ngapain kemari lagi,” gumam Bimo


dalam hati.


Agnes berjalan sedikit cepat memasukkan motornya.


Bimo lalu membuka pintu samping rumah agar Agnes bisa


memasukkan motornya ke dalam.


“Mbak Agnes? Ada yang ketinggalan?” tanya Bimo sambil


mengernyitkan keningnya.


Agnes tidak menjawab pertanyaan Bimo.


Dia buru-buru membawa motor ke dalam ruang samping


lalu dia parkirkan di situ.


“Tutup dek pintunya,” pinta Agnes lalu berjalan masuk


menuju ke dalam kamarnya.


Bimo menaikkan kedua alisnya ke atas lalu menutup


pintu dan menguncinya.


Setelah itu dia berjalan menuju ke dalam rumah untuk


mengetahui apa hal yang membuat Agnes kembali lagi ke rumah


Baru saja dia berada di dalam rumah, Agnes tiba-tiba


membalikkan badannya dan memeluk tubuh Bimo.


“Dek Bimo, tolong mbak dek,” ucap Agnes dengan nada


penuh ketakutan.


Bimo pun terkejut mendengar rengekan Agnes.


“Eh ada apa mbak?” tanya Bimo dengan wajah kaget.


Bimo lalu coba melepaskan pelukan Agnes sambil dia


tatap wajah kakak sepupunya ini.


Terlihat olehnya kedua mata Agnes yang sudah berlinangan


air mata.


“Deekkk tolongin mbak deekkkk,” rengek Agnes kembali


sambil memeluk tubuh Bimo dengan lebih erat lagi.

__ADS_1


__ADS_2