Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi

Diganggu Nyi Roro Kidul Seksi
Bab 10


__ADS_3

Bimo


berusaha untuk tetap bisa menenangkan dirinya.


Dia


tidak mau menunjukkan rasa takutnya karena bagi dirinya saat dia sedang


menghadap kepada Allah SWT harus dipenuhi dengan sikap yang khusyu’ dan


tuma’ninah.


Akhirnya


setelah usai melaksanakan 2 rekaat, Bimo menoleh ke belakang.


Terlihat Agnes tengah duduk di belakangnya dengan


mukena warna putih.


“Astaghfirullah


mbak Agneeesss, kirain siapa tadi yang nepuk pundak ku,” ucap Bimo sambil


menoleh ke arah Agnes.


Agnes


hanya cengar cengir setelah melihat wajah Bimo yang sempat pucat pasi gara-gara


dia tepuk saat shalat.


“Lain


kali kalau mbak mau ikut gabung jadi jamaah ku, mbak nggak perlu nepuk pundak


ku. Cukup tepuk tangan sekali aja aku udah paham,” ucap Bimo perlahan sesaat


sebelum dia melanjutkan shalatnya lagi.


Agnes


hanya menganggukkan kepala tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Bimo


lalu berdiri dan memulai lagi shalat tahajud hingga 11 rekaat dengan diikuti


Agnes di belakangnya.


Namun


saat dia selesai membaca do’a dan akan mengajak bicara Agnes, tiba-tiba saja


Agnes sudah tidak ada di belakangnya.


“Hmmm


pasti molor lagi,” gumam Bimo saat melihat Agnes sudah tidak ada di belakangnya


lagi.


Bimo


lalu bersiap untuk berangkat ke masjid pagi itu untuk melaksanakan shalat subuh.


***


Pagi


jam 7, saat Bimo kembali dari jogging. Dia melihat Renata seperti sudah bersiap untuk pergi.


Dirinya sengaja tidak menanyai akan kemanakah Renata


pagi ini, namun diam-diam dirinya memperhatikan dari kejauhan.


Dia masih malas untuk ngobrol dengan Renata yang


menurutnya dia wanita berbahaya dan penuh dengan kelicikan.


Bimo lalu berjalan masuk ke rumah Via untuk mengambil teko berisi air matang.


Saat mengambil teko air, dia lihat budenya nampak


sedang asyik duduk di depan meja makan untuk menikmati sarapan pagi.


“Mbak Renata mau kemana bude?” tanya Bimo lalu duduk


di samping budenya.


“Berangkat kerja,” jawab budenya santai.


“Kerja ke mana?” tanya Bimo penuh selidik.


“Bilangnya sih kerja di rumah sakit, di Solo sana,”


jawab budenya kembali.


Bimo mengernyitkan keningnya sebentar.


“Kerja di Solo,” ucap Bimo perlahan.


“He eh, tiap hari pulang bawa duit dia. Lumayan buat


tambah-tambah belanja mbak Via,” ucap Gandari.


Bimo terkejut sampai menegak punggungnya.


“Kerja di rumah sakit tapi dapet duit tiap hari, kerja


di bagian apa ya bude?” tanya Bimo sedikit tidak percaya.


“Nggak tahu, setiap ditanya jawabannya selalu nggak


jelas kok,” jawab budenya pelan.


Bimo langsung berdiri


dari duduknya.


“Bentar bude, tak keluar sebentar,” ucap Bimo lalu pergi meninggalkan


budenya.

__ADS_1


Bimo segera berlari keluar dari dalam rumah mengejar


Renata.


Dia merasa perlu mengetahui kerja di manakah Renata


sebenarnya, karena jika di rumah sakit bagian apa yang bisa memberi dirinya


gaji setiap hari.


Apa mungkin dia berdagang atau jaga parkiran di rumah


sakit, karena baginya itu tidak mungkin terjadi.


Itu hal yang sangat mustahil.


Dia menduga kalau Renata bekerja dengan memamerkan


buah dadanya kepada pria-pria yang ada di dalam bis.


Untuk itu dia berusaha untuk menanyakan hal yang pasti


kepada Renata.


Dia lihat Renata tengah berjalan dan sudah mendekati


gapura pintu keluar perumahan.


“Mbaakk! Mbak Renataaaa!” panggil Bimo dengan kuat.


Renata kaget dan menoleh ke arah dirinya.


Bimo segera mendatangi Renata.


“Ada apa?” tanya Renata saat melihat Bimo sampai di


dekatnya.


“Mbak mau kemana?”


“Kerja.”


“Kerja di mana? Di bis? Pamerin te*** mbak ke


pria-pria seperti kemarin?”


“Tutup mulut kamu! Mbak bakalan balikin duit dan


handphone kamu!”


“Bukan itu yang aku inginkan mbak, eh tapi aku minta


kartu ku dulu,” ucap Bimo.


Renata mengernyitkan keningnya, dia teringat bahwa


kartu milik Bimo masih sempat dia simpan di dalam dompetnya.


Dia ambil dompetnya lalu dia berikan kartu tersebut


kepada Bimo.


Bimo lalu menerima kartu dari Renata, namun demikian


“Apa? Apa lagi yang kamu pengenkan dari mbak? Mau


lihat te*** mbak lagi!” tanya Renata sambil mendelik kedua bola matanya.


Bimo menghela nafasnya karena tidak ingin terlibat


keributan dengan Renata.


“Nggak usah ngomong gitu mbak, bukan itu yang aku inginkan.


Justru aku pengen mbak nggak usah kerja kayak kemarin lagi,” ucap Bimo.


Renata menyeringai hingga terlihat giginya.


“Diem dan nggak usah banyak omong kamu anak kecil,”


sahut Renata sambil membalikkan badannya.


Usai membalikkan badannya, Renata segera berjalan


meninggalkan Bimo.


Namun Bimo segera menarik tangan Renata dengan kuat


agar dia menghentikan laju langkah kakinya.


“Mbak Renata! Aku belum selesai bicara mbak!”


Renata membalikkan badannya disertai dengusan nafas


yang terlihat kesal.


“Apalagi? Kan jelas apa pekerjaan ku sekarang! Kamu


sudah tahu semuanya.”


Bimo menghela nafas panjang.


“Iya tapi nggak begitu juga penyelesaiannya mbaak,


mbak nggak mungkin pertahankan pekerjaan ini terus menerus. Jiwa mbak bisa


dalam bahaya, mbak tahukan di jalanan seperti itu banyak orang jahatnya?”


Renata merasa kesakitan di saat tangannya ditarik


dengan kuat oleh Bimo, dia lalu menarik tangannya agar Bimo mau melepas


tarikannya.


“Kamu ini apa-apaan sih pakek tarik-tarik tangan ku!”


teriak Renata dengan kuat.


Bimo lalu melepaskan tarikan tangannya dari tangan


Renata.


“Mbak! Jangan bekerja seperti itu, kita cari jalan

__ADS_1


keluarnya yang terbaik,” ucap Bimo dengan pelan setelah melepaskan tangan Renata.


Renata terdiam, dia hanya menatap wajah Bimo dengan


tatapan tajam.


Tangan kirinya mengusap tangan kanan yang masih terasa


sakit usai ditarik dengan kuat oleh Bimo.


Beberapa orang yang lewat nampak menghentikan laju


kendaraan mereka untuk mengetahui apa yang terjadi antara Renata dengan Bimo.


Mengetahui kalau mereka sudah jadi tontonan banyak


orang, Bimo lalu mengajak Renata untuk kembali ke rumah.


Namun Renata menolaknya.


“Aku nggak akan pulang kalau belum bawa uang!” ucap


Renata lalu mendorong tubuh Bimo untuk menjauh.


“Mbak, ayolah. Semua bisa kita cari jalan keluarnya,”


ucap Bimo sambil menatap ke arah Renata.


“Jalan keluar seperti apa maksud mu? Aku sudah sekian


lama mencari pekerjaan, tapi tidak bisa mendapatkannya,” tanggap Renata.


“Aku akan bantu mbak,” ucap Bimo dengan wajah serius.


“Iya, tapi bukan hari ini. Hari ini aku harus tetap


kerja agar bisa mendapatkan uang makan untuk keluarga kita, apalagi sekarang


ketambahan ada kamu. Jelas bukan uang sedikit yang kita butuhkan,” ucap Renata.


Bimo terdiam.


Dia tersadar bahwa budenya bukanlah orang kaya seperti


dulu lagi.


Setelah suami budenya meninggal, praktis budenya hanya


mengandalkan uang pensiun suaminya.


Apalagi tadi malam dia tahu kalau Doni, suami kakak


sepupunya juga sudah tidak tinggal di rumah itu lagi.


Pemasukan yang budenya dapatkan selain dari gaji


almarhum suaminya, ada kemungkinan uang dari Via yang berjualan kue dan masih


menerima job sebagai penyanyi.


Sedangkan Agnes.


Dia masih belum ketahui apa saja aktivitasnya selama


ini.


Baru Renata yang sudah dia ketahui secara tidak


sengaja saat bertemu di bis kemarin pagi.


“Kamu belum ketemu solusinyakan? Jangan melarang ku


jika belum ketemu solusinya,” ucap Renata sambil menatap ke arah Bimo.


“Mbak ini bahaya, mbak bisa diculik orang dan dibawa


kabur kalau terus menerus seperti ini,” ucap Bimo dengan nada kuat.


Renata tersenyum mendengar ucapan Bimo.


Baru kali ini dia merasa dikhawatirkan dan


diperhatikan oleh seseorang.


“Terima kasih kamu sudah mengkhawatirkan ku, tapi mbak


tetap harus pergi pagi ini,” ucap Renata lalu membalikkan badannya dan berlalu


pergi meninggalkan Bimo.


Bimo terheran-heran.


Dia usap wajahnya sambil menatap Renata pergi


meninggalkan dirinya.


Kali ini dia memang belum memiliki solusi yang pas


untuk kakak sepupunya.


Melihat Renata yang nekat pergi, membuat Bimo menjadi


kian kesal.


“Ya sudahlah! Terserah mbak saja! Mau mati mau hidup!


Bodo amat!” umpat Bimo lalu membalikkan badannya.


Bimo lalu berjalan kembali menuju ke rumah Via.


Mendengar ucapan Renata barusan yang mengatakan kalau


dirinya menjadi beban bagi keluarga budenya, membuat Bimo memutuskan untuk


pulang ke rumah budenya di Gondomanan saat ini juga.


Apabila di rumah Gondomanan, dia bisa makan sesuai


seleranya sendiri dan tidak perlu merepotkan kakak-kakaknya.


Dan ucapan Renata barusan membuat dirinya tersadar,


bahwa ada masalah besar yang saat ini terjadi di dalam keluarga budenya.

__ADS_1


__ADS_2