
Bimo
berusaha untuk tetap bisa menenangkan dirinya.
Dia
tidak mau menunjukkan rasa takutnya karena bagi dirinya saat dia sedang
menghadap kepada Allah SWT harus dipenuhi dengan sikap yang khusyu’ dan
tuma’ninah.
Akhirnya
setelah usai melaksanakan 2 rekaat, Bimo menoleh ke belakang.
Terlihat Agnes tengah duduk di belakangnya dengan
mukena warna putih.
“Astaghfirullah
mbak Agneeesss, kirain siapa tadi yang nepuk pundak ku,” ucap Bimo sambil
menoleh ke arah Agnes.
Agnes
hanya cengar cengir setelah melihat wajah Bimo yang sempat pucat pasi gara-gara
dia tepuk saat shalat.
“Lain
kali kalau mbak mau ikut gabung jadi jamaah ku, mbak nggak perlu nepuk pundak
ku. Cukup tepuk tangan sekali aja aku udah paham,” ucap Bimo perlahan sesaat
sebelum dia melanjutkan shalatnya lagi.
Agnes
hanya menganggukkan kepala tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Bimo
lalu berdiri dan memulai lagi shalat tahajud hingga 11 rekaat dengan diikuti
Agnes di belakangnya.
Namun
saat dia selesai membaca do’a dan akan mengajak bicara Agnes, tiba-tiba saja
Agnes sudah tidak ada di belakangnya.
“Hmmm
pasti molor lagi,” gumam Bimo saat melihat Agnes sudah tidak ada di belakangnya
lagi.
Bimo
lalu bersiap untuk berangkat ke masjid pagi itu untuk melaksanakan shalat subuh.
***
Pagi
jam 7, saat Bimo kembali dari jogging. Dia melihat Renata seperti sudah bersiap untuk pergi.
Dirinya sengaja tidak menanyai akan kemanakah Renata
pagi ini, namun diam-diam dirinya memperhatikan dari kejauhan.
Dia masih malas untuk ngobrol dengan Renata yang
menurutnya dia wanita berbahaya dan penuh dengan kelicikan.
Bimo lalu berjalan masuk ke rumah Via untuk mengambil teko berisi air matang.
Saat mengambil teko air, dia lihat budenya nampak
sedang asyik duduk di depan meja makan untuk menikmati sarapan pagi.
“Mbak Renata mau kemana bude?” tanya Bimo lalu duduk
di samping budenya.
“Berangkat kerja,” jawab budenya santai.
“Kerja ke mana?” tanya Bimo penuh selidik.
“Bilangnya sih kerja di rumah sakit, di Solo sana,”
jawab budenya kembali.
Bimo mengernyitkan keningnya sebentar.
“Kerja di Solo,” ucap Bimo perlahan.
“He eh, tiap hari pulang bawa duit dia. Lumayan buat
tambah-tambah belanja mbak Via,” ucap Gandari.
Bimo terkejut sampai menegak punggungnya.
“Kerja di rumah sakit tapi dapet duit tiap hari, kerja
di bagian apa ya bude?” tanya Bimo sedikit tidak percaya.
“Nggak tahu, setiap ditanya jawabannya selalu nggak
jelas kok,” jawab budenya pelan.
Bimo langsung berdiri
dari duduknya.
“Bentar bude, tak keluar sebentar,” ucap Bimo lalu pergi meninggalkan
budenya.
__ADS_1
Bimo segera berlari keluar dari dalam rumah mengejar
Renata.
Dia merasa perlu mengetahui kerja di manakah Renata
sebenarnya, karena jika di rumah sakit bagian apa yang bisa memberi dirinya
gaji setiap hari.
Apa mungkin dia berdagang atau jaga parkiran di rumah
sakit, karena baginya itu tidak mungkin terjadi.
Itu hal yang sangat mustahil.
Dia menduga kalau Renata bekerja dengan memamerkan
buah dadanya kepada pria-pria yang ada di dalam bis.
Untuk itu dia berusaha untuk menanyakan hal yang pasti
kepada Renata.
Dia lihat Renata tengah berjalan dan sudah mendekati
gapura pintu keluar perumahan.
“Mbaakk! Mbak Renataaaa!” panggil Bimo dengan kuat.
Renata kaget dan menoleh ke arah dirinya.
Bimo segera mendatangi Renata.
“Ada apa?” tanya Renata saat melihat Bimo sampai di
dekatnya.
“Mbak mau kemana?”
“Kerja.”
“Kerja di mana? Di bis? Pamerin te*** mbak ke
pria-pria seperti kemarin?”
“Tutup mulut kamu! Mbak bakalan balikin duit dan
handphone kamu!”
“Bukan itu yang aku inginkan mbak, eh tapi aku minta
kartu ku dulu,” ucap Bimo.
Renata mengernyitkan keningnya, dia teringat bahwa
kartu milik Bimo masih sempat dia simpan di dalam dompetnya.
Dia ambil dompetnya lalu dia berikan kartu tersebut
kepada Bimo.
Bimo lalu menerima kartu dari Renata, namun demikian
“Apa? Apa lagi yang kamu pengenkan dari mbak? Mau
lihat te*** mbak lagi!” tanya Renata sambil mendelik kedua bola matanya.
Bimo menghela nafasnya karena tidak ingin terlibat
keributan dengan Renata.
“Nggak usah ngomong gitu mbak, bukan itu yang aku inginkan.
Justru aku pengen mbak nggak usah kerja kayak kemarin lagi,” ucap Bimo.
Renata menyeringai hingga terlihat giginya.
“Diem dan nggak usah banyak omong kamu anak kecil,”
sahut Renata sambil membalikkan badannya.
Usai membalikkan badannya, Renata segera berjalan
meninggalkan Bimo.
Namun Bimo segera menarik tangan Renata dengan kuat
agar dia menghentikan laju langkah kakinya.
“Mbak Renata! Aku belum selesai bicara mbak!”
Renata membalikkan badannya disertai dengusan nafas
yang terlihat kesal.
“Apalagi? Kan jelas apa pekerjaan ku sekarang! Kamu
sudah tahu semuanya.”
Bimo menghela nafas panjang.
“Iya tapi nggak begitu juga penyelesaiannya mbaak,
mbak nggak mungkin pertahankan pekerjaan ini terus menerus. Jiwa mbak bisa
dalam bahaya, mbak tahukan di jalanan seperti itu banyak orang jahatnya?”
Renata merasa kesakitan di saat tangannya ditarik
dengan kuat oleh Bimo, dia lalu menarik tangannya agar Bimo mau melepas
tarikannya.
“Kamu ini apa-apaan sih pakek tarik-tarik tangan ku!”
teriak Renata dengan kuat.
Bimo lalu melepaskan tarikan tangannya dari tangan
Renata.
“Mbak! Jangan bekerja seperti itu, kita cari jalan
__ADS_1
keluarnya yang terbaik,” ucap Bimo dengan pelan setelah melepaskan tangan Renata.
Renata terdiam, dia hanya menatap wajah Bimo dengan
tatapan tajam.
Tangan kirinya mengusap tangan kanan yang masih terasa
sakit usai ditarik dengan kuat oleh Bimo.
Beberapa orang yang lewat nampak menghentikan laju
kendaraan mereka untuk mengetahui apa yang terjadi antara Renata dengan Bimo.
Mengetahui kalau mereka sudah jadi tontonan banyak
orang, Bimo lalu mengajak Renata untuk kembali ke rumah.
Namun Renata menolaknya.
“Aku nggak akan pulang kalau belum bawa uang!” ucap
Renata lalu mendorong tubuh Bimo untuk menjauh.
“Mbak, ayolah. Semua bisa kita cari jalan keluarnya,”
ucap Bimo sambil menatap ke arah Renata.
“Jalan keluar seperti apa maksud mu? Aku sudah sekian
lama mencari pekerjaan, tapi tidak bisa mendapatkannya,” tanggap Renata.
“Aku akan bantu mbak,” ucap Bimo dengan wajah serius.
“Iya, tapi bukan hari ini. Hari ini aku harus tetap
kerja agar bisa mendapatkan uang makan untuk keluarga kita, apalagi sekarang
ketambahan ada kamu. Jelas bukan uang sedikit yang kita butuhkan,” ucap Renata.
Bimo terdiam.
Dia tersadar bahwa budenya bukanlah orang kaya seperti
dulu lagi.
Setelah suami budenya meninggal, praktis budenya hanya
mengandalkan uang pensiun suaminya.
Apalagi tadi malam dia tahu kalau Doni, suami kakak
sepupunya juga sudah tidak tinggal di rumah itu lagi.
Pemasukan yang budenya dapatkan selain dari gaji
almarhum suaminya, ada kemungkinan uang dari Via yang berjualan kue dan masih
menerima job sebagai penyanyi.
Sedangkan Agnes.
Dia masih belum ketahui apa saja aktivitasnya selama
ini.
Baru Renata yang sudah dia ketahui secara tidak
sengaja saat bertemu di bis kemarin pagi.
“Kamu belum ketemu solusinyakan? Jangan melarang ku
jika belum ketemu solusinya,” ucap Renata sambil menatap ke arah Bimo.
“Mbak ini bahaya, mbak bisa diculik orang dan dibawa
kabur kalau terus menerus seperti ini,” ucap Bimo dengan nada kuat.
Renata tersenyum mendengar ucapan Bimo.
Baru kali ini dia merasa dikhawatirkan dan
diperhatikan oleh seseorang.
“Terima kasih kamu sudah mengkhawatirkan ku, tapi mbak
tetap harus pergi pagi ini,” ucap Renata lalu membalikkan badannya dan berlalu
pergi meninggalkan Bimo.
Bimo terheran-heran.
Dia usap wajahnya sambil menatap Renata pergi
meninggalkan dirinya.
Kali ini dia memang belum memiliki solusi yang pas
untuk kakak sepupunya.
Melihat Renata yang nekat pergi, membuat Bimo menjadi
kian kesal.
“Ya sudahlah! Terserah mbak saja! Mau mati mau hidup!
Bodo amat!” umpat Bimo lalu membalikkan badannya.
Bimo lalu berjalan kembali menuju ke rumah Via.
Mendengar ucapan Renata barusan yang mengatakan kalau
dirinya menjadi beban bagi keluarga budenya, membuat Bimo memutuskan untuk
pulang ke rumah budenya di Gondomanan saat ini juga.
Apabila di rumah Gondomanan, dia bisa makan sesuai
seleranya sendiri dan tidak perlu merepotkan kakak-kakaknya.
Dan ucapan Renata barusan membuat dirinya tersadar,
bahwa ada masalah besar yang saat ini terjadi di dalam keluarga budenya.
__ADS_1