DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
36. Janji Richard.


__ADS_3

Rianna mengalami kecelakaan, lebih tepatnya tabrak lari. Menurut penuturan Randy, saat ia menghampiri sang adik, gadis kecil itu mengatakan jika Richard dan Renatta sedang membeli es krim.


Tangan mungil Rianna menunjuk ke arah depan sekolah. Dan benar, di tanah lapang seberang jalan, Richard sedang membeli es krim bersama Renatta.


Rianna pun mengajak Randy untuk menyusul Richard dan Renatta. Gadis kecil itu berlari mendahului sang kakak.


Randy mengejar adiknya, memperingati gadis kecil itu untuk berhati-hati. Namun Rianna tak mendengarkan.


Sehingga kejadian buruk itu terjadi. Randy melihat dengan mata kepalanya sendiri, salah satu adik kembarnya di tabrak sebuah motor yang melaju dengan kecepatan sangat kencang. Yang mengakibatkan gadis kecil itu terkapar penuh darah.


Bukannya berhenti, pengendara motor itu justru melaju semakin kencang.


Randy menangis histeris, membuat orang berkerumun hingga Richard pun datang.


“Ini bukan salah kamu.” Ucap papa Roy menenangkan Richard. Pemuda itu tak kalah terguncangnya dari mama Dona.


Richard tak menjawab. Ia meremat rambutnya sendiri. Salah satu gadis kecil kesayangannya kini telah pergi untuk selamanya.


Richard bangkit mendekati peti berisi jenazah Rianna. Pemuda itu menunduk. Mengusap wajah kaku tanpa dosa itu.


“Maafkan om Rich, sayang.” Tubuhnya merosot jatuh di pinggir peti itu.


Kepala pria itu menunduk, menyembunyikan mata yang mulai memanas.


“Om, Rianna kenapa tidurnya lama?” Suara Renatta membuat Richard dengan cepat mengusap sudut matanya.


“Sayang.” Richard meraih tubuh Renatta, mendudukkan gadis kecil itu di pangkuannya.


Pemuda itu mendekap Renatta dengan erat. Berulang kali melabuhkan kecupan pada kepala gadis kecil itu.


“Dia sangat terpukul.” Ucap papa Roy.


Mama Luna yang tengah mendekap mama Dona pun menganggukkan kepalanya.


“Maafkan kami, Roy. Harusnya aku tidak membiarkan si kembar ikut.” Mama Luna merasa bersalah. Ia juga yang meminta Richard untuk membawa serta si kembar.


“Roy.”


Papa Jonathan datang bersama Johanna.


“Kami turut berdukacita.” Ucap papa Jonathan sembari memeluk papa Roy.


“Terimakasih, Jo.”


“Ma. Kakak kenapa?” Tanya Johanna melihat sang kakak yang sedang mendekap Renatta sembari terisak.


“Kakak kamu merasa bersalah karena tidak bisa menjaga si kembar dengan baik.”

__ADS_1


Mama Luna lalu menceritakan apa yang terjadi, seperti yang Randy ceritakan.


Johanna mengusap air matanya yang keluar begitu saja.


“Kakak sangat menyayangi si kembar.” Ucap Johanna. “Dia pasti merasa sangat bersalah.”


“Tolong maafkan kelalaian Richard, Roy.” Ucap papa Jonathan kemudian. Pria dewasa itu merasa perlu meminta maaf karena saat kejadian, Richard lah yang berada di sekitar anak-anak Setiawan.


“Kami tidak menyalahkan Richard, Jo. Semuanya terjadi karena kehendak Tuhan.”


Papa Jonathan menggelengkan kepalanya.


“Tidak akan terjadi, jika Richard tidak meninggalkan Rianna sendirian.”


Hingga keesokan harinya Rianna dimakamkan, Richard terus menggendong Renatta, pemuda itu sama sekali tidak ingin jauh dari gadis kecil itu.


Richard takut hal buruk menimpa Renatta.


“Kamu baik-baik saja.” Gumaman itu selalu keluar dari bibir Richard.


Bahkan, hal itu terjadi hingga beberapa hari. Richard tidak ingin berpisah dengan Renatta. Sepertinya jiwa pemuda itu sangat terguncang. Tak hanya itu, Richard juga mengalami mimpi buruk setiap kali ia tidur.


Hingga papa Jonathan memutuskan untuk mencari seorang psikolog untuk membantu memulihkan kondisi psikis Richard.


“Aku berjanji. Di hadapan kalian semua. Aku akan menjaga Renatta seumur hidupku. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya.”


Dengan sepenuh hati Richard berjanji di depan keluarga Setiawan dan keluarga Wijaya. Bahwa ia akan menjaga Renatta seumur hidupnya.


FLASHBACK OFF


***


Richard kembali mengalami mimpi buruk. Mimpi yang pernah menghantuinya bebarapa hari setelah kepergian Rianna untuk selamanya.


Pria dewasa itu terbangun dengan peluh membasahi dahinya. Ia menoleh kesamping, Renatta masih terlelap tanpa terganggu.


“Maafkan aku, sayang.”


Richard memutuskan untuk bangun. Waktu menujukkan pukul lima pagi. Ia juga sudah tidak bisa memejamkan matanya lagi.


Bayangan kejadian buruk itu kembali menghantui tidurnya.


Apa Rianna tidak ingin Richard menikah dengan Renatta? Kenapa mimpi itu datang lagi setelah belasan tahun berlalu?


Richard bahkan harus berkonsultasi pada ahli kejiwaan untuk menghilangkan mimpi buruknya.


“Kenapa harus sekarang, Ri? Apa kamu tidak iklhas aku menikahi Renatta?”

__ADS_1


Richard kemudian mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air di dalam kamar mandi.


Sementara di dalam kamar, Renatta telah terbangun karena menyadari sisi tempat tidur di sampingnya kosong.


“Kemana dia?”


Wanita itu mengerejapkan mata. Lalu melihat ke arah jam di sudut kamar. Waktu menujukkan pukul enam pagi.


Renatta pun yakin jika Richard sedang mandi. Ia bergegas turun dari tempat tidur, memakai kembali piyama tidurnya yang teronggok di atas lantai karpet, kemudian pergi ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian kerja untuk sang suami.


Namun sayang, saat tiba di ruang ganti, ia melihat sang suami telah rapi dengan setelan kerjanya.


Hal itu membuat Renatta mengerutkan dahinya.


“Om, kenapa sepagi ini sudah rapi?” Tanya Renatta mendekat.


Richard tersenyum tipis. Ia mengusap kelapa sang istri, kemudian melabuhkan sebuah kecupan hangat.


“Aku ada pekerjaan penting pagi ini. Maaf, tidak bisa menemanimu sarapan.” Ucap pria dewasa itu.


Renatta mengangguk paham. “Apa aku siapkan bekal untuk om makan di jalan?” Tanyanya kemudian.


“Memangnya kamu mau membuatkan aku apa? Air hangat?” Tanya Richard sembari terkekeh. Ia tahu sang istri tidak bisa memasak sama sekali.


Renatta mengerucutkan bibirnya.


“Nanti aku sarapan di kantor. Kamu tidak perlu khawatir.” Richard mengecup bibir istrinya. Pria itu kemudian pamit untuk pergi.


****


Richard memutuskan untuk mengunjungi makam Rianna. Mungkin pria itu kurang berziarah ke tempat peristirahatan terakhir gadis kecilnya itu, sehingga akhir-akhir ini Richard kembali memimpikan hari terakhir kebersamaan mereka.


Tak lupa Richard membeli seikat bunga Lily putih, seperti yang pernah Renatta beli waktu mereka berkunjung terakhir kalinya.


“Ri, aku datang mengunjungimu.” Ucapnya setelah meletakkan buket bunga Lily di atas gundukan tanah.


Pria dewasa itu menundukkan kepala, memanjatkan doa sejenak.


“Ri.. apa kamu tidak setuju aku menikahi Renatta? Kenapa akhir-akhir ini, aku kembali di hantui mimpi buruk itu? Seolah, kamu tidak ingin aku berbahagia bersama Renatta.”


Richard menghela nafasnya pelan.


“Maafkan aku, Ri. Aku menikahi Renatta, bukan hanya karena aku ingin menjaganya seumur hidupku. Aku mencintainya. Aku menyayanginya. Aku tidak ingin kehilangannya, seperti aku kehilangan dirimu. Tolong maafkan kesalahanku yang telah lalai menjaga mi, Ri.”


Richard menengadah untuk menghalau air yang mulai turun dari pelupuk matanya.


“Biarkan aku berbahagia bersama Renatta, Ri. Jangan hantui aku dengan rasa bersalah itu lagi.”

__ADS_1


****


Bersambung.


__ADS_2