DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
41. Sepertinya, Istrimu Berselingkuh.


__ADS_3

Richard menghela nafas kasar. Ia merasa bersalah telah berbicara seperti itu pada sang istri.


Harusnya Richard tidak marah jika Renatta ingin tahu apa isi di balik pintu kamar itu.


Namun kembali lagi, ia tidak dapat menjelaskan jika sang istri menuntut penjelasan untuk ribuan foto yang tertempel pada dinding kamar.


Suasana makan siang menjadi canggung. Meski Renatta melayani sang suami, namun wanita itu tidak banyak bicara.


Hal itu memancing rasa ingin tahu Randy. Namun pria lajang itu enggan untuk bertanya lebih jauh. Ia tidak mau ikut campur urusan rumah tangga sang adik.


“Setelah ini, kakak mau kemana?” Tanya Renatta pada sang kakak.


Satu alis Richard terangkat, ia di abaikan oleh istri kecilnya.


“Tidak ada. Memangnya kenapa?” Tanya Randy sembari menikmati makan siangnya.


“Bagaimana jika kita pergi berbelanja berdua? Aku yanb traktir.”


Randy yang hendak menyuap sesendok makanan, seketika terpaku. Ia menatap ke arah Richard sesaat. Pria dewasa itu menganggukkan kepalanya. Tanda mengijinkan.


“Kenapa tidak pergi bersama kak Rich?” Pancing Randy.


Renatta menggeleng pelan.


“Aku tidak mau ada orang kampus yang melihat kami. Aku masih ingin hidup tenang.” Jawabnya kemudian.


Selain itu, Renatta punya alasan lain. Ia masih kesal dengan sang suami yang memarahinya hanya karena kamar di lantai tiga.


Setelah makan siang, Renatta dan Randy pamit pada Richard untuk pergi berbelanja berdua.


“Apa kalian bertengkar?” Tanya Randy saat mereka telah berada di dalam mobil.


“Tidak. Bukankah sejak tadi om Rich bersama kakak? Mana mungkin kami bertengkar?”


Renatta tak ingin membahas tentang Richard saat ini. Itu hanya akan menambah rasa kesalnya.


Randy mengangguk. Ia paham, mungkin sang adik tidak ingin membagi permasalahan dalam rumah tangganya kepada orang lain.


Sampai di pusat perbelanjaan, Renatta dan Randy lebih banyak menghabiskan waktu mereka di arena bermain.


Renatta tak ingin membeli apapun. Hanya ingin meluapkan rasa kesalnya.


“Sudah puas?” Tanya Randy pada sang adik.


Renatta menggeleng pelan.


“Kita sudah lama tidak bermain. Kakak terlalu sibuk sehingga melupakan aku.” Rajuk wanita itu.

__ADS_1


Randy kemudian mendekap tubuh sang adik. Benar apa yang Renatta katakan. Setelah ia mulai bekerja di perusahaan sang papa, waktu bermain mereka menjadi berkurang.


“Maafkan aku. Baiklah, hari ini kita habiskan sepuas hatimu.”


Renatta mengangguk senang.


Sementara itu, tak jauh dari mereka Bobby terus mengikuti kemana pun Renatta dan Randy pergi.


“Bos, sepertinya istrimu berselingkuh.”


Kalimat yang Bobby kirim berserat sebuah gambar yang menunjukkan Renatta berpelukan dengan seorang pria.


Tak lama kemudian, pesan balasan pun datang.


“Pria itu kakaknya.”


Bobby menganga. Selama ini, ia belum mengetahui wajah dari kakak Renatta.


“Maaf aku salah.” Balasnya kemudian.


Ia kembali mengikuti langkah sepasang kakak beradik itu.


“Bobby.”


Suara Renatta terdengar memanggilnya.


“Astaga. Aku ketahuan.”


“Dia siapa?” Tanya Randy saat melihat seorang pemuda yang mungkin lebih muda darinya berjalan mendekat ke arah mereka.


“Temanku.” Jawab Renatta singkat.


“Sedang apa kamu disini, Bob?” Tanya Renatta.


“Ini, Re kebetulan aku sedang bosan di rumah. Jadi, aku memutuskan untuk mencari hiburan. Eh, tidak tahunya bisa berjumpa dengan kamu disini.” Jelas Bobby sedikit gelagapan.


‘Alasan yang masuk akal.’ Monolog batin Renatta.


Ia pun mengangguk paham. Wanita itu kembali mengingat ucapan Gista beberapa waktu lalu, ketika mereka tanpa sengaja bertemu dengan Bobby saat pergi berbelanja.


“Re, sudah berapa kali kamu bertemu pria itu?” Tanya Gista penasaran.


“Sering, Ta. Dan selalu saja tanpa sengaja.” Jelas Renatta.


“Bukankah ini aneh? Kalian sering bertemu tanpa sengaja. Dan alasan pria itu, pasti mengatakan ada pekerjaan di sekitar sini. Apa kamu tidak curiga padanya?” Tanya Gista mencurigai Bobby.


“Maksud kamu Bobby berbohong dan memiliki niat jahat?”

__ADS_1


Gista menganggukkan kepalanya. “Siapa tahu? Bisa saja ‘kan? Maaf, bukannya aku menuduh atau mencurigai teman barumu itu. Tetapi, beberapa waktu lalu aku juga melihatnya di sekitar kampus. Dia seperti sedang mengikuti seseorang. Aku sarankan, kamu waspada saja sama dia. Mungkin saja dia memiliki niat tersembunyi.”


Saat itu Renatta tak menghiraukan ucapan sahabatnya. Namun, melihat Bobby berada di sekitarnya saat ini, ia pun mulai curiga.


“Oh ya, Bob. Perkenalkan, ini kakakku.” Ucap Renatta pada Bobby.


“Kak, ini Bobby teman aku.” Ia kemudian menatap ke arah Randy.


Randy dan Bobby saling berjabat tangan. Setelah perkenalan dua pria itu, Renatta meminta Bobby untuk bergabung. Namun pria itu menolak, dengan alasan ada urusan lain.


Mereka pun berpisah arah.


“Sejak kapan kamu punya teman pria?” Tanya Randy saat mereka sedang mampir di kedai es krim.


Renatta menghela nafas pelan. Ia kemudian menceritakan awal mula bertemu dengan Bobby.


“Tetapi, ingat sekarang status kamu itu sudah menjadi seorang istri. Kakak harap kamu bisa menjaga diri dan tahu batasan dalam berteman dengan seorang pria.” Nasehat Randy kemudian.


Renatta mengangguk paham.


****


Menjelang sore, Renatta baru kembali ke rumah. Ia tak melihat keberadaan sang suami di lantai dasar kediaman mewah itu.


Ia tahu Richard ada di rumah. Karena semua mobil terparkir rapi di dalam garasi.


Namun, Renatta tidak tahu dimana pria itu berada. Ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar mereka.


Dan saat membuka pintu, tanpa sengaja pandangan Renatta beradu tatap dengan Richard yang sedang duduk di atas tempat tidur.


Richard turun dan menghampiri sang istri. Ia tidak ingin kebekuan diantara mereka terjadi terlalu lama.


“Maafkan aku.” Ucap pria itu sembari mendekap tubuh sang istri dari belakang.


“Maaf untuk apa?” Pancing Renatta.


“Untuk yang tadi siang. Aku tidak bermaksud kasar padamu hanya karena kamar itu.” Jelas Richard diakhiri dengan helaan nafas pelan.


“Sepertinya, kamar itu memiliki rahasia besar. Sehingga aku pun tidak boleh mengetahui isi di dalamnya.” Ucap Renatta melepaskan diri.


Wanita itu kemudian menatap sang suami sembari bersedekap dada. Ia ingin tahu, apa pria itu berniat membuka rahasianya atau tidak.


“Sayang, bukankah sudah pernah aku katakan, di kamar itu ada berkas-berkas penting perusahaan. Karena itu aku melarang orang lain untuk masuk.” Tukas Richard kemudian.


“Sekalipun keluarga om sendiri? Papa, mama, kak Anna bahkan aku sekarang yang sudah menjadi istri om?” Renatta menggeleng tak percaya.


Richard tak dapat menjawab. Ia telah kehilangan kata-kata untuk menenangkan istri kecilnya.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2