DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
50. Dia Sedang Patah Hati.


__ADS_3

“Ini rumah siapa?” Tanya Renatta ketika Bobby memberhentikan motornya tepat di depan sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu besar.


“Rumah ibuku.” Ucap Bobby.


Renatta kemudian turun dari belakang Bobby. Wanita itu mengerucutkan bibirnya. Tadi ia sudah meminta Bobby untuk mengantarkan ke terminal bus. Namun pria itu menolak, justru membawa Renatta ke rumah ibunya.


“Ayo masuk.” Ajak Bobby namun Renatta bergeming.


“Kenapa? Apa kamu tidak terbiasa dengan rumah kecil seperti ini?” Terka Bobby membuat Renatta mendengus.


“Aku terbiasa. Rumah Gista juga sebesar ini.” Ucapnya sembari mendahului Bobby.


“Hanya saja, apa kata ibumu jika aku masuk ke dalam?” Wanita itu kembali menatap Bobby.


Bobby mencebikkan bibirnya. “Bukannya aku sudah mengatakan jika ibuku dalam keadaan koma saat ini? Dia tidak di rumah. Tetapi berada di rumah sakit.”


Bobby kemudian membukakan pintu. Renatta mengekor dari belakang. Namun ada hal yang membuat langkah wanita itu memelan.


Ibu Bobby ini mengalami koma dan sedang berada di rumah sakit. Sedangkan, ‘Bobby’ yang mengirim pesan pada Richard juga mengatakan ‘meminjam uang untuk biaya pengobatan ibunya.’


Apa ini suatu kebetulan lagi?


“Bob— Renatta hendak berbicara. Namun Bobby mengangkat tangan pertanda diam. Karena ponsel pria itu berdering.


“Aku akan segera kesana.” Ucap pria itu pada ponsel yang menempel pada telinganya.


“Re. Kamu tunggu disini. Aku harus ke rumah sakit.” Nada suara Bobby terdengar panik.


Renatta menjadi ikut cemas. Wanita itu hanya mengangguk pelan.


“Jangan kemana-mana. Jangan keluar dari rumah ini sebelum aku datang, karena disini daerah rawan kejahatan.” Pesan pria itu kemudian pergi menuju pintu.


“Jika kamu lapar, cari makanan di dapur. Ada kulkas disana.” Jelas Bobby lagi setelah menutup pintu.


Renatta mengikuti. “Kenapa dia mengunci pintunya?” Gumam Renatta saat ia tak bisa membuka pintu.


Wanita itu menghela nafas pelan. Ia kemudian duduk di atas sofa sederhana yang tersedia di ruang tamu rumah itu.


****


Sudah tiga hari keadaan Richard tidak baik-baik saja. Meski sudah tidak mengamuk lagi, namun sikap pria itu sangat dingin dan lebih mudah marah.


Richard tak lagi ramah, bahkan tak mau membalas sapaan dari karyawan yang berpapasan dengannya.


Hal itu membuat para pekerja di gedung Wijaya Group bertanya-tanya. Apa yang terjadi pada sang pimpinan sehingga pria itu berubah garang?


“Jika kamu sudah bosan bekerja disini. Katakan saja. Aku tidak akan melarangmu untuk pergi.”

__ADS_1


Melissa sang sekretaris juga terkena imbas dari amarah Richard. Hanya karena ia melakukan kesalahan kecil.


“Maafkan aku, pak.” Melissa menundukkan kepala. Ia bahkan pernah melakukan kesalahan lebih besar sebelumnya. Namun Richard tak semarah ini.


Richard tak menjawab. Ia masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu dengan keras.


“Dia kenapa?” Gumam Melissa sembari mengusap dadanya karena terkejut.


“Dia sedang patah hati.” Suara Dirga tiba-tiba terdengar disamping Melissa.


Wanita itu menoleh ke arah sang wakil direktur.


“Patah hati?”


Dirga menganggukkan kepalanya. “Biasa. Gadis pujaan hatinya sedang merajuk. Dan sudah tiga hari tanpa kabar. Jadi, dia uring-uringan.”


“Gadis pujaan hati pak Richard?” Ulang Melissa lagi.


“Ya. Saranku, sebaiknya beberapa hari kedepan ini kamu jangan membuat kesalahan. Jika tidak ingin kena amuk pria itu.” Dirga kemudian berlalu menyusul sang kakak sepupu ke dalam ruangannya.


Melissa masih tak mengerti, namun ia menurut. Karena tak ingin kehilangan pekerjaannya.


Di dalam ruangan Richard.


“Jangan menemui ku sebelum kamu membawa kabar tentang Renatta.” Ucap Richard pada ponsel yang sedang menempel di telinganya.


“Belum ada kabar?” Tanya Dirga saat Richard menatap ke arahnya.


Sang sepupu menggeleng pelan. “Bagaimana dengan Gista? Apa ada hal mencurigakan tentang gadis itu?” Tanya Richard kemudian.


Dirga menghela nafas pelan. “Tidak. Dia sama sekali tidak tahu keberadaan kakak ipar.” Jelasnya.


“Kamu bertanya langsung padanya?”


Dirga menganggukkan kepalanya. “Ya. Tidak perlu sembunyi-sembunyi karena kita perlu mengetahui keberadaan Renatta ‘kan?”


“Kamu yakin dia tidak berbohong?”


“Ya. Kakak tenang saja. Selain bertanya, aku juga sudah menyuruh orang untuk mengikutinya. Tetapi memang gadis itu tidak tahu tentang Renatta.”


Richard mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Ia kemudian membuka galeri ponselnya untuk melihat foto-foto sang istri.


‘Aku merindukanmu, sayang. Tolong beri aku kabar. Apa kamu baik-baik saja?’


Dirga merasa prihatin melihat kondisi sang sepupu. Cinta yang begitu besar membuat Richard kehilangan jati dirinya.


Dirga menjadi teringat kembali dengan keadaan dirinya saat berpisah dengan mantan istrinya. Bahkan lebih parah dari Richard. Setiap malam pria itu menghabiskan waktunya di klub malam untuk menikmati berbotol-botol minuman keras hingga pagi menjelang.

__ADS_1


“Renatta pasti baik-baik saja.” Ucap Dirga menghibur sang sepupu.


“Aku harap begitu.” Sahut Richard pelan.


Dirga menghela nafas pelan. “Logika saja, kak. Jika terjadi sesuatu pada istrimu, hal buruk sekalipun, pasti sudah ada pihak berwajib yang menghubungi dirimu atau keluarga Setiawan. Dan aku yakin, kakak ipar sekarang dalam keadaan aman dan baik-baik saja. Dia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. Mengertilah, istrimu itu baru berusia dua puluh dua tahun. Terkadang, dia masih bersikap labil.”


Richard memicingkan mata ke arah sang sepupu. Benar juga yang Dirga katakan. Ia menikahi gadis manja berusia dua puluh dua tahun. Harusnya Richard sadar jika sang istri terkadang masih bersikap kekanakan.


“Jika istrimu sudah dewasa, harusnya dia tak langsung pergi saat mendengar pembicaraan kalian. Renatta harusnya masuk dan menuntut penjelasan. Bukannya malah lari dengan asumsi sendiri.” Dirga menambahkan.


“Seperti dirimu?” Tanya Richard balik.


“Ya. Seperti diriku. Saat mendapat kabar jika wanita itu berselingkuh. Aku tak langsung percaya. Tetapi langsung memergoki mereka. Tidak perlu penjelasan karena aku melihat bukti secara nyata.”


Richard mengangguk paham.


Ponsel pria itu kemudian berdenting.


‘Bos. Nona ada di tempat yang aman. Untuk saat ini, biarkan dia sendiri dulu. Aku jamin, nona baik-baik saja.’


Sebaris pesan Richard terima dari nomor ponsel Bobby. Membuat Richard langsung menghubungi pria muda itu.


“Dimana istriku?” Sambarnya tanpa memberi salam apapun.


“Nona baik-baik saja. Aku baru saja menemukannya. Tetapi, saat ini biarkan dia sendiri dulu. Jika tidak, dia akan tahu kalau aku bekerja untukmu.” Jawab Bobby dari seberang panggilan.


“Kamu yakin dia baik-baik saja?” Nada suara Richard perlahan melemah.


“Seratus persen yakin, bos. Saat ini aku hanya butuh uang untuk membelikan nona pakaian ganti. Sepertinya dia membeli baju murah untuk mengganti pakaiannya.” Bobby terdengar terkekeh.


“Aku akan mengirimkan uang padamu. Pastikan istriku menggunakan pakaian yang layak, dan makan dengan baik.”


“Tentu, bos. Sekarang aku masih di rumah sakit. Setelah ini aku akan berbelanja untuk nona.”


Panggilan berakhir. Richard pun mengirim sejumlah uang ke rekening Bobby.


Dirga memperhatikan perubahan raut wajah Ricahrd. Sepetinya pria berusia empat puluh tahun itu baru saja mendapatkan kabar baik.


“Apa ada kabar baik?” Tanya Dirga setelah Richard menyimpan ponselnya.


Richard menganggukkan kepalanya.


“Bobby menemukannya. Hanya saja pemuda itu tidak mau mengatakan dimana istriku berada saat ini. Supaya Renatta tidak tahu jika Bobby adalah orangku.”


Dirga menganggukkan kepalanya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2