
“Jadi datang ke kantor hanya untuk menanyakan pekerjaan paruh waktu untuk Gista?” Tanya Richard kepada sang istri.
Mereka kini tinggal berdua di dalam ruangan pria itu, karena Dirga telah pamit pergi.
“Ya.” Jawab Renatta dengan menganggukkan kepalanya.
Richard menghela nafas lega. Ia sempat mengira sang istri telah mengetahui tentang kejadian di masa lalu, yang membuat wanita itu ingin segera membahasnya.
“Kasihan Gista. Bapaknya berhutang untuk bermain judi online. Dan kemarin, ada rentenir yang datang menagih uang. Jadi, Gista memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Dia sudah mencari di halaman bursa kerja. Tetapi, tidak ada yang sesuai keinginannya, jadi aku berinisiatif menanyakan pada om.” Jelas Renatta panjang lebar.
Wanita itu masih duduk di atas sofa, sementara Richard telah kembali menempati kursi kebesarannya.
“Menanyakan padaku?” Tanya Richard lagi.
“Ya. Om ‘kan punya banyak kenalan.” Jawab Renatta dengan menaik turunkan alisnya.
Richard menggeleng pelan melihat tingkah sang istri.
“Kemari.” Pria dewasa itu mengulurkan tangan meminta sang istri untuk mendekat.
Renatta berdecak pelan. Namun ia tetap menuruti keinginan sang suami.
“Aku sedang datang bulan, om.” Cicit wanita itu saat Richard menariknya untuk duduk di atas pangkuan pria itu.
“Sejak kapan? Bukannya semalam masih bisa?”
Pria itu menyerukan kepalanya pada lekukan leher sang istri. Tangannya pun membelit dengan kuat.
“Tadi saat di kampus.” Renatta menggeliat bak ulat bulu.
“Biasanya berapa hari?” Tanya Richard yang tak mau menghentikan aksinya.
“Lima hari.”
“Lama sekali?” Gumam Richard.
“Om.”
“Hmm.”
“Apa aku juga boleh bekerja paruh waktu?” Tanya Regina untuk mengalihkan sang suami, sebab ia merasa bagian tubuh tersembunyi Richard mulai bangkit.
“Tidak.” Jawab pria dewasa itu dengan cepat.
Richard kemudian menjauhkan wajahnya dari tubuh sang istri.
“Untuk apa kamu bekerja? Apa uang yang aku berikan kurang?”
Renatta meringis melihat bola mata sang suami yang hampir keluar dari tempatnya.
“Ya, hanya iseng saja. Sambil menunggu om pulang.” Wanita itu mengusap rahang sang suami.
“Tidak. Aku katakan tidak, ya tidak. Kamu bisa datang ke kantor ini setelah pulang kampus.”
__ADS_1
Renatta menelan ludahnya kasar. Richard jika dalam mode marah sangatlah menyeramkan. Seperti singa yang siap menerkam mangsanya kapan saja.
“Aku hanya bercanda, om. Suamiku ini kaya raya. Aku tidak perlu repot-repot untuk bekerja lagi.” Rayunya untuk menenangkan sang suami.
Sepertinya Renatta telah salah memancing amarah Richard.
Disaat seperti ini, Renatta merasa Richard sangat mencintainya. Pria itu sangat posesif padanya.
Renatta tidak berani memastikan, apakah hal itu karena Richard mencintainya? Atau hanya karena Richard telah memberikan bantuan pada perusahaan Setiawan?
“Om.”
“Ya?”
Renatta menggeleng. “Aku tunggu di sofa saja, supaya pekerjaan om cepat selesai. Dan kita bisa pulang bersama.”
Richard mengangguk, kemudian melepaskan belitan tangan pada pinggang sang istri.
****
Apa yang Richard harapkan dari memiliki istri seorang anak manja? Berharap wanita itu berada di balik meja dapur, kemudian membuat hidangan untuk makan malam mereka?
Pria itu bahkan tahu jika sang istri tidak bisa memasak. Ia pun tidak yakin, jika wanita itu mengetahui nama jenis-jenis bumbu dapur.
“Om. Kenapa melamun?” Tanya Renatta sembari meletakkan piring yang telah terisi penuh dengan makanan.
Mereka kini telah berada di rumah, untuk makan malam. Tentu saja, Sudah membersihkan diri dan mengganti pakaian sebelumnya.
Richard menggeleng pelan. Ia meraih piring itu.
Monolog batin Richard.
Selain itu, sang istri hanya bisa memasak air dan mie instan.
Richard tahu betul tentang Renatta. Tidak ada satu hal pun yang terlewatkan dari pujaan hatinya itu.
“Apa makanannya tidak enak?” Sang istri kecil kembali bersuara.
Richard berdeham pelan, kemudian mulai menikmati hidangannya.
“Rasanya sama seperti biasa.” Jawab pria itu.
“Lalu kenapa om tidak memakannya? Apa ingin makan yang lain?”
Richard menggelengkan kepala. “Hanya sedang memikirkan sesuatu.”
Dahi Renatta berkerut halus. Ia hendak menyuap sesendok makanan pun mengurungkannya.
“Apa ada masalah?”
Richard mengangguk pelan. “Istriku tidak bisa memasak.” Ucapnya terkekeh.
Renatta memutar mata dengan malas.
__ADS_1
“Om tahu mama tidak pernah mengijinkan aku berlama-lama di dapur.” Tukasnya kemudian.
“Ya. Karena mama tidak ingin kamu menghancurkan dapurnya.” Pria itu kembali terkekeh.
“Awas tersedak.” Peringat Renatta. “Om sudah tua. Tersedak sedikit, takutnya nanti lewat.”
Dan benar setelah mendengar perkataan sang istri, Richard pun terbatuk.
“Nah. Baru juga di peringati.” Wanita itu menyodorkan segelas air.
“Makanya, kalau makan jangan sambil bicara.” Imbuhnya lagi.
Richard tak menanggapi.
****
Setelah makan malam, Richard meminta Renatta pergi ke kamar terlebih dulu. Ia harus memeriksa beberapa pekerjaan di ruang kerja.
Namun itu hanya alasan semata. Pria itu bukannya pergi ke ruang kerja, namun Richard berada di dalam kamar, di lantai tiga.
Ia mencetak beberapa foto kegiatan Renatta di kampus, yang di kirim Bobby padanya.
“Aku tidak tahu, apa yang akan kamu lakukan jika mengetahui akulah penyebab kepergian Rianna. Apa kamu akan membenciku, Re?” Richard berbicara pada ribuan foto yang menempel di dinding, dan membentuk wajah Renatta.
“Aku ingin mengatakan yang sebenarnya padamu. Tetapi aku takut kamu marah padaku. Bukankah, untuk pria tua seperti aku harusnya tidak perlu takut? Aku tidak ingin kehilangan mu, Re. Bukankah sebagai pria dewasa, aku terlalu pengecut untuk mengakui kesalahanku?”
Richard menghela nafas pelan. Ia teringat tentang mimpi yang kembali datang dalam tidurnya beberapa hari ini.
Pria itu di buat bertanya-tanya. Kenapa mimpi itu kembali menghantui saat ia dan Renatta telah menikah?
“Aku harap, malam ini mimpi itu tidak datang lagi.”
Richard memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia tidak ingin Renatta menunggunya terlalu lama.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sampai di dalam kamar, Richard mendapati sang istri telah tidur meringkuk seperti seorang bayi.
Senyum tersungging pada bibir pria tampan itu.
Ia kemudian beranjak ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur. Setelah itu, baru bergabung bersama sang istri di atas peraduan.
Richard hendak melabuhkan kecupan selamat malam pada gadis kecilnya. Namun, bibir Renatta bergerak dan mengucapkan sesuatu.
“Ri.. aku merindukanmu. Jangan tinggalkan aku lagi.”
Deg!!
Hati Richard berdenyut. Sepertinya sang istri bermimpi bertemu saudari kembarnya.
Rianna tak hanya mengingatkan Richard akan kejadian tujuh belas tahun silam. Tetapi sekarang, ia juga mendatangi Renatta dalam tidurnya.
Apa maksud semua ini? Mungkinkah Rianna tidak ingin Richard menikahi Renatta?
****
__ADS_1
Bersambung.