DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
43. Katakan Siapa Bobby?!


__ADS_3

Bobby terpaksa menemui Richard di kampus karena ia saat ini sangat membutuhkan uang.


Sebelum pergi ke ruangan sang atasan, Bobby sudah memeriksa situasi. Ia melihat mobil yang di tumpangi oleh Renatta telah meninggalkan halaman kampus.


“Bagaimana jika Renatta sampai melihatmu?” Tanya Richard sembari menutup pintu ruangannya.


Ia sempat kaget karena Bobby berani datang menemuinya di kampus.


“Aku pastikan nona tidak melihatku, bos. Dan lagi, ini sangat mendesak. Aku mengirim banyak pesan tetapi bos tidak membalasnya. Aku tidak berani menghubungi, takut jika bos sedang mengajar.” Pria muda itu berbicara dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Ia takut jika Richard akan memukulnya saat ini.


Namun yang terjadi justru sebaliknya. Richard meminta Bobby untuk duduk, sementara pria itu sibuk memeriksa ponselnya.


“Kamu perlu berapa?” Tanya Richard setelah melihat pesan yang Bobby kirim padanya.


“Lima belas juta, bos. Aku harus membayar biaya rumah sakit ibuku.” Ucap Bobby lirih.


Ibu pria muda itu kini tengah berada di rumah sakit dalam keadaan koma. Setiap bulannya, Bobby harus membayar sejumlah uang untuk biaya pengobatan dan perawatan sang ibu.


Richard menganggukkan kepalanya. Ia kemudian membuka aplikasi mobile banking, dan mengirim sejumlah uang pada Bobby.


“Sudah.” Ucap pria dewasa itu. Namun dirinya masih sibuk dengan ponselnya.


“Bos. Ini terlalu banyak.” Ucap Bobby saat melihat nominal uang yang Richard kirim padanya. Dua puluh lima juta.


“Tidak masalah. Anggap saja bonus. Gunakan uang itu dengan baik.” Ucap Richard.


Pria dewasa itu tidak pernah mempermasalahkan tentang uang. Berapapun, asal bermanfaat dan di manfaatkan dengan baik oleh orang yang membutuhkan, Richard tidak akan berpikir panjang untuk memberikannya.


“Kalau begitu, aku permisi dulu, bos. Aku akan ke rumah sakit membayar biaya rumah sakit. Setelah itu, aku akan menemui nona.” Pamit Bobby.


“Jika kamu tidak bisa, tidak masalah. Istriku sekarang sedang berada di kafenya Dirga. Kamu tidak perlu memikirkan hal lain. Urus dulu keperluan ibumu.”


“Terimakasih, bos.” Ucap Bobby kemudian pamit meninggalkan ruangan Richard.


***


Renatta memutuskan untuk pergi ke kafe milik Dirga. Sepanjang perjalanan, pikiran wanita muda itu di penuhi dengan satu nama yaitu ‘Bobby.’


Dalam benaknya bertanya-tanya, apa ‘Bobby’ yang mengirim pesan pada sang suami tadi adalah orang yang selama ini ia kenal?


Renatta kembali teringat dengan perkataan Gista beberapa waktu lalu, mengenai kecurigaannya tentang Bobby yang selalu ada di sekitar Renatta.


‘Apa mungkin Bobby orang suruhannya om Rich? Bukankah sangat aneh karena kami selalu bertemu secara kebetulan? Bobby selalu tahu dimana aku berada.’ Monolog Renatta dalam hati.


“Nyonya, kita sudah sampai.” Ucap sang sopir.


Renatta terlalu larut dalam pikirannya, sehingga tak menyadari jika mereka sudah sampai di tempat tujuan.


“Tunggu disini, pak.” Ucap Renatta sembari keluar dari dalam mobil.


Wanita itu kemudian memasuki tempat makan yang mengusung tema ‘Garden Cafe’ itu.


Dirga sengaja membuat tempat makan yang nyaman dan sejuk di tengah kota, agar pengunjung merasa betah untuk berlama-lama disana.

__ADS_1


“Selamat datang, kak.” Sapa salah seorang pramusaji.


Renatta membalas dengan anggukan kepala. Wanita itu memindai sekitar, untuk mencari keberadaan sang sahabat.


Terlihat Gista sedang melayani seorang pengunjung pada meja yang terletak di luar ruangan.


Renatta pun mencari tempat di sudut ruangan.


“Silahkan menunya, kak.”


Wanita itupun memesan segelas es coklat, dan sepotong kue tiramisu. Ia tidak memesan makanan berat karena sudah mengisi perut tadi siang saat di kampus.


“Mbak, pesanan ku ini, aku ingin pesanan ini di antarkan oleh Gista.” Tunjuk Renatta pada sang sahabat yang sedang menunggu pesanan minuman di meja bartender.


Pramusaji itu ikut melihat ke arah yang di maksudkan.


“Maaf, kakak siapanya Gista? Nanti supaya saya tidak salah menyampaikan pesan.” Tanya gadis dengan seragam hijau muda itu.


“Aku Renatta Wijaya. Sahabatnya Gista.”


Pramusaji itu tercengang mendengar jawaban Renatta.


“Maaf, nona. Saya tidak tahu jika nona adalah keluarga pak Dirga.” Ucap gadis itu merasa sungkan.


“Ah, jangan berlebihan, mbak.” Renatta mengibaskan tangannya.


“Bisa ‘kan pesananku di bawakan oleh Gista?” Tanya Renatta lagi.


Pramusaji itu pun pamit pergi.


“Duduk dulu, Ta.” Renatta menahan lengan sabahatnya itu.


Namun Gista menepisnya dengan halus. “Tidak enak dengan yang lain, Re.”


“Tidak masalah. Mereka tahu jika aku keluarga pemilik tempat ini.”


Ucapan Renatta semakin membuat Gista merasa sungkan. Ia hanya kalangan menengah ke bawah, dan saat ini sedang dalam jam bekerja. Tak pantas rasanya jika duduk bersantai dengan Renatta.


“Ya sudah. Padahal aku mau curhat tentang Bobby. Tetapi kamu tidak mau duduk.” Renatta pun mengerucutkan bibirnya.


“Kamu cerita saja sebentar. Aku dengarkan. Tetapi aku tidak bisa terlalu lama. Tidak enak dengan yang lain.”


Apalagi jika sampai sang atasan yang tiba-tiba datang dan melihatnya sedang mengobrol dengan Renatta. Bisa-bisa Gista langsung kehilangan pekerjaannya.


“Tadi, tanpa sengaja aku melihat pesan masuk di ponsel om Rich atas nama Bobby. Dan setelah aku keluar, mau masuk ke dalam mobil, aku juga melihat Bobby yang aku kenal berada di dekat gerbang kampus.” Renatta mulai bercerita.


“Apa mungkin, Bobby yang mengirim pesan kepada om Rich itu, adalah orang yang aku Kenak? Menurut kamu bagaimana, Ta?”


Wanita itu menatap ke arah sang sahabat penuh harap.


Gista menghela nafas pelan. “Bukankah sudah aku katakan? Kamu harus waspada dengan pria itu. Karena, bukan suatu kebetulan jika dia muncul di sekitar kamu. Pasti ada orang yang menyuruhnya. Dan mungkin saja ‘kan itu suami kamu?”


“Untuk apa om Rich menyuruh orang untuk membuntuti ku?” Tanya Renatta kemudian.


Gista mengedikan bahunya.

__ADS_1


“Kalian yang hidup bersama. Bukan aku.”


Gadis itu kemudian pergi meninggalkan sang sahabat setelah melihat ada pengunjung yang baru tiba.


“Gista. Tidak sopan sekali dia, pergi begitu saja.” Gerutu Renatta.


****


Renatta sudah berada di rumah sebelum Richard kembali dari kantor. Wanita itu berusaha untuk tidak memikirkan lagi tentang Bobby.


Mungkin saja, ‘Bobby’ yang mengirim pesan pada Richard itu adalah salah satu pegawai di kantor Wijaya. Bukan orang yang ia kenal.


Renatta memutuskan untuk membersihkan diri. Berendam dengan air hangat untuk menghilangkan penat.


Richard masuk ke dalam kamar, bertepatan dengan Renatta yang keluar dari ruang ganti.


“Om, mandi dulu. Biar aku siapkan airnya.” Renatta menghindar ketika sang suami ingin memeluknya.


Richard mencebik. Ia menurut pada sang istri kecil. Pria itu kemudian mengikuti langkah sang istri.


“Airnya sudah siap, om.” Ucap Renatta. Ia melihat sang suami sedang melepaskan satu persatu pakaian kerjanya.


“Satu kecupan saja.” Ucap Richard mendekat.


Renatta berdecak. Ia kemudian mengecup singkat bibir sang suami.


“Sudah.”


Richard pun berlalu sembari mengusap kepala sang istri.


Renatta kemudian menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami. Tak lupa wanita itu meletakan pakaian kotor Richard pada keranjang cucian.


“Dia melupakan ponselnya.” Ucap Renatta saat merasakan ada benda berat pada saku jas sang suami.


Sembari menunggu Richard selesai, Renatta pun kembali ke dalam kamar. Ia meletakan ponsel sang suami di atas nakas.


Setengah jam berlalu, sang suami tak kunjung keluar. Renatta pun memutuskan untuk turun, melihat persiapan makan malam.


Namun, deringan ponsel Richard menghentikan langkahnya.


Bobby.


Nama itu lagi. Renatta hendak mengangkatnya. Namun panggilan itu sudah berhenti.


Ketika akan meletakkan kembali, sebaris pesan pun masuk pada benda pipih pintar itu.


‘Bos. Terimakasih atas bantuannya. Maaf jika hari ini aku tidak bisa mengikuti nona. Aku janji, besok akan bekerja seperti biasa.’


Jantung Renatta tiba-tiba berdegup kencang setelah membaca pesan itu. Apa maksudnya pesan ini?


“Sayang.” Richard keluar dari ruang ganti, dan melihat bingung sang istri yang berdiri di samping tempat tidur.


“Katakan siapa Bobby?!”


****

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2