
Sampai di kamar, Renatta meletakan pakaiannya pada keranjang cucian. Setelah itu, ia pun mengisi daya ponselnya.
Benda pipih itu sudah mati tanpa daya sejak hari kedua pelariannya.
Ketika ponsel itu telah terhubung dengan daya listrik, alat komunikasi itu pun menyala.
Banyak pesan, dan pemberitahuan membuat ponsel itu terus berbunyi. Beberapa panggilan tak terjawab dari Richard, Randy, papa Roy, Gista hingga Dirga pun tertera di layar.
“Ternyata mereka mencariku.” Gumam Renatta sembari meletakkan ponselnya di atas meja rias.
Wanita itu kemudian memutuskan untuk mandi. Ia juga membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Renatta hanya berjaga-jaga jika sang suami datang, maka dirinya sudah berpakaian.
Richard masuk ke dalam kamar setelah beberapa lama. Ia tak mendapati sang istri di tempat tidur, namun melihat pintu ruang ganti yang terbuka.
Pria itu kemudian menghampiri ke dalam sana.
Nampak Renatta baru keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian. Wanita itu juga melihat kedatangan sang suami, namun ia acuhkan begitu saja.
Melihat tingkah sang istri, membuat Richard gemas. Ingin sekali ia memeluk wanita muda itu, dan membawanya ke atas ranjang. Namun apa daya, hubungan mereka belum membaik, jadi Richard harus menahan diri.
“Sayang.”
Richard bersuara setelah hening beberapa saat. Renatta yang tengah menyisir rambut, melihat sekilas ke arah sang suami.
“Kita makan siang dulu. Mama sudah membuat makanan kesukaanmu.” Ucap Richard kemudian.
“Kalian kira bisa membujuk ku dengan makan siang?” Renatta berucap sinis.
Richard menghela nafas pelan. “Tidak. Ini memang sudah waktunya makan siang.” Jawab pria itu kemudian.
“Haruskah mama yang memasak?” Tanya Renatta dengan mencebik.
“Kamu sudah lama meninggalkan rumah. Wajar jika mama membuatkan makanan kesukaanmu.”
Richard perlahan mendekat.
“Tolong berhenti berpikiran buruk tentang orang tuamu. Semuanya adalah kesalahanku. Jangan melimpahkan pada orang lain.” Ucapnya setelah berada di belakang sang istri.
Renatta menatap sang suami dari pantulan cermin. Wajah pria itu nampak berbeda dari sebelumnya, akibat bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dagunya.
“Kamu berhutang banyak penjelasan padaku, om.” Gumam Renatta, namun Richard masih bisa mendengarnya.
“Ya, aku tahu. Aku akan menjelaskan apapun, sayang. Asalkan kamu mau duduk dan mendengarkan. Tetapi, sebelum itu mari kita makan siang dulu. Beberapa hari ini, kamu pasti tidak makan dengan baik.”
Renatta mengalihkan pandangannya. Memang selama ia pergi, wanita itu makan secara tidak teratur.
__ADS_1
“Ayo kita turun. Mama dan papa sudah menunggu di bawah.” Richard kembali membujuk sang istri.
Renatta pun mengalah. Ia ikut turun untuk makan siang. Perutnya juga sudah meronta minta diisi.
Suasana meja makan menjadi canggung. Namun, Mama Dona tetap menyajikan makanan untuk sang putri.
Papa Roy dan Richard ikut bergabung.
Renatta tak menolak perlakuan sang mama. Ia hanya diam, kemudian menikmati makan siangnya tanpa banyak bicara.
“Kamu mau tambah lagi?” Tanya mama Dona pada sang putri dan Renatta pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
“Mau mama kupaskan buah setelah ini?” Tanya wanita paruh baya itu lagi.
Dan Renatta kembali menggeleng pelan.
Papa Roy yang melihat sang putri terus menolak, memberikan isyarat pada sang istri untuk diam.
Mama Dona hanya mampu menghela nafas pelan.
“Aku sudah selesai.” Ucap Renatta yang kemudian bangkit membawa piring kotornya ke dapur.
“Biar aku yang bicara dengan Rena, ma.” Ucap Richard yang mengerti kegelisahan sang mama mertua.
“Kamu bicara pelan-pelan dengan gadis itu, Rich. Dia sangat keras kepala. Papa sangat mengenalnya.” Ucap papa Roy.
****
Richard masuk ke dalam kamar, dan melihat sang istri yang sedang duduk di balkon.
Pria itu kemudian mendekat.
“Apa om tidak pergi ke kantor?” Tanya Renatta saat sang suami mengambil tempat di sampingnya.
“Sejak kamu pergi, aku jarang ke kantor.” Jawab Richard sembari menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Pria itu merentangkan tangan di belakang punggung sang istri.
Renatta menatap sekilas kemudian mencebik.
“Ternyata selama ini aku tertipu.” Dengus wanita itu.
“Apa maksudmu?” Tanya Richard.
“Jangan-jangan selama ini, om berpura-pura menolakku. Iya, ‘kan?” Tanya sang istri.
Richard terkekeh. “Aku memang sengaja menolakmu.”
__ADS_1
Renatta memicingkan matanya. “Jadi cerita tadi hanya fiksi?”
“Cerita yang mana?” Tanya Richard lagi.
“Tentang om yang berjanji akan menjagaku seumur hidup?”
Richard menyunggingkan sudut bibirnya.
“Itu benar adanya, sayang. Kamu tahu, setelah Rianna dinyatakan meninggal, kamu orang pertama yang aku cari. Aku selalu memelukmu, hingga beberapa hari setelah Rianna di makamkan.” Pria itu kembali bercerita tentang masalalu mereka.
“Setiap malam aku mengalami mimpi tentang kejadian buruk itu. Sehingga saat pagi tiba, kamulah orang pertama yang aku cari. Aku sampai tinggal di rumah keluarga Setiawan.” Ucap Richard sembari mengusap pelan pundak sang istri.
Renatta pun menoleh ke sampingnya. Tatapan mata sang suami nampak kosong.
“Melihat tingkahku yang seperti itu, papa memutuskan membawa aku berobat pada ahli kejiwaan.”
Renatta tersentak mendengar penuturan sang suami.
“Ahli kejiwaan?” Tanyanya meyakinkan.
Richard mengangguk pelan. “Tidak hanya aku. Tetapi juga Randy. Dia juga mengalami mimpi buruk, dan sering menangis. Papa Roy juga membawanya berobat pada ahli kejiwaan.” Jelas Richard yang semakin membuat Renatta menganga tak percaya.
“Kakak juga?”
“Ya.” Richard menatap ke arah sang istri. Dan kebetulan wanita itu masih memandangnya.
“Kita bertiga ada di tempat kejadian, sayang. Hanya saja, kamu saat itu masih berusia lima tahun. Mungkin memori mu tak menyimpan kejadian hari itu. Dan aku sangat bersyukur. Karena dengan begitu, kamu tidak akan memiliki rasa trauma.” Richard meraih jemari sang istri.
“Biar hanya aku saja yang mengalami trauma itu.” Ucapnya yang kemudian mengecup punggung tangan Renatta.
“Om mengalami trauma?” Renatta masih belum mengerti.
“Ya. Aku trauma akan kehilangan. Karena itu, aku tidak mau kehilangan mu. Saat keadaan mulai membaik. Aku di nyatakan sembuh, aku pun berjanji pada orang tuamu, di hadapan orang tuaku. Bahwa aku akan menjagamu seumur hidupku.”
Lagi-lagi Renatta tercengang mendengar ucapan sang suami.
“Lalu kenapa om menolakku saat itu?” Tanya wanita itu penasaran.
Richard terkekeh, ia raih kepala sang istri untuk di sandarkan pada bahunya.
“Kamu saat itu masih berusia dua belas tahun. Apa kata dunia, jika pria berusia tiga puluh tahun berpacaran dengan anak di bawah umur?”
Renatta mengangguk paham. Kini akhirnya ia tahu cerita yang sebenarnya.
...****************...
__ADS_1
Bersambung.