DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
42. Siapa Bobby?


__ADS_3

“Sayang, bukan seperti itu.” Richard kembali mendekat pada sang istri.


Hanya saja, wanita itu enggan untuk bersentuhan dengan Richard. Ia tidak mau luluh begitu saja.


“Ada hal yang tidak ingin aku bagi pada orang lain. Maafkan aku.” Ucap Richard lagi.


“Aku tahu pernikahan ini berlandaskan keterpaksaan. Karena itu, aku tidak boleh mengetahui rahasia yang om simpan.” Sahut Renatta kemudian.


Richard menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada hal seperti itu, sayang. Hanya saja.” Pria dewasa itu menghela nafas kasar.


“Hanya saja aku belum siap untuk membaginya.” Imbuh Richard kemudian.


Renatta mencebikkan bibirnya. Ia sadar, jika dirinya hanya alat pelunas hutang. Tak seharusnya ingin tahu dan ikut campur urusan Richard.


“Aku mengerti, om. Om tidak perlu menjelaskan apapun lagi.” Renatta beranjak masuk ke dalam ruang ganti.


Richard mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak ingin berdebat dengan sang istri terlalu lama. Ia pun menyusul wanita itu.


“Sayang.”


“Aku mau mandi dulu, om.”


Richard mengangguk pelan. “Kamu tidak membeli apapun?” Tanya pria itu saat menyadari sang istri pulang dengan tangan kosong.


“Ya. Kami hanya pergi untuk bermain.” Jawab Renatta kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Richard menatap nanar pintu kamar mandi yang telah tertutup dan sepertinya di kunci dari dalam.


“Aku belum siap untuk mengatakannya padamu, sayang. Aku harap kamu mengerti sedikit saja. Aku tidak ingin kita bertengkar.”


Pria itu berucap lirih. Ia sungguh bingung untuk memulai darimana jika membongkar isi di dalam kamar lantai tiga itu.


Suasana makan malam pun tak kalah canggung seperti makan siang tadi. Renatta enggan mengeluarkan banyak kata pada sang suami.


Ia tetap melayani pria itu dan hanya berbicara seperlunya.


Richard membiarkannya. Bukan tidak mau menyelesaikan masalah. Namun pria itu memberi waktu sang istri untuk diam.


***


Keesokan harinya.


“Bagaimana hari pertama kamu bekerja, Ta?” Tanya Renatta pada sang sahabat.


Mereka tengah berada di dalam kelas dan sedang menunggu jam perkuliahan dimulai.


“Lumayan.” Jawab Gista singkat.


Mendengar jawaban gadis itu, membuat Renatta memutar bola matanya malas.


“Apa tidak ada kejadian berkesan? Atau kamu tidak merasa gugup di hari pertama? Kenapa hanya lumayan?” Tanya Renatta lagi.


“Ya. Namanya juga hari pertama bekerja. Pasti ada rasa gugup.” Ucap Gista kemudian.


“Lalu bagaimana dengan om Dirga?”


Dahi Gista berkerut halus. “Maksudmu apa, Re?”

__ADS_1


“Sebagai seorang atasan, apa om Dirga orangnya galak? Atau justru sebaliknya?” Tanya Renatta penasaran.


Gista mengedikan bahu. “Aku tidak bertemu dia kemarin.”


“Ya, sayang sekali. Padahal aku ingin tahu bagaimana om Dirga saat menjadi seorang pemimpin.”


Gista kembali mengedikan bahunya. Ia tidak perduli. Lagi pula, ia kesana untuk bekerja bukan untuk mengamati atasannya.


Suasana menjadi hening ketika dosen Richard memasuki kelas.


Renatta tak menghiraukan. Ia sibuk membuka laptopnya.


“Suami kamu tampan sekali.” Bisik Gista.


Renatta hanya mengedikan bahu.


Richard berdeham pelan. Ia menatap lekat ke arah sang istri yang sama sekali tak menghiraukannya.


“Renatta Setiawan.” Ucap pria itu tegas.


Mahasiswi yang di panggil namanya pun mendongak.


“Saya meminta absensi teman kamu.”


Renatta menghela nafas kasar. Ia kemudian melakukan apa yang Richard minta.


“Kalian bertengkar?” Bisik Gista lagi setelah melihat raut wajah tak bersahabat Renatta saat interaksi dengan Richard.


Renatta tak menjawab. Ia memilih kembali duduk dan melanjutkan belajar.


Saat kelas berakhir, Richard meminta Renatta untuk datang ke ruangannya.


“Re. Maaf ya, aku tidak bisa menemani. Aku harus pergi bekerja.” Ucap Gista sembari merapikan tasnya.


“Tidak apa-apa. Nanti aku akan mampir kesana.” Ucap Renatta sembari bangkit.


Di luar kelas mereka berpisah arah.


Renatta mengetuk pintu ruangan sang suami. Tak menunggu lama, papan persegi panjang itu pun terbuka dari dalam.


Baru satu langkah, tangan wanita itu sudah di tarik oleh Richard yang berdiri di balik pintu.


Mata Renatta membulat sempurna saat pria itu menghimpit tubuhnya pada dinding.


“Apa yang om lakukan?” Bisik Renatta. Ia takut jika ada orang di luar ruangan itu yang mendengarkan.


“Mau sampai kapan kamu diam seperti ini?”


Renatta menghela nafas pelan. Ia mendorong tubuh sang suami. Kemudian duduk di atas sofa yang jaraknya sedikit jauh dari pintu.


“Sampai om membiarkan aku masuk ke dalam kamar di lantai tiga.” Jawab wanita itu.


Richard mengusap wajahnya. Ia kemudian mengambil tempat di samping sang istri.


“Sayang, Ayolah. Jangan seperti anak kecil. Sudah aku katakan. Di ruangan itu hanya menyimpan berkas-berkas kantor.”


“Dan aku tidak percaya.”


Renatta bangkit, kemudian menuju meja kerja sang suami. Ia memberanikan diri duduk di atas kursi kerja pria itu.

__ADS_1


“Kamu tidak percaya padaku?” Tanya Richard dengan terbelalak.


“Ya. Alasan om tidak masuk akal. Jika hanya berkas-berkas kantor, mana mungkin papa Jo tidak boleh masuk? Bukankah sebelum om, papa Jo lebih dulu yang memimpin Wijaya Group? Lalu kenapa dia juga tidak boleh masuk?” Renatta berucap sembari menyilangkan tangan di dada.


“Aku setuju jika aku tidak boleh masuk, karena aku orang baru di rumah itu. Tetapi, ini jelas tidak masuk akal jika sampai keluarga kandung om sendiri juga tidak tahu isi kamar itu.”


Richard mengusap tengkuknya. Yang di katakan sang istri ada benarnya.


“Sayang. Sudah kita tidak perlu membahasnya lagi, apalagi sampai bertengkar hanya karena hal sepele seperti ini.”


Renatta mengedikan bahunya.


“Apa karena kita menikah karena alasan hutang piutang, sehingga om tidak mau terbuka padaku?” Tanya wanita itu kemudian.


Richard bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri sang istri.


“Jangan pernah bicara seperti itu lagi, sayang. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kamu hanya perlu mengerti. Saat ini yang bisa aku katakan hanya itu.”


Lagi-lagi Richard bersikap dominan yang membuat Renatta tak berani menjawab lagi.


Wanita itu pun hanya mampu menggangguk pelan.


“Bagus.” Richard mengecup pucuk kepala sang istri. Pria itu kemudian pergi ke dalam kamar mandi.


Renatta kembali menghela nafas pelan. Ia selalu tidak berani melawan ucapan Richard lebih jauh.


Suara denting ponsel Richard di atas meja mengalihkan perhatian Renatta. Tadinya wanita itu mengacuhkan. Namun, benda pipih itu nampaknya menerima beberapa pesan masuk sehingga membuatnya berbunyi terus menerus.


Renatta melihat ke arah pintu kamar mandi. Tak ada tanda-tanda jika suaminya akan segera keluar.


Wanita itu memberanikan diri mengambil ponsel sang suami.


Layarnya terkunci, namun Renatta dapat melihat siapa yang mengirim pesan.


“Bobby?” Gumam wanita itu.


Renatta pun melihat isi pesan yang di kirim oleh orang bernama Bobby itu, tanpa harus membuka kuncian layar pada ponsel itu.


“Bos.. maafkan aku. Tetapi, ini sangat penting. Aku membutuhkan bantuan mu. Aku ingin meminjam uang untuk biaya berobat ibuku.”


“Siapa Bobby?” Tanya Renatta pada dirinya sendiri.


Hendak mencari lebih jauh, namun Renatta mengurungkan niatnya karena sang suami telah kembali. Ia pun meletakkan kembali ponsel itu pada tempatnya sebelum Richard menyadarinya.


“Om. Aku mau pulang dulu.” Pamit Renatta.


Richard mengangguk. Sebelum sang istri keluar, pria itu pun memeluknya dan melabuhkan kecupan selamat tinggal.


“Hati-hati.”


Renatta menggangguk. Ia kemudian meninggalkan ruangan sang suami.


Saat berjalan menuju mobil yang telah menunggunya, Renatta seperti melihat sosok Bobby berada tak jauh dari pintu gerbang kampus.


“Bobby?”


Wanita itu merasa sedikit aneh. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apakah Bobby yang mengirim pesan pada sang suami, adalah orang yang sama dengan yang ia kenal?


****

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2