
Renatta memilih menenangkan diri di sebuah hotel melati, yang terletak di pinggiran kota.
Ia menggunakan kartu debit miliknya, sehingga baik Richard maupun Randy tidak akan bisa melacak keberadaan gadis itu. Karena aplikasi mobile bankingnya ada pada ponsel Renatta sendiri.
Untuk saat ini, Renatta hanya ingin sendiri. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Bahkan wanita itu tidak memberitahu Gista kemana ia akan pergi.
Percakapan Richard dengan keluarga Setiawan masih terngiang-ngiang di kepala Renatta. Ia merasa terkhianati oleh orang-orang yang di cintainya.
“Apa salahku pada kalian? Kenapa kalian tega membohongiku?”
Air mata Renatta kembali menetes. Terbayang jika selama ini papa, mama dan Randy, memanjakannya dengan kebohongan.
“Apa mama dan papa tidak menyayangi aku? Sampai mereka tega menikahkan aku dengan seorang pembunuh? Dan bisa-bisa aku jatuh cinta pada pria yang telah menyebabkan kematian Rianna.”
Renatta duduk meringkuk di sudut kamar hotel yang terbilang tidak terlalu besar.
“Apa salahku pada kalian? Apa kalian ingin aku menyusul Rianna? Sehingga kalian membiarkan aku hidup bersama pembunuh itu?”
Renatta menenggelamkan wajahnya pada lutut yang tertekuk. Sungguh malang nasib yang ia rasakan saat ini.
“Kalian jahat.” Gumamnya. Wanita itu pun merangkak naik ke atas tempat tidur. Hati, pikiran dan jiwanya kini sungguh sangat lelah.
“Ri.. tolong jemput aku. Aku sendirian sekarang.” Raungnya sembari memeluk bantal.
****
Sementara itu, di rumahnya kini Richard tengah mengamuk. Ia memecahkan beberapa koleksi guci mahal miliknya.
Hal itu membuat para asisten rumah menjadi ketakutkan. Mereka yang tidak tahu penyebab kemarahan Richard, lantas menghubungi Renatta.
Namun sayang, sang nyonya rumah tidak dapat dihubungi. Dengan terpaksa asisten rumah itu menghubungi rumah Setiawan.
“Richard tenangkan dirimu.” Papa Roy datang menarik tangan sang menantu yang hendak mengambil sebuah vas bunga untuk di lemparnya.
Richard yang sempat menatap penuh amarah, perlahan meredup. Papa Roy kemudian mendekap tubuh sang menantu.
“Aku tidak bisa menemukannya, pa.” Ucap Richard kembali menangis dalam dekapan papa mertuanya.
“Sudah. Rena pasti baik-baik saja.” Papa Roy membawa Richard ke kamarnya.
Sementara itu, mama Dona meminta asisten rumah membersihkan semua pecahan yang di sebabkan oleh Richard.
“Sejak kapan dia mengamuk?” Tanya wanita paruh baya itu.
“Sekitar setengah jam yang lalu, nyonya.” Jawab salah satu asisten yang memunguti pecahan guci.
“Astaga. Kenapa kalian tidak langsung menghubungiku?”
__ADS_1
“Maaf, nyonya. Kami menghubungi nyonya Renatta terlebih dulu. Namun ponselnya tidak aktif. Setelah itu, baru kami menghubungi nyonya.” Seorang asisten yang sedang menyapu pecahan kecil-kecil menyahuti pertanyaan mama Dona.
Wanita paruh baya itu menghela nafas pelan. Ia berharap dalam hatinya jika Renatta segera pulang.
‘Masalah tidak akan selesai jika kamu pergi, Re. Andai kamu mengerti itu. Harusnya kamu bertanya pada kami. Bukan malah pergi seperti ini. Yang ada masalah kita semakin bertambah. Mencari keberadaan mu, dan menenangkan Richard yang mengamuk.’
Mama Dona mendongak ke arah lantai dua. Ia berharap jika sang suami bisa menenangkan menantu mereka.
“Aku akan membuat makan malam.” Ucapnya kemudian pergi menuju dapur.
Papa Roy turun dari lantai dua setelah beberapa saat. Ia pun menghampiri sang istri yang sedang berada di dapur.
“Bagaimana dengan Richard, pa?” Tanya mama Dona menghentikan kegiatannya.
“Dia sedang mandi. Papa sudah berusaha keras untuk membujuknya. Tetapi sepertinya sangat sulit. Dia begitu keras kepala.” Papa Roy menghela nafas lelah.
“Apa kita hubungi Jo dan Luna?” Tanya mama Dona kemudian.
Papa Roy menggelengkan kepalanya. “Jangan. Ini masalah kita. Mereka akan khawatir jika mendengar Renatta pergi. Kita bisa menghubungi setelah keadaan membaik. Setidaknya, hingga Renatta kembali.”
Mama Dona pun menganggukkan kepalanya.
“Rich, kamu mau kemana?” Tanya mama Dona saat melihat sang menantu menuruni tangga, namun tidak menuju ke ruang makan.
Tampilan pria berusia empat puluh tahun itu sudah jauh lebih baik dan segar daripada saat mengamuk tadi.
“Aku tidak lapar, ma.” Ucap Richard datar.
“Makan sedikit saja.” Papa Roy menambahkan.
“Pa, ma. Bagaimana aku bisa makan, semantara aku tidak tahu keberadaan istriku? Apa dia baik-biak saja? Apa dia makan malam?”
“Tapi, Rich— mama Dona ingin berbicara lagi, namun sang suami menahannya.
Mendengar suara dingin Richard, papa Roy pun mengelengkan kepala pada sang istri.
“Tidak. Kalian jangan keras kepala.” Mama Dona menatap nyalang suami dan menantunya.
“Kita memang tidak tahu dimana Renatta berada saat. Tetapi kamu tidak makan, kemudian sakit, siapa yang akan mencari Renatta?” Imbuh wanita paruh baya itu lagi.
“Mama tidak mau mendengar alasan atau keras kepala siapapun lagi. Makan dulu, walau hanya sedikit. Setelah itu, kamu boleh pergi.”
Richard menghela nafas kasar. Ia terpaksa menuruti keinginan mama mertuanya, meski pria itu tidak berselera makan.
****
Richard menemui Dirga di kafe milik pria itu. Ia ingin menanyakan hasil pencarian anak buah adik sepupunya itu.
__ADS_1
“Anak buahku belum ada yang melapor.” Jawab Dirga sembari menyesap minumannya.
“Awasi sahabat Renatta yang bekerja di kafe ini.” Ucap Richard kemudian.
Dahi Dirga berkerut halus. “Kakak mencurigai gadis itu?” Tanya Dirga kemudian.
“Tidak.” Richard menggeleng pelan. “Dia sudah mengakui jika Renatta sempat datang ke rumahnya. Dan setelah itu pergi. Kamu awasi saja dia.”
Dirga mengangguk pelan. “Apa ada orang lain yang membantu kakak ipar bersembunyi? Kenapa sangat sulit menemukannya?”
Pertanyaan Dirga membuat Richard termenung.
Orang lain? Tetapi siapa? Renatta tidak memiliki kenalan orang berpengaruh di kota ini yang bisa menyembunyikannya.
“Itu tidak mungkin. Dia hanya gadis manja yang tidak mengenal dunia luar.” Jawab Richard penuh keyakinan.
Dirga mengedikan bahunya. “Nah, karena dia gadis manja. Kenapa sangat sulit mencarinya?”
Richard memikirkan ucapan sang sepupu. Ada benarnya juga. Kenapa Renatta sangat sulit di temukan jika ia hanya seorang gadis manja?
Sibuk dengan pikirannya sendiri, Richard tak menyadari jika salah seorang anak buah Dirga datang membawa laporan.
“Kak.” Dirga menepuk lengan pria itu.
Richard tersentak kemudian menoleh.
“Pak, nona Renatta terlihat menaiki sebuah mobil taksi di depan gedung Setiawan.” Ucap pria berbadan tegap itu sembari menyerahkan sebuah foto. Terlihat Renatta masuk ke dalam sebuah mobil sedan berwarna biru.
“Dengan mobil yang sama, nona pergi meninggalkan makam saudari kembarnya.” Foto kedua di ambil dari rekaman kamera pengawas di dekat makam Rianna.
“Aku sudah menemui sopir taksi itu, terakhir dia mengantar nona ke alamat ini.” Pria itu menunjukkan foto sebuah rumah kontrakan, yang Richard tahu itu adalah tempat tinggal Gista.
“Aku juga sudah mencari ke dalam. Tetapi gadis itu tidak mau mengatakan kemana nona pergi.” Terakhir foto Gista yang di perlihatkan.
“Cukup.” Tangan Richard terangkat. “Aku sudah lebih dulu mencari istriku di tempat yang kamu tunjukan.”
“Maaf aku terlambat, pak.” Pria berbadan tegap itu menundukkan kepalanya.
“Sudah. Kamu boleh pergi. Datang lagi jika sudah mendapatkan informasi terbaru mengenai kakak iparku.” Dirga mengusir anak buahnya.
Richard menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
‘Dimana kamu sebenarnya, sayang?’
****
Bersambung.
__ADS_1