
Tiga hari berlalu. Renatta hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar hotel. Ia sama sekali tidak keluar. Bahkan untuk makan, gadis itu memilih memesan layanan kamar.
Renatta bahkan meminta bantuan petugas hotel wanita untuk membelikan dua pasang baju dan celana untuk berganti pakaian.
Ponselnya?
Wanita itu sama sekali tak mengaktifkan sejak terakhir menghubungi Gista dari makam sang saudari kembar.
Renatta tak perduli jika Richard dan keluarganya kini tengah panik mencarinya kesana kemari. Atau bahkan mungkin tidak perduli karena beban dalam hidup mereka telah pergi.
Wanita berusia dua puluh dua tahun itu, berusaha untuk hidup sendiri tanpa bergantung dengan Richard atau keluarganya.
“Aku harus melanjutkan hidup.” Gumam wanita itu.
Selama tiga hari mengurung diri, Renatta memikirkan banyak hal dalam pikirannya. Ia berencana pergi ke luar kota untuk memulai hidup baru.
Memang terkesan berlebihan. Tetapi selama ini, Renatta tidak pernah di bohongi seperti ini oleh mama dan papanya.
Terlalu larut dalam kemanjaan yang mereka berikan, Renatta sampai tak menyadari jika dirinya telah di bodohi.
Dengan tekad yang sudah bulat. Renatta pun membereskan barang-barangnya. Tak banyak, hanya sepasang pakaian, dan sebuah tas yang berisi dompet dan juga ponselnya.
Renatta memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah tas belanja, ia kemudian bergegas merapikan dirinya.
Setelah di rasa penampilannya cukup baik, Renatta pun keluar dari dalam kamar hotel yang ia tempati selama tiga hari ini.
“Selamat datang hidup baru.” Ucap Renatta sembari merentangkan kedua tangannya.
Tujuan wanita itu saat ini adalah terminal bus. Ia akan pergi melalui jalur darat untuk menghidari orang-orang yang sedang mencarinya.
Tin!!
Suara klakson motor membuat Renatta tersentak. Ia pun mengumpat sembari mengepalkan tangan.
“Non.”
Pengendara motor itu melepaskan helm full face yang ia gunakan.
“Bobby?” Gumam Renatta.
“Mau kemana panas-panas begini?” Tanya Bobby setelah memarkirkan sepeda motornya.
Pria itu pun menghampiri Renatta. Ia sebenarnya sudah tahu keberadaan istri atasannya itu sejak kemarin. Namun Bobby mencari waktu dan cara yang tepat untuk menghampiri Renatta.
__ADS_1
Ia juga belum memberitahu pada Richard. Karena ingin memastikan terlebih dulu.
Dan sepertinya semesta berpihak pada Bobby. Setelah menunggu setengah hari, akhirnya Renatta keluar dari tempat persembunyiannya.
Wanita itu menghela nafas pelan. Ia masih ragu dengan orang bernama Bobby. Apa mereka benar-benar dua orang yang berbeda?
Renatta menggeleng pelan.
“Mau aku antar?” Tanya Bobby.
“Tidak perlu, Bob. Aku bisa pergi sendiri.” Tolak Renatta secara halus.
“Tidak perlu sungkan, Re. Sepertinya, kita bertemu di waktu yang tepat. Keadaanmu bahkan lebih menyedihkan dari pertama kali kita bertemu di taman bermain.” Ucap Bobby memindai penampilan Renatta.
Hati pria berusia dua puluh tujuh tahun itu merasa iba melihat keadaan Renatta. Gadis yang selalu terlihat cantik dengan pakaian mahalnya, hari ini nampak seratus delapan puluh derajat berbeda.
Bobby tahu jika pakaian yang Renatta gunakan saat ini, harganya tidaklah terlalu mahal. Wajah wanita itu pun nampak pucat tanpa riasan.
‘Bos. Aku menemukan nona. Tetapi untuk saat ini, aku tidak bisa mengembalikannya padamu. Sepertinya dia menelurkan waktu untuk menjauh darimu sejenak.’
“Ayo, ikut aku. Kamu tidak perlu takut. Aku bukan sindikat penjual manusia.” Bobby menarik tangan Renatta. Pria muda itu memberikan sebuah helm lain padanya.
Setelah itu, Bobby membawa Renatta pergi.
Bobby mengajak Renatta ke pantai. Ia tahu, jika suasana hati wanita itu sedang tidak baik. Mungkin di tempat luas ini Renatta bisa menumpahkan isi hatinya.
“Sudah tahu panas, kenapa membawaku kemari?” Renatta mengerucutkan bibirnya. Wanita manja itu bahkan menutup kepalanya dengan tas belanja yang berisi pakaiannya.
“Karena aku tahu kamu membutuhkan tempat untuk menumpahkan segala keluh kesah di hatimu.” Ucap Bobby terkekeh.
Renatta mencebik.
Bobby kemudian mengajak Renatta duduk di bawah pohon kelapa.
“Apa sekarang kamu mau bercerita tentang masalahmu?” Tanya Bobby sembari menyodorkan sebotol air mineral pada wanita itu.
Renatta menerimanya. Kemudian meneguk setengah isinya.
“Apa kamu pernah di bohongi oleh orang terdekat mu, Bob?” Tanya Renatta kemudian.
Bobby menatap Renatta. Wanita itu juga sedang melihat ke arahnya.
Pria muda itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Ibuku. Dia pernah berbohong tentang penyakitnya. Hingga jatuh pingsan dan koma sampai saat ini. Aku bahkan tidak tahu alasan ibuku berbohong. Dia terlanjur tidur selama berbulan-bulan ini.” Jelas Bobby dengan sendu.
“Mungkin ibumu tidak mau kamu khawatir, Bob.” Ucap Renatta prihatin.
“Lalu kamu? Siapa yang membohongimu?” Tanya Bobby kemudian.
Renatta menatap ke arah lautan luas.
“Orang tua, kakak dan juga suamiku.” Ucapnya pelan.
“Suami?” Tanya Bobby berpura-pura kaget.
Renatta menganggukkan kepalanya.
“Jadi selama ini, aku berteman dengan istri orang? Wah, aku bisa dibunuh jika suamimu tahu sekarang kita sedang bersama.” Gurau Bobby untuk menghibur Renatta.
Namun wanita itu hanya menanggapi dengan senyuman kecut.
“Pasti rasanya lebih sakit dari kebohongan yang ibuku lakukan.” Terka Bobby kemudian.
Renatta mengangguk, kemudian menundukkan kepalanya. Di banding dengan kebohongan ibunda Bobby, yang di lakukan oleh orang terdekat Renatta lebih menyakitkan baginya.
“Lalu, apa sekarang kamu sedang berada dalam pelarian? Maksudku, kabur dari keluargamu setelah mengetahui mereka berbohong?”
Renatta kembali mengangguk tanpa mau bicara lebih banyak. Hal itu membuat Bobby merasa semakin kasihan. Pria itu tidak ingin bertanya lagi.
“Ayo.” Bobby bangkit kemudian mengulurkan tangannya.
Renatta menatap ke arah pria itu, dan Bobby memintanya untuk bangun.
“Kemana?” Tanya wanita itu.
“Pinggir pantai. Sepertinya kamu harus mengeluarkan segala sakit hatimu. Lepaskan, berteriak lah sekencangnya.”
Renatta mengangguk. Ia kemudian bangkit dan mengikuti langkah Bobby.
Saran pria itu tidaklah buruk. Renatta menumpahkan segala kesalnya dengan berteriak kencang.
“OM RICH. AKU MEMBENCIMU!!”
...****************...
Bersambung.
__ADS_1