DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
46. Sayang, Kemana Kamu Pergi?


__ADS_3

Renatta berlari dengan air mata dan amarah yang berkecamuk di dada.


Wanita itu pergi meninggalkan kantor, bukan dengan mobil yang membawanya datang. Namun dengan menumpang sebuah taksi yang ia berhentikan di depan gedung.


Di dalam taksi, air matanya terus menetes.


Renatta merasa telah ditipu oleh semua orang di sekitarnya. Tak hanya Richard, tetapi mama, papa, dan juga Randy tega menyembunyikan kebohongan yang begitu besar darinya.


Richard penyebab kecelakaan Rianna. Dan perusahaan Setiawan tidak pernah mengalami masalah keuangan.


Itu artinya, keluarga Setiawan sengaja menjodohkan Renatta dengan Richard. Atau justru sebaliknya, pria dewasa itu yang ingin menikahinya? Dan menjadikan perusahaan sebagai alasannya, agar Renatta setuju begitu saja.


Sungguh Renatta tak habis pikir dengan apa yang ia dengar. Keempat orang yang ada di dalam ruangan itu adalah orang terdekatnya. Tetapi mereka dengan tega membohongi Renatta.


Wanita itu hanya tahu, jika Rianna meninggal karena kecelakaan saat mereka berusia lima tahun. Ia tidak di beritahu dimana dan bagaimana kecelakaan itu terjadi.


“Maaf, nona. Tempat tujuannya kemana, ya?” Tanya sopir taksi.


Renatta mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia kemudian meminta di bawa ke makam Rianna.


Wanita muda berusia dua puluh dua tahun itu kembali bersimpuh di sisi makam sang saudari kembar.


Namun kali ini tanpa membawa bunga. Ia hanya ingin menumpahkan rasa kecewa, yang tak tahu harus di ceritakan pada siapa?


Hanya makam Rianna yang terlintas dalam benaknya.


Renatta memperhatikan dua buket bunga yang ada di atas makam Rianna. Ia tidak tahu siapa yang datang berkunjung sebelum dirinya.


Belum mendapat jawaban, Renatta justru mendapatkan sebuah kejutan besar.


“Ri.. Harusnya aku mencari tahu tentang kecelakaan itu. Bukannya malah seperti orang bodoh yang percaya dengan dongeng mereka.” Ucapnya sembari mengusap nisan Rianna.


Renatta merutuki kebodohannya sendiri.


“Perusahaan papa juga tidak pernah mengalami masalah keuangan. Ternyata aku memang orang bodoh yang begitu mudah di bohongi. Entah kebohongan apalagi yang mereka sembunyikan dariku?”


Dalam tangisnya, Renatta tersenyum getir. Ia seperti tidak memiliki siapapun saat ini. Bahkan keluarga kandung sendiri tega membohonginya.


“Aku harus apa, Ri? Kenapa mama dan papa begitu tega padaku? Mereka membiarkan aku menikah dengan seorang pembunuh.” Renatta menumpahkan tangisnya.


Ia meraung sendirian di atas makam sang saudari kembar.


****


“Nona Renatta?”


Suara sekretaris Randy menyebut nama Renatta membuat keempat orang yang berada di dalam ruangan seketika membisu.

__ADS_1


Mereka saling melempar pandang, seolah bertanya apa yang mereka dengar itu tidak salah?


“Sial.” Umpat Richard ketika melihat pintu ruangan yang sedikit terbuka. Pria dewasa itu kemudian berlari menuju pintu.


“Oh, God.” Gumam Randy. Ia bangkit dan mengikuti Richard.


“Istriku ada disini?” Tanya Richard pada sekretaris Randy.


Wanita muda berusia dua puluh lima tahun, yang bernama Fina itu menganggukkan kepalanya.


“Iya, pak. Tetapi nona berlari, dalam keadaan menangis.” Jelasnya kemudian.


Richard kembali mengumpat dengan mengusap wajahnya kasar.


“Ada apa, Rich?” Tanya papa Roy menghampiri.


“Rena datang kemari, pa. Sepertinya dia mendengar pembicaraan kita.” Jelas Richard.


“Inilah yang aku takutkan.” Ucap Randy yang kemudian berlari menuju lift.


“Tunggu aku, Ran.” Richard pun mendahului langkah kakak iparnya.


“Pa, bagaimana ini?” Tanya mama Dona panik.


“Mama tenang dulu. Richard dan Randy pasti bisa menemukan Renatta.” Papa Roy membawa sang istri kembali ke dalam ruangan Randy.


Sementara itu, Richard dan Randy telah tiba di lantai dasar gedung.


“Iya, pak.”


“Lalu kenapa kamu tidak menghubungiku?” Hardik Randy.


“Maaf, pak. Saya tidak menghubungi bapak, karena mengira bapak tidak sibuk.”


“Sial.” Umpat Randy sembari keluar dari dalam gedung.


“Kak.” Pria muda itu menghampiri Richard yang sedang berbicara dengan sopir Renatta.


“Tadi pulang dari kampus, nona pergi ke makam nona Rianna, pak. Setelah itu, nona meminta diantar kemari.” Jelas sopir berbadan tegap itu.


“Renatta pergi ke makam? Apa dia melihat buket bunga yang aku letakkan?” Gumam Richard.


“Sekarang dimana istriku?” Tanya Richard kemudian.


“Bukannya nyonya masih di dalam?” Sopir itu balik bertanya.


“Istriku sudah pergi beberapa saat lalu, dan kamu tidak tahu? Aku akan memecatmu jika sampai terjadi sesuatu padanya.” Richard berteriak marah.

__ADS_1


“Kak, kamu mau kemana?” Tanya Randy ketika Richard pergi begitu saja.


“Aku mau mencari istriku.” Ucap Richard sembari masuk ke dalam mobilnya.


“Aku ikut.” Randy hendak masuk, namun semua pintu mobil telah di kunci.


“Bawa mobilmu sendiri. Kita berpencar agar lebih mudah. Hubungi aku jika kamu menemukannya.” Ucap Richard dari kaca mobil yang ia turunkan.


Tanpa mendengar jawaban dari Randy, Richard pergi meninggalkan gedung itu.


“Sayang. Kemana kamu pergi? Awas jika aku menemukanmu. Kamu tidak akan pernah bisa lepas lagi dari aku.”


Tangan kiri pria itu merogoh ponsel di dalam saku jasnya. Ia kemudian menghubungi orang-orang suruhannya.


“Bob, bantu aku mencari istriku. Dia baru saja kabur.” Ucap Richard menghubungi Bobby.


****


Lelah menangis sendirian, Renatta kemudian menghubungi Gista. Setelah itu, ia pun mematikan ponselnya agar tidak bisa dihubungi oleh keluarganya.


Meski Renatta tahu, cepat atau lambat keberadaannya akan di temukan oleh Richard, namun untuk saat ini wanita itu hanya ingin menenangkan dirinya.


Renatta kembali pada mobil taksi yang membawanya tadi. Ia kemudian menyebutkan alamat rumah Gista, karena hari ini sahabatnya itu tidak bekerja.


“Re, ada apa?” Tanya Gista saat melihat sang sahabat dalam keadaan yang sangat kacau.


Renatta tak menjawab. Ia menarik tubuh Gista, kemudian mendekapnya sembari terisak.


Gista tak lagi bertanya. Ia mengusap dengan lembut punggung Renatta yang sedang bergetar.


“Kita masuk dulu.” Ucap Gista sembari menuntun Renatta masuk ke dalam kamarnya.


Rumah Gista tidaklah besar. Hanya kontrakan sederhana, yang di lengkapi dengan ruang tamu, dapur, dua kamar tidur dan satu kamar mandi di dekat dapur.


“Minum dulu.” Gista menyodorkan segelas air pada Renatta.


Dengan tangan bergetar Renatta meraih gelas itu. Ia hanya meminum sedikit, kemudian mengembalikannya lagi pada Gista.


“Kamu kenapa, Re?” Tanya Gista setelah Renatta tak lagi menangis, namun masih sesenggukan.


Renatta menghela nafas dalam, ia kemudian menceritakan apa yang ia dengar dari dalam ruangan sang kakak.


“Mereka jahat, Ta. Papa dan mama pun tega membohongi aku.” Renatta kembali menangis. Membuat Gista tidak tega, kemudian memeluk sahabatnya itu.


“Kamu tenang dulu. Siapa tahu, mereka memiliki alasan melakukan semua ini.” Gadis itu berusaha menenangkan Renatta.


“Tidak. Mereka jahat. Bahkan tega membiarkan aku menikah dengan seorang pembunuh.”

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2