DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
51. Apa Aku Harus Pulang?


__ADS_3

Renatta menjadi waspada saat mendengar suara motor berhenti di depan rumah kontrakan Bobby.


Wanita itu kemudian bersembunyi di dapur.


Bukan tanpa sebab, setelah kepergian Bobby tadi, ada dua orang preman duduk di teras rumah kontrakan itu yang membuat Renatta menjadi ketakutan.


“Re, aku pulang.”


Wanita itu menghela nafas lega setelah mendengar suara Bobby. Ia pun keluar dari persembunyiannya.


“Kenapa kamu bersembunyi di dapur?” Tanya Bobby dengan dahi berkerut.


Renatta mendekat. “Tadi ada dua orang preman duduk di depan.” Cicit wanita itu pelan.


“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Bobby khawatir.


Renatta menggelengkan kepalanya.


“Syukurlah. Disini memang banyak preman. Karena itu aku mengunci pintu tadi.” Jelas pria itu.


“Ini untukmu.” Tangan Bobby terulur menyerahkan sebuah tas jinjing berukuran sedang pada wanita itu.


“Apa ini?” Renatta menerima sembari membuka resleting tas itu.


“Kamu membelikan aku pakaian?” Tanya wanita itu lagi.


Bobby mengangguk. Pria itu kemudian meletakan kantong belanja yang lain di atas meja.


“Aku tahu kamu dalam masa pelarian. Keluarga dan suami kamu pasti sedang gencar mencari kesana kemari. Jadi, aku berinisiatif membelikan pakaian dan perlengkapan lainnya untukmu. Maaf jika tidak sesuai ukuran. Aku meminta SPG untuk memilihnya.” Saat mengucapkan kalimat terakhir, Bobby mengusap dahinya. Sebab Renatta mengeluarkan sepasang pakaian dalam.


“Kenapa kamu harus repot begini?” Tanya Renatta sembaru menyimpan kembali barang-barang itu ke dalam tas.


“Kamu ‘kan tidak membawa barang apapun. Apa mau menggunakan pakaian itu saja selama beberapa hari ini? Lagipula, aku hanya membelikan dua pasang. Uangku tak cukup untuk membeli banyak.” Ucap pria itu terkekeh.


Bobby mengeluarkan makanan yang ia beli.


“Kamu pasti belum makan. Aku belikan makanan juga. Hari sudah sore. Setelah itu kamu bisa mandi dan beristirahat.” Ucap Bobby sembari menyodorkan sekotak makanan pada Renatta.


Mereka kemudian duduk di kursi meja makan.


“Aku tidur disini?” Tanya Renatta kemudian.


“Ya. Kamu bisa menggunakan kamar ibuku. Tenang saja, kamar ibuku bersih dan layak huni.”


Renatta menganggukkan kepalanya.


“Tetapi, Bob. Aku mungkin tidak bisa terlalu lama disini.” Ucap wanita itu kemudian.


“Lalu kamu mau kemana?” Tanya Bobby penasaran. Ia harus mencari tahu lebih banyak agar bisa mencegah wanita itu untuk pergi.

__ADS_1


“Aku belum tahu. Mungkin keluar kota?” Renatta mengedikan bahunya.


Bobby menghela nafas pelan. “Makanlah dulu.”


Renatta menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian menikmati makanan yang di belikan oleh Bobby.


“Apa tidak sebaiknya kamu pulang?” Tanya Bobby hati-hati.


Renatta menatap pria muda itu.


“Aku memang tidak tahu masalah kalian. Tetapi, menurutku lebih baik pulang dan menanyakan alasan mereka membohongimu ‘kan? Daripada pergi dengan kebencian yang belum tentu benar?” Pria itu mencoba menasehati.


Renatta mengunyah makanannya dengan pelan. Ia seperti memikirkan ucapan Bobby.


“Bukannya aku ikut campur atau membela keluargamu. Tetapi aku yakin, mereka punya alasan tertentu kenapa berbohong padamu. Seperti halnya ibuku. Dia tidak mau merepotkan aku. Karena itu dia memilih berbohong dan menyembunyikan sakitnya.” Bobby kembali berucap.


Sebisanya, Bobby ingin menasehati Renatta untuk pulang. Richard sudah sangat baik padanya. Meski baru bekerja sebulan lebih dengan pria itu, tetapi Richard sudah banyak membantunya.


Jadi, Bobby ingin membalas kebaikan Richard. Setidaknya dengan membuat Renatta kembali pulang.


***


Renatta kini sudah berada di dalam kamar ibunya Bobby. Ia duduk termenung di atas tempat tidur, memikirkan apa yang pria itu katakan tadi saat mereka makan.


Haruskah Renatta pulang dan bertanya alasan di balik kebohongan yang di lakukan oleh Richard dan keluarga Setiawan?


Tetapi, rasanya sangat sulit bagi wanita itu untuk kembali pulang.


“Aku harus bagaimana? Pulang? Atau melanjutkan pelarian?” Monolog wanita itu.


“Pulanglah, Re.”


Suara lain terdengar membuat Renatta mendongak.


“Rianna.” Gumamnya pelan.


Pemilik suara itu tersenyum kecil.


“Pulanglah. Mereka menunggumu.” Ucapnya lagi.


“Tetapi mereka membohongiku.” Tukas Renatta kemudian.


Sosok cantik yang mirip dengan dirinya itu tersenyum sembari menggeleng.


“Mereka sangat menyayangimu. Pulanglah.”


Perlahan bayangan Rianna memudar membuat Renatta bangkit mengejarnya.


“Rianna.”

__ADS_1


Tidak ada siapapun. Renatta bahkan masih berada di tempat tidur. Ternyata tadi hanya sebuah mimpi yang terlihat begitu nyata.


Posisi wanita itu bahkan sedang tidur meringkuk. Bukan duduk termenung.


“Aku bermimpi? Tetapi kenapa sangat jelas sekali? Rianna?” Wanita itu melihat ke seluruh kamar tidur itu. Tak ada siapapun disana kecuali dirinya.


“Apa aku harus pulang?”


****


Sementara itu di rumah Richard.


Randy dan papa Roy sedang menemani Richard minum bir di mini bar yang tersedia di rumah itu.


Sudah tiga hari ini Randy tinggal di rumah itu. Takut jika pria berusia empat puluh tahun itu akan mengamuk lagi seperti hari pertama kepergian Renatta.


“Malam ini kamu pulanglah, Ran. Aku baik-baik saja.” Ucap Richard sembari meneguk minumannya.


“Kak Rich mengusirku?” Tanya Randy yang bermaksud untuk bergurau.


“Biar saja Randy disini dulu. Papa jadi ada kesempatan untuk berdua dengan mama.” Papa Roy menimpali.


Ia juga berniat menghibur sang menantu yang selama tiga hari ini telah kehilangan jati dirinya.


Richard berdecak. Ia kembali menyesap tepian gelas kaca berisi minuman beralkohol itu.


“Rena sudah ketemu. Jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku.” Jelas Richard yang mengerti kekhawatiran papa mertua dan juga kakak iparnya.


“Benarkah, Rich? Putri papa sudah ketemu? Dimana dia?” Tanya papa Roy penuh harap.


Richard menganggukkan kepalanya.


“Dimana Rena, kak? Biar aku jemput dia kesana.” Timpal Randy.


“Dia ada bersama Bobby. Biarkan saja dulu. Renatta mungkin perlu waktu untuk menyendiri.” Ucap Richard dengan tenang.


Bobby sudah mengirim beberapa foto Renatta yang sedang makan malam tadi. Hal itu membuat hati Richard menjadi tenang. Sang istri tercinta dalam keadaan baik-baik saja.


“Tetapi, bagaimana jika Rena pergi lagi?” Tanya Randy memastikan. “Aku jemput saja.” Pria itu hendak bangkit. Namun Richard mencegahnya.


“Jangan, Ran. Bobby akan memastikan jika Rena tidak akan pergi kemana-mana.”


Randy dan papa Roy saling melempar tatap. Mereka kemudian mengangguk pelan.


“Papa pulang dulu untuk memberitahu mama kalian. Dia akan langsung sembuh mendengar berita ini.” Papa Roy bergegas bangkit meninggalkan putra dan menantunya.


Ia ingin cepat memberitahu sang istri yang kini tengah mengalami penurunan tekanan darah karena memikirkan keberadaan sang putri.


...****************...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2